
Yasmin benar-benar datang dua minggu kemudian. Tapi kali ini, Kedatangan dirinya, hanya sendiri, tidak bersama dengan suaminya, Aksan.
Ini karena Aksan sedang ada banyak pekerjaan, sehingga dia tidak ikut pulang ke Indonesia.
Yasmin sudah membicarakan tentang rencananya, untuk membawa Nanda ikut ke Taiwan, dengan kedua orang tuanya, dan juga kakaknya, Abimanyu.
Dia juga sudah meminta ijin pada Anjani, yang selama ini sudah merawat anaknya. Dia sangat berterima kasih, karena Nanda sudah diperlakukan seperti anak sendiri oleh kakak iparnya itu.
"Yasmin, sangat berterima kasih pada mbak Jani. Dan maaf, karena Yasmin akan mengajak Nanda ke Taiwan dengan Yasmin. Tapi jika Nanda tidak mau atau saat di sana merasa tidak betah dan ingin pulang, Yasmin akan mengajak dia pulang lagi kok Mbak. Tapi semoga saja, dia akan betah di sana bersama dengan Yasmin."
Anjani mengangguk mengiyakan dan juga tersenyum, saat mendengar perkataan dari adik iparnya, Yasmin. Dia sudah merelakan Nanda. Karena itu memang hak Yasmin, untuk merawat Nanda.
Jika Nanda tidak mau atau diantar pulang ke Indonesia lagi, dia juga akan menerima Nanda kembali. Anjani, tidak mempermasalahkan soal itu.
Tapi Ara tidak sama. Dia tentu merasa sangat keberatan dengan kepergian Nanda. Dia sudah terbiasa dengan sepupunya itu sejak kecil. Bahkan, Nanda juga yang selalu melindungi dirinya jika ada teman sekolah yang usil atau menganggu dirinya.
"Kak Nanda kapan pulang lagi?" tanya Ara, yang saat ini ada di kamarnya Nanda.
"Tidak tahu. Kan Kakak juga belum berangkat ini dek," jawab Nanda, yang sedang memilih mainan yang akan dia bawa serta.
Padahal, dia sudah diberi tahu mamanya, supaya tidak membawa mainan. Karena di sana, dia akan mendapat banyak mainan baru juga.
Tapi, karena ada beberapa mainan yang tidak bisa dia tinggal, jadi tetap saja, dia mau membawa serta mainan tersebut ke Taiwan sana. Dia tidak mau meninggalkan mainannya itu.
Ara akhirnya diam saja, melihat Nanda yang sibuk dengan kegiatannya sendiri.
"Lho Ara! dicari bunda Jani lho Sayang."
Tiba-tiba, Yasmin masuk ke dalam kamar, yang memang tidak ditutup pintunya.
"Ada apa mama Yasmin?" tanya Ara, pada tantenya, Yasmin.
"Tidak apa-apa. Mungkin karena Ara tidak ada di dalam kamar sendiri, makanya bunda Jani cari-cari. Bunda gak lihat ke kamar ini kan, makanya gak tahu," jawab Yasmin dengan tersenyum, karena tadi memang Anjani mencari anaknya, Ara.
Akhirnya, Ara pamit dari kamarnya Nanda, untuk menemui bundanya. Anjani.
"Bunda. Bunda cari Ara?" tanya Ara memanggil Anjani.
__ADS_1
"Kamu dari mana saja Sayang? Bunda cari-cari tadi," kata Anjani, sambil mengangguk.
"Dari kamar kakak. Lihat dia sedang berkemas."
Ara, menceritakan tentang kegiatan Nanda, yang tadi di temani di dalam kamar.
"Oh. Bunda pikir dimana tadi."
Sekarang, dia mengajak anaknya itu, untuk membantunya menyiapkan makan malam, untuk mereka semua. Ini dilakukan Anjani, untuk melatih anaknya sedari kecil, supaya selalu bisa membantu pekerjaan rumah, meskipun itu adalah hal yang ringan saja.
Ara juga dengan senang hati, menerima ajakan bundanya itu. Dia memang suka membantu, sejak naik ke tingkat sekolah dasar. Dan sekarang ini, Ara sudah berumur delapan tahun.
Sedangkan Nanda sendiri, berumur sepuluh tahun. Mereka berbeda usia dua tahun.
Saat membantu bundanya, Ara bertanya tentang kepergian kakaknya, Nanda, yang akan ikut mamanya, Yasmin, ke Taiwan.
"Kak Nanda lama gak Bun di sana?" Ara bertanya, sambil mengatur piring-piring, yang akan digunakan untuk makan malam mereka nanti.
"Tidak tahu Sayang. Kan itu tergantung mama Yasmin dan kak Nanda sendiri. Kalau mereka baik-baik saja di sana, ya kak Nanda sekolah di sana juga. Jadi ya lama gak pulang ke Indonesia."
Anjani juga mengatakan, jika sebulan lagi, mereka akan pindah ke rumah mereka sendiri, dan tidak tinggal di rumah eyangnya, di rumah ini.
"Ara pengen punya adik tidak?" tanya Anjani tiba-tiba.
Dia ingin tahu, bagaimana perasaan Ara, jika punya adik sendiri. Karena saat ini, Anjani dan Abimanyu sedang mengikuti program hamil. Mereka mengikuti program tersebut, karena mengingat kondisi Abimanyu yang masih mengkonsumsi obat-obatan untuk kesehatannya.
Apalagi, Ara juga sudah tidak lagi balita, sehingga jika dia sampai hamil, jarah antara Ara dan asiknya nanti terpaut cukup jauh.
Anjani tidak ingin ,jika ada kecemburuan sosial diantara Ara dana adiknya nanti.
"Ara mau punya adik? kapan Bunda?" tanya Ara antusias, sambil memegang perut bundanya itu.
Dia pikir, bundanya itu sudah hamil, sehingga sekarang ini, dia memenangi perutnya Anjani.
"Belum Sayang. Kan Bunda cuma tanya dengan Ara. mau tidak?" tanya Anjani mengulangi pertanyaannya yang tadi.
"Bunda... ihsss. Kirain sudah ada adik di perutnya Bunda ini," jawab Ara, dengan cemberut.
__ADS_1
"Hehehe... sabar ya. Doain semoga tidak lama lagi, ada adik di perutnya Bunda. Jadi, nanti, Ara ada temannya main. Ara juga bisa ngajarin banyak hal pada adik nantinya," kata Anjani, sambil mengelus-elus rambut anaknya itu.
Mereka berdua, sama-sama saling berpelukan dan Ara sangat berharap, agar bundanya segera memberikan adik untuknya.
*****
Mama Amel, sedang mengatur pertemuan antara anaknya, Elang, dengan seorang gadis. Dia ingin, supaya anaknya itu bisa meneruskan kehidupannya dan tidak lagi bersedih sehingga sering sakit kepala.
"Lang. Ayo nak! Kita sudah siap ini," ajak mama Amel, yang saat ini sudah siap bersama dengan cucunya, Awan.
Awan, yang sekarang ini sudah berusia lima belas tahun, tentu sudah terlihat lebihi besar dan tinggi. Dia juga terlihat tampan, sama seperti Elang waktu muda.
Dia akan ikut pergi, dan melihat bagaimana keadaan calon mama sambungnya. Dia tidak ingin, omanya mencari calon istri yang asal, untuk ayahnya.
"Iya Ma. Sabar kenapa sih Ma," jawab Elang, saat keluar dari dalam kamar.
Sekarang, mama Amel yang melongo melihat keadaan anaknya, Elang, yang diharapkan akan keluar dengan pakaian rapi seperti biasanya, saat pergi ke kantor atau ke undangan makan malam.
Tapi kini, mama Amel melihat penampilan yang berbeda dari anaknya, Elang.
Dengan mengunakan celana jeans biasa, bersama dengan kemeja pendek, Elang memang terlihat lebih muda tapi tidak terkesan serius dan berkelas, jika ingin bertemu dengan seorang gadis atau wanita yang akan menjadi calon istrinya nanti.
"Sayang. Kamu yakin dengan pakaian Kamu ini?" tanya mama Amel ragu.
Awan, hanya tersenyum tipis, melihat penampilan ayahnya itu. Dia juga sebenarnya ingin tertawa, karena tahu, jika ayahnya tidak tertarik dengan acara-acara yang dibuat oleh omanya, yang ingin mencarikan istri untuk ayahnya.
"Kenapa Ma?" tanya Elang pura-pura, tidak paham dengan maksud pertanyaan mamanya.
"Kita mau makan malam, dan bertemu dengan keluarga gadis ayng ingin mama perkenalkan dengan Kamu Sayang. Mana bisa Kamu memakai pakaian seperti ini," kata mama Amel menjelaskan pada Elang, maksud dari ajakannya malam ini.
"Tapi ini juga sopan Ma. Tidak ada yang salah kan?" tanya Elang dengan melihat penampilannya sendiri.
"Apa ada yang salah dengan penampilan ayah Wan?" tanya Elang, berganti pada anaknya, Awan.
Awan hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. Dia tidak ingin, omanya merasa tersinggung, jika melihatnya tersenyum, disaat menjawab pertanyaan dari ayahnya yadi.
Sedang mama Amel, tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak mendelik, karena sadar bahwa anaknya, Elang, sedang tidak ingin didebat lagi.
__ADS_1