Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Di Tengah Jalan


__ADS_3

Hujan turun dengan derasnya pada saat Ara dan Nanda masih berada di dalam perjalanan, menuju ke sekolah.


Sekarang, mereka berdua juga terjebak dalam kemacetan lalu lintas, yang masih dalam keadaan hujan juga.


Di saat sudah bisa keluar dari kemacetan, justru motor Nanda yang bermasalah.


Mesinnya mati secara mendadak, dan tidak bisa dihidupkan kembali. Baik secara manual ataupun otomatis dari staternya.


"Kenapa ya ini? apa businya ya?"


Nanda bergumam, bertanya pada diri sendiri. Karena memang tidak mungkin, jika Ara tahu tentang kondisi mesin atau yang lainnya, soal motor.


"Bagaimana Kak?" tanya Ara cemas.


Selain hujan, Ara juga khawatir, jika dia akan terlambat datang ke sekolah nanti. Karena jika terlambat satu menit saja, pintu gerbang sekolah sudah tertutup dan tidak mungkin bisa membujuk security sekolah untuk membukanya.


"Tidak tahu Ra. Tidka mungkin juga Kakan utak-atik dalam keadaan seperti ini." Nanda menjawab dalam keadaan cemas juga.


Tin tin!


Sebuah mobil melintas dengan pelan, dan membunyikan klakson.


Tak lama kemudian, mobil tersebut juga berhenti, ke pinggir jalan, tak jauh dari tempat Ara dan Nanda menyandarkan motornya. Yaitu di sebuah emperan toko yang berderet, dan masih dalam keadaan tutup.


"Siapa Kak?" tanya Ara, yang tidak tahu, siapa penumpang yang ada di dalam mobil.


"Tidak tahu Ra," jawab Nanda cepat.


Akhirnya Ara dan Nanda tahu, siapa sebenarnya penumpang mobil, yang berhenti itu, pada saat orangnya turun dan menyapa keduanya.


Dengan payung yang dia gunakan untuk mengindari air hujan, Awan turun dari mobil, kemudian berjalan mendekat. Dia juga bertanya pada Nanda, "Motornya kenapa Nda?"


"Eh, Kak Awan. Gak tahu nih. Tiba-tiba mati aja sih," jawab Nanda, memberitahu keadaan motornya.


Awan tidak menoleh ke arah Ara. Dia juga tidak menyapanya. Meskipun tadi, dia dan Ara sempat bersirobok saling pandang, meskipun itu dari jarak yang cukup jauh.


"Bagaimana kalau cari bengkel terdekat? Setelah itu, ikut mobil saja ke sekolah." Awan memberikan usulan, supaya mereka bisa ikut ke sekolah bersama dengannya.


"Den, bagaimana jika motornya saya yang urus? Den Awan bawa mobil sendiri ke sekolah."


Tiba-tiba, Pak Supir yang mengantar Awan, yang tadinya masih berada di dalam mobil, datang dan berkata demikian. Memberikan usulan kepada tuan mudanya itu.


Awan diam sejenak, sebelum akhirnya balik bertanya dengan pelan kepada supirnya itu. "Bapak tidak apa-apa Saya tinggal dengan motor yang mogok? Mungkin bengkel baru saja buka pada jam delapan lho Pak."


"Gak apa-apa Den," jawab Pak supir, yang langsung menyerahkan kunci mobil pada Awan.

__ADS_1


"Ayok Nda, Ra."


Nanda dan Ara, sebenarnya merasa tidak enak hati, karena merasa merepotkan Pak supir-nya Awan.


Tapi mereka berdua juga harus segera ikut ke dalam mobilnya Awan, jika tidak mau terlambat datang ke sekolah.


Setelah membuka jas hujan masing-masing, Ara dan Nanda diberi payung yang digunakan oleh Pak supir. Mereka berdua, Ara dan Nanda, mengikuti Awan, menuju ke tempat mobilnya terparkir.


Sedangkan Pak supir ada di emperan toko, menunggu hujan reda, agar bisa membawa motornya Nanda ke bengkel, atau memangil bengkel jika hujan sudah reda nanti.


Di saat berada dalam perjalanan ke sekolah. Ara berpikir, bagaimana caranya nanti, Awan memarkirkan mobilnya, saat berada di sekolah.


Nanda, yang duduk di depan, di samping Awan, juga berpikir hal yang sama, seperti yang dipikirkan oleh Ara.


Mereka berdua tidak tahu jika, keluarga Awan, keluarga Samudra adalah, salah satu penyumbang terbesar di yayasan sekolah mereka.


Meskipun Awan sendiri tidak pernah diperlakukan dengan istimewa oleh pihak sekolah, karena memang tidak diperbolehkan oleh Oma dan ayahnya juga.


Begitu juga dengan teman-teman Awan yang lain. Mereka semua tidak ada yang tahu. Termasuk Dika sendiri, yang merupakan satu-satunya teman Awan, yang paling dekat.


Dika saja baru tahu tentang kebenaran latar belakang keluarga Awan, saat berada di Mall. Dan itu karena mamanya Dika, yang mengenali omanya Awan, yang merupakan pemilik dari perusahaan besar, yang sedang dia ajak untuk bekerja sama pada saat itu.


Yaitu PT SAMUDERA GROUP.


Tin tin!


Membiarkan mobil Awan, melewati gerbang sekolah. Masuk ke halaman, kemudian menuju ke tempat parkir, yang ternyata sudah tersedia khusus untuk plat nomor kendaraan yang saat ini dikendarai oleh Awan sendiri.


Tentu saja, baik Ara maupun Nanda bengong melihat apa yang saat ini mereka berdua saksikan.


Tapi Awan hanya diam saja. Tanpa memberikan keterangan apa-apa, pada Ara ataupun Nanda sendiri.


"Ayok," ajak Awan, untuk kedua orang, yang masih belum bersiap untuk turun dari mobil.


"Eh, iya."


Ara tersenyum canggung, karena merasa gugup.


Sedang Nanda, hanya mengangguk saja, kemudian membuka pintu mobil, Dan membukakan pintu untuk Ara, yang ada di kursi penumpang, di belakang tempat duduknya tadi.


"Kok nomer plat mobil Kakak ada tersedia di parkiran khusus sekolah?"


Nanda, memberanikan diri untuk bertanya pada Awan, dengan rasa penasaran yang sedari tadi ada di dalam hatinya.


"Oh, itu kebetulan aja. Pak supir yang tadi, sedang dapat job dari luar, dan bermaksud untuk mengembalikan mobil ini ke sekolah. Ya... sekalian aja Aku ikut."

__ADS_1


Awan menjawab pertanyaan dari Nanda, sebisa mungkin. Karena dia tidak mau jika di anggap sebagai seorang siswa yang sombong, dengan membawa mobil yang merupakan anggota khusus dari yayasan sekolah tersebut.


Apalagi, tak lama kemudian, seorang security yang lain, datang mendekat dan meminta kunci mobil, yang di bawa oleh Awan tadi.


"Mas, kunci mobilnya?"


Awan pun memberikan kunci mobil tersebut pada security yang memintanya. "Ini Pak. Terima kasih ya Pak," ucap Awan, seraya memberikan kunci mobil.


Melihat kejadian itu, Ara dan Nanda pun mengerti, meskipun sebenarnya mereka berdua tidak paham betul.


"Wah, tumben mobil itu ada? Padahal, plat mobil tersebut ada sejak lama, tapi baru lihat itu mobil."


"Kok yang bawa Awan?"


"Oh, ada ketua OSIS juga."


"Mungkin ada urusan sekolah


ya, kan ada ketua OSIS yang di antar."


"Ya kali."


"Eh, kok ada cewek itu lagi?"


"Lah, kan katanya dia itu adik sepupunya ketua OSIS."


Ada banyak siswa dan siswi yang bertanya-tanya sendiri, saat melihat kedatangan Awan, Nanda dan Ara, dengan menggunakan mobil khusus tersebut.


Tapi Awan hanya diam saja, tanpa menyahuti perkataan mereka semua.


Begitu juga dengan Nanda dan Ara sendiri. Karena mereka berdua memang tidak tahu apa-apa.


*****


Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, Pak supir menghubungi mama Amel, untuk memberitahukan kepada majikannya itu, jika mobilnya di bawa ke sekolah oleh Awan sendiri.


Dengan menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya, saat di tengah jalan tadi. Dalam situasi hujan dan motor Nanda yang mogok, dan tidak mungkin memperbaiki, dengan waktu yang cepat juga.


Apalagi, bengkel juga belum ada yang buka. Meskipun ada, mungkin hanya bengkel tambal ban saja yang memang ada di pinggir-pinggir jalan.


Tapi dalam keadaan hujan deras di pagi hari, bengkel-bengkel tersebut juga banyak yang belum buka.


..."Baik Pak. Terima kasih ya. Nanti Saya akan menghubungi pihak sekolah untuk mengurusnya." ...


..."Baik Nyonya. Nanti akan Saya ambil lagi mobilnya, setelah motornya teman den Awan selesai di perbaiki."...

__ADS_1


..."Urus saja Pak, bagaimana sebaiknya."...


Begitulah kira-kira, tadi saat Pak supir melaporkan semua kejadian yang terjadi pagi hari ini, pada Nyonya Besarnya. Yaitu mama Amel.


__ADS_2