
Sekarang apa yang bisa dilakukan oleh Anjani, untuk bisa membuat Abimanyu bisa kembali mengingat dirinya, jika Abimanyu sudah tidak mau melihatnya lagi. Padahal selama ini, Abimanyu hanya diam saja saat Anjani merawatnya. Tidak ada keluhan, meskipun dia tidak mengingat apa-apa.
Tapi, kenapa akhir-akhir ini malah semakin terlihat menjauhkan diri dari mereka, orang-orang yang sering datang mengunjungi dirinya.
Seperti ibu Sofie, ayah Edi dan Sekar serta Juna, suaminya Sekar. Bahkan, pada Anjani yang selalu menemani dirinya sepanjang hari.
Anjani, tidak menyerah pasrah pada sikap Abimanyu yang tidak mau lagi ada di dekatnya. Dia berpikir jika, suaminya itu sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, karena merasa menjadi beban bagi orang lain.
Itu karena dia tidak bisa melakukan apa-apa, termasuk untuk makan, dia harus meminta bantuan pada orang lain.
Anjani sering juga melihat Abimanyu merenung sendiri dalam keadaan berbaring. Kadang, Abimanyu terlihat kesal, saat ingin mengerakkan tubuhnya yang tetap diam ditempat, meskipun dia berusaha untuk menggerakkannya.
Anjani, sebenarnya merasa kasihan, tapi dia tidak ingin melihat Abimanyu dalam keadaan seperti orang yang sedang putus asa.
"Mungkinkah dia tidak mengakui jika dirinya adalah mas Abi, karena merasa tidak berguna dan hanya bisa merepotkan saja?" pikir Anjani dalam hati, saat melihat suaminya berusaha untuk menggeser posisi kakinya.
Saat ini, Anjani sedang pura-pura tertidur di sofa, sehingga Abimanyu tidak tahu, jika semua gerak geriknya diawasi oleh Anjani.
"Tidak berguna. Apa yang bisa Aku lakukan dengan semua kelumpuhan ini? Aku hanya merepotkan semua orang yang tidak Aku kenali saat ini. Meskipun mereka semua mengatakan jika Aku adalah Abimanyu, suami, anak dan ayah dari mereka-mereka yang ada di sekitarku saat ini. Tapi kenapa Aku tidak mengingat apa-apa tentang mereka semua. Aku benar-benar tidak berguna. Siapa Aku ini sebenarnya?"
Anjani mendengar Abimanyu sedang mengerutu seorang diri, dengan kesalnya. Abimanyu, yang hanya bisa berbaring, terus menerus mengoceh dan mencoba untuk mengingat-ingat kembali, apa dan siapa dirinya yang sebenarnya.
Tapi karena berusaha dengan keras, Abimanyu justru merasakan kesakitan yang sangat dikepalanya. Dia mengerang keras, menolak rasa sakit yang dia alami saat ini.
"Aggghhh!"
"Aduh..."
__ADS_1
"Argh!"
Anjani merasa tidak tega, mendengar suara-suara kesakitan dari mulut suaminya itu.
Akhirnya, Anjani pura-pura baru bangun dari tidurnya dan bergegas mendekat ke tempat tidur Abimanyu.
"Mas Abi. Mas Abi kenapa?" tanya Anjani seperti biasanya. Dia tidak ingin merubah sikapnya sendiri, dalam mengahadapi Abimanyu yang semakin temperamen saat sedang kesakitan. Dia tetap berusaha untuk bersabar.
"Sakit tahu! pakai tanya segala!" jawab Abimanyu kesal.
Anjani dengan cepat memencet tombol pasien, untuk memangil perawat yang bertugas.
Tak lama kemudian, seorang perawat masuk dan bertanya kepada Anjani, "ada apa Bu, apa bapak ngamuk-ngamuk lagi?"
"Bukan Sus, suami Saya kesakitan pada bagian kepala," jawab Anjani sambil meringis tidak enak hati. Ini karena dua hari kemarin, Abimanyu mengamuk tidak beralasan, karena dia ingin mencoba untuk bisa makan sendiri dan tidak harus dibantu dan disuapi Anjani lagi.
"Aku merepotkan dirimu, kenapa Kamu masih mau capek-capek merawat ku? Kamu bisa pergi dari sini, jika merasa capek dan tidak mau mengurus ku."
Begitulah Abimanyu, yang tampak jadi seperti orang lain dan bukan Abimanyu yang penyabar dan penyayang.
Tapi Anjani tidak menyalahkan sikap suaminya itu. Dia merasa jika Abimanyu hanya belum bisa menerima kenyataan, bahwa dirinya yang sekarang, tidak lagi sama seperti dulu.
Menjadi Abimanyu yang dewasa, sayang dengan keluarga dan pekerja keras.
Dan sekarang, Abimanyu hanya bisa mengandalkan bantuan orang lain, yang membuat dirinya menjadi seorang laki-laki yang lemah dan tidak berguna.
Beberapa menit kemudian, suster sudah memeriksa keadaan Abimanyu. Dia juga sudah memberikan suntikan pada Abimanyu, supaya lebih tenang dan bisa kembali tidur dengan nyaman.
__ADS_1
"Sus. Kira-kira, suami Saya ini kapan bisa tidak tergantung pada obat-obatan penenang dan yang lain. Saya takut, jika ini akan selamanya seperti sekarang ini. Ini tidak baik untuk kesehatannya Sus," kata Anjani, meminta pada suster, agar menjelaskan tentang pengobatan suaminya yang dalam keadaan lumpuh dan lupa ingatan itu.
"Ini hanya sementara waktu, sampai bapak bisa mengendalikan emosi dan perasaannya sendiri, untuk menerima kenyataan dan keadaan dirinya, yang memang berbeda jauh dari keadaannya sebelum kecelakaan yang dia alami. Ini hanya menunggu waktu saja, sampai bapak benar-benar bisa menerima kenyataan jalan kehidupannya," kata suster menjelaskan pada Anjani, tentang kondisi suaminya, Abimanyu.
*****
Mama Amel, yang sedang berada di Batam, saat Abimanyu mengalami kecelakaan saat itu, tidak bisa langsung pulang ke Jakarta, karena ada beberapa hal yang harus dia lakukan di Batam.
Selain masalah bisnis Elang, anaknya yang sedang menetap di Batam, dia juga sedang memantau perubahan sikap menantunya, yang pernah dipergoki seorang kenalan mama Amel, sedang memasuki kawasan hotel berbintang, yang ada di daerah Batam.
Bahkan, kenalan mama Amel sampai membidikkan kamera handphonenya, untuk menyakinkan diri bahwa yang dia lihat memanglah menantu kenalnya. Dan foto bidikan teman mama Amel, dikirimkan langsung ke mama Amel, untuk memastikan bahwa yang dia lihat itu adalah benar.
Tapi karena mama Amel tidak melihatnya secara langsung, dan Adisty juga tidak terlihat bersama dengan orang lain, dia ingin membuktikan sendiri dengan berada di Batam untuk beberapa hari. Meskipun keberadaan tidak ketahui oleh anaknya sendiri, Elang Samudra
Dua hari sebelumnya, mama Amel memang datang berkunjung ke rumah mereka. Tapi setelah itu, dia berpamitan jika akan mampir ke Singapura terlebih dahulu, sebelum kembali ke Jakarta.
Tapi karena papa Ryan ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, maka hanya ada mama Amel yang harus menyelidiki sendiri dengan kecurigaannya itu terhadap menantunya, istrinya Elang Samudra, Adhisti Andriyani.
Dan begitulah akhirnya, papa Ryan memang harus kembali terlebih dahulu ke Jakarta, dan meninggalkan mama Amel, dengan misinya.
"Aku tidak akan memaafkan dirinya, jika semua memang terbukti benar. Aku tidak mau, jika Elang harus mempertahankan wanita licik itu, meskipun dia adalah cinta pertama Elang. Dia akan hancur sendiri, jika masih ingin terus mempertahankan keutuhan keluarganya, yang sudah bobrok karena ulah istrinya sendiri. Elang harus sadar, jika istrinya, sudah menikamnya dengan cara yang halus dan tersembunyi."
Mama Amel, mencari berbagai celah, untuk busa memberikan bukti kepada anaknya, Elang, sama seperti yang pernah dia lakukan untuk membuka kedok menantunya, Adhisti Andriyani, yang ternyata adalah musuh dalam selimut Elang sendiri.
Sepertinya, Adhisti tidak kapok dan merasa mendapat angin, karena tinggal di tempat yang jauh dan tidak lagi bisa dipantau oleh orang-orang yang ditugaskan oleh mama Amel, guna menyelidiki bagaimana sepak terjangnya dalam urusan tipu menipu.
Mama Amel, sudah siap untuk mendapatkan semua bukti yang kuat, untuk memakainya sebagai alat yang bisa digunakan untuk merubah pikiran anaknya, Elang Samudra, yang tetap percaya begitu saja dengan Adhisti Andriyani, yang sudah terlalu sering menipu dan mengkhianati Elang, suaminya sendiri.
__ADS_1