Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Seperti Siapa?


__ADS_3

Sekar pulang ke rumah dengan mengomel. Begitu dia melihat bagaimana keadaan putrinya, adiknya Miko.


Punggung tangan dan siku lecet. Begitu juga dengan dengkul dan beberapa bagian kaki lainnya. Bahkan, wajahnya juga ada memar yang tampak memerah.


"Miko!"


Teriak Sekar, begitu melihat putrinya yang masih dalam keadaan menangis. Dan Miko, sedang memberinya beberapa tetes Betadine.


"Huwaaa... Mama!"


Adiknya Miko terus menangis, dan bertambah kencang begitu melihat kedatangan mamanya.


"Ambil air dingin untuk mengompres luka adik. Cepat Kak Miko!"


Sekar mengambil alih tugas Miko yang tadi sedang mengobati beberapa luka adiknya.


Miko dengan berlari-lari, menuju ke dalam rumah. Dia mengambil air dingin, sesuai dengan permintaan mamanya tadi.


Setelah air dingin tersebut diserahkan kepada mamanya, Miko memperhatikan bagaimana mamanya itu mengompres, dan juga kebersihan luka adiknya. Sedangkan adiknya masih terus menangis.


"Huhuhu... Mama, sakit. Huhuhu..."


"Cup cup cup Sayang! Bentar aja ya, nanti juga gak sakit lagi."


Sekar membujuk anaknya yang masih terus menangis, saat di membersihan beberapa luka di kaki dan wajah.


Miko meringis, karena membayangkan bagaimana rasa perih yang dirasakan oleh adiknya itu. Apalagi, saat luka itu diberikan beberapa tetes Betadine.


"Huwaaa..."


Tangis adiknya semakin keras dan itu membuat Miko kaget.


"Cup cup cup..."


Sekar terus menerus menenangkan anaknya. Tapi dia juga melotot melihat ke arah Miko, yang masih meringis saat melihat luka-luka adiknya.


Beberapa saat kemudian, adik Miko itu sudah tampak lebih tenang. Mungkin juga karena merasa capek sendiri, menangis sedari tadi. Jadi, sekarang dia tampak mulai mengantuk, di gendongan mamanya, Sekar.


Setelah di rasa anaknya benar-benar dalam keadaan tertidur, Sekar ingin membaringkan tubuhnya di tempat tidur kecil yang berada di depan televisi.


"Kak. Kok bisa jatuh adik? tadi gimana Kamu jagain dia?" tanya Sekar, setelah selesai menidurkan anaknya. Yang sesekali masih terdengar suara sesenggukan.


"Gak tau Ma. Tadi tiba-tiba sepedanya nglunyur gitu aja ke got," jawab Miko dengan takut-takut.

__ADS_1


"Hemmm... Kamu gak sedang main handphone kan?" tanya mamanya lagi, dengan nada menyelidik.


"Eh gak Ma. Miko gak sedang main game kok."


Sekar tidak percaya begitu saja, dengan apa yang dikatakan oleh Miko. Karena dia tahu, bagaimana kebiasaan anaknya yang besar itu.


"Tapi, tadi Miko sedang melakukan siaran langsung bersama dengan Anggi. Eh, bukan, maksudnya, Miko sedang mengomentari status Anggi di butik. Mereka kan sedang ikut kak Ara fitting baju Ma."


Sekar mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan dan alasan yang dibuat oleh Miko.


"Tapi Kamu mengabaikan keselamatan adik Kak. Itu gak bagus! Dan lagi ya, Kamu gak dengar apa pesan yang disampaikan oleh Mama tadi." Sekar menjewer telinga Miko, yang sudah mengabaikan adiknya sendiri. Hingga adiknya itu jatuh.


"Huh... maaf Ma. Adik kan gak mau diem-diem juga tadi," ucap Miko, yang tidak mau disalahkan begitu saja atas apa yang terjadi pada adiknya tadi.


Dia merasa tidak bersalah sepenuhnya. Karena itu juga akibat dari kelakuan adiknya sendiri.


"Mirip siapa sih adik Aku tuh? Cewek kok main sepedaan kayak balapannya si Rossi!"


Miko ngedumel sendiri, mengingat bagaimana dengan adiknya yang suka bermain sepeda sembarangan. Padahal, sepedanya juga masih roda tiga. Sama seperti sepeda milik tokoh kartun Masha and the Bear.


"Huh! Tingkahnya itu mirip sekali dengan si Masha itu. Bikin pusing saja," gumam Miko lagi, di saat dia sudah tahu jika, adiknya itu memang tidak mau diam. Sama seperti tokoh kartun kesukaan adiknya juga.


Miko tidak sadar jika, dia juga sama seperti adiknya dulu. Sewaktu dia masih kecil, dan suka bermain dengan Anggi.


"Hahaha... ternyata adik dan Aku sama aja. Hahaha..."


"Miko! Jangan berisik!"


"Ups!"


Miko langsung menutup mulutnya dengan dua tangan, di saat mendengar peringatan dari mamanya, yang memintanya untuk diam. Karena adiknya itu sedang dalam keadaan tidur.


Meskipun suara mamanya pelan, tapi penuh dengan tekanan. Itu artinya, Miko juga tidak boleh mengabaikannya.


"Iya Ma," jawab Miko dengan suara se_pelan mungkin.


*****


Anggi tertawa-tawa senang, mendengar cerita dari Miko. Tentang bagaimana tadi dia menjaga adiknya, tapi justru adiknya itu jatuh ke selokan air di depan rumahnya.


"Hahaha... Kamu sih gak bisa jagain adik!" seru Anggi, dengan menepuk pundaknya Miko.


"Gak bisa bagaimana? Aku juga tiap hari jagain dia." Miko dengan cepat membela diri, karena tidak mau disalahkan atas kejadian adiknya tadi.

__ADS_1


Apalagi, yang menyalahkan dirinya adalah Anggi. Secara, Anggi tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi seorang kakak, yang diminta untuk menjaga adiknya.


"Kan Kamu tinggal main game atau main apa gitu. Gak merhatiin adik," sahut Anggi lagi.


Anggi yakin jika, Miko tidak benar-benar menjaga adiknya itu dengan baik.


"Enak aja ngatain," kata Miko dengan kesal.


"Hahaha... ngambek-ngambek. Itu tandanya benar kan, apa yang Aku bilang tadi?" Anggi masih saja menyalahkan Miko. Karena dia tahu, jika Miko memang sama seperti yang dia katakan.


"Hehehe... iya juga sih. Tapi, tadi itu Aku gak main game Anggi. Ingat gak? Tadi Aku berkomentar di siaran langsung yang Kamu lakukan pas ada di butik."


Anggi mengerutkan keningnya sebentar, mengingat-ingat kembali, jika apa yang dikatakan oleh Miko barusan itu memang benar.


"Oh, pas itu ya? Hahaha..."


Sekarang, Anggi baru ingat. Dan dia malah kembali tertawa terbahak-bahak, saat ingat dengan apa yang dia lakukan tadi di butik.


"Ih, apa sih Ngi? gak jelas gitu Kamu nih!"


"Gak. gak itu Miko. Tadi, sewaktu di butik ada kejadian lucu. Sayangnya, handphone Aku low batt. Jadi gak bisa Aku rekam gitu deh," cerita Anggi, yang membuat Miko penasaran dengan apa yang terjadi di butik tadi.


"Apa? Kejadian apa?" tanya Miko dengan tidak sabar.


Akhirnya, dengan sesekali tertawa senang, Anggi bercerita pada Miko, apa yang terjadi tadi di butik.


Pada saat Ara mau balik untuk berganti pakaian yang biasa, Awan secara tidak sengaja menginjak gaun pengantin kakaknya yang menjuntai ke lantai.


Tentu saja, apa yang dilakukan oleh Awan membuat Ara kaget. Karena hampir saja terjatuh.


Untungnya, dengan segera Awan tanggap dan menangkap tubuh Ara yang mau jatuh.


Dari kejadian itu, Ara dan juga Awan, menjadi bahan ledekan dan olok-olok Anggi. Juga oleh mama Amel dan bundanya, Anjani.


"Wah, pasti seru itu tadi Anggi. Kenapa bisa luput dari konten yang Kamu buat sih!"


Miko kesal karena hanya bisa mendengar saja. Tidak bisa ikut menyaksikan kejadian tersebut. Meskipun hanya sekedar videonya saja.


"Ya bagaimana lagi? Handphone Aku aja mati. Dan adegan seperti itu gak mungkin bisa diulang. Feel-nya pasti beda dong dengan yang tidak secara sengaja."


"Hehehe... iya sih. Kapan-kapan semoga saja itu terjadi lagi. Wkwkwk..."


"Hu... dasar!"

__ADS_1


Anggi menonyor kepala Miko, yang masih saja cengengesan, membayangkan bagaimana keadaan tadi di saat Ara hampir jatuh, dan di tangkap oleh Awan.


__ADS_2