
"Bun."
Anjani menolehkan kepalanya, menatap ke arah suaminya yang baru saja memangil.
Mereka berdua, sudah berada di tempat tidur, bersiap untuk beristirahat. Anak-anak mereka, Ara dan Anggi, juga sudah masuk ke dalam kamar, setelah selesai membicarakan tentang rencananya Ara.
"Ada apa Mas?"
"Apa Mas keberatan, dengan rencana Ara?"
Anjani bertanya lagi, karena melihat suaminya, Abimanyu, hanya melihat kearahnya saja, tanpa ada maksud untuk menjawab pertanyaan yang pertama tadi.
Justru helaan nafas panjang, yang terdengar beberapa kali.
"Bukan Sayang. Hemmm... Mas hanya merasa... merasa jika semuanya terasa cepat berlalu."
Pandangan mata Abimanyu menerawang. Mengingat semua hal tentang Ara, pada masa kecilnya dulu.
"Ayah merasa jika, anak-anak kita masih kecil-kecil. Dan Ayah kaget saja Bun, saat Ara mengatakan keinginannya dan rencananya itu."
Anjani bergerak lebih dekat dengan suaminya itu. Kini, dia bersandar di bahu Abimanyu, dan berkata, "Apalagi Bunda Yah. Masih terus menganggap bahwa, mereka berdua itu masih anak-anak, yang tidak pernah dewasa."
Abimanyu menolehkan kepalanya, menatap ke wajah Anjani, yang saat ini sangat dekat dalam pandangan matanya.
"Mereka berdua, masih saja suka berantem hingga sekarang ini. Bagaimana bisa, Bunda menganggap mereka sudah besar dan dewasa Yah?"
Anjani kembali mengatakan perasaan hatinya, yang harus bersiap dari sekarang ini, untuk melepaskan anaknya, Ara, yang akan menuju pada kehidupan barunya nanti.
"Iya. Ayah juga begitu Bun. Rasanya, baru kemarin-kemarin Ayah belajar berjalan bareng Ara dan juga Nanda. Tapi kini, Ara mau memulai kehidupan barunya, tanpa campur tangan dati kita."
Air mata Abimanyu mengenang di sudut matanya. Dia selalu cengeng, saat mengenang kembali masa-masa sulitnya, yang dulu pernah mereka lalui.
Di saat Ara masih kecil, dan dia dalam keadaan lumpuh, karena sebuah kecelakaan mobil.
Bahkan pada waktu itu, rumah mereka pun harus rela untuk di jual, demi biaya pengobatan yang tidak sedikit. Dan tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama, hingga dia sembuh kembali.
Abimanyu memeluk Anjani dengan erat. Dia merasa sangat bahagia, karena memiliki seorang istri yang tidak hanya sekedar baik, tapi juga rela untuk berkorban banyak hal untuknya.
Pada masa-masa sulitnya, Anjani banyak sekali membantunya. Selain hanya merawatnya, Anjani juga harus memutar otak, untuk bisa bertahan hidup dalam keadaan yang rentan dengan pertengkaran.
Untungnya, Anjani adalah seseorang yang penyabar. Baik saat menghadapi dirinya yang lemah dalam semangat hidup, dan juga menjaga anaknya yang masih kecil.
Bahkan pada waktu itu, Anjani juga harus menjaga keponakannya, yaitu Nanda. Karena mamanya Nanda, Yasmin, yang sedang bekerja di luar negeri. Yaitu negara Taiwan.
"Ayah mau mengucapkan banyak terima kasih pada Bunda. Meskipun sebenarnya, ucapan terima kasih ini tidak ada artinya, karena tidak bisa seimbang dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bunda selama ini. Baik pada Ayah, dan juga anak-anak."
Anjani mendongakkan kepalanya, melihat ke arah suaminya, yang sedang berbicara.
"Mas. Anjani iklhas. Tidak usah diungkit lagi ya," ujar Anjani, pada suaminya itu.
Sekarang, Abimanyu juga menoleh dan melihat ke arahnya.
Abimanyu tersenyum, mendengar perkataan yang diucapkan oleh istrinya itu.
__ADS_1
"Hemmm... terima kasih Sayang."
Abimanyu mengucapkan terima kasih lagi, dengan disertai mencium kening Anjani.
"Terima kasih, untuk semuanya. Ayah tidak bisa menyebutkan satu persatu, dan itu tidak akan cukup untuk diucapkan, meskipun untuk seumur hidup Ayah."
Anjani tersenyum penuh keharuan, saat mendengar perkataan suaminya itu. Apalagi, saat Abimanyu mengecup keningnya.
Perasaannya membuncah, dan dia pun tak kuasa menahan air mata harunya.
Abimanyu masih memeluk Anjani, saat mereka berdua tidak lagi berbicara. Hanya hati dan perasaan mereka berdua, yang tahu, apa yang saat ini mereka berdua rasakan.
"Ayah, ayok tidur. Besok masih harus masuk kantor lho!"
"Nanti Bun. Ayah masih ingin memeluk Bunda."
Anjani tersenyum malu, karena perkataan yang baru saja diucapkan oleh suaminya itu.
"Ini kenapa?"
Tiba-tiba, Abimanyu bertanya dengan memegangi pipi istrinya, Anjani.
"Hah, kenapa Mas. Ada apa?" tanya Anjani balik, dengan panik.
Dia berpikir bahwa, ada sesuatu yang menempel atau melekat di wajahnya. Terutama pipi.
Bisa jadi, jerawat muncul, saat dia malu-malu tadi.
"Ini lho, kok pipinya memerah?" tanya Abimanyu, sambil menahan senyumannya.
Sekarang, Anjani sadar jika, suaminya itu, sedang mengerjai dirinya saja.
"Aciee... Bunda salting ya? hehehe..."
Sekarang justru Abimanyu meledek Anjani.
"Ihsss, kayak ABG aja sih Yah!"
Anjani mengelak dan tidak mengakuinya, jika tadi dia merasa tersanjung dengan perkataan dan sikap manis dari suaminya.
"Hahaha... kita selalu ABG Bun."
"Hemmm, menolak tua ya Yah?"
"Hahaha... ayok ahhh Bun, kita olah raga sebelum tidur. Ayah masih kuat kok."
"Yakin Yah, gak capek?" tanya Anjani memastikan kondisi tubuh suaminya sendiri.
"Wah, kayaknya gak perlu jawaban. Langsung dibuktikan saja ayok!"
Dan akhirnya, mereka berdua larut dalam suasana olah raga yang mereka lakukan sebelum pada akhirnya benar-benar tertidur.
*****
__ADS_1
Pagi hari, di kampus Ara.
Dia datang ke ruang Dekan, sama seperti undangan yang diberitahukan melalui email oleh pihak kampus secara resmi.
Ara, dengan langkah biasa, berjalan menuju ke ruangan tersebut tanpa menghiraukan beberapa mahasiswi, yang bergerombol dan berbisik-bisik, si saat dirinya lewat.
Bahkan, ada juga yang berkata demikian helas ditelinga Ara, yang sedang berjalan.
"Hai, this is the student who went viral yesterday?" ( Hai, bukankah ini adalah mahasiswi yang menjadi berita heboh kemarin? )
"Iya. Itu dia!"
"Tidak terlalu buruk juga."
"Maksudmu?"
"Itu ceweknya, memang sweet. Khas Indonesia."
Di antara mereka, justru ada yang kagum dengan sosok Ara.
Dengan postur tubuhnya yang lebih kecil dibanding dengan tubuh orang-orang Amerika, terutama yang bule, tentu berbeda jauh.
Apalagi, dengan warna kulit dan rambut Ara yang juga berbeda. Ini menjadikan dirinya terlihat menonjol dan mudah dikenali.
Tok tok tok!
Ara mengetuk pintu ruang Dekan.
"Please open the door."
Dari dalam ruangan, ada seseorang yang membuka pintu tersebut. Di dalam ruangan, sudah ada dekan dan satu orang yang bertanggung jawab atas majalah kampus, yang merupakan ahli IT dari aplikasi majalah kampus.
Ada juga tiga orang mahasiswi, yang sepintas Ara seperti mengenali mereka. Tapi, Ara tidak begitu jelas, siapa ketiganya.
"Morning sir," sapa Ara, pada dekan dan ahli IT tersebut.
"Morning to Ara."
"Ara, silahkan duduk."
"Terima kasih sir."
Ketiga mahasiswi yang sudah duduk terlebih dahulu, menggeser posisi tempat duduknya, yang ada di sofa ruang Dekan.
Mereka memberikan tempat untuk Ara duduk.
"Thanks," ucap Ara, pada mereka.
Ara memang cuek dan tidak begitu memperhatikan sekitar, dan juga teman-teman kamusnya.
Tapi, dia tetap ramah dan sopan, pada siapa saja, yang sedang berada di depannya, dan sedang berurusan dengan dirinya.
Sekarang, pihak IT membuka laptopnya, yang ada di atas meja. Di depan Ara dan yang lainnya.
__ADS_1
Ara yang belum tahu kelanjutan dari permasalahannya, hanya bisa diam dan melihat lagi, berita-berita yang kemarin menampilkan dirinya. Di laptop tersebut.