
"Ini yang mau di bawa ke rumah baru sudah siap semua Jani?" tanya ibu Sofie, yang ikut membereskan barang-barang anaknya, yang akan dibawa ke rumah baru mereka.
Ini karena mereka, keluarga Abimanyu, akan pindah ke rumah baru mereka, yang tidak begitu jauh dari rumahnya ini.
"Sudah Bu. Tinggal beberapa barang mainan milik Ara, yang belum semuanya dibereskan. Tuh anak malah kemana tadi ya?"
Anjani mencari-cari keberadaan anaknya, Ara, yang tidak terlihat membantu mereka, untuk membereskan barang-barang, yang mau dibawa. Anaknya itu pergi entah kemana, dan tidak berpamitan dengannya.
"Ara tidak main kok. Tadi cuma di mintai tolong untuk beli ke toko, sama eyang kakung."
Tiba-tiba, Ara datang dari arah belakang. Dia membawa bungkusan plastik. Itu tandanya, dia baru saja datang dari toko, yang tadi dia katakan.
"Oh, kirain main ke mana. Ya sudah, itu dikasih ke eyang, terus barang-barang Kamu, yang mau dibawa ikut dibereskan. Kardus sudah bunda siapkan dikamar ya. Kalau tidak bisa, kumpulkan saja, nanti bunda bantu beresin," kata Anjani, meminta pada Ara untuk membereskan barang-barang mainnya sendiri.
Ara mengangguk mengiyakan perkataan bundanya. Dia langsung pergi ke tempat eyang kakungnya berada, kemudian kembali ke dalam kamarnya sendiri.
Setelah semuanya selesai, Anjani memberitahu pada suaminya, untuk mencari mobil bak terbuka, yang akan disewa untuk membawa barang-barang mereka ke rumah baru nanti.
Abimanyu pun menurut. Dia pergi ke luar rumah, untuk mencari mobil tersebut, yang biasanya ada di luar perumahan ayahnya ini. Biasanya mobil seperti itu, ada di pangkalan, sama seperti pangkalan ojek juga. Bedanya, ini berupa mobil-mobil, yang digunakan untuk muatan barang.
Setelah hampir satu jam kemudian, Abimanyu datang dengan mobil bak terbuka tersebut. Dia ikut menumpang di dalamnya. Sedangkan sang supir yang mengemudikannya sendiri.
Akhirnya, semua orang sibuk membantu mereka untuk mengangkat barang-barang yang akan mereka bawa. Termasuk Ara, yang sedari tadi membawa tas miliknya sendiri.
Ara tidak juga meletakan tas itu ke dalam mobil barang. Dia membawa tas tersebut, dan tidak juga menaruhnya, sehingga di tegur oleh Anjani.
"Ara. Tas nya itu di taruh Sayang. Biar Kamu tidak keberatan. Masa Kamu mau membawanya sendiri, berat tidak?" Anjani berkata, memberitahu anaknya.
__ADS_1
"Gak Bun. Gak berat kok. Ini cuma buku-buku sekolah Ara. Kalau di taruh di situ, takutnya kegencet dengan barang-barang yang lain, nanti malah rusak," sahut Ara, sambil menunjuk ke mobil barang yang sudah selesai ditata sesuai dengan keadaan barang bawaan mereka
Anjani, akhirnya tidak lagi bertanya-tanya pada Ara. Dia membiarkan anaknya itu untuk melakukan hal yang dia inginkan.
Tak lama, mereka semua, termasuk ayah Edi dan ibu Sofie, ikut berangkat menuju ke rumah baru Abimanyu. Mereka berdua, ikut membantu anak-anaknya, di rumah baru, meskipun hanya sebentar saja nanti.
Jadi, rumahnya ini kosong untuk sementara waktu.
Sementara Sekar dan Juna, bersama dengan anak mereka, sudah ada di rumah baru keluarga kakaknya, Abimanyu. Mereka sudah ada di sana, untuk menyambut kedatangan mereka semua.
Tak lama, mereka sampai juga di rumah baru. Rumah yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga. Pas untuk keluarga Abimanyu, yang hanya ada tiga orang, dan akan bertambah, seandainya program hamil yang diikuti Anjani sukses, untuk beberapa waktu ke depan.
Sekar dan Juna, sudah ikut membantu membersihkan beberapa tempat, yang akan digunakan untuk menyimpan barang-barang bawaan mereka. Sedangkan anaknya, bermain-main sendiri di ruang tengah.
Sekarang mereka semua sibuk menurunkan barang yang baru datang dengan mobil tadi.
Abimanyu memang tidak bisa ikut membantu mereka untuk mengangkat barang-barang tersebut. Ini karena dia memang tidak diperbolehkan untuk membawa barang berat, karena kekuatan tulang belakangnya, sudah tidak memungkinkan.
Itulah sebabnya, sedari tadi, Abimanyu hanya bisa diam dan menjaga anaknya Sekar bersama dengan Ara, anaknya sendiri.
Mereka semua, dengan senang hati, baju membahu untuk saling membantu pekerjaan Anjani dan Abimanyu ini.
*****
Di rumah mama Amel, Elang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia memang sengaja membawa pekerjaan kantor, untuk diselesaikan di rumah.
Padahal sebenarnya mama Amel tidak suka, jika anaknya itu harus terus menerus bekerja, meskipun sedang berada di rumah. Tempat dimana seharusnya dia beristirahat dari kesibukan kantor, yang tidak ada habisnya.
__ADS_1
"Seharusnya Kamu itu istirahat, pergi kencan, makan malam bersama pacar atau melakukan apa-apa yang menyenangkan Elang. Tidak hanya sibuk dan berkencan dengan pekerjaan dan laptop saja!"
Mama Amel, sudah mengomel dan memarahi anaknya itu, yang tetap diam saja, dsn tidak berkomentar apa-apa.
Elang, sudah terbiasa dengan ocehan mama Amel, yang seakan-akan makin cerewet, setelah dia menolak tawaran perjodohan yang sudah dia atur beberapa kali.
Bahkan yang terakhir kalinya, sang gadis berkata terus terang, jika tidak mau melanjutkan perkenalannya dengan Elang, setelah jamuan makan malam.
Sang gadis beralasan bahwa, Elang tidak sesuai dengan kriteria yang dua inginkan. Elang dianggap tidak punya etika tinggi dalam berpakaian, saat melakukan pertemuan dengannya. Sungguh suatu penilaian yang sangat memalukan bagi mama Amel.
Tapi, kedua orang tua si gadis, sudah meminta maaf pada mama Amel dan juga Elang, dengan perkataan putri mereka yang tidak sopan. Ini karena mereka sebenarnya tahu, siapa yang mereka hadapi. Karena sesungguhnya, mama Amel dan Elang, jauh di atas mereka dalam urusan kekayaan serta pergaulan kelas sosial tinggi. Hanya sang gadis saja yang tidak tahu apa-apa.
Tapi semua itu justru disyukuri oleh mama Amel, karena dia terhindar dari calon menantu yang hanya ingin mendapatkan kelas sosial tinggi, dan memandang rendah mereka yang ada di bawah. Padahal pribadi mama Amel tidak seperti itu.
Mama Amel justru menghargai mereka-mereka yang ada di bawahnya, karena dia berpikir, tanpa adanya mereka, usaha dan bisnis yang dia jalankan sedari dulu, tidak ada yang berhasil dan dia juga tidak akan mempunyai pegawai yang loyal terhadap perusahaannya selama ini.
Awan sendiri tidak begitu suka dengan gadis tersebut. Karena dari attitude yang dia rasakan, gadis itu tidak akan bisa menerimanya sebagai anak tiri.
"Wanita itu hanya bisa berdandan dan bergaya dalam pergaulan saja."
Elang juga sama. Dia berkata demikian pada mamanya, dan berharap jika mamanya tidak lagi mendesaknya untuk segera menikah. Padahal sebenarnya, Elang ingin pelan-pelan saja, mencari calon istri yang sesuai dan tepat.
Elang tidak ingin salah langkah dan asal ambil, karena pengalaman hidup yang dia miliki sudah banyak mengajarkan kepadanya untuk bisa lebih berhati-hati lagi.
Apalagi sekarang ini, Elang harus mencari istri, yang tidak hanya sekedar untuk dirinya sendiri. Ada Awan, yang juga harus dipertimbangkan perasaannya, jika dia harus menikah lagi, dan mencarikan ibu sambung bagi anaknya itu.
"Aku akan mencarinya sendiri Ma. Aku pasti akan dapat yang sesuai dengan keinginan Mama. Aku akan mencari yang terbaik dan juga tepat, bukan hanya untukku sendiri, tapi juga untuk Awan, Mama dan papa. Dia akan bisa diterima, untuk bisa hidup bersama Elang, suatu hari nanti."
__ADS_1
Begitulah kata Elang pada mama Amel. Dia meminta kepada mamanya, supaya tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan dirinya, yang sedang dalam sendiri saat ini.