
"Kamu juga, belajar yang rajin. kerjakan ujian dengan teliti. Jika Kamu berhasil dan masuk ke universitas di Amerika dengan mudah, apa yang kami usahakan nanti, tidak akan sia-sia juga Wan."
Awan mengernyitkan dahinya, karena mendengar perkataan opanya, yang masih berdiri di teras depan rumah, bersama dengan dirinya dan omanya juga.
"Maksud Opa?" tanya Awan, ingin mendapatkan kejelasan tentang perkataan opanya itu.
"Tidak apa-apa. Tidak usah dipikirkan. Apapun yang kami lakukan, kerjakan ini, semuanya juga untuk Kamu di masa depan kan?"
Sekarang, omanya, mama Amel, yang menjawab pertanyaan Awan. Menjelaskan tentang perkataan suaminya. Jika semua kerja keras mereka selama ini, hanya untuk kebahagiaan Awan.
Sekarang, Awan terdiam dan tidak lagi bertanya-tanya. Dia masih merasa belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh omanya tadi.
Karena selama ini, mereka berdua, oma dan opanya tidak pernah membahas tentang pekerjaan dan kehidupan di masa depan nanti. Apalagi mengaitkan dengan dirinya sendiri.
'Ada sesuatu yang disembunyikan oma dan opa. Apa ayah juga tahu tentang hal ini?' tanya Awan, di dalam hatinya.
Tapi Awan tidak bisa menyimpulkan sendiri, segala sesuatu yang terjadi dan dia lihat sekarang ini. Mungkin, ada waktunya nanti, untuk Aku tahu semua kebenaran yang direncanakan oleh oma ada opa.
"Opa berangkat dulu."
Ternyata opanya Awan, papa Ryan, sudah siap untuk berangkat. Dia juga sudah berpamitan pada istrinya, mama Amel.
Awan yang sedang melamun, hanya bisa mengangguk saja, karena tergagap dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Opa, hati-hati."
Dan baru setelah papa Ryan masuk ke dalam mobil, Awan memberinya pesan.
Mama Amel, melambaikan tangan pada suaminya. Begitu juga dengan Awan, saat mobil yang membawa papa Ryan mulai berjalan.
"Kamu yang fokus ya besok, saat mengerjakan soal ujian."
Mama Amel menasehati Awan, di saat hanya ada mereka berdua saja di teras rumah.
Awan mengangguk pasti, tanpa mengeluarkan sepatah kata. Dia tidak perlu mengatakan apa-apa, karena itu memang sudah kewajibannya sebagai seorang pelajar, yang sedang ujian.
"Ayok," ajak mama Amel, pada Awan, agar masuk lagi ke dalam rumah.
Begitu sampai di ruang tengah, mama Amel mengajak Awan, supaya duduk-duduk terlebih dahulu. "Duduk sini dulu Wan," ajak mama Amel, saat Awan berjalan lurus, dan tidak mengikutinya.
Awan menghentikan langkahnya, kemudian berjalan menuju ke arah omanya duduk. "Ada apa Oma?" tanya Awan, begitu dia sudah duduk di samping omanya, mama Amel.
"Kamu gak ada yang berat untuk ditinggalkan saat berangkat ke Amerika kan?" tanya mama Amel, menyelidik.
Tidak ada jawaban yang diberikan oleh Awan. Dia hanya diam dan menunggu omanya itu, mengatakan apa lagi, setelah pertanyaan yang tadi.
"Kamu pasti akan tambah semangat untuk segera pergi ke Amerika, jika apa yang Oma dan opa rencanakan ini berhasil."
Kening Awan tampak berkerut, memikirkan apa yang dikatakan oleh omanya itu.
"Om Abi, akan pindah ke Amerika dalam waktu dekat ini."
__ADS_1
Sekarang, kening Awan tidak lagi berkerut, tapi rasa terkejut sudah membuatnya terbelalak, saat mendengar perkataan omanya yang terakhir.
"Tidak usah kaget, ini baru rencana. Makanya, sekarang opa Kamu, sama om Abi ke sana, untuk survei perusahaan dan tempat tinggal om Abi juga," ujar mama Amel, dengan tersenyum senang, karena melihat perubahan wajah cucunya, saat dia mengatakan jika Abimanyu, ayahnya Ara, akan pindah ke Amerika.
"Tapi ini baru rencana. Semoga saja Abimanyu cocok dan mau menerima tawaran kami."
Sekarang, Awan kembali ke mode datarnya. Dia hanya berpikir dalam hati, 'ini baru rencana. Dan hanya om Abi saja mungkin, yang pindah ke sana.'
"Istri dan anak-anaknya om Abi juga ikut kok Wan."
Dan Awan kembali terkejut, saat omanya, mama Amel, berkata lagi, beberapa saat kemudian.
"Makanya, Kamu harus bisa masuk ke universitas di sana. Biar Kamu juga gak merasa sendiri di sana. Ada keluarga yang Kamu kenali, jika Kamu sedang bosan berada di kamar apartemen sendirian."
Mama Amel, kembali mengatakan semua kemungkinan, jika Awan berada di Amerika nantinya.
Dan senyuman kebahagiaan tampak terlihat samar, di bibir Awan.
Tentu saja, mama Amel juga merasa senang, karena melihat cucunya itu tampak berbahagia, meskipun tidak dia tunjukkan secara langsung di depannya saat ini.
"Ya sudah. Oma mau ke kamar. Kamu kalau mau belajar, kembali ke kamar ya," kata mama Amel, pamit pada Awan.
"Iya Oma."
Awan menjawab pendek.
Setelah mama Amel pergi dari ruang tengah, tinggal Awan sendiri yang masih betah duduk.
Awan belum merasa yakin, jika Ara juga akan ikut kedua orang tuanya, untuk pindah ke Amerika.
"Hemmm..."
Terdengar helaan nafas panjang, yang keluar dari mulut Awan.
Tak lama kemudian, dia berdiri dan berjalan menuju ke arah kamarnya sendiri.
*****
Di Bogor
Keluarga Abimanyu baru saja sampai di rumah kafe dan kost miliknya Anjani.
"Masih ada kamar kosong untuk bunda dan anak-anak kan?" tanya Abimanyu, yang merasa khawatir dengan kondisi rumah istrinya, yang sekarang ini sudah di sulap menjadi rumah kost-kostan juga, selain kafe rumah, yang memang sudah lama ada.
"Masihlah Yah. Kan kamar utama dan satu kamar di sebelahnya, masih ada. Khusus untuk kita jika sedang berada di sini."
Abimanyu merasa lega, saat mendengar jawaban dari istrinya itu.
Sekarang, dia membantu membangunkan anak-anaknya, karena sudah sampai di rumah mereka di Bogor.
Ara dan Anggi, sama-sama tertidur pulas, setelah capek berdebat do sepanjang perjalanan tadi.
__ADS_1
"Kak. Kak Ara. Ayok bangun Kak."
Abimanyu menepuk-nepuk pipi Ara, dengan pelan.
"Adek. Adek bangun!"
Abimanyu beralih ke Anggi, yang ada di sebelahnya Ara.
"Emhhh..."
Ara mengeliat, dan merenggangkan otot-otot tangan dan tubuhnya.
"Hoammm..."
Anggi menguap sebelum membuka matanya perlahan-lahan.
"Kita sudah sampai ya Yah?" tanya Anggi, saat melihat di mana sekarang mobil yang dia tumpangi berada.
Abimanyu mengangguk mengiyakan, dengan tersenyum senang, karena melihat Anggi yang tampak senang.
Ara jadi melebarkan matanya agar busa melihat juga, di mana sekarang dia berada.
"Eh, udah sampai ini?" tanya Ara tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Tiba-tiba, "Aduh!" teriak Ara, karena Anggi mencubit pinggangnya. "Adek!" teriak Ara lagi, saat sadar jika adiknya itu yang mencubit pinggangnya hingga terasa sakit.
"Ayok Kak, kita ke kolam ikan!"
Anggi menarik tangan Ara, agar segera turun dari mobil dan pergi melihat kolam ikan, yang ada di belakang kafe rumah.
"Eh, neng Ara, neng Anggi. Wah... tambah cantik semua!"
Teteh koki, yang mengurus semua urusan kafe, menyapa Ara dan Anggi, yang baru saja keluar dari mobil.
"Bibi..."
Ara dan Anggi, saling berebut untuk menyalami tangan teteh koki.
"Wah, pinter semua!"
Anjani, yang sudah berada di rumah teras samping rumah, melihat ke arah anak-anaknya, yang sedang berlari ke arah belakang kafe.
"Hati-hati. Jangan sampai nyebur ke kolam!" teriak Anjani, memperingatkan kedua anaknya itu, supaya berhati-hati saat berada di kolam ikan.
Tapi kedua anaknya, Ara dan Anggi, seperti tidak peduli dengan teriakan bundanya.
Mereka berdua terus berlari, dan berebut untuk bisa sampai terlebih dahulu mencapai kolam ikan.
Byur!
"Eh... ada apa?"
__ADS_1
Anjani kaget, saat terdengar suara air kolam yang seperti kejatuhan sesuatu.