Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Keinginan Yang Sebenarnya


__ADS_3

"Maksud Kamu, Wawan datang ke rumah Kamu barusan?"


Anjani bertanya pada Sekar dengan cepat. Dia merasa sangat kaget, mendengar berita yang diberikan oleh adik iparnya itu.


Sekar mengangguk mengiyakan perkataan Anjani. Karena itu memang benar. Dia baru saja selesai bercerita tentang apa yang dia alami saat berada di rumahnya sendiri, tadi pagi, setelah suaminya berangkat ke kantor.


Anjani menghela nafas panjang, memikirkan cerita yang disampaikan oleh Sekar.


Jadi tadi pagi, Wawan datang ke rumah Sekar. Ini karena siangnya, dia bertemu dengan Sekar secara tidak sengaja.


Tapi karena Sekar tidak langsung pulang ke rumah, Wawan jadi tidak bisa berbicara dengan Sekar. Padahal, kemarin siang, justru Sekar datang ke rumah Anjani. Tapi karena ada Ara yang baru saja pulang dari sekolah, akhirnya Sekar tidak jadi menceritakan tentang keberadaan Wawan di sekitar kompleks perumahan mereka ini.


Yang tidak pernah terpikirkan oleh Sekar adalah, bahwa Wawan nekad datang ke rumahnya pagi ini, di saat suaminya sedang tidak ada di rumah. Juna baru saja berangkat ke kantor, saat Wawan mengetuk pintu rumahnya. Tapi karena Sekar yang mengintip terlebih dahulu sebelum membuka pintu, akhirnya dia memutuskan untuk tidak membuka pintu rumah untuk Wawan, dan menelpon bagian keamanan perumahan.


Tak lama setelah petugas keamanan datang, Wawan segera diminta untuk pergi, dengan alasan bahwa penghuni rumah sedang pergi dan tidak ada di rumah.


Oleh karena itu, setelah Wawan pergi dari rumahnya, Sekar langsung pergi ke rumah kakak iparnya, Anjani. Dia merasa ketakutan, seandainya Wawan akan datang lagi ke rumahnya nanti.


"Jadi, kemarin siang, di saat Ara belum pulang itu Kamu mau bercerita tentang Wawan, karena kamu bertemu dengannya?" tanya Anjani, yang baru mengerti apa maksud kedatangan Sekar kemarin siang.


"Iya Mbak. Maaf, Sekar tidak sempat cerita, karena keburu Ara datang." Sekar mengiyakan perkataan Anjani


"Ini tadi juga, Mbak baru saja mendengar dari salah satu tetangga ayah, yang bercerita jika dia pernah bertemu dengan Wawan kemarin-kemarin, di sebuah toko roti. Tapi... ya, begitu keadaan Wawan. Maksudnya, kayak orang-orang yang tidak terurus. Jadi gelandangan gitu!"


Anjani menceritakan tentang apa yang dia dengar tadi, dari tetangga ayah mertuanya, yang baru saja pulang, sebelum Sekar datang.


"Tuh kan bener Mbak. Mas Wawan itu, sekarang ini sudah menjadi tuna wisma, yang nakutin gitu penampilannya," ujar Sekar, dengan menyimpulkan bahwa begitu keadaan Wawan sekarang ini.


"Apa jangan-jangan... yang kemarin malak anak-anak sepulang sekolah juga si Wawan?"

__ADS_1


Anjani jadi menghubungkan kejadian demi kejadian yang dia alami saat ini dengan kemarin.


"Maksud Mbak Jani, malak anak-anak bagaimana?" tanya Sekar yang merasa bingung dengan perkataan Anjani.


Akhirnya, Anjani ganti menceritakan tentang kejadian yang dialami oleh anaknya, Ara, saat pulang dari sekolah kemarin, bersama dengan teman-temannya. Anjani juga menceritakan tentang ketakutan sebagian dari anak-anak, hingga tadi pagi, suaminya, Abimanyu menemui pos keamanan komplek perumahan.


Ini dilakukan oleh Abimanyu, untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak pernah mereka inginkan. Sama seperti yang dia bicarakan semalam, saat berbincang-bincang dengan Abimanyu.


"Ah, apa mungkin benar ya Mbak, jika gelandangan yang memalak Ara bersama dengan temannya itu adalah mas Wawan?"


Sekar akhirnya ikut menyimpulkan hal yang sama, untuk rentetan kejadian demi kejadian yang mereka semua alami. Dia merasa yakin, jika Wawan juga gelandangan yang memalak Ara, kemarin siang.


"Wah, benar-benar tidak bisa dibiarkan kalau begitu Mbak. Harus ada pengawasan pada lingkungan kita ini."


Sekarang, Sekar dan Anjani, jadi mempunyai kesimpulan yang sama, tentang gelandangan dan Wawan. Mereka berdua berpikir bahwa, keduanya adalah satu orang saja. Wawan adalah gelandangan itu juga.


Akhirnya Anjani pasrah saja dengan apa yang akan terjadi ke depan. Meskipun sebenarnya dia juga merasa jika, gelandangan yang memalak Ara adalah Wawan. Satu orang yang sama, sesuai dengan apa yang diceritakan oleh mereka, yang sudah pernah melihat keberadaan dan keadaannya Wawan baru-baru ini. Termasuk yang baru saja diceritakan oleh Sekar padanya.


"Sekar jadi takut berada di rumah, jika papanya Miko ke kantor Mbak," kata Sekar, yang merasa ketakutan seandainya Wawan akan datang lagi ke rumahnya.


"Ehmmm, Kamu kesini saja kalau begitu. Biar semuanya diamankan pihak keamanan. Jika Wawan sampai melakukan tugasnya tindakan kriminal, baru kita laporkan ke polisi jika perlu. Apa dia tidak merasa kapok ya, jika masuk penjara lagi?" tanya Anjani, setelah memberikan solusi untuk adik iparnya itu.


"Eh, tapi kita kan belum tahu, apa maksud kedatangannya ke rumah Kamu Sekar?" tanya Anjani lagi, meneruskan pertanyaannya yang tadi.


"Entah apa keperluannya. Sekar sudah merasa ketakutan, saat melihat penampilannya, dan tahu jika dia adalah mas Wawan, mantan suaminya Yasmin."


Sekar, memang belum sempat berbicara dengan Wawan, karena dia tidak membuka pintu rumahnya untuk Wawan yang terus-menerus mengetuk pintu. Dia merasa takut, jika Wawan bermaksud jahat padanya.


*****

__ADS_1


"Saya itu Wawan Pak. Dulu juga pernah tinggal di sini. Saya menantunya pak Edi, yang ada di perumahan sebelah sana!"


Wawan mengatakan semua itu, di saat ditahan oleh petugas keamanan, yang memergokinya saat mengetuk pintu rumah Sekar berkali-kali.


Tapi mantan kakak iparnya itu tidak juga membuka pintu untuknya, dan justru pihak keamanan yang datang, memintanya untuk ikut ke pos penjagaan untuk memberikan penjelasan dan keterangan.


"Lalu, apa maksudnya Kamu datang ke rumah tadi!" tanya pihak keamanan, yang pura-pura tidak tahu, dan juga merahasiakan tentang laporan Sekar dengan keberadaannya.


"Yang punya rumah itu kan saudaranya istri Saya. Apa salahnya Saya datang ke rumah itu?"


Wawan balik bertanya pada petugas keamanan, dengan jawaban yang dia berikan.


"Tapi, jika Kamu adalah saudaranya, kenapa memakai pakaian seperti ini? Dan kenapa Kamu tidak tahu, jika penghuni rumah tidak ada di tempatnya, di jam segini? Apa Kamu tidak tahu atau ada maksud lain dari kedatangan Kamu itu?"


Wawan tidak bisa langsung menjawab pertanyaan dari petugas keamanan. Dia merasa sedikit sungkan, jika mengatakan bahwa dia hanya ingin meminta alamat rumah Yasmin. Dia merasa jika akan ditertawakan oleh penjaga keamanan tersebut, jika sampai mengatakan semua itu.


Tapi karena tidak ada alasan yang bisa dia berikan, akhirnya dia mengatakan juga keinginannya untuk bertemu dengan pemilik rumah, yang dia akui sebagai iparnya, karena saudara dari mantan istrinya.


"Oh... harusnya, Kamu datang dengan berpakaian yang lebih sopan dan tidak seperti gelandangan begini. Ini akan membuat orang curiga dengan keadaan dan penampilanmu. Orang akan merasa takut, dan menyangka jika Kamu adalah orang jahat."


Wawan mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan dari pihak keamanan yang mengiringnya tadi. Sekarang dia sudah tahu, kenapa banyak orang yang melihatnya dengan tatapan menyelidik dan curiga, dengan keberadaan dan penampilannya selama ini.


"Jadi semua ini hanya karena penampilanku saja yang salah?" batin Wawan, yang sebenarnya ingin bertemu dengan Yasmin, dan juga anaknya, Nanda.


"Baiklah. Kali ini Saya akan melepaskan Kamu dari semua tuntutan dan juga tidak melanjutkan kasus ini ke pihak yang berwajib. Tapi, jika Kamu masih saja terlihat di daerah ini masih dengan keadaan yang sama seperti ini, Kami akan segera memangil pihak satpol PP untuk membawamu ke panti rehabilitasi tuna wisma."


Wawan hanya mengangguk saja, kemudian berdiri dan pergi dari pos penjagaan itu.


Dia ingin bisa secepatnya menemui Sekar, supaya bisa mengetahui tentang keberadaan anaknya, Nanda, dan juga mantan istrinya, Yasmin.

__ADS_1


__ADS_2