
"Mari Tuan, Saya antar ke atas panggung pelaminan."
Abimanyu memberikan tawaran pada papa dan mamanya Ahmed. Yang ingin pergi ke atas panggung pelaminan. Untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Yaitu Ara dan Awan.
"Oh iya. Mari Mr Abimanyu," sahut papanya Ahmed, kemudian beranjak dari tempat duduknya. Diikuti juga oleh istrinya. Mamanya Ahmed.
Papa dan mamanya Ahmed, berjalan dengan bergandengan tangan di belakang Abimanyu. Berjalan menuju ke arah depan, di mana panggung pelaminan berada. Dan di atas sana, Ahmed juga masih berbincang-bincang dengan Anggi, Ara dan juga Awan, di tambah dengan keberadaan Miko juga.
"Mr Awan. Nak Ara. Selamat ya, atas pernikahan kalian berdua." Papaya Ahmed, mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.
"Maaf, kami datang agak terlambat. Tapi sekali lagi selamat untuk kalian berdua. Semoga dimudahkan dalam berumah tangga."
Mamanya Ahmed, yang notabene adalah orang keturunan Chinese, juga memberikan ucapan selamat kepada Awan serta Ara.
"Terima kasih atas ucapan dan kedatangannya," sambut Awan, yang merasa senang dengan tamu yang tak terduga ini.
Begitu juga dengan Ara. Dia juga mengucapkan terima kasih. Kepada kedua orang tuanya Ahmed. "Terima kasih Om, Tante, dan juga Ahmed. Yang sudah jauh-jauh dari Amerika, untuk bisa datang ke sini," ucap Ara, sambil tersenyum. Menyatakan rasa bahagia yang dia rasakan.
Setelah berbasa-basi sebentar, dan mengambil beberapa foto bersama, mereka berdua, mama dan papanya Ahmed, dipersilahkan untuk menikmati makanan dan minuman yang disediakan.
Anjani ikut menemani mereka berdua. Sedangkan Abimanyu, berjalan mendekat ke tempat ayah Edi dan ibunya. Yaitu ibu Sofie.
"Yah. Jika udah capek dan ngantuk, mending ayah sama ibu istirahat saja di kamar. Gak apa-apa kok, biar Abi yang temani mereka." Abimanyu memberikan saran kepada ayah Edi dan ibu Sofie, karena tahu jika, mereka berdua sudah sepuh dan tidak akan bisa sama seperti anak-anaknya yang masih dalam hitungan usia muda.
"Iya sebentar lagi ini Bi. Itu anaknya Yasmin sama Sekar juga kayaknya udah mulai rewel," ujar ayah Edi, sambil menunjuk ke arah anak dan cucunya yang sedang bergerombol.
"Iya. Nanti biar mereka juga beristirahat. Apa Abi yang kasih tau mereka sekalian?" tanya Abimanyu, agar ayahnya itu tidak terlalu capek.
"Gak usah Bi. Kamu juga capek. Mending, Kamu diam-diam saja. Menemani para tamu yang masih banyak itu."
"Pasti mereka juga para kolega bisnis tuan Ryan dan Elang. Sedikit banyak, Kamu juga pasti kenal mereka kan?" Ayah Edi memberikan saran pada anaknya itu, supaya tidak terlalu memikirkan keadaan dirinya.
__ADS_1
"Ayah itu gak payah-payah banget Bi. Bergadang cuma semalam aja kok," imbuh ayah Edi menyakinkan anaknya.
"Iya Yah. Percaya kok Abi. Tapi, ibu itu lho, udah terlihat capek Yah. Hehehe..."
Abimanyu memang melihat beberapa kali, jika ibunya sedang menguap. Ini karena efek kemarin malam, saat ada kekacauan di rumah Abimanyu. Dan tentunya siapa saja juga tidak akan bisa tidur dan beristirahat dengan tenang. Saat anak atau cucu mereka di culik seperti Ara dan Anggi.
Untung saja, keduanya bisa cepat ditemukan. Dan tidak ada kekurangan suatu apapun.
Hanya beberapa luka memar di pergelangan tangan, akibat tali tambang yang digunakan untuk mengikat mereka berdua.
"Iya-iya. Ayah ajak ibu kamu beristirahat terlebih dahulu."
Akhirnya, ayah Edi juga tidak tega. Melihat istrinya yang sedang dalam keadaan seperti sekarang ini. Dia berpamitan pada anak-anaknya, untuk pergi beristirahat.
"Ya Yah. Kami nyusul istirahat sebentar lagi," sahut sekar, dengan membawa anaknya yang baru saja berlari-lari.
Begitu juga dengan Yasmin. Dia hanya mengangguk saja, dan mengatakan bahwa, dia juga akan pergi untuk beristirahat setelah anaknya yang kecil mengantuk nanti.
"Yasmin istirahat nanti. Nunggu si kecil ngantuk. Jika gak ngantuk, mana mau dia di ajak tidur," ujar Yasmin, dengan melihat ke arah anaknya. Yang sedang ada di gendongan suaminya, Aksan.
Yasmin dan Sekar mengangguk bersamaan. Mereka berdua juga tahu jika, kedua orang tuanya itu sudah tidak lagi sama seperti dulu. Karena faktor usia yang sudah tidak lagi muda.
******
Di sebuah rumah kontrakan.
Polisi sedang melakukan pengerebekan, di mana rumah itu diduga sebagai tempat tinggal Bos para Pengacau.
Dari dugaan sementara pihak penyidik, Bos ini mengunakan rumah kontrakan agar bisa lebih mudah untuk menghilangkan jejak. Seandainya suatu saat, ada sesuatu yang terjadi pada saat-saat tertentu. Seperti sekarang ini.
Sayangnya, di saat polisi datang, rumah kontrakan tersebut sudah kosong.
__ADS_1
Tidak ada seorangpun di rumah tersebut. Yang ada hanya sebuah KTP, dengan nama Roi. Dan satu buah kartu seluler yang sudah dikosongkan kontaknya. Karena pada saat di cek pada salah satu handphone milik polisi, nomor itu sama seperti yang ada di panggilan terakhir salah satu pengacau. Yang waktu itu handphonenya ditemukan di semak-semak.
Tapi untuk KTP, pihak kepolisian meragukan keasliannya. Oleh sebab itu juga, pihak kepolisian segera mengecek kebenaran dari identitas tersebut ke dinas kependudukan.
Pihak pemilik kontrakan, juga tidak banyak mengetahui tentang siapa yang mengontrak rumahnya itu.
Yang dia tahu, orang yang mengontrak adalah seorang pemuda, kira-kira berumur sekitar dua puluh lima tahun ke bawah. Sedang untuk pekerjaan, pemilik kontrakan hanya mengatakan bahwa, pemuda itu jarang keluar dari dalam rumah.
Jika sekalinya keluar, pasti bisa dua atau tiga hari tidak kembali.
Dia juga selalu keluar dari rumah mengunakan kacamata hitam besar. Jadi, untuk wajahnya, pemilik kontrakan juga tidak begitu jelas mengenali.
"Iya Pak. Saya tidak tahu banyak soal para pengontrak. Orang itu juga baru tiga bulan ini mengontrak rumah Saya."
Dari keterangan pemilik kontrakan inilah, yang memberikan kesimpulan bagi penyidik. Jika target memang sudah memprediksi segala sesuatu, jika sampai kejadian seperti ini, dia akan lebih mudah untuk pergi tanpa pikir panjang.
"Baiklah kalau begitu. Jika dia muncul atau menghubungi Anda, silahkan segera menghubungi kami dari pihak kepolisian."
Pemilik kontrakan hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan dari pihak kepolisian.
Tapi untuk berjaga-jaga, di sekitar rumah ini tetap di jaga oleh dua polisi berpakaian preman atau warga sipil biasa. Agar tidak menimbulkan kecurigaan orang lain.
"Tentunya, target kita kali ini seperti belut juga. Atau bisa jadi, dia ada yang melindungi. Misal dari pihak-pihak tertentu," ujar salah seorang dari anggota polisi.
"Iya bisa jadi. Bahkan para anggota pengacau itu saja tidak tahu wajah asli dari bosnya. Nomer handphone juga pastinya akan selalu ganti, di setiap dia melakukan aksinya.
Penyergapan kali ini tidak menghasilkan apa-apa. Hanya sebuah identitas yang diragukan keasliannya, dan kartu seluler yang mereka sita, untuk barang bukti dan penyidikan selanjutnya.
Hingga pagi hari, polisi yang berjaga di sekitar rumah tersebut, juga tidak menemukan tanda-tanda jika, penghuni rumah tersebut datang lagi ke rumah itu.
"Sepertinya dia sudah tahu jika, anak buahnya tertangkap. Jadi, dia sengaja pergi dan meninggalkan identitas diri dan kartu seluler miliknya, agar tidak bisa terlacak lagi."
__ADS_1
"Iya. Karena jika dia sampai membawa KTP dan nomer handphone tersebut, dia bisa saja tertangkap di perjalanan selanjutnya. Jika ada razia."
Dua orang polisi yang berjaga di sekitar rumah itu, saling berbincang tentang sasaran target yang lolos dari penyergapan mereka kali ini.