Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Impian Di Masa Tua


__ADS_3

"Dasar Masehhh... Ada-ada saja Kamu."


Awan hanya tersenyum tipis, mendengar gerutu_an dari security tersebut. Sedangkan Ara hanya menyembunyikan wajahnya ke dalam dadanya Awan.


Apa yang dilakukan oleh Awan ini, menjadi pusat perhatian banyak orang. Termasuk para perawat yang kebetulan ikut melihatnya.


"kak. Udah napa turunin! malu ihsss..."


Ara berkata dengan maksud memprotes. Namun akhirnya hanya bisa diam dan pasrah saja. Karena dia melihat bagaimana wajah Awan yang mengisyaratkan bahwa, dia sedang tidak mau menerima protes dan bantahan. Meskipun itu adalah Ara sendiri.


Akhirnya mereka berdua sampai di tempat yang memang sudah diberitahukan sebelu, yaitu ruang observasi. Di mana Dika ditempatkan.


Orang yang bertugas menunggui Dika, tampak duduk di kursi, yang ada di depan ruang observasi.


"Den," sapa orang tersebut, di saat melihat kedatangan Awan.


Tapi orang tersebut juga bingung. Karena Tuan muda nya, datang dengan membopong istrinya sendiri.


"Lho, Den. Itu mbak Ara kenapa?" tanya orang tersebut, dengan wajahnya yang tampak khawatir.


"Gak apa-apa Pak." Awan menjawab pertanyaan dari orang tersebut, dengan mendudukkan Ara, di sebuah kursi.


"Kamu tunggu di sini," kata Awan, setelah tubuhnya Ara tidak lagi dia bopong. Tapi sudah dia dudukan.


Ara hanya mengangguk saja, tanpa menyahuti perkataan yang diucapkan oleh suaminya itu.


Setelah itu, Awan berjalan ke arah pintu ruangan observasi. Bersama dengan orang suruhannya. Mungkin dia ingin tahu, dan bertanya tentang keadaan Dika pada dokter yang menangani.


Tapi sebelum Awan sempat masuk, seorang dokter membuka pintu dan keluar.


"Siang Dok."


"Ya siang."


Awan dan dokter tersebut akhirnya terlibat perbincangan yang serius, dari pembahasan soal kondisinya Dika.


Menurut dokter, Dika masih memerlukan perawatan khusus. Karena dia masih dalam pantauan. Apalagi, keadaannya pasca koma, juga tidak stabil.


Dari keterangan dokter tersebut, keadaan ini baru tahap awal. Karena pulihnya kesadaran orang yang mengalami koma, biasanya terjadi secara bertahap. Ada sebagian penderita yang dapat sembuh total dari koma tanpa mengalami kecacatan sedikit pun. Sebagian lainnya tersadar, namun dengan penurunan fungsi otak atau bagian tubuh tertentu, bahkan kelumpuhan.


Apalagi, matanya Dika juga tidak merespon cahaya senter saat diperiksa dokter.


"Apa dia mengalami kebutaan?" tanya Awan khawatir dengan kondisi Dika.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Awan, dokter pun kembali memberikan penjelasan. Jika kondisi Dika saat ini, bisa dikatakan sebagai kondisi pasien yang dalam keadaan kondisi vegetatif. Yaitu gangguan fungsi otak kronis.


Dalam kondisi ini, serebrum atau bagian otak yang mengendalikan perilaku dan pikiran tidak lagi berfungsi secara normal, namun hipotalamus dan batang otak, yakni bagian otak yang mengendalikan fungsi vital masih bisa berfungsi dengan baik.


Penderita gangguan ini tidak selalu dapat pulih. Sebagian kasus persistent vegetative state akan terjadi permanen. Pengobatan kondisi ini bersifat suportif. Artinya penanganan dilakukan untuk mendukung pasien agar bisa hidup seoptimal mungkin.


Awan mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh dokter tersebut. Dia tahu, suport orang-orang terdekat Dika lah, yang bisa menjadikan kondisinya bisa lebih baik lagi. Yaitu kedua orang tuanya.


Sayangnya, orang-orang yang dimaksud sedang dalam keadaan yang tidak bisa dikompromikan. Karena mamanya, masih satu tahun lagi baru bisa keluar dari penjara.


Sedangkan papanya Dika, juga baru saja masuk ke sel tahanan. Dan Keputusan hakim, baru akan dibacakan pada persidangan berikutnya.


Awan kembali ke kursi, di mana Ara duduk menunggu dirinya. Setelah dokter tersebut permisi untuk kembali ke ruangannya.


"Bagaimana Kak?" tanya Ara, yang tidak begitu jelas, mendengar penjelasan yang diberikan oleh dokter tadi.


Akhirnya, Awan kembali mengulang kata-kata yang diucapkan oleh dokter tadi. Untuk memberikan penjelasan kepada istrinya.


"Kasihan sekali kak Dika," ucap Ara, setelah mendengar penjelasan yang diberikan oleh suaminya sendiri.


"Apa kita bisa melihatnya sekarang?" tanya Ara lagi, yang ingin melihat keadaan yang sebenarnya pada Dika.


"Sabar sebentar ya. Perawat masih memasang alat-alat bantu kesehatan yang dibutuhkan oleh tubuh Dika." Awan memberikan jawabannya, dan meminta pada Ara supaya bisa bersabar sebentar.


Orang suruhan Awan memanggil.


Awan menoleh ke orang tersebut. Kemudian bertanya, "ada apa Pak?"


"Saya boleh pulang sebentar gak Den? Liat den Awan dengan mbak Ara, Saya jadi mendadak kangen dengan istri Saya Den."


"Oh..."


Mulut Awan membola, mendengar alasan orang tersebut. Karena ternyata, orang itu merasakan rasa kangen pada istrinya yang sedang berada di rumah. Setelah melihat kemesraan mereka berdua. Ternyata, kedekatan mereka berdua membuat orang lain merasa iri.


"Ya sudah. Pulang saja dulu. Saya akan berada di rumah sakit, berdana dengan istri Saya."


"Tapi ingat Pak! Cepat kembali ke sini lagi, setelah urusan bersama dengan istri selesai."


Orang tersebut meringis saja, mendengar jawaban yang diberikan oleh tuan muda_nya itu.


*****


Di Bogor.

__ADS_1


Abimanyu dan Anjani, akhirnya pergi juga untuk melihat-lihat keadaan rumah yang akan mereka beli. Bersama dengan saudaranya Anjani.


Abimanyu tampak tersenyum senang, melihat keadaan rumah yang terlihat asri. Karena selain letaknya memang berada di pedesaan, rumah tersebut juga ada di tengah-tengah kebun. Dengan berbagai macam jenis tanaman sayur dan buah-buahan.


Tak jauh dari rumah tersebut, juga ada sungai kecil yang mengalir gemericik. Menambah suasana pedesaan sangat kental. Dan ini justru membuat suasana jadi terkesan lebih tenang dan damai.


"Bagaimana Mas. Suka?" tanya Anjani, memastikan jika suaminya suka dengan rumah ini.


Abimanyu yang sudah berjalan dengan sedikitnya tertatih-tatih dan membungkuk, mengangguk mengiyakan pertanyaan tersebut.


Binar matanya sudah menggambarkan keadaan harinya, dan juga jawabannya sendiri.


"Kalau Mas suka, kita beli. Tapi jika gak kita cari lagi rumah yang lainnya."


"Tidak usah Bun. Ini sudah cukup memenuhi impian Ayah."


Anjani merasa sangat senang, karena bisa melihat bagaimana keadaan Abimanyu yang sedang berbahagia. Karena impiannya selama ini akan segera terwujud.


Dengan demikian, Anjani memberikan kuasa kepada saudaranya. Untuk mengurus segala sesuatunya, terkait jual beli rumah ini pada pihak pemiliknya.


Jika urusan sudah selesai, dua dan Abimanyu, akan segera pindah dan menempati rumah tersebut secepatnya.


Saat saudaranya Anjani berbincang dengan pemilik rumah, Abimanyu berkata bahwa dia ingin masuk ke dalam rumah tersebut.


"Ayah mau lihat ke dalam Bun."


Anjani menyetujui permintaan dari Abimanyu. Dia juga mengikuti langkah suaminya itu, untuk masuk dan lihat keadaan di dalam rumah.


Abimanyu tersenyum lebar, ketika tiba di dalam rumah. Suasana rumah yang sederhana, khas desa, bisa dia saksikan sendiri di rumah ini.


Kursi panjang, yang terbuat dari bambu, ada di pojok ruang tamu, tampak masih bagus. Dia pun ingin mencoba untuk duduk di kursi tersebut.


"Ayo Bun kita duduk di kursi bambu itu!"


"Nanti, jika kita sudah menempati rumah ini. Ayah akan duduk-duduk di kursi itu. Dengan menikmati teh hangat dan singkong rebus."


"Bunda bisa menemani Ayah, sambil mengupas buah atau memotong sayuran. Yang diambil dari pekarangan rumah."


Perkataan Abimanyu yang ingin dia lakukan bersama Anjani, di rumah ini kedepannya, membuat mata Anjani berkaca-kaca. Dia merasa haru, dengan impian sederhana suaminya itu.


Anjani pun mengangguk mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh Abimanyu. Dia juga ingin menghabiskan sisa hidupnya, bersama dengan suaminya tersebut.


Hidup dalam kesederhanaan dan ketenangan. Tanpa banyak memikirkan apa-apa, yang saat ini sering membuat orang-orang seperti dalam sebuah tekanan. Dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

__ADS_1


__ADS_2