
"Miko. Jangan ganggu Kakak dong!" teriak Ara, karena sepupunya, Miko, anaknya Sekar dan Juna, yang menganggu aktivitas belajarnya sedari tadi.
Saat ini, Miko sedang dititipkan di rumah Anjani, karena Sekar sedang ada keperluan ke luar, dan suaminya, Juna, belum pulang dari kantor.
Anjani yang mendengar teriakan anaknya, Ara, akhirnya masuk ke dalam kamar.
"Ada apa Ara?" tanya Anjani, karena tidak melihat keberadaan Miko, yang juga ada di kamar tersebut.
"Miko Bunda. Dia gangguin Ara terus nih!" jawab Ara mengadu.
Miko, yang ternyata sedang duduk di samping tempat tidur Ara, jadi tidak terlihat dari arah pintu, malah memposisikan dirinya dengan berbaring telungkup, sehingga Anjani tidak bisa melihat keberadaannya.
"Mana Miko?" tanya Anjani, yang belum melihat keberadaan Miko, anaknya Sekar.
"Tuh!"
Ara, menunjuk ke arah tempat tidurnya. Disitu, tampak Miko yang diam dan tidak bergerak, supaya di kira sedang tidur oleh tantenya, Anjani.
Saat melihat ke arah yang ditunjuk oleh Ara, Anjani mengeleng beberapa kali, melihat tingkah anak adik iparnya itu.
"Miko. Ayok main ke luar sama Tante. Ada dek Anggi juga tuh. Dia sudah bangun kok, jadi bisa diajak main. Kak Ara sedang belajar Sayang, jadi tidak boleh digangguin ya!"
Anjani mendekat ke tempatnya Miko. Dia merayu keponakannya itu, supaya mau keluar dari kamar anaknya, Ara.
"Yuk. Nanti Tante buatkan jus mangga. Tante punya banyak mangga manis dari Bogor. Kemarin, di kirimin sama teteh nya Tante."
Anjani, membujuk Miko, dengan cara apapun, supaya anak itu mau ikut dengannya.
Miko itu anaknya sedikit usil dan aktif. Jadi, apa saja yang dia temukan, pasti akan dipakai untuk main-main. Ara takut, jika ada buku atau keperluan sekolahnya yang rusak oleh ulah adik sepupunya, Miko, nanti.
Awalnya Miko tidak mau. Dia tetap diam di tempatnya, dan tidak mau diajak untuk pergi sama Anjani.
Tapi di saat di iming-imingi dengan jus mangga, Miko akhirnya tertarik juga. Dengan tersenyum lebar, dia berdiri dan mengandeng tangan tantenya, Anjani.
Ara bernafas lega setelah Miko berhasil di ajak keluar dari kamar oleh bundanya. Sekarang, dia bisa berkonsentrasi dengan pelajaran yang akan diujikan besok.
Di luar kamar, Miko menagih janji Anjani, untuk membuatkan jus mangga, yang tadi disebutkan oleh Anjani, jika mangga nya itu dari Bogor.
"Tante. Ayok buat jus mangga. Miko mau yang banyak dan manis ya!" kata Miko tidak sabaran.
Anjani hanya mengangguk mengiyakan perkataannya Miko. Sekarang, dia meminta pada Miko, untuk bermain-main dengan anaknya yang kedua, adiknya Ara. Anggi.
__ADS_1
"Sekarang, Miko main sama dek Anggi dulu ya. Tante ke dapur, buat jus mangga nya dulu," kata Anjani, setelah mereka berdua sampai di ruang tengah, dimana Anggi sedang bermain-main dengan mainannya.
"Iya Tante. Jangan lama-lama ya Tan. Nanti Anggi bosan, kalau main sama Miko. Terus nangis deh dia!"
Anjani hanya mengangguk sambil tersenyum, mendengar perkataan keponakannya itu. Anjani tahu, jika itu hanya alasan Miko saja.
Yang sebenarnya terjadi nanti, Anggi akan menangis karena selalu diganggu oleh Miko, saat bermain. Dan Miko, yang kelamaan bermain dengan Anggi, akan merasa bosan, dan menganggu Anggi, teman bermainnya yang lain.
Begitulah kira-kira apa yang akan terjadi, jika Miko ada di rumah ini. Anggi akan lebih sering menangis, karena merasa terganggu dengan keusilan sepupunya itu.
Tidak sama seperti saat Ara dan Nanda waktu masih kecil dulu. Mereka berdua, sama-sama saling membantu dan selalu bisa bekerja sama Saat bermain, sehingga Anjani tetap tenang dan bisa menjaga Abimanyu. Karena pada saat itu Abimanyu, suaminya Anjani, juga sedang sakit dan bahkan sampai bertahun-tahun lamanya.
Tapi Ara dan Nanda tidak pernah membuat keributan. Justru mereka berdua, bisa membantu Anjani, dengan menjaga ayah mereka, Abimanyu, atau ikut berlatih bersama juga.
Hal yang sangat disyukuri oleh Anjani pada kedua anaknya, meskipun saat ini Nanda sedang tidak ada di Indonesia.
"Bunda kangen Nanda. Kamu pasti sudah sangat besar sekaran."
Anjani, berkata seorang diri, di dapur. Dia melamun karena ingat dengan Nanda. Anak dari adik iparnya, Yasmin.
"Huwa...!"
Anjani kaget, saat mendengar suara Anggi yang sedang menangis.
Tak lama, Anjani keluar dari dapur, dengan membawa nampan berisi tiga gelas jus mangga.
"Ayo, siapa mau jus mangga?" tanya Anjani, pada anak-anak, berharap supaya Anggi juga mendengar suaranya, kemudian berhenti menangis.
"Bukan Miko Tante!"
Miko membela diri, sebelum di salahkan oleh Anjani, ataupun di tuduh oleh Anggi sendiri.
"Lalu?" tanya Anjani ingin tahu.
"Itu, Anggi mainan sendiri semuanya. Miko tidak boleh ikutan," jawab Miko mengadukan sikap Anggi kepadanya.
Tapi Anggi hanya diam. Dia justru mengambil gelas berisi jus mangga terlebih dahulu, sebelum Miko mengambilnya, kemudian meminumnya tanpa bicara apa-apa.
Karena Miko melihat Anggi yang diam dan tidak mengadukan sikapnya, akhirnya Miko melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Anggi.
Miko mengambil gelas berisi jus mangga juga, yang tadi dibawakan oleh tantenya, Anjani.
__ADS_1
"Minum pelan-pelan saja ya. Tante mau ke kamar kakak dulu," pamit Anjani, kemudian berjalan menuju ke arah istrinya kamar anaknya yang besar. Yaitu kamarnya Ara.
"Kak," panggil Anjani, sambil membuka pintu kamar Ara.
"Ya Bunda. Ada apa?" tanya Ara dari tempatnya duduk.
Anjani mendekat dan meletakkan gelas berisi jus mangga yang dia bawakan untuk Ara.
"Ini minum dulu, biar tambah semangat belajarnya," kata Anjani sambil tersenyum ke arah anaknya itu.
"Terima kasih Bun," kata Ara, kemudian segera meminum jus tersebut.
"Ahhh... manis Bun," kata Ara, setelah meneguk jus tersebut beberapa kali. Jus yang masih ada, dan Ara tidak menghabiskan sekaligus.
"Bunda tinggal ya. Itu tadi adek nangis. Tapi dia tidak mengadu tuh, kalau di ganggu Miko. Mungkin dia malas mengadu juga. Kamu tahu sendiri kan Ara, jika Miko itu akan tambah usil jika diadukan kenakalannya."
Anjani juga paham dan hafal, jika Miko akan bertambah usil, jika ada yang mengadukan keusilannya itu.
Mungkin karena itu juga, Anggi hanya diam saja tadi.
Ara pun tersenyum, mendengar perkataan bundanya tentang adik sepupunya itu. Ara tahu, jika ulahnya Miko juga, yang membuat suasana rumah menjadi semakin ramai. Dulu, waktu Miko masih sangat kecil, Ara juga suka jail padanya. Mungkin sekarang, Miko juga usil karena dulunya ikut tingkahnya Ara.
Setelahnya, Ara kembali belajar, dan berlatih mengerjakan soal.
"Miko!"
Dari tempatnya berjalan, Anjani berteriak kencang, sambil berlari-lari kecil.
Anjani memangil nama Miko dengan kencang, karena Miko hampir saja jatuh. Ini karena jus mangga yang tadi dia minum tumpah, dan Miko, yang bermaksud untuk membersihkan sendiri, justru terpeleset.
"Huhuhu..."
Miko menangis kesakitan, karena pada akhirnya benar-benar terjatuh juga saat terpeleset.
"Aduh, kenapa tidak hati-hati Sayang."
Anjani, segera mengendong Miko, dan di ajak untuk duduk di kursi yang ada di ruang tengah tersebut. Dia meminta pada Miko, untuk membuka bajunya yang kotor karena terkena tumpahan jus mangga nya.
"Maaf Tante. Miko tidak hati-hati tadi," kata Miko meminta maaf.
"Syukurin. Salah salah sendiri usil!"
__ADS_1
Anjani menyipitkan matanya, saat mendengar perkataan anaknya, Anggi tentang keponakannya, Miko.