
Begitu sampai di rumah, mama Amel langsung pergi mencari keberadaan anaknya, Elang. Sama seperti tadi, di saat Elang pulang dari kantor, dan langsung mencari keberadaan dirinya.
"Lang. Elang," panggil mama Amel, begitu masuk ke dalam rumah.
"Ya Nyah!"
Justru bibi pembantu rumah, yang menjawab panggilan dari mama Amel.
Bibi pembantu rumah, datang dengan tergopoh-gopoh, mengira jika, nyonya besarnya itu, sedang membawa barang-barang, yang mungkin saja berat.
Padahal biasanya, jika nyonya_nya itu bawa barang-barang belanjaan dan sebagainya, Pak supir yang akan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Mana Elang Bi?" tanya mama Amel, di saat bibi pembantu rumah sudah terlihat olehnya.
Di tangan Mama Amel, ada paper bag, yang tidak terlalu besar. Dan sepertinya tidak berat juga.
"Den Elang ada di lantai atas Nyonya. Apa Saya panggilkan Den Elang nya?" tanya Bibi pembantu rumah, dengan bertanya juga.
"Sini Saya bawakan Nyonya," imbuh bibi pembantu rumah.
"Tidak usah Bi, biar Aku saja. Kami juga mau langsung datang ke sana," tutur mama Amel, menjawab pertanyaan dari bibi pembantu rumah, dengan menunjuk ke arah lantai atas.
"Ayo Pa. Kita kasih tau Elang. Biar dia juga bisa ikutan milih."
Papa Ryan, hanya mengangguk saja, kemudian ikut melangkah bersama istrinya itu. Mereka berdua, menuju ke kamar atas, di mana kamar tersebut, sudah disulap menjadi ruangan kantor untuk bekerja, jika Elang sedang ingin mengerjakan pekerjaan kantor di rumah.
Sebenarnya tadi, paper bag tersebut sudah di minta oleh papa Ryan, untuk dia bawakan.
Tapi mama Amel tidak memperbolehkan. Dia seperti tidak ingin kehilangan paper bag tersebut.
Padahal, isi dari paper bag tersebut hanya album-album foto, yang tadi sudah dilihat-lihat juga oleh mama Amel, bersama dengan papa Ryan.
Tapi karena mereka teringat dengan Elang, akhirnya mama Amel meminta ijin pada pemilik EO, untuk membawa pulang album-album foto tersebut.
Mama Amel beralasan bahwa, dia ingin meminta persetujuan dari Elang, karena pertunangan ini juga untuk anaknya Elang. Yaitu cucu mereka berdua, Awan.
Dan untungnya, pemilik EO tidak merasa keberatan. Apalagi, keluarga mama Amel memang sudah menjadi langganan EO miliknya.
Pesta pertunangan ini, juga akan segera dilakukan, untuk waktu yang dekat. Yaitu minggu depan.
Tok tok tok!
__ADS_1
Mama Amel mengetuk pintu ruangan Elang, sebelum dia masuk, tanpa menunggu jawaban dari dalam.
"Mama?"
Elang sedikit terkejut, saat melihat kedatangan mama Amel.
Dia sedang memperhatikan laporan yang ada di dalam laptopnya, sehingga tidak memperhatikan keadaan sekitarnya.
"Kamu ini. Sibuk terus. Bagaimana ini pestanya Awan?" Mama Amel memberikan pertanyaan pada anaknya.
Dari arah belakang, muncul Papa Ryan juga. Dia tidak mau jika, istrinya itu memaksakan kehendak dirinya pada Elang, agar mengadakan pesta yang meriah dan besar. Untuk acara Awan.
Padahal, Awan sendiri meminta agar pesta pertunangan ini hanya sederhana. Hanya untuk dua pihak keluarga saja. Bersama dengan beberapa kerabat dekat keluarga mereka.
"Mama dan Papa sudah ke EO terlebih dahulu. Lalu, Elang harus melakukan apa lagi?" Elang justru bertanya pada mamanya itu, karena merasa bingung juga, seandainya dia ikut campur.
Elang tentunya paham betul, bagaimana dengan karakter mamanya. Karena jika mamanya itu sudah punya kemauan, meskipun meminta pendapat pada orang lain, tentunya akan tetap mempertahankan kemauannya sendiri.
Dan tentunya, Elang tidak mau membuat mamanya ngambek. Apalagi sampai marah.
Dia sudah cukup merasa bersalah, atas perbuatannya yang dulu-dulu. Saat harus membangkang dari larangan mamanya. Di waktu dia memutuskan untuk tetap menikah dengan Adhisti.
"Tapi, ini kan pesta pertunangan Awan. Kamu itu ayahnya, harus ikut mikir Lang," ujar mama Amel, sambil menyerahkan paper bag yang dia bawa.
Meskipun dia tidak tahu, apa isi dari paper bag tersebut, Elang juga tidak bertanya pada mamanya.
Pada saat dia melihat ke arah papanya, papa Ryan hanya menganggukkan kepalanya. Dan dari isyarat tersebut, Elang paham dengan apa yang harus dia lakukan.
Elang membuka paper bag, yang sekarang ini sudah berada di tangannya. Dia juga melihat, jika ada tiga buah album foto di dalamnya.
"Foto apa Ma?" tanya Elang, yang tidak langsung membuka dan melihat album-album tersebut.
"Buka saja. Terus pilih, mana yang cocok untuk pesta pertunangan Awan dengan Ara besok."
"Memang sudah ditentukan tanggal pertunangan mereka Ma?"tanya Elang, karena dia belum menerima kabar dari Awan secara langsung.
"Belum," jawab mama Amel dengan cepat.
"Ma. Itu akan membuat pihak EO pusing. Mama meminta mereka bersiap-siap. Tapi, waktunya saja belum ditentukan. Bagaimana mereka bisa bersiap-siap?"
Elang kembali bertanya pada mamanya, tentang apa yang seharusnya diperlukan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Aduh. Kenapa Mama lupa bertanya pada Awan ya..."
"Ehhh... tapi si Awan bilang, mereka bisa pulang segera. Tinggal nunggu Abimanyu menyelesaikan pekerjaannya untuk minggu ini aja kok," ucap mama Amel lagi, memberikan penjelasan kepada anaknya, Elang.
"Sudah-sudah. Kita hubungi saja Abimanyu. Kita minta kepastian tentang kepulangan mereka, dan tanggal pasti untuk pertunangan juga." Papa Ryan menengahi perdebatan antara istrinya dan anaknya sendiri.
"Nah iya. Begitu saja Pa," sahut mama Amel, setuju dengan usulan dari suaminya.
Sekarang, mama Amel mencoba untuk menghubungi Abimanyu. Sedangkan Elang, mulai membuka dan melihat satu persatu album foto, yang tadi belum sempat dia buka.
Tut tut tut!
Telpon internasional yang di coba mama Amel, tersambung. Tapi, belum ada jawaban dari Abimanyu.
"Jika tidak bisa, kirim pesan saja Ma. Biar Abimanyu, bisa berpikir dan bertanya juga pada Ara. Kapan sebaiknya hari dan tanggal pertunangan mereka dilaksanakan."
Papa Ryan kembali memberikan usulan pada mama Amel, saat dilihatnya jika sambungan telpon tidak juga terjawab.
"Iya Pa. Begitu juga boleh. Jadi, kita bisa bahas tema pesta pertunangan ini," sahut mama Amel dengan wajah berseri.
Papa Ryan mengelengkan kepalanya, melihat istrinya itu, yang begitu antusias, saat membicarakan tentang pesta yang akan segera dilaksanakan oleh keluarga mereka.
"Ihhh... pokoknya ya Lang, Mama ingin pestanya itu meriah. Jangan hanya kecil-kecilan saja. Mama mau undang teman-teman arisan Mama dan rekan-rekan bisnis Mama juga lho!"
Mama Amel, tetap menginginkan sebuah pesta yang meriah dan besar.
"Ma. Awan gak mau besar. Dia maunya sederhana saja. Besok-besok, pas pesta nikah, bolehlah pestanya yang besar." Papa Ryan mengingatkan kembali pada istrinya itu.
"Ah, Papa. Jika nuruti Awan, gak ada itu pesta-pesta segala."
Mama Amel cemberut. Dia merasa kesal dengan perkataan papa Ryan, yang selalu memperingatkan dirinya.
Padahal, Awan sendiri yang sudah memberi pesan tersebut pada papa Ryan, saat dia menelponnya kemarin.
"Serah Mama deh. Tapi, jika Awan ngambek dan gak jadi tunangan gimana tuh?" Papa Ryan justru menakut-nakuti mama Amel.
Dan setelah mendengar perkataan suaminya itu, mama Amel tampak kesal dan membuang nafas kasar.
"Huh!"
Mereka semua tahu jika, Awan tidak pernah marah atau ngambek selama ini. Tapi, jika dia tidak setuju atau sependapat dengan apa yang ada, Awan akan diam. Apapun yang terjadi di sekitarnya, tidak akan pernah dia hiraukan sama sekali.
__ADS_1
*Eh, itu cara Awan ngambek dan marah gak sih? 😁😁✌️