Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Nasehat Dari Pelanggan


__ADS_3

Bibi pembantu mengaku, jika kemarin-kemarin itu, yang memasak ikan asam pedas manis bukanlah dirinya, melainkan Jani, menantu mereka sendiri.


"Sudah Ayah duga," kata ayah Edi, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa melihat ke arah istrinya, yang pasti sedang memerah wajahnya karena malu, marah dan banyak lagi perasaan yang saat ini ada.


"Kok Bibi gak ngomong waktu itu?" Ibu Sofie, bertanya kepada bibi pembantu, dengan nada kesal. Dia merasa malu, karena waktu itu sudah memuji dirinya sendiri, yang berhasil mengajari bibi pembantu untuk memasak yang enak.


"Non... non Jani, dia meminta Bibi untuk diam saja Nyah. Maafkan bibi Nyah," jawab bibi pembantu dengan terbata-bata karena merasa takut. Apalagi dilihatnya, ibu Sofie, majikannya itu terlihat kesal dan uring-uringan sendiri.


"Hemmm... berarti kursus masaknya belum ada hasil itu Bi. Harus lebih rajin lagi," sahut ayah Edi, dengan maksud menyindir istrinya, ibu Sofie.


Sekar, tersenyum senang saat bibi pembantu mengakui kalau sebenarnya bukan dia yang memasak waktu itu. Dia juga percaya, jika Jani, memang pintar memasak, meskipun tidak ahli seperti halnya para koki yang handal.


Berbeda dengan Sekar yang tersenyum, Yasmin justru mengerutkan keningnya tidak percaya begitu saja. Dia merasa jika bibi pembantu memang sengaja masak yang tidak enak, kemudian mengaku-ngaku jika kemarin itu bukan hasil masakannya sendiri.


"Bibi dibayar berapa banyak, dengan mengarang cerita ini?" sahut Yasmin dengan kasar. Dia benar-benar tidak percaya, dengan pengakuan dari bibi pembantu.


"Benar Non. Bibi tidak bohong. Waktu itu, Bibi mau ngomong yang sebenarnya, tapi Non Jani keburu datang di belakang Nyonya ibu, dan menggelengkan kepalanya serta menutup mulutnya dengan jari telunjuk."


Bibi pembantu, kembali menceritakan tentang keadaan waktu itu, saat Anjani masih ada di rumah ini. Dia juga mengatakan, jika dia tidak mengajarkan kepada Anjani, tentang memaksa ikan asam pedas manis. Anjani, sudah tahu sendiri dan hafal dengan semua bumbu-bumbu yang diperlukan.


"Aku percaya kok Bi," ucap Sekar sambil tersenyum pada bibi pembantu.


Mendengar itu, bibi pembantu ikut tersenyum kearah Sekar. Dia merasa senang, karena di rumah ini ada orang yang percaya dengan perkataannya, dan juga tidak memusuhi Anjani, sebagai menantu dan juga ipar mereka.


"Kamu percaya? kenapa?" tanya Yasmin cepat, pada saudara perempuannya itu.


"Karena sehari kemudian, Aku meminta bantuan pada Mbak Jani, memasang tabung gas elpiji dan dia bisa kok mengerjakannya. Dia juga memasak omlet sayur untuk Sekar. Padahal waktu itu, Sekar mau bikin mie instan untuk sarapan. Bibi ingat gak? saat bibi pulang dari pasar, kami berdua masih ada di meja makan ini, dengan piring yang sudah kosong. Bahkan, bibi yang membantu membersihkan piring dan juga mangkok bekas telurnya."


Bibi pembantu mengangguk, membenarkan perkataan nona mudanya, Sekar. Tapi ibu Sofie dan Yasmin, tetap tidak terpengaruh dengan semua cerita tentang Anjani, karena kebencian dan rasa tidak suka, sudah menetap di hati mereka berdua.

__ADS_1


Ayah Edi, tersenyum tipis mendengar perkataan dan cerita tentang Anjani, menantunya, dari bibi pembantu maupun anaknya sendiri, yaitu Sekar.


"Kalian berdua, boleh tetap tidak percaya dan tidak menyukai Anjani. Tapi biarkan mereka, yang juga menyukai dan tahu kelebihan yang dimiliki oleh Anjani. Karena pada dasarnya, rasa suka dan tidak suka itu dari diri kita sendiri. Ayah hanya bisa berharap, suatu saat nanti, kalian, yang tidak menyukai Anjani, bisa juga menerima Anjani sebagai bagian dari keluarga kita ini dengan lapang dada dan tidak ada kebencian satu dengan yang lainnya."


Yasmin dan ibu Sofie, hanya diam saja dan tidak menyahuti perkataan ayah Edi. Mereka berdua, tetap tidak terpengaruh dengan cara apapun.


Ayah Edi, hanya bisa menghela nafas panjang. Dia merasa gagal karena, anaknya, Yasmin, dengan istrinya sendiri, tidak ada yang menurut dengan perkataannya tadi.


*****


Di Bogor, Anjani dan Abimanyu menjalani hari-hari bersama dengan bahagia. Mereka berdua, saling membantu dalam pekerjaan dan memajukan usaha kafe rumah miliknya Anjani.


Abimanyu, memberikan ide-ide baru untuk menu maupun tata letak fasilitas yang ada. Mereka mendesain ulang, agar pelanggan tidak bosan. Mereka juga bisa menikmati hidangan dan suasana yang berbeda dari biasanya.


"Mas. Ini bagusnya taruh mana?" tanya Anjani, pada suaminya, sambil menunjuk pada aquarium besar yang ada di sisi kasir.


"Hemmm... kayaknya lebih enak di lihat kalau ada di dekat pintu masuk deh Sayang," jawab Abimanyu, sambil menyipitkan matanya. Dia mengira-ngira, jika ikan-ikan hias yang ada di aquarium itu, bisa menarik perhatian pengunjung.


"Kita coba dulu seminggu. Jika terjadi keajaiban dan pelanggan tertarik, biar tetap berada di sana, tapi jika tidak ada pengaruhnya, kita bisa pindahkan ke tempat lainnya lagi," kata Abimanyu, memberikan saran.


Akhirnya, Anjani memangil para pegawainya, untuk membantu suaminya itu, memindahkan aquarium dari sisi kasir ke tempat yang lebih strategis, yaitu di dekat pintu masuk ke kafe rumah miliknya ini.


"Nah kan, lebih baik dan ada pemandangan yang berbeda dari luar." Abimanyu tersenyum puas, saat aquarium itu berhasil di. Dia mengamati dari tempat yang tidak terlalu jauh dari luar halaman rumah.


"Mas. Tidak usah keluar juga ah," kata Anjani, yang merasa tidak enak karena di lihat beberapa orang yang sedang lewat.


"Lho, gak apa-apa. Siapa tahu, ada yang merasa penasaran nanti, terus mereka mampir. Kan bisa jadi pelaris tuh!" sahut Abimanyu, begitu dia sudah kembali ke tempat, dimana Anjani berdiri menunggunya.


"Mas, ada-ada saja deh. Kan ada juga papan nama kafe ini di depan. Ada juga di beberapa tempat, untuk promosi."

__ADS_1


Dari awal buka, Anjani sudah membuat papan-papan reklame, yang bisa jadi ajang promosi untuk kafe rumah ini. Itulah sebabnya, kafe miliknya itu, bisa cepat dikenali, dan juga diminati masyarakat. Selain harganya yang relatif terjangkau untuk semua kalangan masyarakat, ada tempat khusus untuk anak-anak bermain. Jadi mereka tidak akan bosan jika para orang tua sedang makan dengan santai, karena sambil berbincang-bincang dengan keluarga atau teman-temannya yang datang bersama.


"Terima kasih ya Mas. Sudah mau membantu Jani, mengembangkan usaha kafe ini," ucap Anjani, sambil menggenggam tangan suaminya.


Abimanyu, menyambut genggaman tangan Anjani. Dia meremasnya pelan, mengisyaratkan bahwa dia akan selalu ada untuk Anjani, dalam keadaan apapun nanti.


Beberapa saat kemudian, ada pelanggan yang masuk dengan beberapa anggota keluarga dan juga anak-anak mereka. Dengan cepat, mereka semua mencari tempat duduk yang nyaman dan aman untuk anak-anak mereka.


"Kita duduk di kursi yang dekat kolam ikan saja," usul salah satu dari mereka yang datang.


"Tidak mau! itu saja, dekat aquarium besar. Ikannya bagus-bagus Ma... mau di disitu saja!"


"Iya di situ."


"Iya Ma, lihat itu."


"Tapi, itu dekat jalan Sayang. Kamu bisa-bisa lupa, dan malah keluar ke jalanan," kata salah satu dari mama muda, yang ikut datang. Dia merasa khawatir dengan keselamatan anak-anak mereka nanti.


Ibu muda itu, mengarahkan anak-anak mereka, untuk bermain di arena permainan yang ada di belakang dan dekat dengan kolam ikan biasa. Meskipun sebenarnya, anak-anak mereka merengek-rengek dan minta untuk bisa melihat aquarium yang ada di depan sana.


Anjani dan Abimanyu, yang mendengar perkataan anak-anak dengan ibu muda tadi, merasa kaget. Mereka berdua tadinya, tidak memperhatikan tentang keselamatan anak-anak, yang ingin melihat aquarium, tanpa kontrol dari orang-orang dewasa yang mengajak mereka. Ini bisa menjadikan penyebab lain, dari ketidaknyamanan pelanggan yang datang.


"Mas," panggil Anjani pendek.


Abimanyu mengangguk paham dengan apa yang ingin dikatakan oleh istrinya itu. Dia mendekat ke arah para pengunjung tadi, kemudian berkata pada mereka, "maaf ya semua. Kami baru saja memindah aquarium itu ke depan, tapi sepertinya kami tidak memperhatikan kondisi anak-anak yang ingin melihat. Kami lupa, jika pintu masuk ada di pinggir jalan dan itu bisa membahayakan keselamatan. Kami akan segera memindahkan aquarium itu ke area permainan saja. Biar anak-anak bisa puas melihat ikan-ikan, yang ada dia dalamnya."


Abimanyu, datang mendekat bersama dengan Anjani. Mereka berdua, mengobrol sebentar dengan pelanggan tadi.


"Wah, iya Mas. Ide bagus itu. Maaf ya, anak-anak memang begitu. Tapi ini juga untuk keselamatan kok," ucap mama muda tadi.

__ADS_1


"Iya, terima kasih. Kami justru berterima kasih, karena dengan semua yang tadi terjadi, kami akhirnya sadar, jika keselamatan tetap yang utama."


Abimanyu dan Anjani, justru merasa senang dan berterima kasih kepada pelanggan tersebut, karena nasehat yang diberikan untuk anak-anaknya tadi. Nasehat itu, sudah membuka pikiran Abimanyu dan juga Anjani, untuk mengutamakan keselamatan para pelanggan, yang datang ke kafe rumah miliknya ini.


__ADS_2