Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Siapa Cowok Itu?


__ADS_3

"Tidak apa-apa. Papa hanya khawatir saja, dengan kondisi kesehatan Kamu Mita," jawab papanya, dengan mendekatkan kursi yang dia duduki ke tempat tidur Mita.


"Pa. Sebenarnya Mita sakit apa?" tanya minta, yang merasa penasaran.


"Ma. Kasih tahu Mita Ma."


Mita kembali meminta pada papa dan mamanya, agar mau memberitahu, penyakit apa yang sebenarnya dia derita saat ini.


Mita merasa curiga, dengan apa yang tadi dikatakan oleh papanya, yang tiba-tiba memintanya untuk cuti dari kuliah.


Itu tidak akan mungkin diusulkan oleh papanya, jika tidak ada hal yang serius pada kesehatannya.


"Pa, Ma. Mita siap mendengarkan semuanya. Mita akan coba untuk tetao tenang dan tidak mengeluh," ujar Mita, saat papa dan mamanya tetap diam dan tidak mau menjawab pertanyaan darinya.


"Mita. Kamu tidak kenapa-kenapa. Kata dokter, Kamu hanya butuh istirahat yang cukup banyak, agar kesehatan dan kondisi tubuh Kamu cepat membaik." Tutur papanya, sebisa mungkin untuk bisa memberikan alasan dan penjelasan, atas apa yang dia usulkan tadi.


"Iya Sayang. Kamu cuti dulu ya. Atau mengundurkan diri juga tidak apa-apa. Jika sudah sehat lagi, Kamu kuliah ke luar negeri saja," sahut mamanya Mita, mendukung apa yang tadi diusulkan oleh suaminya.


"Kamu tidak akan rugi, hanya karena tidak kuliah dalam atau tahun. Kamu juga masih muda Sayang," kata mamanya lagi, dengan merapikan rambut Mita yang jatuh menutupi matanya di saat Mita menoleh ke arah tempatnya duduk.


Tapi, Mita tetap saja tidak percaya begitu saja, dengan apa yang dikatakan oleh papa dan juga mamanya.


Dalam hatinya Mita, ada praduga sendiri, jika kondisi tubuhnya, saat ini ada yang sangat serius. Meskipun sebenarnya, Mita juga tidak tahu, penyakit apa yang dia derita.


Di saat Mita hampir saja bertanya lagi, pintu kamar tempat dia di rawat, diketuk oleh seseorang dari luar.


Tok tok tok!


Klek!


Pintu terbuka, dan masuk dua orang gadis, yang ternyata adalah teman kuliah Mita.


"Permisi, assalamualaikum..."


"Siang Om, Tante."


"Hai Mita... Apa kabar?"


Dua temannya Mita, yang datang langsung menyapa papa dan mamanya Mita dengan ramah. Tapi, tak lama kemudian, mereka berdua juga heboh bertanya dan menceritakan tentang cowok, yang kemarin membantu Mita untuk bisa sampai di rumah sakit ini.


"Aku kangen tau. Kapan pergi ke kampus lagi?"


"Eh tau gak sih, ternyata, cowok yang kemarin bantu Kamu itu bukan mahasiswa di kampus kita lho!"


"Iya, dia itu anggota rohis dan atau apa gitu di kampusnya?"


"Ehhhh... emhhh, Aku lupa namanya."

__ADS_1


"Ah, Aku juga lupa. Tapi simpel gitu sih. Cuma karena lupa aja jadi kayak susah untuk disebutkan.


"Lho, bukannya nak Dika itu!" tanya papanya Mita, yang baru tahu kalau ternyata, orang lain yang membawa Mita ke rumah sakit dan bukan kekasih anaknya itu.


"Bukan Om. Orang lain kok," jawab kedua temannya Mita, dengan kompak.


"Kemarin itu, Mita sama kami Om. Tau-tau, dia pingsan gitu."


"Iya Om. Kami ya teriak-teriak minta tolong pada yang lewat atau di dekat kami."


"Dan ada dua cowok yang sedang duduk, berlari dengan cepat menolong Mita."


"Mobil memang bawa punya Saya, tapi cowok itu yang nyetir."


"Iya tuh. Bahkan, di saat kami lupa dengan tas dan handphone Mita, temannya, cowok yang satu lagi, datang menyusul dan memberikan tas serta handphone Mita pada kami."


"Dan cowok itu juga, yang menghubungi kak Dika, supaya datang ke rumah sakit ini."


Dua teman Mita, berkata saling sahut-sahutan. Menceritakan kejadian kemarin.


"Kamu gak kenal?" tanya Mita, pada kedua temannya itu.


"Gak."


"Aku juga gak kenal Mit."


Setelah itu, dia pingsan dan tidak lagi ingat apa-apa, dengan semua yang terjadi di sekitarnya.


"Tapi yang nyusulin Aku pernah liat di kampus. Mungkin, yang nyetir mobil itu temannya, dan mereka berdua sedang ada keperluan yang sama. jadi ketemuan gitu."


Mita dan kedua orang tuanya, mengangguk paham, dengan apa yang dijelaskan oleh kedua temannya tersebut.


"Kalau kalian ketemu yang satu, yang ada di kampus kalian tolong sampaikan terima kasih kami." Tutur mamanya Mita, yang merasa sangat berterima kasih, pada cowok yang tidak dia kenali. Tapi mau membantu anaknya, Mita.


"Kalian tanya juga namanya. Dan itu, yang satu lagi, sampaikan juga salam dari kami. Ucapkan juga terima kasih pada dia." Papanya Mita, menambahi perkataan istrinya.


"Iya Om."


"Iya Tante."


Kedua menyanggupi, dengan menyebut masing-masing mama dan papanya Mita.


Sedangkan Mita sendiri, diam dalam rasa penasaran yang ada di dalam hatinya.


Mereka semua tidak tahu jika, ada seseorang di luar kamar, yang sebenarnya ingin mengetuk pintu, tapi tidak jadi.


Orang itu, merasa ragu karena, terdengar suara yang cukup ramai di dalam kamar tersebut.

__ADS_1


*****


Di kantor, Elang sedang menunggu kedatangan seseorang, yang sudah melakukan pencarian dan penyelidikan, tentang kebocoran keuangan di perusahaan milik keluarganya, PT SAMUDERA GROUP.


Tok tok tok!


"Masuk," kata Elang, pada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.


"Tuan. Ini berkas-berkas yang sudah Saya dapatkan."


Orang tersebut, menyerahkan berkas yang dia bawa, pada Elang, yang duduk di kursinya.


Elang menerima berkas-berkas tersebut. Dia membuka dan mulai meneliti. Dia tampak mengelengkan kepalanya beberapa kali, setelah melihat isi berkas tersebut.


"Jadi, ini ada kaitannya dengan PT ANTARA GROUPS?" tanya Elang, pada orang tersebut.


"Iya Tuan. Dan... ini, ada beberapa bukti jika, manager Tuan memberikan beberapa dokumen penting, untuk PT ANTARA GROUPS."


Elang menghela nafas panjang. Dia segera menelpon sekretarisnya, itu menghubungi pihak pengacara, untuk urusan hukum di perusahaannya ini.


"Baiklah. Terima kasih untuk kerja kerasnya. Semoga, semuanya akan segera selesai, dan bisa kembali."


"Sama-sama Tuan."


"Senang bekerja sama dengan Anda."


"Sama-sama Tuan. Saya permisi dulu."


Orang itu mengangguk, kemudian pamit untuk pergi dari ruangan Elang.


"Ternyata, orang-orang yang dulu kamu ajari, berbakat juga Abi."


Sekarang, Elang jadi teringat dengan Abimanyu. Orang kepercayaan mamanya, yang sering melakukan audit untuk perusahaannya ini.


Bahkan saat ini, Abimanyu diberikan kepercayaan oleh mama dan papanya, untuk memegang perusahaan mereka yang ada di Amerika sana.


Perusahaan yang pernah di pegang oleh Elang juga, pada waktu itu.


Dan sekarang, Abimanyu juga akan menjadi besannya. Sedangkan istrinya Abimanyu adalah Anjani. Mantan istrinya yang pertama, meskipun mereka hanya sebatas sebagai suami istri siri, dan tidak pernah melakukan hubungan sebagaimana mestinya.


"Oh iya, bagaimana dengan rencana Awan? Kenapa dia tidak memberitahu lebih lanjut mengenai rencananya?"


Elang bertanya sendiri, karena dia memang belum tahu jika, Awan sudah memberitahu mama dan papanya. Omanya Awan, mama Amel dan juga papa Ryan.


"Aku tanya langsung aja nanti. Ini Aku masih harus menunggu pengacara dulu."


Akhirnya, Elang memutuskan untuk menghubungi anaknya, Awan, nanti saja. Di saat dia sudah berada di rumah.

__ADS_1


__ADS_2