
Pantai di Bali semua elok dan menakjubkan. Pasir putihnya yang membentang sepanjang pantai dengan airnya yang jernih dan ombak bergulung-gulung di terpa angin, menuju pantai dan pecah di bibir pantai. Menyebar mencari tempat untuk kembali lagi ke lautan luas. Begitu seterusnya.
Pemandangan malam ini, begitu menakjubkan untuk kedua pasangan yang baru saja menikah. Menikmati kebersamaan mereka dengan berjalan kaki disepanjang pantai sambil berpelukan, memberikan kehangatan dari hembusan angin pantai pada malam hari, yang dingin.
"Kita mau cari makan di mana?" tanya Abimanyu, sambil menunduk. Melihat ke arah istrinya.
Jani mendongak menatap wajah suaminya, Abimanyu. Dia menggeleng sambil berkata, "terserah Mas Abi. Jani kan tidak tahu, yang ada di Bali. Baru juga ke sini kali ini. Beda dengan Mas Abi kan?"
"Hemmm, mau makan di hotel apa luar?" tanya Abi lagi pada Jani. Dia ingin, Jani yang memutuskan tempat makan malam mereka berdua kali ini.
"Di luar saja. Kalau di hotel, bisa besok-besok pas kita malas keluar Mas," jawab Jani, memberikan usulan.
"Wah, bener juga tuh. Kan kita pasti malas keluar kamar ya besok-besok," sahut Abimanyu cepat, sambil tersenyum-senyum sendiri. Dia menanggapi jawaban dari istrinya, dengan artian yang berbeda.
Jani memukul gemas lengan Abi, karena membahas masalah kamar. Dia jadi malu, karena memang tidak terbiasa bicara dengan bahasa yang vulgar.
"Eh, kok di pukul sih?" tanya Abimanyu meringis, meskipun sebenarnya tidak terasa sakit.
"Mas sih!" kata Jani cemberut.
"Hahaha... ayok!"
Abimanyu tertawa senang, kemudian membawa Anjani berjalan lebih cepat untuk mencari tempat makan malam untuk mereka.
"Kita cepat cari tempat makan, sebelum malam semakin dingin. Nanti pada penuh, dan kita tidak kebagian tempat," ajak Abi, berjalan menuju ke arah rumah makan yang tidak jauh dari pantai, dan juga hotel tempat mereka menginap.
"Kenapa tidak kebagian?" tanya Jani bingung, Dia ingin tahu alasannya kenapa bisa begitu.
"Ya karena masakan di sana enak-enak semua. Lagipula, siapa tahu, mereka ingin mengerjai pengantin baru seperti kita," jawab Abi asal memberikan jawaban. Karena sebenarnya, dia juga tidak tahu, apa yang tadi dia katakan pada istrinya itu, benar atau tidak. Dia jadi tersenyum-senyum sendiri dalam hati.
__ADS_1
"Aneh-aneh saja orang-orang Bali. Ya sudah, ayo Mas kalau begitu," ajak Jani, tidak sabar.
Abimanyu, jadi ikut berjalan dengan cepat mengimbangi langkah Jani. Dia tidak tahu, kalau Jani bisa berjalan dengan cepat, padahal tidak begitu jangkung juga untuk ukuran perempuan. Mungkin karena terbiasa panjat dinding, jadi dia bisa cepat.
Tiba di rumah makan, Anjani dan Abimanyu, mencari tempat duduk yang nyaman untuk menikmati hidangan. Mereka, mencari tempat duduk yang langsung menghadap ke arah pantai.
"Wah, untung masih ada tempat duduk yang nyaman begini," kata Jani memuji keindahan panorama yang diperlihatkan di luar rumah makan.
Abimanyu, duduk di depan Anjani dan tidak juga bergeming dari arah pandangannya. Anjani, jadi merasa kikuk dan salah tingkah, karena di tatap oleh suaminya sendiri dengan cara yang tidak biasa.
"Mas," tegur Anjani sambil menundukkan wajahnya.
"Jangan menunduk," kata Abi, meminta Anjani agar tidak menundukkan wajah.
"Mas sih, kan Jani jadi malu."
"Keindahan yang Aku lihat ini, juga sama cantiknya dengan pemandangan yang ada di luar sana. Bahkan lebih indah, sehingga netraku tidak bisa berpaling darinya," kata Abi, membuat kiasan untuk menggambarkan bagaimana cantiknya wajah istrinya, Anjani.
"Jani. Kamu tahu kan, Aku tidak bisa merayu, makanya jomblo terus sedari dulu. Aku juga tidak bisa romantis, jadi tidak tahu juga bagaimana membuat seorang wanita melayang dengan kata-kata dan apa yang Aku lakukan untuknya. Apa ini sudah bisa dibilang romantis?" tanya Abimanyu, tanpa menghiraukan wajah Anjani yang sudah tampak memerah sedari tadi.
"Jani tidak tahu Mas. Jani kan tidak pernah dekat dengan laki-laki sebelumnya. Hanya dengan ayah Jani dekat selama ini. Ayah yang sabar dan lembut. Jani hanya lunya impian bisa mendapatkan suami seperti ayah, dan itu Jani lihat ada pada Mas Abi."
Abimanyu, meraih tangan Anjani untuk digenggam. Dia percaya, apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Karena, sewaktu menjadi istri dari Elang, Anjani hanya bersikap biasa dan mereka berhubungan seperti kakak beradik dan bukan suami istri. Meskipun pada akhirnya Elang menyadari, jika dia memiliki rasa pada istri sirinya, tapi itu sudah terlambat. Anjani keburu minta cerai dan Elang mengabulkan permintaan itu. Apalagi, kini Elang dengan istrinya, Adhisti, sudah kembali rujuk dan Membaik.
"Mas, Mbak. Ini mau pesan dulu, atau masih menunggu ada teman yang mau datang?" seorang pelayan laki-laki, dengan pakaian khas Bali, menawarkan untuk mencatat pesanan mereka berdua.
"Oh iya, kami pesan sekarang," jawab Abimanyu.
Akhirnya, mereka berdua berdiskusi tentang pilihan makanan yang akan mereka pesan untuk makan malam mereka berdua.
__ADS_1
*****
Sekitar pukul setengah sebelas malam, Abimanyu dan Anjani sampai di kamar hotel.
"Huhfff... capek, kenyang, dan ngantuk datang nih," kata Abimanyu pelan, seakan-akan untuk dirinya sendiri. Abimanyu, langsung merebahkan diri di atas tempat tidur, begitu masuk ke dalam kamar. "Kamu mandi dulu Sayang. Pakai air hangat, biar segar," kata Abimanyu, memberikan saran pada Anjani.
"Iya Mas," jawab Anjani pendek. Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi, setelah keletakan tas di atas meja.
Abimanyu, menoleh ke arah meja yang ada di dekat tempat tidur. Di sana, ada dua handphone. Satu milik Anjani dan satu lagi miliknya. Tadi mereka berdua, sengaja tidak membawa handphone saat keluar. Sekarang, Abimanyu mencoba untuk mengecek, apakah ada pesan atau telpon yang masuk.
Hanya ada dua panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan yang bertanya tentang keberadaan dan kabarnya. Ada juga teman-teman yang menanyakan tentang malam pertamanya, apakah sudah kemarin-kemarin waktu ada di Bogor atau baru malam ini, waktu ada di Bali.
"Ada-ada saja mereka," guman Abimanyu, tanpa bermaksud untuk menjawab pesan atau menelpon balik mereka, teman-temannya Abi.
Cklek!
Pintu kamar mandi terbuka. Anjani keluar dari dalam dengan keadaan yang lebih segar.
"Sudah Mas. Gantian Mas yang mandi gih!"
Abimanyu, justru diam saja dan terus menatap wajah istrinya itu. Anjani jadi merasa serba salah, karena Abimanyu selalu memberikan tatapan mata yang membuatnya harus merasa malu.
Abimanyu bangkit dari duduknya, kemudian berjalan mendekat ke arah Anjani. Dia memeluk istrinya dari belakang, dengan penuh perasaan. Dia juga mengendus aroma sabun wangi yang menguar dari tubuh istrinya.
"Hemmm..."
Abimanyu, mulai menciumi leher Anjani, dari atas ke bawah. Ini membuat Anjani tidak bisa bergerak dan denyut jantungnya meningkat.
"Mas," panggil Anjani pendek. Dia tidak bisa berkata-kata lagi karena merasakan sensasi yang tidak biasa.
__ADS_1
"Boleh?" tanya Abimanyu ambigu.
Anjani tidak lagi menjawab. Dia tahu, ini sudah haknya Abimanyu dan sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri. Dia hanya bisa mengangguk dan ikut menikmati kebersamaan mereka berdua. Mengarungi bahtera cinta yang luas dan penuh warna.