Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kebenaran Soal Pengirim Video


__ADS_3

Setengah tahun kemudian, keluarga Anjani dan Abimanyu, tetap baik-baik saja. Tidak ada permasalahan yang cukup besar dan berarti, yang menimpa mereka berdua.


Nanda sudah bersekolah dan Ara juga sudah busa berjalan dengan lancar. Mereka berdua, sering bermain bersama-sama, dengan diawasi oleh baby sitter, yang masih dipekerjakan oleh Anjani.


Keluarga mereka, saat ini masih tinggal di Bogor dan Abimanyu, yang bekerja di Jakarta, hanya akan datang seminggu saja dalam satu bulan. Karena semua busa dua kerjakan lewat online.


Mama Amel, sebagai atasannya, jika tidak masalah. Dia memberikan kebebasan kepada Abimanyu, untuk mengatur sendiri bagaimana cara memimpin anak buahnya sendiri, karena Abimanyu, memang memiliki kantor sendiri, yang tidak sama letaknya dengan kantor mama Amel.


Saat ini, adalah waktunya Abimanyu berangkat ke Jakarta. Dia berpamitan pada Anjani, yang sudah selesai mempersiapkan segala keperluan yang akan dia bawa.


Ada saru koper besar untuk tempat baju dan pakaian yang akan dipakai Abimanyu, selama berada di Jakarta nanti.


"Nanti mau nginep di rumah atau di rumah ibu Mas?" tanya Anjani memastikan jika suaminya tidak kesulitan dalam keadaan tidak ada dirinya di Jakarta.


"Aku di rumah mama saja. Jan di rumah sudah tidak ada orang juga. Bibi sudah ada di sini juga bantu-bantu Kamu. Nanti, kalau semuanya sudah aman, dan menunggu awal tahun ajaran baru, kita baru pindah ke Jakarta. Kasihan Nanda, harus pindah-pindah sekolah terus."


Anjani mengangguk mengiyakan perkataan Abimanyu. Dia juga sebenarnya memiliki pemikiran yang sama seperti yang dipikirkan oleh suaminya itu.


Mereka berdua, tidak hanya memikirkan tentang keselamatan keluarga sendiri, tapi ada tangung jawab lainnya yang harus mereka pikirkan, yaitu Nanda.


Untungnya, Nanda anak yang cepat beradaptasi. Dia tidak begitu merepotkan Anjani dan juga yang lain. Dia bisa juga diminati tolong, untuk menjaga Ara, sambil bermain, jika baby sitter sedang cuti dan tidak ada yang bisa menjaga Ara dengan baik, karena Anjani juga ikut membantu di kafe.


Dia sepupu beda usia itu jadi seperti kakak beradik. Apalagi umur mereka juga tidak terlalu jauh, hanya terpaut kurang lebih dua tahun saja.


"Kata ibu, Yasmin memberi kabar jika ada laki-laki yang sedang dekat dengannya saat ini Mas. Jika dia menelpon Mas Abi, ibu minta Mas Abi untuk menasehati Yasmin, agar berhati-hati dalam memilih pasangan. Jangan sampai sama seperti dulu, saat dia memilih Wawan. Dan kasih tahu Yasmin juga, untuk berhati-hati dalam bergaul dan juga keuangannya juga." Anjani, menyampaikan pesan dari ibu Shofie, pada Abimanyu.


"Oh iya, dia sudah satu bulan ini tidak menghubungi Aku. Nanti jika dia menelpon, Aku akan tanya dan bicara dengan dia supaya tetap berhati-hati."


Abimanyu mengiyakan pesan dari ibunya. Dia memang belum tahu, jika adiknya, Yasmin, yang saat ini sedang bekerja jadi TKI di Taiwan, memiliki hubungan yang dekat dengan laki-laki.

__ADS_1


Meskipun dia merasa senang, karena dengan begitu Yasmin bisa melupakan perasaannya pada Wawan, Abimanyu juga tetap merasa khawatir jika Yasmin salah menilai dan memutuskan sesuatu yang terkait dengan masa depannya. Itu karena Yasmin, sering kali gegabah dalam bertindak dan memutuskan sesuatu tanpa dipikir terlebih dahulu dengan matang.


"Semoga kali ini, Yasmin bisa benar-benar berubah dan mendapatkan pendamping yang baik. Tidak seperti Wawan yang dulu, hanya bisa memanfaatkan Yasmin saja," kata Anjani penuh harap.


Abimanyu juga berharap hal yang sama. Dia mengamini harapan istrinya itu untuk adiknya, Yasmin.


"Ya sudah, Aku berangkat dulu ya. Kamu hati-hati di rumah ya Sayang. Jaga anak-anak dengan baik," kata Abimanyu berpamitan dan memberikan pesan sekali lagi pada istrinya, Anjani.


Abimanyu, memeluk istrinya dan mencium keningnya. Setelah itu berganti pada Ara yang saat ini sedang duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat mereka.


"Ayah Abi, Ayah Abi!"


Dari arah samping, dekat ayunan, Nanda berlari-lari kecil sambil berteriak-teriak memanggil Abimanyu.


"Ada apa Nanda. Jangan lari-lari, nanti jatuh Sayang," ucap Abimanyu mengingatkan keponakannya itu.


"Ayah mau ke rumah nenek?" tanya Nanda, yang sekarang ini sudah bisa berbicara dengan fasih. Dia tidak lagi cadel dan bisa menyebut huruf 'r' dengan benar.


"Iya, ayah Abi mau ke rumah nenek. Nanda mau pesan apa untuk nenek?" tanya Anjani, yang kali ini menjawab pertanyaan dari Nanda.


"Tidak Bunda. Nanda cuma mau bilang hati-hati. hehehe..."


Anjani jadi gemas, mendengar jawaban dari Nanda yang mirip perkataan orang tua.


"Wah-wah... perhatian sekali Nanda sama ayah Abi. Cium sini!" Anjani memberi ciuman terima kasih pada Nanda di kedua pipinya.


Nanda tersenyum dengan senang. Wajahnya tampak berseri-seri. Dia juga banyak tersenyum mengantar Abimanyu sampai di mobil.


"Nanda. Jangan nakal-nakal ya. Jagain adek Ara juga, dan tidak boleh cengeng," kata Abimanyu menasehati Nanda, saat mencium kedua pipi Nanda, sebelum masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Iya Ayah Abi," jawab Nanda dengan yakin.


Anjani dan Abimanyu tersenyum senang mendengar jawaban dari Nanda yang masih saja kayak dulu, selalu sok tua.


"Ara. Jangan rewel-rewel ya Sayang. Ayah berangkat dulu. Doakan semoga semua cepat selesai dan ayah bisa kembali lebih cepat juga," kata Abimanyu, sambil meminta Ara untuk dia gendong sebentar.


Ara yang belum bisa banyak bicara, hanya mengangguk dan berbicara dengan tidak jelas. Mungkin jika diartikan, Ara juga mengiyakan perkataan ayahnya itu, dan meminta pada ayahnya supaya bisa cepat kembali lagi ke rumah, agar bisa kembali bersama dengan mereka.


Beberapa saat kemudian, mobil Abimanyu terlihat keluar dari halaman rumah dan melaju ke jalan raya menuju ke arah Jakarta.


"Kita masuk yuk!" ajak Anjani, saat mobil suaminya sudah tidak terlihat lagi. Dia mengajak anak-anaknya, Ara dan Nanda, untuk masuk ke dalam rumah.


Anjani mengandeng tangan kedua dengan kedua tangannya juga. Kiri dan kanan.


"Bunda. Apa kita akan ke rumah yang dulu lagi, atau ke rumah nenek?" tanya Nanda tiba-tiba, begitu mereka sampai di dalam rumah.


"Kenapa? Nanda tidak suka di rumah Bunda yang ini?" tanya Anjani ingin tahu, apa yang sedang dipikirkan keponakannya itu.


"Tidak. Nanda suka Bunda. Tapi, Nanda juga kangen dengan nenek dan kakek Edi juga. Mereka juga tidak sering ke sini," jawab Nanda dengan menunduk.


Anjani menghela nafas panjang. Dia merasa bersalah karena memisahkan Nanda dengan nenek dan kakeknya.


"Kenapa tadi tidak bilang dengan ayah Abi, kan Nanda bisa ikut dengan ayah Abi tadi?" tanya Anjani, mencoba untuk mengetahui apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Nanda.


"Tidak. Nanda cuma kangen dan tidak mau di sana lama-lama. Nanda tidak mau, jika papa Wawan datang lagi. Nanda takut."


Anjani memeluk Nanda dan Ara bersamaan. Dia merasa jika, Nanda sedikit trauma dengan kejadian waktu dulu. Mungkin dia ikut melihat, bagaimana papanya, Wawan, memaksa mamanya Yasmin, agar mau mengirimkan video-nya pada keluarganya, guna mencari cara agar bisa memeras mereka.


Untungnya, Yasmin sebenarnya tidak mau dan itu karena dipaksa oleh Wawan. Itulah sebabnya, dia tidak ikut ditahan karena sesungguhnya dia juga salah satu korban dari keserakahan Wawan.

__ADS_1


Yasmin hanya mengikuti kemauan Wawan dan itu karena diancam dengan keselamatan anaknya, Nanda, yang merupakan anaknya Wawan sendiri.


__ADS_2