
Pagi hari, Ara berangkat ke sekolah bersama dengan Nanda. Mereka berdua, sudah siap untuk berangkat, pada saat Anggi merengek-rengek, minta untuk muter-muter terlebih dahulu, dengan dibonceng motornya Nanda.
"Mau bonceng motor kak Nanda. Huhuhu..." Anggi merengek-rengek pada bundanya, Anjani.
"Anggi, nanti ya muter-muter sama Pak ojek. Kan sekarang, Anggi gak jalan kaki pergi ke sekolah, tapi di antar Pak ojek Sayang," ujar Anjani, menjelaskan pada Anggi, supaya tidak rewel lagi.
"Mau motor Kak Nanda Bun. Kayak kakak, muter-muter dulu. Kak Nanda!" Anggi tidak mau tahu, karena dia hanya ingin naik motor Nanda saja.
Ara yang sudah naik ke boncengan motor Nanda, merasa kesal, karena diminta untuk turun terlebih dahulu.
"Ra, turun dulu ya! Biar Kakak muter-muter bentar buat Anggi," kata Nanda, meminta pada Ara, supaya turun dari boncengan motornya.
"Udah, gak apa-apa Nda. Entar juga diem Anggi_nya," kata Anjani, yang merasa tidak enak, karena Anggi yang sedang rewel pagi ini.
"Gak apa-apa Bun. Nanda muter bentar."
Anggi berseru dengan senang hati, karena bisa muter-muter terlebih dahulu, dengan naik motornya Nanda.
"Jangan jauh-jauh Kak!" Ara, berteriak mengingatkan Nanda.
Abimanyu, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah anaknya yang masih kecil.
"Ayah, adek tu Yah!"
Ara mengadu pada ayahnya, dengan tingkah Anggi yang manja dan tidak bisa melihat situasi. Padahal, dia dan Nanda sudah mau berangkat ke sekolah.
"Hemmm... biar saja. Sekali-kali ini, gak tiap hari juga kan?" Abimanyu justru menjawab dengan tersenyum, dan jawaban yang diberikan, tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Ara.
"Ayah!"
Ara menjadi kesal sendiri, dengan menghentakkan kakinya.
Tin tin!
"Hore!"
Anggi berteriak senang, saat motor Nanda berhenti di depan rumahnya.
"Makasih ya Kak. Besok-besok, muter-muter yang lebih jauh lagi," ujar Anggi, dengan wajah berbinar-binar karena merasa senang.
Nanda hanya mengangguk saja, kemudian meminta Ara untuk segera membonceng lagi.
__ADS_1
Tapi sepertinya Ara masih kesal dengan adiknya, sehingga dengan sengaja, dia mencubit pipi adiknya, Anggi, sambil berlari menuju ke arah motornya Nanda.
"Huwaaa... Kakak nakal!" Anggi menangis dengan memegangi pipinya yang terasa sakit, akibat cubitan kakaknya tadi.
Sedangkan Ara, tersenyum mengejek Anggi yang sedang menangis, karena ulahnya.
"Ara, Ihsss... usilnya!"
Nanda memperingatkan pada Ara, agar tidak lagi menjahili adiknya. Pastinya, Anggi akan rewel, dan Anjani yang sibuk menenangkan setelah kepergian mereka berdua.
Tapi Ara tidak menyahut. Dia merasa puas setelah selesai memberikan pelajaran kepada adiknya, Anggi. "Salah sendiri. Udah dibilangin nanti berangkat sekolah naik motor Pak ojek juga, masih ngeyel!" gumam Ara, tidak jelas ditelinga Nanda, karena sudah dalam perjalanan.
Di rumah, Abimanyu menasehati Anggi, supaya tidak lagi meminta pada kakak sepupunya itu, Nanda, untuk keinginannya yang tadi.
"Kak Nanda dan kak Ara, harus berangkat sekolah pagi-pagi, supaya tidak terlambat datang. Kalau terlambat, mereka berdua tidak sekolah, dan bisa-bisa dikeluarkan juga. Jadi mereka malah tidak bisa sekolah, kan kasihan. Anggi anak pintar kan? Mau sekolah kayak kak Ara juga kan?"
Anggi mengangguk mengiyakan, dengan wajahnya yang cemberut dan masih terisak-isak. Dia merasa kesal sendiri, karena tidak ada yang membelanya pagi ini. Dia merasa tersisih.
Pak ojek datang ke rumah. Tapi kali ini, dia mengantar Abimanyu terlebih dahulu ke halte bus. "Tolong antar ke halte bus sebentar ya Pak. Motor Saya masih ada di kantor," kata Abimanyu pada Pak ojek.
"Oh iya Pak. Tidak masalah. Mari Saya antar," jawab Pak ojek, dengan mengangguk mengiyakan permintaan Abimanyu.
Setelah berpamitan dengan Anjani dan Anggi, Abimanyu naik ke boncengan motor Pak ojek, dan berangkat ke kantor.
Dia tidak tahu jika, Pak ojek hanya mengantar ayahnya ke halte bus, yang tidak jauh dari area perumahan mereka. Setelahnya, ayahnya akan berangkat ke kantor naik bus, dan bukan diantar oleh Pak ojek, yang akan mengantarnya ke sekolah nanti.
"Nanti Sayang. Pak ojek cuma antar ayah sampai depan sana, ke halte bus. Miko juga belum datang kan? kita tunggu Miko ya, nunggu Pak ojek juga," jawab Anjani, menenangkan hati anaknya.
Anggi mulai tersenyum, setelah mendengar penjelasan dari bundanya. Dia merasa sangat senang, karena bisa naik motor Pak ojek, untuk berangkat dan juga pulang sekolah nanti.
*****
Di tempat parkir motor warung Pak Lek.
Nanda, juga ikut menitipkan sepeda motornya di warung Pak Lek, tempat anak-anak sekolah menitipkan sepeda motor mereka. Apalagi Nanda juga belum memiliki SIM, untuk busa memarkirkan sepeda motornya di area parkir sekolah.
Secara tidak sengaja, Ara melihat sepeda motor dan helm full face, yang dia kenal.
"Itu kan motor kakak SMA, yang pernah nolongin Aku, sewaktu motor Pak ojek bocor. Siapa ya dia? Aku belum pernah melihatnya lagi, setelah pagi itu." Ara bertanya kepada dirinya sendiri, sambil memperhatikan motor yang dia kenali.
"Ra, ayok!"
__ADS_1
Nanda menarik tangan Ara, yang masih diam saja, memperhatikan sebuah sepeda motor, yang terparkir tidak jauh dari motornya Nanda.
"Eh, iya-iya," jawab Ara gugup.
"Lihat apa sih? segitunya," tanya Nanda, yang melihat wajah Ara yang tidak biasa.
"Emhhh... itu. Itu Kak! Ara kayak kenal motor itu!" Ara menunjuk ke arah sepeda motor sport warna hitam, dengan helm full face yang berwarna hitam juga.
"Punya siapa?" tanya Nanda sambil melihat ke arah motor tersebut.
"Gak tahu Kak. Makanya Ara tanya."
"Kamu tanya ama siapa?"
Nanda bingung dengan perkataan Ara. Dia merasa jika Ara tidak sedang bertanya tadi.
"Eh, itu, egh anu. Maksudnya Ara tanya sendiri, soalnya selama ini gak pernah liat lagi orangnya," jawab Ara, yang terlihat jelas jika sedang gugup. Padahal, sedang tidak bertemu dengan seseorang yang telah menolongnya saat itu.
"Tanya aja tuh sama yang punya parkir. Pak Lek pasti tau, siapa pemilik motor sport itu," ujar Nanda mengusulkan.
Nanda juga merasa penasaran, dengan pemilik motor tersebut. Ini karena dia melihat Ara, yang merasa penasaran juga dengan pemilik motor sport hitam itu.
Akhirnya, Ara dan Nanda menghampiri Pak Lek, yang sedang mengatur posisi parkir sepeda motor, yang letaknya tidak teratur.
"Pak Lek. Boleh tanya?" tanya Nanda, begitu sudah dekat dengan Pak Lek.
"Lha ini kan sudah bertanya, kok masih tanya lagi. Hehehe... kau tanya apa?" Pak Lek, justru menjawab pertanyaan dari Nanda, dengan bercanda ria.
"Hehehe... Pak Lek bisa aja sih," sahut Nanda, kemudian disambung lagi dengan sebuah pertanyaan, "Itu motor sport warna hitam, yang ada helm full face hitam juga, punya siapa pak Lek?" tanya Nanda, yang mewakili adik sepupunya, Ara.
"Yang itu?" tanya Pak Lek, menyakinkan diri, sebelum menjawab pertanyaan dari Nanda.
Nanda mengangguk mengiyakan.
"Oh ,itu punya mas Awan. Awan Samudra. Kenapa memangnya?" Pak Lek menjelaskan, dengan sebuah pertanyaan juga.
Nanda menoleh ke arah Ara. Sedangkan Ara, terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Pak Lek.
Dia tidak mengetahui, jika pemilik motor sport warna hitam dengan helm full face tersebut adalah Awan. Orang yang sudah dia kenal, namun tidak dia ketahui bahwa, Awan juga yang sudah menolongnya pagi itu.
"Punya kak Awan gitu kok Ra. Kenapa sih?"
__ADS_1
Ara tidak menjawab pertanyaan dari Nanda. Dia hanya mengeleng sebagai jawabannya, karena dia tidak mau jika Nanda tahu, apa yang sedang dia pikirkan saat ini.