Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Ajakan Mama Amel


__ADS_3

Hari yang dinanti oleh Abimanyu dengan Anjani, tinggal beberapa hari lagi. Semua persiapan pesta pernikahan mereka, juga sudah delapan puluh persen selesai.


Anjani, sudah mempersiapkan diri untuk acaranya itu. Dia mulai memperhatikan kondisi rambutnya, kulitnya dan agar terlihat lebih cantik daripada biasanya.


Ini juga atas anjuran si teteh koki, yang ikut bekerja di kafe rumah miliknya.


"Jani. Kamu harus luluran dan ke salon untuk merawat rambut dan wajahmu. Meskipun Kamu memang sudah cantik, tapi ini demi pernikahan Kamu agar jadi lebih sempurna dan tidak terlihat seperti biasanya."


"Harus ya Teh?" tanya Jani bingung. Dia tidak biasa ke salon kecantikan ataupun melakukan perawatan khusus untuk tubuhnya, jadi dia bingung dengan saran teteh yang bekerja sebagai koki.


"Sebenarnya tidak harus juga. Tapi, ritual mempercantik diri biasa dilakukan oleh para calon pengantin. Biar auranya keluar gitu deh, waktu di rias. Biar tidak sama dengan para tamunya juga kan?"


Anjani, meringis mendengar jawaban si teteh. Dia juga tahu, kalau calon pengantin biasanya akan merawat dirinya lebih dari biasanya. Selain perawatan kulit dan rambut, mereka juga sering melakukan puasa, untuk menjada berat badan agar terlihat lebih langsing saat memakai gaun pengantin nanti.


"Iya, terima kasih Teh. Nanti kalau ada waktu, Jani akan ke salon. Masih buka kak salon yang ada di gang sebelah?" jawab Jani, sekaligus bertanya tentang salon terdekat yang ada di gang sebelah rumahnya.


"Aduh, jangan ke salon itu. Kan itu cuma salon kecil, yang hanya ada potong rambut sama perawatan wajah. Kalau bisa, cari salon besar yang ada spa_nya juga. Biar kamu lebih bersinar saat memakai gaun pengantin. Kayak artis-artis itu lho!"


Anjani melotot kaget, mendengar perkataan si teteh yang memintanya untuk ke salon spa dan tidak hanya ke salon kecil seperti yang ada di dekat rumah. Dia mengeleng dengan pemikiran si teteh.


"Kalau artis kan beda kelas kita Teh. Dia di sorot media dan seluruh dunia bisa lihat. Lha Jani... paling Teteh yang akan lihat nanti. Hehehe..." Jani malah terkekeh geli, mendengar jawabannya yang ikut-ikutan si teteh dalam berkhayal.


"Eh, ini juga untuk menyenangkan calon suami Kamu nanti, setelah selesai akad nikah dan pesta. Dia akan tetap memandang wajahmu dan tidak bisa mengalihkan perhatian pad yang lain."


"Ah, si Teteh bisa saja," sahut Anjani, malu-malu.


"Sudah sana bersiap-siap. Nanti Aku panggilkan ojek atau taksi untuk mengantarmu. Kamu kan tidak berani naik motor atau mobil sendiri. Eh, tapi Kamu harusnya belajar lagi Jani, buat Kamu tidak lagi trauma dan bisa belanja sendiri ke pasar untuk kebutuhan kafe Kamu ini. Itu akan lebih baik, dari pada Kamu minta orang lain terus untuk belanja dan urusan di luar."


Anjani terdiam, mendengar saran yang diberikan oleh si teteh. Dia pikir jika itu ada benarnya juga.

__ADS_1


"Iya Teh. Nanti Jani pikirkan lagi. Jani bisa minta bantuan mas Abi, kalau sudah jadi suami Jani, untuk mengajari mengendarai motor atau mobil sekalian."


Akhirnya, Jani mengiyakan saran si teteh yang baik. Ini demi kelancaran usahanya juga.


"Ya sudah. Jani mau siap-siap dulu Teh," pamit Jani pada si teteh, untuk masuk ke dalam rumah dan bersiap-siap pergi ke salon, seperti yang disarankan olehnya tadi.


"Iya," sahut si teteh pendek.


Jani tersenyum dan mengangguk, kemudian berjalan ke dalam rumah.


*****


Beberapa menit kemudian, Anjani sudah keluar lagi. Dia sudah siap untuk pergi ke salon. Dia mencari si teteh, yang tadi mengatakan sanggup mencarikan tukang ojek atau taksi untuknya.


"Teh," panggil Jani, dengan melihat sekeliling, untuk mencari keberadaan si teteh.


Tapi, sepertinya dia sedang sibuk melayani pelanggan yang baru ada satu orang. Pelanggan itu, terlihat seperti ibu-ibu sosialita jika tampak dari belakang. Dimata Jani, baju dan tas yang dibawa, bukan dari kelas orang biasa.


Anjani mengerutkan keningnya, karena si teteh memangilnya. Dia pikir, pelanggan mungkin sedang bertanya-tanya tentang pemilik kafe rumah ini, sehingga si teteh memangil dirinya.


"Iya Teh, ada apa?" tanya Jani, setelah lebih dekat dengan keberadaan di teteh dan pelanggan tadi. Tapi, Jani kaget, saat pelanggan itu menoleh dan tersenyum kearahnya.


"Mama... Mama Amel!" seru Anjani dengan perasaan yang campur aduk.


Ternyata, ibu-ibu sosialita yang Jani pikir pelanggan kafe, adalah mama Amel. Mama mertuanya, lebih tepatnya mantan mertua.


"Jani," sapa mama Amel, yang akhirnya berdiri menyambut Jani. Keduanya, sama-sama saling tersenyum penuh haru, kemudian berpelukan.


"Mama apa kabar?" tanya Jani, yang masih memeluk mama Amel.

__ADS_1


"Kabar Mama baik. Kamu ini, ternyata sudah mau jadi pengantin ya," jawab mama Amel, kemudian melepaskan pelukannya pada Jani.


Jani tersenyum mendengar perkataan mama Amel. Dia tidak tahu harus berkata apa untuk kedatangan mantan mertuanya itu.


"Kenapa tidak memberi kabar jika mau datang Ma?" tanya Jani dengan wajah malu. Dia tidak tahu jika mama Amel akan datang, itulah sebabnya, tadi dia mengiyakan saran dari si teteh, untuk pergi ke salon perawatan tubuhnya.


"Mama mau bikin kejutan untukmu. Hehehe... ternyata, Kamu terlihat lebih segar ya di Bogor. Apa karena mau menikah, jadi auranya terlihat berbeda?" kata mama Amel, menggoda Anjani, mantan menantunya itu.


"Mama bisa saja," sahut Anjani, dengan tersenyum malu. Wajahnya jadi memerah, mendengar pujian dari mama Amel untuknya.


"Oh ya Teh. Jani tidak jadi pergi ya, belum pesan ojek kan?" tanya Anjani, beralih pada si teteh yang sedari tadi hanya tersenyum-senyum, melihat keakraban dirinya dengan mama Amel.


"Iya. Teteh belum pesan ojek kok," jawab si teteh dengan mengacungkan jari jempol.


"Oh ya, silahkan duduk Ma," kata Anjani mempersilahkan mama Amel untuk duduk kembali.


"Teh, tolong siapkan minum dan makanan ya Mama Amel dari Jakarta, pasti capek ini," kata Anjani meminta pada si teteh.


"Siap Jani."


"Eh tidak usah Teh, terima kasih. Saya mau ajak Jani jalan ke salon. Tadi kan katanya mau ke salon. Kebetulan, ada salon milik mantan karyawan Saya yang ada di daerah sini. Paling cuma butuh tiga puluh menit perjalanan kok. Kami akan ke sana, sekalian Saya juga mau perawatan. Sejak pulang dari Jepang, belum ada waktu. Ini kebetulan bisa ada yang menemani, biar tidak bosan."


Si teteh tersebut, mendengar perkataan mama Amel dengan caranya beralasan, untuk membawa Anjani ke salon.


"Wah, kebetulan sekali. Jani, Kamu juga tidak akan bosan sendirian ke salonnya. Ada teman ngobrol nanti," kata si teteh dengan tersenyum senang.


Anjani tersenyum, mendengar perkataan si teteh dan jadi malu dengan ajakan mama Amel untuknya.


"Ayok Jani. Kita berangkat sekarang saja. Kita bisa cerita-cerita sambil mempercantik diri di salon," ajak mama Amel, dengan mengandeng tangan Anjani agar tidak menolak ajakannya.

__ADS_1


"Iya Ma," sahut Anjani dengan tersenyum.


"Teh, Jani berangkat dulu ya," pamit Jani pada si teteh.


__ADS_2