
"Maaf Wan. Aku tidak bisa mengatakannya."
Anjani terpaksa mengatakan yang sebenarnya, bahwa dia tidak bisa memberitahu Wawan dengan no telpon Yasmin, atupun Nanda di Taiwan sana.
"Ah, apa kalian bersekongkol dengan Yasmin, dan menjauhkan Aku dengan anakku sendiri?"
Wawan masih saja bersikeras untuk meminta pada Anjani, supaya mengatakan dan menuruti kemauannya. Yaitu meminta no telpon Nanda atau no telpon Yasmin sendiri.
"Baiklah. Aku ingin bertanya satu hal. Jika Kamu bisa menjawab dengan cepat, Aku akan memberitahu no telpon Nanda."
Akhirnya, Anjani terpaksa mengatakan bahwa dia meminta satu syarat, yang kemungkinan besar Wawan tidak mengetahuinya secara pasti. Meskipun sebenarnya, hal itu sangat mudah dan berhubungan dengan diri Wawan sendiri.
"Apa?" tanya Wawan cepat.
Dia ingin tahu, apa yang ingin ditanyakan oleh Anjani padanya.Wawan juga ingin segera tahu, no telpon anaknya, Nanda.
"Umur berapa Nanda sekarang?" tanya Anjani.
Pertanyaan yang sebenarnya sangat mudah untuk dijawab. Apalagi Wawan sebagai papanya. Tentu saja, umur Nanda adalah hal yang sama sekali tidak perlu memikirkannya, untuk menjawab.
Tapi ternyata tidak untuk Wawan. Dia mengerutkan keningnya, untuk berpikir. Dan ini menandakan bahwa, Wawan tidak pernah tahu, apa dan bagaimana anaknya sendiri, Nanda.
Wawan hanya memikirkan dirinya sendiri. Keegoisannya yang selama ini dia utamakan, adalah yang menghancurkan dirinya sendiri dari semua pernikahan yang pernah dijalani, dengan dua wanita yang berbeda juga.
Mungkin, ada banyak wanita di luar sana, yang sebenarnya pernah menjadi korbannya Wawan. Tapi sayangnya, mereka tidak punya kesempatan untuk meminta pertanggungjawaban Wawan, yang memang tidak punya tanggung jawab sama sekali.
"Maaf Wan. Karena Kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku, Aku juga tidak bisa memenuhi permintaanmu tadi."
Setelah mengatakan itu, Anjani mengajak kedua anaknya untuk berbalik dan kembali berjalan.
Sedangkan Wawan, hanya bisa diam saja memandangi kepergian mantan kakak iparnya itu.
Beberapa detik kemudian, disaat dia sadar, dia ingin memangil dan menyusul Anjani lagi, tapi ternyata ada petugas keamanan perumahan, yang sedang berbincang-bincang dengan Anjani. Meskipun Anjani tidak menolehkan kepalanya ke arah belakang, tapi Wawan merasa yakin, bahwa Anjani dengan memberitahu petugas tersebut, tentang dirinya.
Akhirnya, Wawan bergegas pergi ke luar dari lingkungan perumahan tersebut, untuk menghindari pihak keamanan.
Ara, yang menoleh ke belakang, karena ingin tahu, merasa sedikit lega, karena tidak ada lagi gelandangan yang tadi menganggu perjalanan pulang mereka.
"Bunda. Orangnya sudah tidak ada lagi," kata Ara melapor.
"Baiklah. Terima kasih ya Pak. Tolong di jika melihat keberadaan orang tadi, segera di awasi. Kalau bisa disuruh pergi saja Pak."
Pihak keamanan mengangguk mengiyakan permintaan Anjani. Dia juga mengucapkan terima kasih pada Anjani, atas laporan yang disampaikan padanya.
__ADS_1
Setelah dirasa aman, Anjani mengajak Ara dan Anggi untuk segera pulang ke rumah. "Ayok Sayang, kita pulang sekarang."
"Bunda. Itu tadi papanya kak Nanda?" tanya Ara penasaran.
Ara pasti sudah lupa dan tidak ingat, bagaimana wajah Wawan waktu dulu. Apalagi, Ara juga masih terlalu kecil pada saat Wawan masuk dalam penjara.
Jadi dia juga tidak mungkin mengenali Wawan, yang ternyata orang yang sama, waktu memalak dirinya siang itu.
"Iya. Dia om Wawan. Papanya Nanda." Anjani mengiyakan pertanyaan dari Ara.
"Tapi Bun. Dia juga gelandangan yang waktu itu," ucap Ara cepat.
"Oh, jadi begitu. Wawan juga yang jadi gelandangan dan meresahkan masyarakat sekitar sini."
Anjani akhirnya menghubungkan semua kejadian yang dibicarakan para tetangga dan juga Sekar kemarin-kemarin. Adanya Wawan di kompleks perumahan mereka, jadi sorotan dan diduga sebagai salah satu komplotan preman atau pencuri yang sedang menyamar.
Mungkin karena penampilannya yang menakutkan, yang menjadikan orang-orang menjadi mudah curiga.
******
..."Jadi benar Mbak, kalau gelandangan itu memang Wawan juga?" ...
Sekar bertanya kepada Anjani, saat Anjani menghubunginya, begitu sampai di rumah.
..."Wah, bener-bener itu orang tidak ada kapok-kapoknya."...
Sekar terdengar sangat kesal dan juga gregetan. Sama seperti Anjani sendiri, yang merasa kesal, meskipun tidak begitu dia tunjukkan.
..."Untungnya dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Mbak Jani. Coba kalau bisa, Mbak Jani mau kasih no telpon siapa pada Wawan?" ...
..."Hehehe... Aku kasih lah no telpon polisi. Hihihi..."...
..."Hahaha... bisa jadi di bentak langsung dia saat pertama telpon."...
Anjani dan Sekar, jadi berbincang tentang Wawan di telpon. Mereka berdua saling mengingatkan, supaya tetap berhati-hati karena kelakuan Wawan yang sering nekad.
Mereka berdua tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Wawan setelah ini. Jadi, mereka harus tetap waspada terhadap segala sesuatu yang tidak pernah mereka sangka nantinya.
..."Oh ya Sekar, bagaimana program hamil Kamu? sudah ada hasilnya belum?" ...
..."Bekum Mbak. Justru Aku sedang datang bulan kemarin."...
..."Oh gitu ya."...
__ADS_1
..."Memangnya ada apa Mbak?"...
..."Hehehe... gak apa-apa. Itu mas Kamu, minta adik buat Anggi. katanya pengen cowok gitu."...
..."Wah... bisa barengan kita Mbak nantinya."...
..."Hehehe..."...
..."Ayo Mbak, dituruti kemauan mas Abi!" ...
..."Ya sejadinya saja lah. Aku juga tidak tahu, masih bisa apa tidak."...
Anjani memang tidak begitu besar dengan harapannya, untuk bisa hamil lagi. Ini karena kesehatan Abimanyu sendiri, yang seperti sedikit menurun, karena kondisi tubuhnya yang tidak sama seperti dulu.
Apalagi dia juga masih terus meminum obat, untuk kesehatannya yang tidak bisa optimal, sejak kecelakaan yang dulu.
Anjani bisa hamil Anggi Daha, merupakan keberuntungan baginya. Dokter sudah memberitahu Anjani, jika ada sedikit gangguan untuk kesehatan benih Abimanyu, jika terus menerus mengkonsumsi obat tersebut.
Tapi karena Anjani tidak mau terjadi sesuatu pada suaminya, dia tidak ingin mengatakan apa-apa. Dokter juga diminta Anjani, untuk merahasiakan semua itu dari suaminya. Dia tidak ingin, Abimanyu merasa bersalah dan tidak mau lagi mengkonsumsi obat yang dia butuhkan.
Anjani juga tidak mengatakan semua itu pada keluarganya. Dia menyimpan semua rahasia ini sendiri, dan tidak mau jika orang lain mengetahuinya, karena ini juga kekurangan suaminya sendiri.
..."Aku doakan, semoga progam kalian segera berhasil."...
..."Iya Mbak, terima kasih. Mbak juga, moga kita bisa bareng-bareng nantinya."...
..."Ya sudah ya. Mbak mau lihat anak-anak dulu, sudah pada tidur belum. Kuta lanjut besok lagi ngobrolnya."...
..."Ya Mbak." ...
Klik!
Anjani menghela nafas panjang. Dia tidak tahu, apakah masih bisa memberi adik buat Anggi, atau justru mengecewakan suaminya, yang menginginkan seorang anak laki-laki, yang bisa hadir di tengah-tengah keluarga mereka.
Hanya doa yang bisa Anjani panjatkan sepanjang waktu. Supaya masih diberikan kesempatan untuk bisa membahagiakan suaminya.
Anjani melangkah menuju ke arah kamar anaknya. Dia membuka pintu kamar, untuk melihat apakah anak-anaknya itu sudah tidur siang atau belum.
Ternyata, anak-anaknya sudah tidur semua.
Pintu kembali ditutup Anjani. Dia melangkah ke arah dapur dan menyiapkan segala sesuatu untuk keperluannya memasak.
Dia merasa sangat senang, bisa mengurus rumah tangganya sendiri, dan menjaga anak-anaknya, dan memperhatikan perkembangan mereka juga.
__ADS_1
"Semoga semua akan baik-baik saja. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada keluarga kami," doa Anjani, sebelum dia memulai memasak, untuk makan malam mereka nanti.