
"Nda," panggil Dika, yang baru saja turun dari dalam mobil.
Nanda menoleh, karena merasa jika namanya dipanggil seseorang. Dan itu adalah Dika.
Nanda masih berdiam diri di atas motor. Dia tidak mendekat ke tempat Dika, karena merasa jika, Dika yang pastinya akan berjalan mendekat ke tempat dirinya saat ini.
Ternyata benar. Tak lama kemudian, Dika sudah ada di depannya Nanda, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana.
"Habis jenguk Mita ya?" tanya Dika menebak.
Nanda hanya mengangguk samar. Dia tidak tahu, harus menjawab apa, atas pertanyaan yang diajukan oleh Dika padanya.
Karena tadi, dia memang menjenguk Mita. Sudah bertemu juga dengan Mita, meskipun belum ada perbincangan antara mereka berdua.
Nanda langsung pergi begitu teman-temannya Mita datang. Padahal, dia tidak kenal dengan mereka.
"Loe suka sama Mita?" tanya Dika, dengan menyipitkan matanya, saat melihat dengan intens pada Nanda.
Nada pertanyaan yang diajukan oleh Dika, seakan-akan menyelidik dan yakin jika, Nanda memang menyukai kekasihnya itu.
Tapi Nanda tidak juga menjawab pertanyaan dari Dika. Dan ini membuat Dika kembali berkata, "Jika Loe suka dengan Mita, ambil aja. Gue ikhlas!"
Sekarang, Nanda yang menyipitkan matanya, saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh Dika barusan.
'Apa maksud perkataan Dika ini?' tanya Nanda dalam hati.
"Gue butuh pacar yang sehat. Gak penyakitan kayak Mita," ujar Dika, yang seakan-akan tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh Nanda sekarang.
"Penyakitan?"
Pertanyaan yang diajukan oleh Nanda, mengulang lagi perkataan yang baru saja diucapkan oleh Dika.
Dia tidak paham dengan kata penyakitan, yang dikatakan oleh Dika barusan.
"Iyalah. Ngapain gue punya pacar, jika harus ada di rumah sakit terus. Kan gak sehat. Bikin Gue repot aja," sahut Dika cepat.
"Gue mau ketemu Mita. Gue mau putus."
Nanda tercengang, mendengar perkataan Dika lagi. "Putus?" tanya Nanda, yang tidak tahu, apa yang terjadi antara Dika dengan Mita.
"Iya. Loe gak budeg Nda. Gue mau putus. Loe bisa ambil tuh cewek, yang mungkin saja, hidupnya gak akan lama lagi."
Nanda mengeleng beberapa kali, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Dika tentang Mita. "Keterlaluan. bagaimana bisa Kakak bicara seperti itu?" tanya Nanda, yang tidak habis pikir dengan cara Dika membuat kata-kata kasar, untuk kekasihnya sendiri.
"Gue gak mau pacaran dengan cewek yang mau mati Nda. Mending Gue jomblo aja."
Deg!
Nanda terkejut, dengan kata mati, yang diucapkan oleh Dika beberapa kali tadi.
__ADS_1
"Memang Kakak tau, apa yang diderita Mita?" tanya Nanda, yang merasa jika, ada sesuatu yang terjadi pada kesehatan Mita saat ini.
Tidak mungkin Dika akan bicara tentang kematian, jika kesehatan Mita baik-baik saja. Karena jika hanya penyakit biasa, Dika juga tidak mungkin bersikap seperti ini.
"Tau. Dia itu..."
"Nak Dika," sapa seseorang, dari arah samping.
"Eh Om, Tante."
Dika segera mendekat, dan menyalami tangan kedua orang yang sekarang ini ada, tak jauh dari tempat Nanda yang masih berada di atas motor.
"Baru datang atau sudah mau pulang?"
Terdengar suara ibu-ibu, yang tadi menyapa Dika, dengan sebuah pertanyaan.
"Baru datang Tan. Belum juga sempat masuk ini," jawab Dika, yang pada akhirnya tidak lagi menghiraukan keberadaan Nanda.
"Ya sudah, ayok masuk bareng Om dan Tante," ajak ibu-ibu itu.
Dan begitulah akhirnya. Dika berjalan bersama papa dan mamanya Mita, menuju ke gedung rumah sakit.
Sekarang, Nanda seorang diri di area parkir rumah sakit, dengan banyak pertanyaan yang ada di dalam hatinya.
"Siapa mereka ya? Apa itu papa dan mamanya Mita?" tanya Nanda, dengan bergumam seorang diri.
Tentunya, pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Nanda, tidak ada yang bisa menjawab juga. Karena dia memang tidak tahu, penyakit apa yang di derita Mita.
*****
Ternyata, sebelum masuk ke lorong rumah sakit, papanya Mita teringat dengan teman Dika, yang tadi dia lihat sedang berbicara dengan kekasih anaknya itu.
"Oh ya Nak Dika. Tadi, sepertinya nak Dika sedang berbicara dengan seseorang. Siapa dan kenapa di tinggalkan di area parkir sendiri?"
"Oh iya. Tante kok lupa sih! Ayok balik lagi," sahut mamanya Mita, di saat teringat dengan Nanda, yang dikiranya adalah temannya Dika.
"Oh gak usah Tan, Om. Dia bukan siapa-siapa Dika kok. Tadi cuma tanya aja pada Dika. Katanya dia pendatang. Jadi gak begitu paham dengan jalanan di Jakarta ini."
Dika menjelaskan pada papa dan mamanya Mita, jika orang yang tadi sedang berbicara dengannya di area parkir, tidak dia kenali.
"Oh, gitu ya. Wah, nak Dika ini ramah ya. Mau menjelaskan pada pendatang baru di kota besar ini."
"Iya Ma. Maklum lho, meskipun ada aplikasi untuk menemukan alamat, pasti bingung juga dengan jalur motor atau mobil yang diperbolehkan di Jakarta ini."
Papa dan mamanya Mita, berbicara sahut menyahuti, tentang pendatang baru, yang dikatakan oleh Dika tadi.
Mereka berdua tidak tahu jika, orang yang sedang mereka bicarakan adalah orang yang sudah menolong anaknya kemarin.
Tapi Dika tidak peduli. Dia hanya ingin mendapatkan perhatian dan sanjungan dari papa dan mamanya Mita saja.
__ADS_1
"Ya begitulah Om, Tante. Di kota besar ini, jika tidak tahu apa-apa, malah celaka sendiri. Tau-tau malah kena tilang, jika salah jalur," sahut Dika, ikut menimpali perkataan mereka berdua.
"Ah, iya itu nak Dika. Bener-bener."
Mamanya Mita, membernarkan apa yang dikatakan oleh Dika, tentang jalan dan aturan lalu lintas di Jakarta ini.
Sekarang, mereka bertiga sudah sampai di depan pintu kamar rawat Mita.
Klek!
Mamanya Mita, langsung membukanya pintu kamar, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Di dalam kamar, tampak Mita yang masih berbincang-bincang dengan kedua temannya, yang tadi datang setelah Nanda.
"Eh, ada temannya ternyata. Mama pikir, masih dengan bibi saja," kata mama Mita, dengan tersenyum senang.
"Om, Tante."
Kedua temannya Mita, bergantian menyalami mereka berdua.
"Hai Kak Dika," sapa temannya Mita, pada Dika juga.
"Eh, hai."
Dika menjawab seperlunya, kemudian berjalan menuju ke arah tempat tidur Mita.
Begitu juga dengan papa dan mamanya Mita sendiri.
Bibi pembantu rumah, yang sudah ada di dalam kamar, ikut membantu membawa dan menaruh buah-buahan yang dibawakan oleh Nyonya_nya itu.
"Bagaimana keadaan Kamu Dek? Maaf ya, Kakak sedang sibuk banget do kampus. Jadi, baru sempat nengok lagi," kata Dika, dengan membuat alasan.
"Iya Kak, gak apa-apa kok."
Mita pun tersenyum senang, melihat kedatangan Dika dan perhatian yang diberikan oleh kekasihnya itu.
Apalagi, di saat Dika memberinya sebuah kontak kecil berwarna merah. Mita pikir, ini sebuah kejutan.
Dia melihat ke arah Dika, dengan mata berkaca-kaca menahan rasa haru, tapi juga bingung.
"Apa ini Kak?" tanya Mita, yang berusaha untuk menahan diri, untuk tidak langsung membukanya pada saat itu juga.
"Jangan di buka sekarang. Nanti malam saja, jika mau tidur ya!"
Papa dan mamanya Mita, saling pandang, karena melihat anaknya yang dalam keadaan berbahagia.
Meskipun sebenarnya, mereka berdua juga tidak tahu, apa isi dari kotak kecil, yang diberikan oleh Dika pada anaknya itu.
Sedangkan kedua temannya Mita saling pandang dengan mata berkedip-kedip. Mereka menyangka bahwa, pacar temannya itu, Dika, sedang ingin melamar Mita. Meskipun tidak secara langsung.
__ADS_1