
Yasmin masih diam menunggu ibunya, untuk mengatakan, apa yang bisa dia bantu. Tapi, setelah beberapa menit berlalu, ibunya, ibu Sofie, tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa. ibu Sofie hanya tersenyum-senyum sendiri, tanpa mau mengatakan keinginannya tadi.
"Ibu. Kalau tidak kasih tahu, bagaimana Yasmin bisa membantu Ibu?" tanya Yasmin, dengan jengkel karena ibunya masih saja diam sedari tadi.
Ibu Sofie, hanya mengangguk sambil tersenyum. Tapi tetap saja, dia diam dan hanya memberikan isyarat saja, jika Yasmin di minta untuk diam dan bersabar.
"Ah, Ibu. Gak jelas nih!"
Yasmin menggerutu sendiri, melihat bahwa ibunya tetap tidak mau mengatakan apa-apa. Padahal tadi, ibunya yang memulai pembicaraan mereka berdua ini. Yasmin, jadi jengkel dan kesal sendiri. Dia juga tidak mungkin mencari Sekar, untuk meminta bantuan agar ibunya itu mau mengatakan apa rencananya. Tapi, Yasmin masih dalam keadaan marah pada saudaranya, Sekar, karena peristiwa yang dulu, saat makan malam dan Sekar membela Anjani, kakak ipar mereka.
"Belum saatnya Yasmin. Nanti, kalau sudah waktunya, Kamu yang akan Ibu ajak kerjasama. Kamu mau kan?"
Akhirnya, ibu Sofie memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh anaknya Yasmin. Tapi tetap saja, dia tidak mau mengatakan apa yang sedang dia rencanakan ke depan.
"Bu. Apa ini ada kaitannya dengan istrinya mas Abi?" tanya Yasmin dengan menebak-nebak.
"Kamu pikir apa?" jawab ibu Sofie, balik bertanya kepada anaknya itu.
"Ah... Yasmin jadi tidak sabar. Apa sih Bu, kasih tahu kenapa!" Yasmin, jadi merasa penasaran dengan ajakan kerjasama yang dikatakan ibunya itu
"Nanti dong Sayang. Jika sudah waktunya, Ibu pasti akan kasih tahu Kamu terlebih dahulu. Karena memang cuma sama Kamu, ibu percaya."
Yasmin tersenyum senang, mendengar jawaban ibunya itu. Dia merasa mendapat angin segar, untuk bisa berkompromi dengan ibunya.
"Kita tinggal menunggu waktu saja Yasmin. Ibu yakin, tidak lama lagi usaha kita ini akan ada hasilnya. Lagian sudah hampir setahun ini, tidak ada kabar apa-apa yang bisa membuat ibu berharap. Apa dia benar-benar mandul ya? Pantas saja, suaminya yang dulu tidak mau," kata ibu Sofie, menggunjing menantunya sendiri, Anjani, istri dari anaknya, Abimanyu.
"Iya tuh. Apa mas Abi tidak curiga ya Bu?"
__ADS_1
"Entahlah. Nanti, katanya mas Kamu itu akan datang. Mungkin sekarang masih ada di kantor perusahaan yang memintanya untuk datang. Tapi, dia tiga hari di Jakarta. Pastinya, akan menginap di rumah ini. Coba kita tanya-tanya soal istrinya itu. Apa sudah berisi atau belum. Atau jangan-jangan memang 'gabuk' dan tidak mungkin bisa diisi."
Ibu Sofie, berharap agar anaknya, Abimanyu, sesekali melihat istrinya itu dari sisi pemikirannya. Bukan hanya sebagai seorang suami yang mencintai istrinya itu, Anjani.
"Mas_mu itu, harus mulai berpikir untuk meminta anak dengan segera. Apalagi yang ditunggu. Usaha dan pendapatan ada, sudah berlebih jika dibandingkan dengan orang lain di sekitar mereka. Kalau tidak segera, nanti keburu malas untuk memiliki anak. Itu bisa bahaya! Bagaimana nasib mereka berdua di hari tua tanpa adanya anak? Sedangkan yang mempunyai anak saja, kadang tidak terurus, karena kesibukan anak-anak mereka. Ibu jadi khawatir, jika Ibu tua nanti. Hiks... hiks... hiks..."
Dengan terisak-isak, ibu Sofie membayangkan bagaimana kehidupan dirinya sendiri di masa tuanya nanti. Padahal, dia memiliki tiga anak. Yang satu, Abimanyu, sudah menikah dan ikut tinggal di rumah istrinya di Bogor. Lalu, dua anak gadisnya yang masih berada di bangku kuliah. Suatu hari nanti, mereka juga akan meninggalkan rumah ini, jika sudah menikah. Dia merasa sedih, saat membayangkan kehidupan anaknya, Abimanyu nanti. Itu karena ibu Sofie, melihat Abimanyu, dari sisi dirinya saat ini.
"Sudah Bu. Jangan terlalu dipikirkan. Nanti ibu malah sakit lho," kata Yasmin, menghibur ibunya. Yasmin memeluk ibunya, untuk menenangkan hati ibu Sofie. Ibunya sendiri.
Di luar rumah, terdengar suara mobil yang baru saja datang. Dari deru mesin yang terdengar, itu bukan suara dari mobil ayah Edi. Jadi, bisa dipastikan jika itu adalah mobilnya Abimanyu.
"Apa itu mas Abi?" tanya Yasmin memastikan.
"Kita lihat keluar saja yuk!" ajak ibu Sofie, sambil menghapus sisa air mata yang ada di sekitar kelopak matanya.
"Mas Abi..." teriak Yasmin, memangil Abimanyu, yang sedang mengeluarkan koper dari bagasi mobilnya.
Yasmin dengan segera memeluk kakaknya, Abimanyu. Dia memang benar-benar merasa kangen, karena sudah lama tidak berjumpa dengan kakaknya itu.
Dia terbiasa bersama dengan Abimanyu sejak kecil, bersama dengan Sekar juga. Bermain, belajar dan pergi kemana-mana, sering diantarkan kakaknya itu. Oleh karena itulah, dia merasa jika Anjani, kakak iparnya itu, merebut perhatian kakaknya selama ini. Dia tidak suka dengan perubahan status kakaknya sebagai seorang suami dari iparnya Anjani. Apalagi saat Abimanyu memutuskan untuk ikut pindah ke Bogor, mengikuti istrinya, yang diketahui oleh Yasmin sebagai seorang janda dari pengusaha muda, Elang Samudra.
"Yasmin. Bagaimana kabarnya Kamu, kuliah Kamu juga? lancar dan tidak ada kendala kan?"
Abimanyu, menyambut pelukan adiknya, yang yang paling kecil, yang sudah menjadi seorang gadis remaja saat ini. Yasmin anak ketiga ibu Sofie dan ayah Edi. Sedangkan Sekar, adalah anak ke dua, jadi Yasmin adiknya Sekar.
"Lancar Mas. Mas sendiri apa kabar? Apa akan tinggal di rumah dalam jangka waktu yang lama?" tanya Yasmin tidak sabar. Dia ingin tahu secara pasti dari kakaknya sendiri, berapa lama kakaknya itu, akan menginap di rumah.
__ADS_1
"Heh, baru juga datang. Masak tidak disuruh masuk malah di tanya-tanya," ucap Abimanyu, sambil mencubit pipi Yasmin.
"Ihsss... Mas Abi. Yasmin bukan anak kecil lagi ya, jadi jangan di cubit- cubit pipinya, nanti malah jadi chubby." Yasmin, menegur kelakuan kakaknya, karena mencubit pipinya yang tidak terlihat chubby lagi.
"Wowww... Kamu berubah cantik Yasmin. Pipi gembulnya sudah tidak terlihat. Kamu diet atau apa?" tanya Abimanyu, dengan mata berbinar-binar senang, karena melihat keberhasilan adiknya dalam mengurangi berat badan.
"Gak diet kok. Cuma jarang ngemil. Mas Abi sih, gak mau tinggal di Jakarta saja. Aku kan bisa minta jajan tiap hari. Aku juga bisa minta dibelikan kripik kentang dan juga yang lainnya, saat mas Abi pulang dari kantor-kantor yang mengundang juga."
"Hahaha... hanya itu ya? Mas pikir, Kamu benar-benar merasa kehilangan, saat Mas memutuskan untuk ikut ke Bogor."
Abimanyu, tertawa lepas mendengar perkataan adiknya, Yasmin. Tapi, yang pasti bukan soal itu saja. Ada beberapa hal yang membuatnya merasa senang, terutama saat melihat Yasmin dan ibunya tetap dalam keadaan sehat.
Abimanyu, beralih kepada ibunya. Dia menyalami tangan ibunya, dan mencium tangan tersebut. Dia juga mencium kedua pipi ibunya.
"Ibu apa kabar?" tanya Abimanyu, sambil tersenyum melhat wajah ibunya yang terlihat sendu, seperti habis menangis.
"Ibu baik-baik saja kok, Ibu senang, Kamu masih mau menginap di rumah saat berada di Jakarta," kata ibu Sofie, sambil menepuk-nepuk pundak anaknya, Abimanyu.
"Oh iya, Ibu, Yasmin. Dapat salam dari Anjani. Dia tidak bisa ikut ke Jakarta, karena ada beberapa pekerjaan yang harus dia lakukan. Dia hanya bisa mengirimkan asinan buah, yang di buat Anjani sendiri semalam."
Abimanyu, menyampaikan ucapan salam dari Anjani, istrinya, untuk keluarganya yang ada di Jakarta. Dia juga menyerahkan bungkus plastik yang berisi empat mangkuk asinan yang dia bawa dari Bogor.
"Ini mbk Jani sendiri yang buat?" tanya Yasmin tidak percaya.
"Iya. Ini menu yang ada di kafe rumah miliknya. Jadi menu asinan buah atau sayuran, Anjani sendiri yang membuatnya. Anak buahnya hanya bertugas untuk menghidangkan saja." Abimanyu, dengan bangga menceritakan tentang kepandaian Anjani dalam membuat asinan.
"Enak tidak?" tanya Yasmin ragu dengan rasa asinan tersebut.
__ADS_1
"Coba saja sendiri," jawab Abimanyu sambil tersenyum, kemudian melangkah ke dalam rumah, sambil menarik kopernya yang berisi pakaian-pakaian miliknya. Anjani, sudah mengatur pakaian untuknya, yang akan dia pakai saat pergi ke kantor selama tiga hari ke depan nanti.