Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Bukan Begitu Maksudnya


__ADS_3

Sampai di rumah, Awan masih saja memikirkan tentang siapakah sebenarnya Ara, yang tadi baru saja dia temui, karena menjadi siswi baru, dengan beasiswa prestasi, di kelas tujuh tanpa sengaja pagi ini.


Tapi semakin Awan berpikir, semakin tidak bisa juga dia mengingatnya. Tapi saat ingat tentang preman pencopet, yang secara tidak sengaja berantem dengannya, dia ingat dengan ibu-ibu muda, yang berantem terlebih dahulu dengan preman tersebut.


Awan ingat dengan kejadian waktu itu karena, baru saja dia melihat iklan di layar televisi, yang sedang menayangkan iklan sebuah film laga dari luar negeri.


"Aku pikir, gadis kecil tadi, agak mirip gitu dengan tante yang kemarin. Eh, iya, Gue lupa tanya juga namanya!"


Akhirnya, Awan jadi ingat juga, bahwa dia tidak tahu, siapa nama dari orang yang sudah dia tolong kemarin itu. Tapi dia juga merasa tidak enak hati, jika harus bertanya tentang namanya, karena tante itu juga tidak bertanya namanya Awan.


"Mungkin dia juga lupa bertanya kepadaku, hehehe..." Awan terkekeh sendiri, saat ingat kejadian kemarin.


"Tapi emang agak mirip sih, cuma ya bisa jadi gak juga. Kan kadang wajah orang-orang, bisa saling mirip antara satu dengan yang lainnya. Apalagi, Aku hanya mengira-ngira tanpa ada kejelasan juga kan," kata Awan, membantah ingatannya sendiri.


Tak lama kemudian, Awan segera masuk ke dalam rumah. Di mana rumah omanya ini dalam keadaan sepi, sama seperti biasanya, karena oma dan juga ayahnya, Elang, sedang bekerja. Dan opanya, papa Ryan, juga sedang berada di Jawa Timur, untuk meninjau pembangunan pabrik garmen yang baru saja diresmikan bulan kemarin.


"Opa makin sibuk saja sekarang ini. Dan Ayah, kapan cari ibu buatku, jika tiap hari kerjaannya cuma ke kantor saja!" Awan merasa kesal sendiri, dengan suasana di rumah ini.


Besar, mewah, tapi sepi dari kehidupan yang banyak diimpikan oleh semua orang, terutama anak-anak seperti dirinya sendiri.


Awan merasa tidak tenang, saat berada sendirian di rumah. Meskipun ada beberapa pelayan dan penjaga rumah, tapi tetap saja rasanya tidak sama seperti jika ada oma atupun ayahnya di rumah, bersama dengannya.


"Kapan rumah ini rame ya?" gumam Awan sendiri, dengan melangkah menuju ke arah kamarnya sendiri.


"Den. Den Awan!"


Salah satu pelayan di rumah memanggil-manggil Awan.


"Ada apa Bi?" tanya Awan, begitu dia menolehkan kepalanya dan juga memutar tubuhnya, menghadap ke arah datangnya bibi pembantu rumah.


"Tadi tuan Muda Elang berpesan, katanya, Den Awan diminta untuk datang ke kantor. Kayanya ada perlu penting!" Bibi menyampaikan pesan kepada Awan, dari ayahnya Elang.


"Kok gak telpon atau kirim pesan ke Awan ya Bi?" tanya Awan heran dengan pesan dari ayahnya itu.


"Tidak tahu Den. Kayanya handphone milik Den Awan tidak aktif," sahut bibi pembantu rumah.


"Emang Ayah berangkat ke kantor jam berapa?" tanya Awan memastikan jika dugaannya benar.


"Sekitar jam... jam sembilan tadi pagi, kalau tidak salah," jawab bibi mengingat-ingat.

__ADS_1


"Oh, ya benar saja. Handphone Awan pasti non aktif Bi, kan udah bel masuk itu," ujar Awan membenarkan perkataan ayahnya tadi, pada bibi pembantu.


"Hehehe... iya juga ya. Itu Tuan muda lupa mungkin Den," ujar bibi pembantu, yang membenarkan juga.


"Pasti. Ayah terlalu fokus kerja. Jadi lupa dengan anaknya juga," sahut Awan dengan nada sedih.


"Tidak juga Den. Mungkin, memang Tuan muda sedang sibuk-sibuknya. Kan ada pembangunan pabrik garmen baru juga di Jawa Timur. Pasti itu butuh konsentrasi juga," kata bibi pembantu, mencoba untuk memberi pengertian kepada Awan.


Awan tersenyum kecut, mendengar perkataan bibi pembantu rumah, yang sepertinya lebih paham, bagaimana keadaan yang terjadi di rumah ini.


Mungkin karena bibi pembantu rumah, sudah cukup lama bekerja dengan keluarga omanya, sehingga memahami mereka semua, lebih baik daripada yang lain. Termasuk Awan sendiri.


Akhirnya, Awan pamit untuk pergi ke kamarnya dulu, dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor ayahnya.


"Awan ke kamar dulu Bi. Tolong bilang sama pak supir, Awan mau pakai motor saja, tidak perlu diantar pakai mobil."


Bibi pembantu, mengangguk mengiyakan permintaan Awan.


"Ada apa ya? Tumben-tumbenan ayah minta Aku ke kantor," tanya Awan, pada dirinya sendiri.


Tapi karena Awan tidak tahu, apa maksud dari permintaan ayahnya, akhirnya Awan memutuskan untuk berangkat nanti, setelah dia beristirahat sebentar, karena hari pertama masuk sekolah, sudah cukup membuatnya lelah.


*****


Ara mengucapkan salam, sat masuk ke dalam rumah. Tapi, dia juga berteriak-teriak, memanggil bundanya, karena tidak melihat keberadaan bundanya, Anjani.


"Kakak!" panggil Miko dari arah belakang.


"Ihhh, itu kakakku Miko!" Anggi tidak terima, karena Miko mendahului dirinya, menyapa Ara, yang baru saja datang.


"Kenapa? Aku terbiasa kan manggil kak Ara dengan kakak juga?" tanya Miko dengan wajah bingung, karena sikap Anggi, yang sedari tadi tidak bersahabat dengannya.


"Pokoknya, Kamu boleh panggil kak Ara, tapi Aku duluan," kata Ara, memberikan syarat pada Miko.


"Yahhh, Anggi. Kan yang denger duluan Aku. Yang liat liat juga Aku duluan tadi!"


Miko tidak terima, dengan syarat yang diberikan oleh Anggi. Menurutnya itu tidak adil, karena dia yang lebih dulu melihat dan mengetahui kedatangannya Ara.


Di depan pintu masuk, Ara yang tidak tahu apa-apa, jadi bingung dan mengerutkan keningnya, melihat perdebatan kedua adiknya itu.

__ADS_1


Meskipun Miko adalah adik sepupunya, tapi Ara menyayanginya, sama seperti menyayangi Anggi, adik kandungnya sendiri.


"Bunda mana?"


Akhirnya, Ara bertanya kepada mereka berdua, dimana keberadaan bunda mereka, Anjani.


"Ada apa Sayang?"


Dari arah belakang, muncul Anjani, yang membawa keranjang baju bersih. Mungkin, bundanya baru saja selesai mengangkat jemuran baju yang sudah kering.


"Bunda. Mereka berdua kenapa?" tanya Ara, ingin tahu apa yang terjadi pada Anggi dan Miko.


"Memang mereka berdua kenapa?" bundanya justru balik bertanya.


"Yuh mereka berdua, kayak T**om and Jerry. Dari tadi berdebat dan tidak jelas gitu Bun," jawab Ara, mencoba memberi penjelasan pada bundanya, tentang adiknya Anggi dan Miko.


"Hehehe... itu udah dari sekolah tadi mereka kayak gitu. Biarin sajalah. Nanti juga baikan sendiri."


Ara mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan dari bundanya itu. Dia, yang tadi awalnya mau bercerita tentang kegiatan pertamanya di sekolah, jadi lupa dan pamit untuk pergi ke kamarnya sendiri.


"Ara ke kamar dulu Bun. Mau bersih-bersih, terus istirahat sebentar." Ara mengatakan keinginannya untuk beristirahat juga.


Tapi Anjani justru memintanya untuk secepatnya berganti baju dan membersihkan dirinya, kemudian membantu bundanya untuk mengantar Miko pulang ke rumah.


"Kamu yang antar Miko ya Sayang. Bunda sedang ada banyak kerjaan ini. Tadi kan gak sempet, soalnya nunggu Anggi di sekolah," kata bundanya meminta tolong kepada Ara.


Sebenarnya Ara malas mengantar pulang Miko sendiri. Tapi dia juga merasa kasihan dengan bundanya, yang sedang banyak kerjaan dan tentunya capek mengurus kedua adiknya itu. Apalagi jika mereka berdua sedang mode marahan dan ngambek-ngambek kayak tadi.


"Ya Bun. Apa sekarang saja?"


Ara justru mengusulkan untuk mengantar Miko sekarang, mumpung dia belum masuk ke dalam kamar. Jadi sekalian jalan.


"Kamu katanya capek, mau istirahat sebentar?"


Ara mengeleng mendengar pertanyaan bundanya. "Sekalian cepek_nya Bunda. Dari pada nanti dia tambah usil lagi," jawab Ara, dengan alasan yang sebenarnya tepat, tapi tidak tepat, saat perkataan Ara itu, didengar oleh Miko


Tapi Anjani merasa tidak enak hati, jika mamanya Miko, Sekar, sedang beristirahat di rumah, karena kehamilannya saat ini benar-benar membutuhkan waktu untuk beristirahat, dan tidak banyak melakukan aktivitas.


Apalagi, pembantu rumah tangga yang dipesan oleh Juna, papanya Miko, belum juga datang ke rumah. Mungkin minggu depan, pembantu rumah tangga itu baru akan datang.

__ADS_1


Tapi ternyata, Miko mendengar perkataan Ara. Dia menjadi sedih, karena berpikir bahwa, keberadaan dirinya di rumah ini tidak diinginkan oleh mereka semua. Dia merasa kecewa.


Miko diam-diam pergi ke belakang dan menangis sendiri. Meskipun sebenarnya, Anggi juga memperhatikan bagaimana setiap tingkah laku sepupunya yang tidak bisa diam, meskipun hanya sebentar saja, tanpa diketahui oleh Miko sendiri.


__ADS_2