Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Salah Sangka


__ADS_3

"Sini Mas, masuk," ajak Mami, dengan membuka pintu gerbang pangkalan barang-barang bekas, yang merupakan rumahnya juga.


Wawan, mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dia tersenyum tipis, karena semuanya masih tampak sama seperti dulu, saat dia pergi dari tempat ini.


"Gak ada yang berubah," kata Wawan, sambil tersenyum, saat Mami menoleh ke arahnya.


"Ya kayak gini, biasalah Mas. Namanya juga tidak ada laki-laki di rumah. Anak-anak, juga sudah punya kehidupan sendiri dengan keluarga mereka." Mami tersenyum hambar, sat menyahuti perkataan Wawan yang tadi.


"Jadi..."


"Mas tidur di sini ya!"


Wawan sedikit merasa kecewa, karena dia berharap agar bisa tidur di dalam rumah, dengan kamar yang nyaman, sama seperti dulu, saat dia masih menjadi suaminya Mami.


Tapi ternyata, dia di suruh tidur, di ruangan yang mirip dengan bedeng. Yaitu sebuah kamar yang seperti ruangan darurat, dengan bahan-bahan triplek dan seadanya, di depan rumahnya mami.


"Mi, yakin menyuruhku tidur di tempat ini Mi?" tanya Wawan, mencoba menyakinkan dirinya sendiri.


Mami menganggukkan kepalanya dengan pasti.


"Kenapa?" tanya Mami pada akhirnya, karena melihat wajah Wawan yang masam.


"Mami tega, nyuruh Aku tidur di tempat seperti ini?" tanya Wawan, persis seperti anak kecil yang sedang merajuk pada ibunya.


"Kamu sudah bukan lagi sebagai suamiku. Mana bisa tidur di dalam kamar, yang ada di dalam rumah. Nanti, apa kata orang?" tanya Mami, menjelaskan alasannya, kenapa Wawan di suruh tidur di luar rumah.


Meskipun bedeng tersebut layak untuk dijadikan sebagai kamar, tapi Wawan berharap lebih, karena ingin diperhatikan oleh Mami, sama seperti dulu, saat dia masih menjadi suaminya Mami.


"Sudah-sudah, Kamu mau gak tidur di sini?"


Mami bertanya lagi, memastikan bahwa, Wawan bersedia untuk tidur di tempat yang dia tunjukkan.


"Ya deh. Tapi, besok-besok, jika pegawai Mami datang, Aku tidur di dalam ya?"


Wawan masih saja merajuk seperti anak kecil, dan Mami, hanya tersenyum tipis tanpa mau menjawab pertanyaan dari Wawan. Mantan suaminya itu.


*****


Di rumah mama Amel, di Jakarta.


Elang sedang mendengarkan semua rencana yang akan dilakukan oleh mamanya, mama Amel, untuk anaknya, Awan.


Papa Ryan, hanya bisa mengangguk saja, menyetujui usulan dari istrinya itu.

__ADS_1


"Bagaimana Lang, Pa?" tanya mama Amel, pada suaminya, dan juga anaknya.


"Papa sih setuju saja Ma. Yang penting, mana yang terbaik saja buat Awan, cucu kita satu-satunya itu."


Elang masih terdiam, dan belum juga mengatakan sesuatu, yang ingin dia sampaikan.


"Lang."


Mama Amel, memanggil anaknya, agar segera mengatakan, apa yang dia inginkan untuk rencananya saat ini.


"Hemmm... Elang ikut saja. Jika Awan busa bahagia bersama dengan Ara, apalagi yang bisa Elang lakukan?"


Ternyata, Elang tidak bisa menolak permintaan anaknya, yang menjadi rencana mama Amel juga.


"Ini demi kebaikan mereka berdua, dan kita semua. Mama hanya ingin, Awan bisa hidup bersama dengan orang yang dia cintai, dan mencintai dirinya, tanpa memandang dia siapa dan bagaimana keluarganya."


Elang merasa tersindir, karena perkataan mamanya. Dia jadi teringat dengan almarhum istrinya, yang mencintai dirinya, karena dia adalah Elang Samudra, anak tunggal dari Keluarga Samudra.


Meskipun sebenarnya, Elang menyadari semua itu, tapi karena rasa cintanya pada almarhum istrinya saja, yang membuatnya ikut buta, dengan semua sifat negatif istrinya tersebut.


Elang tahu jika, Ara, anaknya Anjani, menyukai anaknya, sebelum Ara tahu siapa Awan sebenarnya.


Itu tandanya, Ara bukan mencintai Awan, sebagai anggota keluarga Samudra, tapi karena sosok dari Awan sendiri.


Dan Elang merasa bersyukur, atas keberuntungan anaknya itu.


Anaknya itu, tidak dengan mudah juga, mengatakan cintanya pada Ara, meskipun dia sendiri tahu bahwa, Ara juga ada rasa cinta padanya.


Awan harus memastikan terlebih dahulu, bagaimana perasaannya sendiri, dalam jarak dan lamanya waktu.


Karena meskipun mereka ada di dalam satu negara dan kota, selama ada di Amerika, tapi keduanya juga tidak pernah bertemu, satu sama lain.


Bahkan, Awan ataupun Ara sendiri, tidak pernah tahu jika mereka ada di tempat yang sama, di Atlanta, Amerika.


"Kamu tidak berharap jika suatu hari nanti bisa bersama lagi dengan Anjani kan Lang?"


Pertanyaan yang diajukan oleh mama Amel, mamanya sendiri, membuat Elang terkejut, dan sadar dari lamunannya.


Dia tidak menyangka jika, akan mendapatkan pertanyaan seperti itu, dari dari orang terdekatnya sendiri, yaitu mamanya.


"Mama bicara apa sih?" tanya papa Ryan, yang merasa jika, istrinya itu mengungkit masa lalu anaknya, Elang.


"Bukan begitu Pa. Ini kan untuk menyadarkan anak kita juga, jika Anjani sudah memiliki Abimanyu, dengan keluarga mereka, yang tidak lama lagi akan menjadi besannya. Jangan sampai Elang memiliki perasaan dan pemikiran, jika dia akan mendapatkan Anjani lagi pada masa yang akan datang."

__ADS_1


Papa Ryan mengeleng beberapa kali, mendengar perkataan yang diucapkan oleh istrinya itu.


Apalagi, Elang hanya bisa diam saja dan tidak memberikan penjelasan ataupun bantahan terhadap apa yang dikatakan oleh mamanya tadi.


"Jangan egois Lang. Dan jika Kamu berharap, agar bisa kembali pada Anjani, itu artinya hati Kamu tidak bersih. Kamu berharap agar Abimanyu meninggal gitu? kasian anak-anak mereka. Apalagi, Ara akan menjadi anak Kamu juga, dengan menjadi istrinya Awan."


Elang menghela nafas panjang, mendengar semua perkataan yang benar itu.


Dia terlalu egois, jika masih saja berpikir bahwa, dia dan Anjani, akan bisa bersama-sama lagi, sebagai pasangan suami istri di masa yang akan datang.


"Baik Ma. Elang setuju, jika ini Awan sendiri yang menginginkannya."


Mama Amel tersenyum, mendengar perkataan anaknya itu.


"Baik kalau begitu. Kita akan segera pergi ke Amerika. Kita bicarakan dengan Abimanyu dan Anjani, mengenai rencana kita ini."


Akhirnya, diputuskan untuk pergi ke Amerika minggu depan. Ini hanya untuk membicarakan tentang lamaran, dan pertunangan antara Awan dan Ara.


Tapi jika Abimanyu dan Anjani menyetujui, pernikahan anak-anak mereka, juga akan segera dibicarakan, dan dilaksanakan dalam waktu dekat.


"Mama tidak mau, ada yang mencuri kesempatan, untuk bisa merebut Ara dari Awan. Mama mau Ara yang jadi cucu mantunya Mama."


Elang dan papa Ryan, tahu jika mama Amel merasa kecewa, di waktu yang dulu, saat Elang menceraikan Anjani, dan lebih memilih untuk mempertahankan Adhisti sebagai istrinya.


Padahal, mama Amel ingin Anjani yang menjadi pendamping anaknya itu, meskipun pada akhirnya nanti, Elang akan mempunyai dua istri.


Tapi ternyata keinginan mama Amel tidak menjadi kenyataan. Itulah sebabnya, dia ingin anaknya Anjani, Ara, yang akan mejadi istri dari cucunya, Awan. Anaknya Elang.


"Sudah Ma. Iya-iya, Ara yang akan menjadi cucu mantu kita nanti. Mama jangan sedih lagi ya," ucap papa Ryan, menghibur istrinya, yang dulu-dulu, seringkali dia tinggal untuk perjalanan bisnis dan kepentingan perusahaan.


"Kita kosongkan semua jadwal yang ada di kantor. Kita ke Amerika minggu depan, dan lebih cepat lebih baik."


Keputusan yang diambil oleh mama Amel, membuat Elang terkejut. Dia merasa jika, mamanya itu terburu-buru, dan tidak sabar.


"Ma, kok minggu depan, apa tidak terlalu cepat? apa tidak sebaiknya kita beritahu rencana kita ini pada Abimanyu juga?"


"Tidak Elang. Mama mau minggu depan saja. Jika bisa, pernikahan mereka juga diadakan seminggu kemudian, setelah mereka lamaran nanti."


Elang semakin terkejut, dengan apa yang dikatakan oleh mamanya sendiri.


Dia tidak habis pikir, dengan semua rencana mamanya, yang terkesan terburu-buru.


'Kenapa Mama jadi terburu-buru begitu? apa terjadi sesuatu pad Ara dan Elang?'

__ADS_1


Elang bertanya pada dirinya sendiri, karena mamanya itu, baru saja datang, dia hari kemarin, dari Amerika.


Elang berpikir jika, Ara dan Awan, telah melakukan sesuatu yang membuat mama Amel harus segera menikahkan mereka berdua.


__ADS_2