
Hampir dua jam lamanya Anjani dan Abimanyu menunggu di kantor polisi, bersama dengan ayah Edi.
Wawan, masih ada di dalam ruangan khusus, untuk menjawab semua pertanyaan dari para penyidik.
Tak lama kemudian, dari arah luar, ibu Sofie dan Yasmin datang. Mereka berdua segera bertanya tentang banyak hal pada ayah Edi, yang sedari tadi hanya bisa menunduk saja.
"Ayah. Mas Wawan bagaimana? Dimana dia, apa dia baik-baik saja?" Yasmin memberondong ayahnya dengan berbagai macam pertanyaan.
Ibu Sofie, hanya mengangguk sambil melihat Abimanyu, dengan maksud untuk mendapat jawaban juga.
"Wawan masih ada di dalam. Dia sedang di interogasi dan ini sudah lebih dari dua jam lamanya," kata Aji, mengatakan apa yang ingin diketahui oleh ibu dan adiknya itu.
Anjani yang duduk di sebelah suaminya, hanya diam dan menggeser duduknya, supaya ibu mertuanya dan adik iparnya itu bisa ikut duduk juga.
"Duduklah," kata Abimanyu, pada Yasmin, yang sudah berderai air mata.
Yasmin menangis, mengkhawatirkan keadaan dan nasib suaminya.
"Yasmin. Apa Kamu tidak pernah mencoba untuk bertanya pada Wawan, dari mana uang-uang yang dia belanjakan untuk mu selama ini?" tanya Abimanyu pada adiknya, yang duduk di sebelah ayah Edi.
"Pernah sekali Mas. Tapi waktu itu, mas Wawan menjawab jika dia mendapat bonus dari penjualan mobil dealer dan juga beberapa bonus dari teman-temannya, yang juga dia bantu saat menjual mobil mereka."
Abimanyu menghela nafas panjang, saat mendengar jawaban dari adiknya, Yasmin. Ternyata selama ini Wawan sudah membohongi adiknya, yaitu istrinya sendiri, Yasmin.
"Kamu mau tahu, apa yang dituduhkan kepada Wawan saat ini?" tanya Abimanyu pada Yasmin.
Yasmin mengangguk. Dia ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya, yang tidak dia ketahui selama ini.
Begitu juga dengan ibu Sofie. Dia tampak serius, mendengar perkataan anaknya, Abimanyu, yang ingin menceritakan tentang menantunya, yang selama ini dia bangga-banggakan, yaitu Wawan.
Akhirnya, Abimanyu menceritakan tentang kebenaran tentang apa yang dilakukan Wawan selama ini.
__ADS_1
Wawan bekerja belum lama. Mungkin baru setahun dia ada di dealer tersebut. Itupun karena bantuan dari ayah Edi, yang memasukan dia di dealer tersebut.
Tapi, berkat keuletan dan cara bicaranya yang manis, dia bisa menjual beberapa motor dengan cepat. Dia juga bisa melampaui batas target, sehingga cepat mendapatkan promosi jabatan.
Setelah beberapa bulan dia terus memperlihatkan kemampuan kinerja yang baik, akhirnya pemimpin dealer, mengangkatnya sebagai kepala cabang di salah satu dealer yang besar dan tidak hanya sepeda motor saja, tapi juga menjual mobil, baik mobil baru maupun bekas.
Tapi, keserakahan Wawan tidak ada batasnya. Bonus-bonus penjualan yang dia terima, seakan-akan kurang dan tidak bisa memenuhi kebutuhannya dengan Yasmin.
Pertama, dia menyimpan sendiri uang setoran kredit yang dititipkan customer padanya. Selanjutnya, uang muka beberapa customer yang ingin membeli motor ataupun mobil, tidak segera dia proses, sehingga uangnya masih dia pegang sendiri. Dia lupa, jika uang yang ada di dompet ataupun tasnya itu, bukan uang pribadinya. Dia membelanjakan uang dan hidup berfoya-foya seperti yang terjadi beberapa bulan kemarin, bersama dengan istrinya, Yasmin.
Wawan juga membawa pulang mobil dengan mengatakan jika itu mobil miliknya, padahal itu milik dealer. Jika dia pulang dengan membawa mobil yang berbeda, dia selalu mengatakan jika itu mobil teman atau kenalannya yang ingin bertukar posisi dengan mobilnya, padahal sebenarnya, itu mobil rental yang dia sewa untuk beberapa hari. Itulah sebabnya, mobilnya sering berganti. Padahal dia tahu betul, jika dengan begitu, dia harus mengeluarkan uang lebih.
Tapi sanjungan dan pujian dari orang-orang terdekatnya, termasuk Yasmin dan ibu mertuanya, ibu Shofie, membuat Wawan lupa daratan. Dia tidak tahu, jika apa yang sebenarnya dia lakukan itu salah besar dan akan ketahuan suatu hari nanti.
Jika di kalkulasi, uang yang diambil Wawan dari kantor tempatnya bekerja bisa berjumlah hampir satu milyar. Itu belum termasuk uang dari customer yang dia bawa.
Yasmin terguguk sambil memeluk ibunya. Ibu Sofie juga menangis, menyadari bahwa selama ini dia salah satu dari penyebab kelakuan menantunya itu, Wawan.
"Lalu bagaimana apanya Bu?" tanya Abimanyu bingung, dengan pertanyaan ibunya.
"Bagaimana nasibnya ini?" tanya ibu Sofie, memperjelas maksud dari pertanyaannya yang tadi.
"Itu tergantung dari, sanggup tidaknya Wawan mengembalikan uang kantor dan beberapa uang dari customer. Dia juga akan dikeluarkan dari kantor dan jadi pengangguran lagi," kata Abimanyu, memberikan penjelasan nasibnya Wawan ke depan.
"Abi. Tolong bantu adikmu ini. Dia masih belum tahu bagaimana permalasahan hidup yang sebenarnya. Lagi pula, keponakanmu bagaimana? Dia masih bayi, dan belum tahu bagaimana papanya Abi," kata ibu Sofie meminta pada Abimanyu, untuk bisa membantu adik iparnya, Wawan.
Yasmin masih menangis dalam pelukan ibunya. Dia tidak tahu, apa yang harus dia lakukan sekarang ini.
"Mas. Tolong Yasmin Mas. Tolong mas Wawan. Huhuhu..., tolong mas..." kata Yasmin sambil menangis. Dia memohon bantuan pada kakaknya, Abimanyu.
Abimanyu bingung memutuskan. Dia tidak tahu, apakah bisa membantu adiknya itu atau tidak, karena tabungannya sudah dia belikan rumah dan sisanya dia simpan untuk keperluan istrinya, Anjani, waktu melahirkan nanti.
__ADS_1
"Mas. Pakai tabungan Anjani, yang uang sewa rumah Anjani itu lho. Tapi, kayaknya masih kurang banyak juga ya?" Anjani tiba-tiba menawarkan uang sewa rumahnya yang dari Elang. Dia merasa kasihan melihat Yasmin yang sedang bersedih, dan menangis seperti itu. Apalagi jika dia ingat dengan anaknya Yasmin, Nanda. Anjani merasa tidak tega.
"Iya tidak apa-apa. Nanti ibu tambahi dari semua tabungan yang ibu miliki. Ayah juga bisa ambil pinjaman dengan jaminan SK pegawai yang ada. Ibu juga akan mengajukan permohonan pinjaman untuk membantu Wawan. Kita gabungkan semua uangnya, pasti akan terkumpul."
Usulan dari ibu Sofie, disetujui oleh Abimanyu dan Anjani. Ayah Edi, terlihat ragu, tapi pada akhirnya dia mengangguk mengiyakan juga.
"Baiklah. Sementara hanya itu yang bisa kita lakukan. Biar besok pagi kita memikirkan kelanjutan dari kasusnya Wawan ini." Ayah Edi bangkit dari tempat duduknya, karena melihat seorang penyidik yang keluar dari ruangan, bersama dengan Wawan yang digiring dua petugas kepolisian di belakangnya.
"Bagaimana pak?" tanya ayah Edi cepat. Dia ingin tahu, apakah Wawan bisa pulang atau sudah harus di tahan malam ini juga.
"Maaf Pak. Dia harus sudah di tahan malam ini juga. Semua bukti mengarah kepada dirinya. Dia juga mengakui semua yang sudah dituduhkan oleh pihak kantor."
Wawan hanya menunduk dan tidak mengatakan apa-apa. Dia juga tidak melihat ke arah orang-orang yang sedang ikut menunggunya, bahkan Yasmin, istrinya sendiri pun, tidak dia lihat. Pandangan Wawan kosong.
Jawaban dari penyidik tadi, membuat Yasmin lemas. Dia jatuh tak berdaya, pingsan di tempat. Ayah Edi dan Abimanyu, segera membopongnya untuk dibaringkan di kursi panjang yang ada. Sedangkan Wawan, langsung dibawa polisi, untuk dimasukkan ke dalam tahanan.
"Sadar Yasmin. Semua sudah terjadi, kita hanya bisa berdoa, untuk membantu meringankan beban Wawan setelah ini."
Ibu Sofie dan Anjani, mencoba untuk menyadarkan Yasmin yang tidak sadarkan diri. .. Anjani membuka tasnya, dan mengeluarkan minyak kayu putih untuk diberikan kepada Yasmin. Dia dan ibu mertuanya, menggosok-gosok telapak tangan dan kakinya Yasmin dengan minyak kayu putih tersebut.
"Yah, bagaimana ini?" tanya ibu Sofie yang semakin merasa cemas.
"Kita tunggu sampai dia siuman. Baru setelah itu kita pulang," jawab ayah Edi cepat.
"Mas, Aku beli minuman dulu ya. Mungkin Yasmin juga butuh minum," kata Anjani, berpamitan pada suaminya, Abimanyu.
"Ayok Mas temani," kata Abimanyu, sambil mengadeng tangan istrinya yang sedang hamil itu. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada Anjani, apalagi ini juga sudah malam.
"Yah, Bu. Abi dan Jani pergi beli minum dulu," kata Abimanyu, berpamitan pada kedua orang tuanya yang masih menunggu Yasmin siuman.
Ayah Edi hanya mengangguk. Sedangkan ibu Sofie diam dan hanya fokus pada anaknya yang sedang pingsan gara-gara, suaminya sendiri, Wawan.
__ADS_1