Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Melihat Kondisi Dika


__ADS_3

Papanya Dika, tampak cemas dengan wajah yang pucat. Dia tentu merasa sangat ketakutan, dan ingin rasanya segera pergi dari tempat itu.


"Maaf Om. Kami hanya ingin menjenguk Dika. Kami dengar, jika dia sedang di rawat di rumah sakit ini." Awan mencoba untuk menenangkan hati dan pikiran papanya Dika, yang tampak melihat ke segala arah dengan tidak tenang.


Papanya Dika pasti berpikir bahwa, dia sedang dikepung dan akan ditangkap. Dia merasa sedang tertangkap basah sebagai seorang pelaku kejahatan. Meskipun memang itu benar adanya.


"Boleh Kami menjenguk Dika? Siapa tahu, dia juga kangen dengan kami. Temannya yang dulu, sewaktu masih sekolah."


Wajahnya dan matanya, tampak jelas jika sedang tidak tenang. Di balik kacamata hitam yang dikenakan oleh papanya Dika. Dia ingin menyakinkan bahwa apa yang dikatakan oleh Awan memang benar adanya.


Saat di rasa memang tidak ada polisi atau orang lain yang mengikuti Awan dan Ara, papanya Dika mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Awan tadi.


Papanya Dika berjalan di depan, diikuti oleh Awan dan Ara di belakangnya.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah sakit, kemudian langsung menuju ke arah ruangan ICU.


"Dika ada di ruangan terpisah dari pasien yang lain. Mari, Saya antar!"


Mungkin, papanya Dika tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Awan tadi. Sehingga dia mendampingi Awan, saat ingin masuk ke dalam ruangan ICU. Untuk menjenguk Dika.


Karena orang-orang yang menjenguk di ruangan ICU dibatasi. Maka Awan tidak bisa mengajak isterinya bersamaan.


Awan akan masuk terlebih dahulu, bersama dengan papanya Dika. Setelah berganti pakaian yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Dengan pakaian steril dan memang khusus untuk orang-orang yang membesuk pasien.


Ara menganggukkan kepalanya, saat Awan akan masuk bersama dengan papanya Dika. Dia akan menunggu kesempatan berikutnya, setelah Awan selesai.


Papanya Dika memperhatikan, bagaimana Awan yang melihat dengan prihatin. Atas kondisi tubuhnya Dika sekarang ini.


Tubuh kurus kering Dika, hanya ditutup dengan selembar kain sebatas perut. Karena dada bagian atas dipenuhi dengan alat-alat bantu, yang digunakan untuk memantau perkembangan dan kondisi kesehatan Dika sendiri.


"Berapa lama Dika dalam keadaan seperti ini Om?"


"Hampir lima bulan." Papanya Dika menjawab pertanyaan tersebut, dengan berat. Setelah itu, dia pun menghela nafas panjang, dengan memejamkan matanya.

__ADS_1


Selama itu, tidak ada perkembangan yang berarti?" tanya Awan lagi, persis seperti sedang mengintrogasi tersangka.


"Pada minggu ke dua, dia sempat sadar dengan mengerakkan jari-jarinya. Bibirnya juga bergerak, meskipun tidak bisa mengeluarkan suara apa-apa."


Sekarang, ganti Awan yang menghela nafas panjang. Dia sungguh tidak pernah menyangka bahwa, teman semasa sekolah dulu, dan juga rival hatinya tanpa disengaja selama ini, menjadi seperti ini keadaannya.


Sungguh miris dan berbeda jauh dengan keadaan Dika yang dulu. Penuh gaya dan gaul, layaknya para remaja ibu kota lainnya. Dengan segala fasilitas yang mewah, dari kedua orang tuanya.


"Lalu, bagaimana kata dokter mengenai kondisi Dika selanjutnya?"


Awan mencoba untuk mencari tahu dari keterangan papanya Dika sendiri. Meskipun sebenarnya, Awan sudah tahu dari pihak lawyer. Di saat tadi ada pertemuan di kantor Lawyer yang menangani kasus mereka.


Semua keterangan tentang Dika dan kedua orang tuanya, sudah dihimpun dan juga diterangkan sedemikian rupa. Sehingga Awan dan Ara tahu, bagaimana keadaan mereka yang sesungguhnya.


Itulah sebabnya, Awan dan Ara mengusulkan supaya bisa membantu biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan Dika.


Meskipun demikian, Elang dan Abimanyu tetap meminta pada kedua anaknya itu, untuk tetap waspada dan berhati-hati. Karena tidak mudah meluluhkan hati seseorang yang sedang diliputi oleh perasaan dendam.


Sekarang, Awan mengajak Dika untuk berbicara. Meskipun dia juga tahu, jika temannya itu tidak mungkin bisa menyahuti semua perkataan yang dia ucapkan.


"Pergi ke mall, sekedar nongkrong-nongkrong. Atau ke kantin sekolah, meskipun sebenarnya Aku tidak sedang lapar ataupun haus. Tapi Kamu tetap aja maksa!"


"Ayok Dik bangun! Kita saingan lagi. Meskipun sebenarnya kita tidak bisa bersaing lagi. Karena Aku memang menang sedari awal."


"Dik. Kamu gak harus memiliki dendam itu Dika. Aku memaafkan Kamu. Begitu juga dengan istriku."


"Oh ya Dik. Sekarang, Ara sudah jadi istriku. Meskipun, apa pun yang dilakukan oleh orang-orang untuk bisa memisahkan kami berdua, nyatanya, jodoh tak akan bisa dipaksa Dika. Aku minta maaf, jika Ara sudah ditakdirkan untuk menjadi jodohku."


Awan terus mengajak Dika bicara. Tentang kenangan mereka berdua, dan juga persaingan dalam mendapatkan cintanya Ara.


Di sisi tempat tidur Dika yang lain, papanya menunduk dengan air mata yang ditahan. Papanya Dika merasa haru. Atas apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Awan.


Orang yang selama ini menjadi target balas dendam keluarganya. Dia merasa bersalah. Atas semua yang sudah dia lakukan selama ini.

__ADS_1


"Dika. Sehat lagi ya! Aku mau melihatmu mengendari motor sport dan juga mobil mewah milikmu. Kamu terlihat gagah Dika. Pasti banyak cewek yang akan tertarik dengan sosok Kamu Dik."


"Aku akan menantikan Kamu, untuk bisa kembali bersama dengan Kami. Tanpa rasa bersaing dan juga dendam."


Papanya Dika, sudah tidak lagi bisa menahan air matanya. Dia menangis tersedu-sedu, kemudian menjatuhkan tubuhnya. Dia berlutut tanpa bisa berkata apa-apa.


Setelah beberapa menit kemudian, papanya Dika bisa menguasai keadaan dirinya sendiri.


Awan juga sudah tidak lagi mengajak Dika bicara. Tapi dari alat-alat yang digunakan untuk mendeteksi adanya perubahan dan pergerakan yang ada pada dirinya Dika, terlihat jelas jika monitor itu ada peningkatan.


Bahkan, ada perawat jaga yang masuk dan memeriksa keadaan Dika.


"Ada kemajuan dalam denyut jantungnya."


Begitulah kira-kira keterangan yang diberikan oleh perawat tersebut.


Tentu saja, ini bisa diartikan bahwa, apa yang dilakukan oleh Awan, direspon oleh Dika di alam bawah sadarnya.


Papanya Dika bangun dari berlutut. Dia mengucapkan terima kasih kepada Awan, atas apa yang sekarang ini terjadi pada anaknya.


"Nak Awan. Terima kasih atas kunjungan nak Awan sore ini. Om tidak tahu, bagaimana cara Om harus meminta maaf."


Papanya Dika tidak melanjutkan kalimatnya, karena dadanya terasa sesak sendiri. Dia harus menghela nafas panjang berkali-kali, agar bisa menormalkan nafas dan jantungnya sendiri.


"Nak Dika. Apa setelah ini kita bisa bicara?" tanya papanya Dika, setelah dia bisa menguasai keadaan dirinya.


"Tentu saja Om," jawab Awan dengan pasti.


Sekarang, perawat kembali datang, bersama dengan seorang dokter. Mereka akan melakukan pemeriksaan lanjutan, dari kemajuan yang tadi sudah tampak pada monitor.


Perawat meminta pada Awan dan papanya Dika, untuk menunggu di luar ruangan ICU. Dan mereka diperbolehkan untuk datang berkunjung lagi, dua jam kemudian.


Itu artinya, giliran Ara menjenguk masih dua jam ke depan.

__ADS_1


"Kita bisa bicara di luar Om. Bersama dengan istri Saya juga."


__ADS_2