
Sore menjelang malam, Abimanyu menemui ayahnya, ke tempat yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Mereka sudah menentukan tempat pertemuan itu, melalui pesan singkat tadi siang.
"Ada apa Yah? Sepertinya penting sekali," tanya Abi, begitu dia sampai dan dipersilahkan duduk oleh ayahnya.
Ayah Edi tidak langsung menjawab pertanyaan dari Abimanyu. Dia menghela nafas sebentar, baru kemudian menjawabnya. "Ini tentang Yasmin."
Abimanyu mengerutkan keningnya, mendengar jawaban dari ayahnya itu. "Maksud ayah apa? ada apa lagi dengan anak itu?" tanya Abimanyu, seakan-akan sudah tidak lagi peduli dengan adiknya, Yasmin.
Ayah Edi terdiam sejenak sebelum akhirnya menceritakan kepada Abimanyu, tentang keadaan Yasmin dan Nanda saat ini. Dia juga menceritakan tentang Wawan, suami adiknya, yang sampai saat ini menghilang dan tidak ada kabar.
"Ayah tidak peduli dengan Wawan. Ayah hanya kasihan dengan keadaannya Nanda. Bagaimana, dia masih anak-anak, yang tidak tahu apa-apa tentang orang tuanya. Ayah minta maaf, jika Kamu merasa repot lagi dengan kejadian ini."
Tidak ada komentar dari Abimanyu. Dia merasa tidak ada kaitannya lagi dengan Yasmin, sejak dirinya tahu bagaimana kelakuan adiknya, yang sudah sangat keterlaluan pada istrinya, Anjani. Apalagi, mereka berdua, sampai kehilangan calon bayi yang baru beberapa minggu ada di perut istrinya, Anjani.
Ditambah lagi dengan kelakuan adiknya yang tidak ada niat baik dengan meminta maaf pada Anjani ataupun dirinya sendiri, secara langsung. Abimanyu benar-benar merasa sangat menyesal, karena telah banyak membantu adik adiknya, yaitu Yasmin.
"Lalu, apa yang bisa Abi lakukan?" tanya Abimanyu pada ayahnya, setelah terdiam dan tidak mengatakan apa-apa tentang keadaan Yasmin yang diceritakan oleh ayahnya tadi.
"Ayah hanya ingin tahu, kejelasan dimana Wawan saat ini dan kenapa tidak ada kabarnya sama sekali. Bahkan, menelantarkan istri dan anaknya juga. Jika Ayah tahu, apa yang sebenarnya terjadi, mungkin Ayah bisa ambil keputusan untuk Yasmin. Tapi ini juga tergantung dari dirinya sendiri, apakah mau lepas dari Wawan, atau tetap mau bertahan hidup dengannya. Tapi dengan konsekuensi bahwa, tidak boleh lagi membuat keributan dan merepotkan Kuta semua."
Sepertinya, ayah Edi sudah lelah dengan perilaku anak dan menantunya, Yasmin dan Wawan. Itulah sebabnya, dia ingin membuat dua pilihan untuk anaknya, Yasmin, terkait dengan kehidupan ke depan nanti.
"Apa dia masih bisa dinasehati?" tanya Abimanyu, meragukan perkataan ayahnya.
"Entahlah. Ayah juga tidak tahu. Tapi Ayah akan menindak tegas sikapnya yang akan datang."
Begitulah akhirnya, keputusan yang diambil oleh ayah Edi.
Abimanyu juga menyanggupi permintaan ayahnya, untuk mencari keberadaan Wawan sekali lagi. Sama seperti yang pernah mereka lakukan sewaktu Yasmin, baru ketahuan kalau sedang dalam keadaan hamil.
"Sepertinya, dia akan selalu merepotkan Ayah. Maksudku, tentang Wawan. Dia tidak merasa memiliki tanggung jawab dalam keluarganya, karena Ayah pernah bilang, jika Ayah akan tetap membiayai kebutuhan Yasmin. Mungkin, Wawan berpikir jika itu berlaku selamanya. Makanya, dia bebas dan semaunya sendiri."
Ayah Edi jadi tertegun, mendengar perkataan Abimanyu barusan. Dia kembali mengingat-ingat kejadian waktu dulu, saat dia berbicara dengan Wawan, sebelum Wawan diajak untuk pulang dan menikahi anaknya, Yasmin.
__ADS_1
Sekarang, Ayah Edi menyadari kesalahannya sendiri. Dia memang benar-benar salah bicara waktu itu. Dia hanya berpikir, bahwa Wawan harus ikut dengannya dan bertanggung jawab atas perbuatannya pada Yasmin, karena pada saat itu, Yasmin sedang di rawat di rumah sakit akibat terpeleset dan akhirnya ketahuan jika sedang dalam keadaan hamil.
"Ayah minta maaf Abi. Tapi, tolong Ayah sekali ini ya," kata ayah Edi, dengan menunduk. Dia benar-benar merasa menyesal dan juga bersalah.
"Ayah tidak perlu berkata demikian. Abi akan bantu sebisa mungkin. Tapi ini bukan demi Yasmin, ini demi Ayah."
Setelah berkata demikian, Abimanyu menghela nafas panjang. Tak lama kemudian, dia pamit pulang setelah diberitahu ayahnya, dimana daerah kontrakan Yasmin dan Wawan saat ini. Tempat kerjanya Wawan juga. Ini untuk memudahkan Abimanyu, untuk mencari informasi tentang Wawan nanti.
*****
Beberapa hari kemudian, Abimanyu sudah mendapatkan hasil dari pencariannya, dimana keberadaan adik iparnya, yaitu Wawan.
Ternyata, Wawan pergi bersama mahasiswi yang sedang dekat dengannya. Entah pergi kemana, tidak ada yang tahu.
Dari informasi yang diberikan oleh seseorang yang bisa dipercaya, Abimanyu mengetahui jika selama ini, Wawan banyak merayu mahasiswi-mahasiswi yang datang ke percetakan tersebut. Entah sekedar gurauan dan candaan atau serius, tapi pada kenyataannya, banyak dari mereka yang kena tipu, dengan dalih hutang, sama seperti yang dilakukan Wawan pada anak gadis pemilik percetakan yang mengelola salon di samping percetakan tersebut.
Jadi, selama ini Wawan banyak merayu mahasiswi-mahasiswi yang dia temui, dan kenal.
Ayah Edi, mengusap wajahnya kasar. Dia tampak marah. Ini terlihat dari garis wajahnya yang mengeras dan matanya yang terpejam rapat, seakan-akan ingin meredam emosinya supaya tidak keluar begitu saja dan lupa diri. Toh Wawan juga tidak ada didepannya saat ini.
"Jadi bagaimana?" tanya Abimanyu, dengan keputusan ayahnya, untuk nasib pernikahannya Yasmin.
"Kau akan memberitahu Yasmin tentang kelakuan suaminya. Dan ini tergantung dari Yasmin sendiri. Ayah akan melakukan hal kemarin Ayah bilang. Jika dia masih ingin mempertahankan Wawan, Ayah tidak mau ikut campur dalam urusan keluarga mereka. Tapi jika dia mau menurut dengan perkataan Ayah, Ayah pasti akan membantunya untuk bisa keluar dari ikatan pernikahannya dengan Wawan."
Begitulah keputusan yang diambil oleh ayah Edi sementara ini. Dia juga tidak ingin melihat cucunya hidup terlantar seperti kemarin.
"Jadi, Ayah meminta Yasmin untuk bercerai dengan Wawan?" tanya Abimanyu, memastikan keputusan yang diambil oleh ayahnya itu.
"Mau bagaimana lagi Abi. Ayah tidak mau melihatnya kacau seperti pagi kemarin itu. Apalagi Nanda, Ayah tidak tega. Ayah tidak ingin ada perceraian pada keluarga anak Ayah, tapi ini kasusnya berbeda Abi. Wawan tidak bertanggung jawab dan tidak ada niatan untuk berubah. Dia bahkan menghilang tanpa jejak. Lalu bagaimana bisa mengharapkan agar bisa hidup bersama dengan orang yang seperti itu?"
Abimanyu mengangguk mengiyakan perkataan ayahnya. Dia juga sebenarnya ada sebuah ikatan pernikahan yang hancur, tapi dengan kasus yang terjadi pada Yasmin, sepertinya memutuskan untuk berpisah adalah yang terbaik, daripada mereka akan terus hidup bersama tapi dalam keadaan yang tidak bisa dikatakan normal dan layak.
"Ya sudah Yah. Abi mau pulang, besok adalah jadwalnya Anjani melahirkan. Doakan ya Yah, semoga diberikan kelancaran dan keselamatan untuk Anjani dan anak kami yang lahir nanti," kata Abimanyu, berpamitan pada ayahnya. Dia datang ke rumah, karena hari ini, ayah Edi sedang mendapatkan cuti dari kantor. Sebentar lagi, ayahnya itu akan pergi ke rumah sakit, menemani Yasmin yang masih menunggui anaknya, Nanda.
__ADS_1
Ibunya, ibu Sofie, sudah berangkat ke kantor sedari pagi, itulah sebabnya, Abimanyu mau datang ke rumah. Dia tidak ingin melihat ibunya itu bercerita tentang anaknya, Yasmin, kemudian merengek dan menangis agar Abimanyu, ikut memikirkan nasib adiknya itu.
"Iya, Ayah doakan semoga lancar dan selamat untuk Anjani dan anak kalian juga. Salam Ayah pada Anjani ya."
Abimanyu mengangguk, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar rumah. Dia akan pulang ke rumah, dan membantu istrinya, untuk bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.
*****
Di rumah, Anjani sudah merasakan pergerakan anaknya yang masih ada di dalam perutnya itu semakin sering. Ini adalah tanda-tanda, jika waktunya lahir semakin dekat.
Anjani mengelus-elus perutnya yang terasa keras. Dia mengajak anaknya itu, yang masih ada di dalam kandungannya, supaya tidak merepotkan saat lahir nanti.
"Sayang. Lahir dengan selamat ya, jangan rewel-rewel di dalam sana. Mama menuggu kehadiran mu, bersama dengan papa juga."
Anjani, terus berbincang-bincang dengan anaknya, sambil mengelus-elus perutnya sendiri. Hal yang wajar dilakukan oleh ibu-ibu, hamil.
Dengan sering berbincang dengan anaknya yang masih di dalam perut, hubungan antara ibu dan anak akan terbentuk.
"Kita tunggu papa ya. Tadi katanya mau beli buah buat kita lho, kamu pastinya akan senang." Anjani, kembali mengelus perutnya yang sedang mengeras di bagian samping, karena tendangan bayinya.
"Jangan nakal dong Sayang!" seru Anjani, menahan rasa sakit yang datang secara tiba-tiba.
Tak lama, suaminya, Abimanyu datang. Dia segera menyambutnya dengan tersenyum.
"Mas, kok lama. Ini perutku udah terasa sakit. Anak kamu nendang-nendang terus sedari tadi," kata Anjani, mengadukan apa yang dia rasakan saat ini di dalam perutnya.
"Hahaha... aktif sekali dia!"
Abimanyu justru tertawa senang mendengar perkataan istrinya yang sedang dalam keadaan payah dengan perutnya yang membesar.
Dia pun akhirnya menunduk dan menciumi perut istrinya itu dengan penuh cinta.
"Baik-baik ya Sayang. Jangan nakal dan buat Mama kesal nanti," kata Abimanyu sambil mengelus perut Anjani.
__ADS_1