
Waktu hampir malam, saat Ara tiba di rumah. Dia di antar oleh gurunya, setelah mengantarkan temannya juga.
"Mampir dulu Pak guru," kata Ara, menawarkan gurunya untuk mampir sebentar.
"Iya. Bapak juga mau bertemu dengan orang tua Kamu sebentar," jawab pak guru, kemudian keluar dari dalam mobil.
Ara juga keluar dari dalam mobil, kemudian berlari-lari kecil sambil berteriak memanggil ayah dan bundanya. "Ayah, Bunda. Ara pulang!"
"Ara, jangan teriak-teriak. Jangan lari-lari juga," kata pak guru menasehati Ara.
Ara menoleh ke arah gurunya, sambil nyengir. Dia berjalan menuju ke rumah dan mencari keberadaan bundanya, Anjani.
"Bunda..."
"Iya Kak. Bunda ada di dapur!"
Dari arah dapur, Anjani menyahuti panggilan anaknya, Ara.
Ara berjalan menuju ke dapur dengan cepat. Dia memberitahu bundanya, jika ada pak gurunya yang mengantar pulang mampir.
"Bunda, ada pak guru di depan," kata Ara memberitahu.
Anjani bergegas membersihkan tangannya, kemudian keluar dari dapur, untuk menemui Ara. "Sudah di minta duduk belum pak gurunya?" tanya Anjani, saat Ara menyalami tangannya dan menciumnya.
"Sudah," jawab Ara pendek.
Sekarang, keduanya berjalan ke arah ruang tamu, dimana gurunya Ara sudah duduk menunggu.
Anjani menyalami gurunya Ara, dan mengucapkan banyak terima kasih atas semua yang sudah dia lakukan untuk Ara.
"Maaf Pak, ayahnya belum pulang dari kantor. Masih ada di perjalanan pulang," kata Anjani, meminta maaf pada gurunya, karena Abimanyu, suaminya, sedang tidak ada di rumah.
Ara keluar dari dalam rumah, membawa satu cangkir teh hangat untuk gurunya.
"Silahkan di minum Pak," kata Ara menawarkan.
"Terima kasih Ara," ucap pak guru.
Sekarang, pak guru memberikan beberapa nasehat dan pesan untuk Ara, melalui Anjani, supaya tetap diperhatikan oleh orang tua untuk menjaga beasiswanya, agar tidak terhenti di tengah jalan, karena prestasi yang menurun.
Ara juga ikut mengembangkan semua pesan gurunya itu. Dia berjanji, untuk tidak melupakan tugas utamanya, yaitu belajar.
Beasiswa berprestasi yang diterima, harus tetap bisa diterima hingga ke jenjang SMA jika Ara bisa mempertahankan nilai-nilai mata pelajaran utama yang di minta. Tidak boleh ada satu pun yang berkurang, sehingga menjadikan salah satu penentu dicabutnya hak beasiswa tersebut.
"Ara harus ingat juga ya, bahwa kedisiplinan dan sikap kita juga diperhatikan oleh mereka," kata pak guru lagi, memberikan nasehat pada muridnya itu.
__ADS_1
Ara mengangguk mengiyakan perkataan dan semua nasehat dari gurunya. Dia juga tidak mau, jika beasiswa akan hilang saat masih ada di tengah jalan.
Setelah berbincang-bincang sebentar, pak guru pamit untuk pulang.
"Bunda. Ara seneng banget, akhirnya bisa diterima di sekolah itu.
Ara memeluk bundanya, untuk mengungkap perasaannya saat ini. Dia begitu berbahagia dan juga bersemangat. Karena keinginannya untuk bisa bersekolah di yayasan tersebut, bisa menjadi kenyataan.
Selesai magrib, Abimanyu sampai di rumah. Dia memarkir motornya, kemudian masuk ke dalam rumah.
Tidak lupa, dia juga membawa mantel hujan miliknya sendiri, dan miliknya Ara, untuk dibersihkan terlebih dahulu, karena tentunya sempat kotor saat dipakai tadi pagi.
Tapi saat dia baru saja sampai di depan pintu, dan belum sempat membuka pintunya, Ara sudah terlebih dahulu membukakan pintu.
"Ayah!"
Ara berteriak senang, saat melihat kedatangan ayahnya.
"Ara. Ada apa ini? tumben-tumbenan," sahut ayahnya, yang belum mengerti apa yang dirasakan oleh anaknya itu.
"Ara berhasil Yah. Ara di terim!"
Ara memeluk ayahnya, setelah mengatakan semuanya. Dia juga berterima kasih pada ayahnya, yang sudah memberikan beberapa nasehat dan juga mengajarinya kemarin-kemarin, saat dia kesulitan belajar.
"Wah, selamat Sayang. Kamu pantas mendapatkannya," ucap Abimanyu, sambil mencium kening anaknya, yang masih ada di dalam pelukannya.
"Wah, kita tidak ikut dipeluk nih..." kata Anjani, sambil melirik ke arah anaknya yang kedua.
Tak lama, Anggi berlari menuju ke arah ayah dan kakaknya, yang masih berpelukan dengan ayahnya yang sedang berjongkok.
Kini mereka bertiga sama-sama saling berpelukan. Anjani menyusul kemudian dari arah belakang. Memeluk kedua anaknya dan dengan mengengam tangan suaminya.
******
Miko baru saja tertidur, saat Juna datang dari tugasnya di luar kota.
"Sayang... Miko," panggil Juna, mencari keberadaan anaknya
Sekar, yang sedang membereskan barang-barang suaminya, yang ada di koper, menyahuti panggil suaminya itu, untuk anaknya. "Miko sudah tidur Mas," kemudian, Sekar melanjutkan aktivitasnya, memisahkan baju-baju yang kotor dan yang masih bersih milik suaminya, Juna.
Tapi, Juna tetap melanjutkan langkahnya menuju ke arah kamar anaknya, Miko.
Juna masuk ke dalam kamar anaknya. "Yah, benar kata Sekar. Dia sudah tidur," gumam Juna.
Dia mendekat ke tempat tidur anaknya, kemudian mencium kedua pipi dan keningnya Miko. "Maaf Sayang, Papa gak bisa nemenin Miko main beberapa hari ini," kata Juna, sambil mengusap-usap rambut anaknya.
__ADS_1
Setelah itu, Juna keluar dari kamar. Dia mencari keberadaan istrinya, Sekar.
"Ma. Sayang," panggil Juna, sambil terus berjalan ke arah kamar.
"Aku di sini Mas!" sahut Sekar dari arah dapur.
"Hemmm... Aku pikir tadi masih di kamar. Hehehe..."
"Ah Mas Juna. Nyiapin ini dulu. Mas Juna baru saja datang, belum makan," kata Sekar, sambil menunjuk beberapa makanan yang sedang dia siapkan.
"Aku ingin makan yang lain," jawab Juna, sambil memeluk istrinya dari arah belakang.
"Yakin, gak makan dulu? memang kuat? hahaha..."
Sekar meragukan perkataan suaminya, sambil tertawa-tawa senang. Dia sudah merasakan geli, karena Juna, mulai menciumi rambutnya dan juga area lehernya.
"Makan dulu Mas. Aku gak mau nanti cacingnya nyanyi, saat tangung di tengah jalan." Sekar mengingatkan suaminya, dengan kalimatnya yang ambigu di telinga Juna.
"Apa itu tadi, gak akan ah," sanggah Juna, yang terus melanjutkan aktivitasnya.
Sekarang, mereka berdua saling berhadapan dan Sekar, siap dengan semua yang diinginkan oleh suaminya itu. Apalagi, mereka sudah tidak bertemu selama satu minggu ini. Tentunya, rasa rindu ada di dalam hatinya.
Begitu juga dengan Juna. Dia tentu sudah menahan semua perasaan dan keinginannya yang normal, sebagai seorang laki-laki yang beristri.
Mereka berdua, akhirnya pergi ke dalam kamar. Melanjutkan aktivitas mereka yang privasi, karena tidak ingin ketahuan anaknya, Miko, yang mungkin saja terbangun, kemudian keluar untuk mencari keberadaan namanya.
Mereka berdua, tidak ingin sampai terjadi hal seperti itu. Itulah sebabnya, mereka berdua selalu melakukannya di dalam kamar, dan tidak di tempat lainnya. Kecuali jika memang sedang tidak ada orang di rumah, termasuk Miko, anaknya sendiri.
Beberapa saat kemudian, kegiatan mereka berdua sudah selesai.
"Kamu sudah siap untuk adiknya Miko kan Sayang?" tanya Juna, yang masih dalam keadaan memeluk Sekar.
Sekar hanya mengangguk saja, kemudian menatap wajah suaminya itu, kemudian bertanya, "Mas Juna mau cewek apa cowok? atau kembar?"
Juna membelalakkan matanya, mendengar pertanyaan dari istrinya.
Sekar mengangguk sambil mengedipkan matanya, untuk menyakinkan suaminya itu.
"Kamu yakin Sayang? kalau Kamu mau kembar, kita program lewat penanganan dokter. Biar gak kecewa nantinya." Juna ikut bersemangat, saat mendengar perkataan istrinya, yang katanya sudah siap untuk hamil. Bahkan, menawarkan diri untuk bisa hamil kembar.
"Tapi Sekar takut Mas," kata Sekar menunduk.
"Kenapa?" jawab Juna cepat.
"Miko aktif kayak gitu Mas, gimana adiknya nanti?" Sekar mengatakan ketakutannya sendiri.
__ADS_1
"Hahaha... kirain apa. Itu hal yang biasa Sayang. Lagian dia kan cowok. Nanti, jika sudah besar pikirannya juga sudah berubah dan tidak seperti sekarang ini. Kamu pasti bisa kok," jawab Juna, yang mengingat masa kecilnya sendiri, yang kata orang-orang juga super aktif. Sama seperti Miko, yang super aktif dan tidak mau diam.