Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Pesta Resepsi 1


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan Awan dan Ara, sudah di mulai. Para tamu undangan, juga sudah banyak yang datang. Mereka semua, menikmati makanan yang sudah disediakan oleh pihak WO.


Senyum kebahagiaan, juga terpancar dari wajah-wajah para tamu undangan. Yang ikut merasakan kebahagiaan, sama seperti yang dirasakan oleh kedua mempelai di atas panggung. Selalu tampak tersenyum, di saat menerima ucapan selamat, dari para tamu undangan yang naik ke atas panggung.


Kilatan cahaya lampu kamera, silih berganti. Datang dari berbagai tempat di ruangan pesta ini. Ikut menambah meriahnya acara resepsi malam ini.


"Bun. Alhamdulillah ya, semua bisa terkendali. Sehingga acara demi acara bisa dilaksanakan dengan berjalan lancar."


"Iya Yah. Bunda udah merasa sangat khawatir, saat kejadian kemarin malam itu Yah," ujar Anjani, menyahuti perkataan yang diucapkan oleh suaminya.


Mereka berdua, duduk sambil tersenyum, memandangi Awan dan Ara yang ada di atas panggung pelaminan. Menerima banyak ucapan selamat dari teman-temannya, dan juga kolega bisnis keluarga mereka.


Tamu undangan bukan hanya sekedar saudara dan tetangga dari kedua pihak keluarga. Tapi dari kolega bisnis dan para karyawan PT SAMUDERA GROUP.


Bahkan, banyak juga dari artis-artis dan para pejabat. Tentunya ini dari keluarga Awan, yang memang bukan sembarang orang.


"Kasihan juga ya, ada di atas panggung pelaminan, dengan tamu sebanyak ini. Tentu mereka berdua capek Bun. Berdiri, menerima ucapan selamat dari mereka semua," ujar Abimanyu, membayangkan bagaimana keadaan anak dan menantunya di atas panggung pelaminan.


Sengaja yang ada di atas panggung pelaminan hanya ke dua mempelai saja. Karena tadi, ke dua orang tua dari pihak pengantin, sudah ikut menemani mereka.


Tapi hanya sampai satu jam saja. Sudah terlalu capek untuk mereka yang tua-tua. Berdiri sejak tadi, untuk menerima ucapan selamat dan berjabat tangan, dari pada tamu undangan.


Itulah sebabnya, Abimanyu dan Anjani sudah duduk di kursi tamu, yang ada di bawah panggung pelaminan. Mereka berdua, duduk bersama dengan Anggi dan juga Miko.


Sedangkan Nanda, sedang bersama dengan Mita, dan kedua orang tuanya Mita.


"Bun. Anggi mau ambil makan. Bunda sekalian ambilin gak?" tanya Anggi, yang ingin mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


"Tidak usah Dek. Bunda tidak lapar kok," jawab Anjani, dengan mengelengkan kepalanya.


"Tapi Bunda belum makan sedari tadi," sahut Anggi cepat.


Dia tahu, bundanya itu tidak makan sedari siang. Selesai akad nikah, hanya makan sedikit saja tadi. Begitu juga dengan ayahnya.


"Ayah juga ya, Anggi ambilin?" tanya Anggi, menawari ayahnya, Abimanyu.


"Iya Yah, Bun. Miko bantu Anggi bawa nanti," kata Miko, mendukung apa yang dikatakan oleh Anggi.


"Halah, bilang aja jika Kamu juga mau makan. Wekkk..."

__ADS_1


"Ya lah Anggi. Kebetulan kan ada makanan banyak. Ngapain dianggurin. Hehehe... sama seperti Kamu juga kan?"


Miko terkekeh sendiri, karena merasa jika dia dan Anggi sebenarnya sama saja.


Anggi pun nyengir kuda, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Miko padanya.


"Ya-ya sudah sana. Ambilkan Ayah dan Bunda makan ya!"


Anggi dan Miko mengangguk bersamaan, mengiyakan permintaan dari bundanya, Anjani.


Anggi tidak tahu jika, ada seseorang yang baru saja datang. Dan melihat ke semua orang. Mencari keberadaan dirinya saat ini.


*****


Di kantor polisi.


Laporan datang dari tempat kejadian perkara. Di mana rumah tempat penyekapan Ara dan Anggi. Yang masih dilakukan penyelidikan.


Dari apa yang ditemukan oleh anjing pelacak, ada handphone milik salah satu dari Pengacau. Yang memang sengaja di buang ke semak-semak. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Dari barang bukti berupa handphone tersebut, riwayat panggilan dan juga pesan, akhirnya diketahui bahwa, mereka hanya orang-orang suruhan.


Dari nomer handphone yang dihubungi oleh pengacau tersebut, pada saat diteliti pihak IT, ternyata ada di daerah Jakarta juga.


Oleh karena itu, dengan bekerja sama dalam urusan kriminal dan hukum. Pihak telekomunikasi tentunya bisa memberikan penjelasan dan informasi yang akurat.


Dengan demikian, lokasi Bos yang di maksud, juga bisa dengan cepat ditemukan.


Dalam penangkapan terhadap Bos yang menjadi sasaran, orang tersebut hampir saja berhasil lolos.


Tapi timah panas yang dilepaskan oleh pihak kepolisian, menggagalkan rencananya untuk lari dari penangkapan atas dirinya. Bahkan bukan hanya satu tembakan. Tapi ada dua tembakan di satu kakinya.


Karena satu tembakan di kaki bagian atas, Bos tersebut masih berusaha untuk berlari. Dan akhirnya pihak kepolisian menambahkan satu tembakan lagi ke kaki bagian bawah.


Itulah mengapa, sekarang ini Bos tersebut ada di ruang operasi rumah sakit militer.


Dia harus segera mendapatkan perawatan. Operasi itu bertujuan untuk mengeluarkan timah panas yang ada di kaki bagian atas dan juga bawah.


Sedangkan di luar ruangan operasi, ada beberapa anggota polisi yang berjaga-jaga.

__ADS_1


Kabar ini sudah disampaikan oleh pihak kepolisian pada Elang. Tapi karena dia dan keluarganya sibuk dengan acara pernikahan dan resepsi anaknya, dia hanya mengirim pengacaranya saja untuk datang melihat keadaan.


Kini, pengacara itu sudah kembali. Dia masih bisa datang ke acara resepsi pernikahan Awan dan Ara. Tapi dengan waktu yang sedikit terlambat.


"Maaf Tuan Elang. Semuanya sudah ditangani penyidik. Dan detektif swasta yang anda tugaskan, juga sudah memberikan laporannya." Pengacara melaporkan semua yang sudah ada di dalam berkas laporan pihak kepolisian.


Dia juga sudah meminta salinannya, untuk dia pelajari kedepannya.


"Lalu, siapa Bos yang dimaksud itu?" tanya Elang penasaran.


"Dia bernama Roi. Tapi, identitas dirinya itu sempat diragukan oleh pihak kepolisian. Jadi, ini masih diselidiki juga."


Elang mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh pengacara tersebut.


"Ya sudah. Silahkan Anda ikut menikmati acara ini. Silahkan ambil makanan dan minuman yang Anda inginkan."


"Terima kasih Tuan. Saya akan naik ke panggung pelaminan terlebih dahulu. Saya belum memberikan ucapan selamat pada tuan muda Awan."


Elang hanya mengangguk dan tersenyum. Dia mempersilahkan pada pengacara tersebut, untuk naik ke atas panggung pelaminan.


Sekarang, Elang beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju ke tempat duduknya Abimanyu. Di tempat itu, ada Anjani dan juga anak-anak keduanya. Anggi dan Miko.


"Bi," sapa Elang pendek.


"Ya Mas," jawab Abimanyu, menoleh ke arah datangnya Elang.


"Adek dan Miko gak mau bawain makan atau minum untuk kak Ara dan kak Awan?" tanya Anjani pada Anggi dan Miko.


Dia tahu, Elang datang ke tempat mereka ini, karena ada hal yang ingin disampaikan. Itulah sebabnya, dia memberikan isyarat pada Anggi dan juga Miko, supaya meninggalkan tempat duduknya.


"Ya Bun. Anggi mau bawain kak Ara dan kak Awan minum." Anggi mengiyakan dan segera berdiri dari tempat duduknya.


Begitu juga dengan Miko. "Miko ambilin buah dan kue buat mereka ya Bun!"


Anjani mengangguk mengiyakan. Dia tersenyum senang, melihat kedua anak tersebut tahu kode yang dia katakan tadi.


'Anak-anak yang cerdas dan pengertian,' batin Anjani, memuji Anggi dan Miko dalam hati.


Setelah Anggi dan Miko pergi, barulah Elang duduk dan memulai pembicaraan dengan Abimanyu. Mengenai apa yang dia dengar dari laporan pengacaranya.

__ADS_1


"Bos nya sudah ditangkap," kata Elang memberitahu.


__ADS_2