
Pesta Resepsi pernikahan Awan dan Ara, sudah selesai.
Semua anggota keluarga, memang sudah dipesankan kamar di hotel ini juga. Untuk beristirahat, sama seperti waktu tadi siang selesai akad nikah.
Awan dan Ara juga sudah masuk ke dalam kamar sedari tadi. Apalagi, Ara juga sudah tampak sangat payah untuk bisa berdiri dengan menahan kantuknya. Karena dia memang sudah tidak tidur dari kemarin malam.
Bahkan, tadi sempat juga Awan ledek. Jika Ara tidak mungkin kuat untuk acara selanjutnya.
"Waduh, kasihan sekali ini istrinya Kakak. Pasti udah gak kuat juga dong, dengan acara setelah ini," ucap Awan, dengan maksud meledek Ara, yang sekarang ini sudah menjadi istrinya yang sah, sejak siang tadi.
"Acara apa?" tanya Ara bingung.
Dia tidak pernah tahu jika, ada acara lagi setelah resepsi yang baru saja selesai.
Tapi Awan tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Suaminya itu, justru menaikkan kedua alisnya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Ara.
'Bagaimana bisa dia lupa, dengan acara malam pertama untuk pengantin? Ah, dia pura-pura tidak tahu pasti,' batin Awan. Dengan memperhatikan bagaimana Ara yang sedang melepaskan semua aksesoris. Yang melengkapi penampilannya di pesta tadi.
"Kak," panggil Ara, yang sepertinya cukup kesulitan untuk menurunkan resleting gaun pengantin yang dia kenakan.
Awan mendekat ke tempat duduknya Ara.
"Mau Kakak bantu?" tanya Awan menawarkan diri.
Ara mengangguk mengiyakan, dengan memberikan tanda jika dia ingin dibantu untuk membuka resleting gaun nya.
Tapi baru sampai di tengah-tengah, Awan menghentikan kegiatannya. Dia menatap ke arah pantulan cermin, yang ada depannya saat ini. Terlihat jelas jika Ara melihatnya dengan bingung.
"Kak, kok berhenti sih?" tanya Ara heran.
"Kamu yakin masih kuat dengan acara kita selanjutnya?" Awan justru balik bertanya pada istrinya, yang masih dalam keadaan seperti orang bingung.
"Acara apa sih Kak? Sudah selesai kan? Semua orang juga sudah tidur di kamarnya masing-masing."
Ara merasa heran, dengan pertanyaan yang sedari tadi diajukan oleh suaminya itu.
'Acara apa lagi sih kak Awan ini? gak jelas deh,' batin Ara dalam keadaan kebingungan.
"Hemmm..."
Tapi sepertinya, Awan juga kesulitan untuk mengatakan apa yang dia maksud dengan acara selanjutnya. Dia tidak bisa menjabarkan secara detail, sehingga bingung saat harus memberikan penjelasan kepada istrinya, yang belum paham dengan apa yang dia maksudkan.
"Kak buruan ihsss, Ara gak bisa ini," seru Ara, membuyarkan lamunan Awan yang sedari tadi masih memegang kepala resleting gaun pengantin. Tapi belum juga dia turunkan untuk membantu membuka gaun tersebut.
__ADS_1
"Kakak tidak yakin bisa membukanya sampai selesai," gumam Awan, yang tentu saja didengarkan juga oleh Ara.
"Ih, Kakak ngomong apa sih? Sedari tadi kok aneh. Gak jelas banget!"
Ara justru mengerutu, dengan perkataan dan tingkah suaminya itu. Padahal, sedari tadi dia juga bertanya, agar Awan bisa menjelaskan kepada dirinya, tentang maksud perkataan suaminya tadi.
"Ihsss... gemes banget sih! Masak iya gak tau?" pancing Awan dengan mengacak rambut Ara.
"Iya apa?"
kali ini, Ara menoleh ke arah belakang. Di mana suaminya itu berada. Karena sedari tadi, mereka berdua bicara dengan menatap ke arah cermin.
"Gak. Gak jadi. Kakak gak tega," ucap Awan ambigu.
Ara jadi semakin kesal, karena setelah bicara seperti itu, Awan langsung pergi ke kamar mandi. Untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum tidur.
"Ihhh... aneh," ucap Ara dengan menaikkan kedua bahunya.
Sekarang, Ara berusaha untuk membuka resleting yang tinggal separoh. Dia melihat ke arah cermin, supaya bisa melihat dengan jelas, pada bagian belakang tubuhnya sendiri. Meskipun kesusahan, akhirnya gaun pengantin tersebut bisa dilepaskan juga dari tubuhnya.
Setelah bebas dari gaun pengantin yang sedari dia kenakan, sekarang dia membuka kembali kopernya. Mencari piyama tidur, yang akan dia kenakan pada saat tidur.
Tapi ternyata, baju yang ada di dalam kopernya itu sudah berganti. Tidak ada baju yang bisa dia kenakan dengan nyaman.
Padahal tadi siang, di saat dia selesai ijab kabul dan beristirahat, baju-baju miliknya masih ada. Dia yakin jika, ada orang lain yang sudah menganti isi kopernya tersebut.
"Mana bisa Aku pakai kayak gini. Sama aja gak pakai baju."
Ara semakin kesal, karena piyama-piyama yang ada di kopernya, semuanya minim serta transparan.
"Apa tadi Aku salah kamar ya?" gumam Ara dengan bingung.
Clek!
Pintu kamar mandi terbuka. Awan keluar dari dalam, dengan setelan rumahan. Hanya mengenakan kaos oblong yang sedikit ketat, dengan celana kolor pendek di atas lutut.
Ara meringis canggung, karena melihat bentuk tubuh Awan yang tidak biasanya dia lihat saat seperti ini.
"Buru ke kamar mandi. Keburu ketiduran Kamu nanti Ra," kata Awan, yang melihat Ara seperti orang kebingungan.
"Kak," panggil Ara dengan ragu.
"Hemmm..."
__ADS_1
Awan hanya menyahuti dengan gumamam yang tidak jelas.
"Ini koper Ara yang sudah di ganti, atau kita salah kamar?" tanya Ara, dengan takut. Dia takut jika ternyata memang benar, mereka berdua sudah salah masuk ke kamar orang lain.
"Maksudnya?" tanya Awan, dengan merapikan memposisikan bantal-bantal yang ada di tempat tidur senyaman mungkin.
"Baju... baju ganti Ara gak ada semua Kak," jawan Ara gugup.
Dia yakin jika, dia dan Awan tidak salah kamar. Tapi, kenapa kopernya tidak saja isinya, dengan apa yang sudah dia persiapkan kemarin.
Awan berjalan mendekat ke tempat Ara. Dia ikut melihat-lihat, apa yang dikatakan oleh istrinya itu.
"Hah! hahaha..."
Ara bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa suaminya itu justru tertawa terbahak-bahak, saat melihat isi koper miliknya.
"Ini... ini Kamu sengaja godain Kakak ya? Hahaha..."
Dengan tertawa senang, Awan membopong tubuh istrinya itu, agar duduk di tepian tempat tidur.
"Kak!" jerit Ara kaget, dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Apa? hilih... ternyata itu tadi cuma taktik ya buat godain Kakak?"
Ara semakin bingung, tapi juga kesal. Karena dia benar-benar tidak tahu, kenapa kopernya itu bisa berganti isinya. Sedangkan dia juga tidak mengerti, apa maksud dari perkataan dan pertanyaan yang diajukan oleh suaminya itu sedari tadi.
"Udah ah, Ara gak ngerti. Ara mau mandi saja!"
Dengan cepat, Ara bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan setengah berlari menuju ke arah kamar mandi.
Blum!
Pintu kamar mandi ditutup Ara dengan cepat tanpa memikirkan apapun. Dan dia juga lupa untuk membawa baju ganti tadi.
Sedangkan Awan, masih terkekeh sendiri. Karena tingkah dari istrinya yang belum mengerti. Ke mana arah pembicaraan yang sedari tadi dia katakan.
"Hemmm... kira-kira siapa ya, yang usil dengan mengganti isi kopernya Ara?" gumam Awan, bertanya tentang keberadaan baju-baju minim dan transparan, di koper milik istrinya itu.
Karena dia juga sangat yakin bahwa, Ara tidak mungkin menyediakan pakaian seperti itu. Meskipun sekarang ini, antara dirinya dengan Ara sudah bukan orang lain lagi. Tapi sudah sah menjadi sepasang suami istri.
Setelah berpikir sejenak, Awan menemukan satu dua nama, yang mungkin saja bisa melakukan semua ini padanya dan juga Ara.
"Atau mungkin, mereka berdua memang bekerja sama, untuk semua ini ya?"
__ADS_1
Awan kembali bertanya pada dirinya sendiri.