Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tidak Bisa


__ADS_3

Ahmed tersenyum, melihat tingkah Anggi yang tampak jelas sedang salah tingkah.


Apalagi, saat Anggi berjalan menuju ke arah lift. Beberapa kali Anggi masih menoleh ke arah belakang. Memastikan jika Ahmed masih ada di tempatnya, dan memperhatikan dirinya.


Setelah Anggi masuk ke dalam lift, Ahmed mengeleng beberapa kali. Dia merasa sangat senang, karena Anggi tetap gadis yang unik menurutnya.


"Anggi, Anggi. Bagaimana pun caranya, I ingin tetap ada di dekat U."


Ahmed bergumam sendiri. Setelahnya, dia kembali berjalan menuju ke arah toko kuenya.


Di dalam toko, Ahmed hanya memberikan beberapa instruksi kepada karyawan dan Koki yang mengurus dapur.


Jiwa wirausaha yang dia miliki, menurun dari darah Chinese Mamanya.


Itulah sebabnya, dia di minta untuk mengelola toko kue yang baru di buka ini. Apalagi, toko ini juga atas permintaan dari Ahmed sendiri, dengan lokasi yang sudah dia tentukan juga.


"I minta tolong buatkan kue khas Indonesia yang enak."


Koki tersebut memicingkan mata, melihat ke arah bos kecilnya itu. "Kue khas Indonesia?" tanyanya, mengulang kembali permintaan yang diucapkan oleh Ahmed.


Dengan yakin, Ahmed mengangguk mengiyakan.


"Kue khas Indonesia itu banyak sekali Tuan muda. Yang mana ini?" tanya Koki, yang bingung juga dengan permintaan Ahmed.


"Yang enak."


"Eh, semuanya juga enak," sahut Koki cepat.


"Ah iya, sebentar!"


Akhirnya, Ahmed membuka handphone miliknya, untuk mencari referensi tentang kue-kue yang enak, dan khas Indonesia.


Dan dia juga membuka akun sosial media milik Anggi, untuk mencari tahu, kue apa yang sekiranya di sukai oleh gadis kecilnya itu.


Tapi dari hasil penelusuran terkait kue yang menurut Ahmed adalah kue tradisional Indonesia, dia menjadi bingung sendiri. Karena ada banyak sekali kue-kue khas Indonesia.


"I bingung," ucap Ahmed, dengan apa yang ada di layar handphone miliknya.


Koki mencoba untuk membantunya untuk mencari kue yang mudah untuk dia buat.


Tapi ternyata, Ahmed membuka kue-kue khas Jawa, yang menurut Koki tidak bisa dia buat.


Selain ada beberapa bahan yang tidak tersedia di dapur, dia juga tidak tahu resep-resep dari kue tersebut.


Karena Ahmed memperlihatkan kue-kue khas Jawa. Ada Sengkulun, Bongko Mento, Jenang Krasikan, Kue Mendut, Serabi Solo, Kue Moho, Wajik, Klepon dan masih banyak yang lain.

__ADS_1


"Ini susah Tuan muda."


"Lalu, apa yang mudah?" tanya Ahmed ingin tahu.


"Bolu," jawab koki cepat.


"Bolu?"


Ahmed mengulang jawaban dari Koki tersebut, dan mengetik ke layar handphone lagi. Kemudian membaca keterangan dari hasil pencariannya.


Bolu atau kue bolu adalah kue berbahan dasar tepung, gula, dan telur. Kue bolu dan cake umumnya dimatangkan dengan cara dipanggang di dalam oven, walaupun ada juga bolu yang dikukus, misalnya saja bolu kukus atau brownies kukus.


"Ah tidak! ini kue yang biasa saja."


Akhirnya, Ahmed mencari tahu dari akun sosial media milik Anggi. Dan apa yang dia temukan, tentu saja diluar dugaannya.


Karena ternyata, bundanya Anggi juga suka membuat kue. Dan kue yang biasa di buat bundanya Anggi, bermacam-macam jenis dan variasi.


"Ternyata, bundanya Anggi ahli membuat kue. Pintar masak pastinya. Ini saja banyak unggahan yang menjelaskan jika kue dan makanan tersebut adalah buatan bundanya sendiri."


Ahmed jadi tidak enak hati, jika akan memberikan kue yang biasa dan tidak enak seperti buatan bundanya Anggi.


"Lebih baik, I berkunjung, dan meminta pada bundanya itu untuk mengajari I memasak dan membuat kue yang enak."


Akhirnya, Ahmed tidak jadi meminta pada Koki, untuk membuatkan kue sesuai dengan permintaannya tadi.


Tentu saja, Koki merasa bingung dengan sikap Tuan mudanya itu. Tapi dia juga hanya bisa mengangguk saja, dan tidak mau bertanya apa-apa lagi.


Setelah itu, Ahmed mencoba mencari tahu, di nomer berada apartemen tempat tinggalnya Anggi.


Dan tentu saja, dia dengan segala kemudahan dan alasan yang diutarakan, mendapatkan alamat tempat tinggal keluarganya Anggi.


*****


Di dalam tahanan.


Clarissa merasa sangat kesal, karena akhirnya dia tidak mendapatkan bantuan pembelaan, dari wanita yang kemarin di bawa oleh papanya.


Dia juga sangat marah pada papanya, karena menyalahkan dirinya dan memintanya untuk tidak berbuat semuanya lagi.


"Aku kan hanya ingin memberikan pelajaran kepada Ara saja."


Begitulah kira-kira pemikiran dan pembelaan yang dilakukan oleh Clarissa. Dia tidak sadar, jika apa yang dia lakukan sudah mengancam nyawa seseorang. Bahkan, bukan hanya satu orang. Tapi dua orang.


Dan lagi, ini dilakukan di jalan raya. Jalan umum, yang bisa jadi, akan ada korban dari pihak orang luar. Seandainya keadaan jalan sedang ramai.

__ADS_1


Tapi dasarnya Clarissa. Dia tetap saja tidak mau kalah. Dia tetap ngeyel dan meminta agar dilepaskan.


Dia tidak mau meminta maaf pada Ara ataupun papanya.


Di dalam tahanan sementara, Clarissa juga bersikap arogan. Dia tidak mau tahu, jika apa yang dia inginkan tidak terpenuhi.


Ini membuat penjaga kesal dan membiarkan dirinya kehausan sepanjang hari.


"Air. Beri Aku air minum!"


Awalnya, Clarissa masih bisa berteriak dengan suara keras. Untuk meminta air minum pada penjaga, atau sipir.


Tapi karena sipir diam dan tidak juga memberinya air minum, lama-lama dia mengamuk dan terus berteriak-teriak.


Ini membuat tahanan lain menjadi terganggu dan marah kepadanya.


Di sel tahanan tempat Clarissa di tahan, ada empat orang. Semuanya adalah wanita dewasa, dan hanya satu yang masih tampak lebih muda dari pada Clarissa sendiri.


"Bisa diam tidak! Atau mulutmu harus diberikan hadiah agar bisa diam?" tanya salah satu dari tahanan yang satu sel dengan Clarissa.


"Mulut ini mulutku sendiri. Apa peduli mu?" tantang Clarissa sok jagoan.


Dia tidak tahu jika, para tahanan di tempatnya ini adalah orang-orang yang berbuat kriminal juga.


Bahkan, perbuatan mereka ada yang lebih parah dibandingkan dengan perbuatannya pada Ara.


Dengan tersenyum miring, orang tersebut mendekat ke arah Clarisa berdiri. Yaitu di dekat pintu sel yang terkunci.


"Mulutmu ini perlu diberikan hadiah. Agar bisa diam meskipun hanya sekali!"


Dengan tangan yang kekar, orang tersebut memegang rahang Clarissa dengan kuat, hingga membuat mulut Clarissa mengerucut, tapi juga terbuka.


Dan dengan cepat, orang tersebut mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Kemudian memasukkan sesuatu itu ke mulutnya Clarissa.


"Ehhh... emhhh... emhhh..."


Clarisa memberontak dan berusaha untuk menutup mulutnya sendiri, agar apa yang dipegang dan dimasukan ke mulutnya tidak bisa dia telan.


Sayangnya, tenaga orang tersebut jauh lebih besar dan kuat. Sehingga Clarissa tidak bisa melawannya.


Apa yang tadi dipegang oleh orang tersebut akhirnya masuk juga ke dalam mulutnya Clarissa. Dan dengan susah payah, orang tersebut menutup mulut Clarissa. Sehingga apa yang dia masukan tadi tertelan.


"Uhuk-uhuk!"


Clarissa terbatuk-batuk dan tidak bisa berbicara apa-apa. Dia terus menahan diri, supaya apa yang ada di tenggorokan keluar dan tidak tertelan.

__ADS_1


Tapi karena dia tidak ada tenaga, akhirnya dia tidak bisa membuat barang tersebut keluar.


Clarisa ambruk dan pingsan. Setelah menelan sesuatu yang tadi dipaksakan oleh orang yang sekarang ini tersenyum sinis. Melihat bagaimana keadaan Clarissa yang tidak lagi bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2