
Malam ini, selesai makan malam, keluarga Abimanyu tidak langsung beraktivitas seperti biasa. Mereka yang biasanya langsung masuk ke dalam kamar atau menonton televisi, sekarang berkumpul di ruang tengah untuk mengobrol dan berbincang-bincang dengan anggota keluarga yang lain.
Anjani dan Abimanyu, juga sama. Mereka ikut duduk berdampingan dengan tenang bersama dengan anggota keluarga yang lain juga.
"Malam ini adalah malam terakhir Abimanyu dan Anjani di sini. Besok sore, mereka berdua akan pulang ke Bogor. Kita ngobrol-ngobrol dulu ya, karena hal ini akan jadi waktu yang langka untuk kedepannya nanti." Ayah, memulai pembicaraan mereka dengan memberi kabar pada yang lain dengan rencana anak dan menantunya, Anjani.
"Kenapa mesti tinggal di Bogor sih? kenapa tidak di Jakarta saja? kan Mas Abi kerjanya banyak di Jakarta Yah?" tanya salah satu anaknya yang cewek, adiknya Abimanyu yang bernama Sekar.
Adik Abimanyu yang lainnya, yang bernama Yasmin, mengangguk setuju dengan pendapat saudaranya, Sekar.
Sedangkan ibunya Abimanyu, yang bernama Sofie menjawab, "Tidak mungkin mau. Sudah ada yang memiliki hati dan pikiran Mas_mu. Kalian tidak usah berharap akan dianggap lagi ya." Setelah itu, ibu Sofie tersenyum canggung, karena di lihat oleh suaminya sendiri. Edi Sudrajat.
"Bu." Ayah Edi, menggeleng cepat, meminta istrinya itu diam dan tidak berbicara seperti tadi.
Abimanyu masih diam saja, begitu juga dengan Anjani. Mereka berdua, tidak terpengaruh oleh sindiran dari adik-adiknya dan juga ibu Sofie,. meskipun sebenarnya Anjani sudah sangat tidak nyaman dengan keadaan ini. Tapi, dia tetap berusaha untuk terlihat baik-baik saja di mata mereka semua, termasuk suaminya sendiri, Abimanyu.
"Biarkan mereka berdua, memutuskan sendiri apa yang dirasa baik. Kita sebagai orang tua, hanya dianjurkan untuk mendukung jika itu adalah baik dan menegurnya jika ada salah. Tidak perlu menentukan pilihan dan jalan mana yang kita anggap baik. Mereka berdua, punya pandangan sendiri tentang banyak hal."
Ayahnya Abimanyu, menasehati istrinya, kemudian melanjutkan kata-katanya, ganti menasehati anak-anak gadisnya. "Kalian, tidak perlu banyak komentar untuk kehidupan mas_mu dan istrinya itu. Kalian fokus kuliah saja. Nanti, kalau sudah waktunya untuk menikah, jangan sampai ada pihak dari keluarga calon suami kalian yang sama seperti kalian ini. kalian mau jika itu sampai terjadi di kemudian hari pada kalian?"
Anak-anak gadisnya terdiam. Mereka berdua sadar, jika apa yang dikatakan ayahnya itu benar. Mereka berdua menunduk dan tidak berani berkata apa-apa lagi.
Abimanyu hanya tersenyum tipis, melihat ke arah ayahnya. Dia juga menggenggam tangan istrinya, untuk memberikan isyarat bahwa dia tidak akan terpengaruh oleh sindiran dan perkataan ibu maupun adik-adiknya itu.
__ADS_1
"Terima kasih Yah, untuk kepercayaan yang ayah berikan. Aku sebagai kepala keluarga baru dari Anjani, ingin meminta maaf pada ayah, ibu dan yang lain, jika ada kekurangan pada istriku ini. Dia memang belum terbiasa bersama dengan kita, karena dia sedari dulu hanya berdua dengan ayahnya saja. Aku akan mendukung kegiatan dan usahanya, di Bogor. Tapi, itu bukan berarti Aku melupakan keluargaku sendiri di Jakarta. Aku harap kalian, terutama Ibu, memberiku kesempatan dan dukungan. Aku tidak mau, istriku tertekan dengan sikap yang tidak baik atau disindir seperti tadi. Aku tidak mau, jika itu akan menjadikan kesalahpahaman yang akan terus berlanjut hingga besok-besok."
Abimanyu, tahu jika perbincangan ini tidak akan berhenti sampai disini begitu saja. Dia juga tahu, meskipun tanpa bersuara, ibu dan adik-adiknya, memiliki pemikiran dan menentang apa yang dikatakan oleh ayahnya tadi.
Tapi Abimanyu tetap bersyukur, karena ayahnya tetap tidak terpengaruh oleh kata-kata ibunya, atau adik-adiknya. Ayah Edi, tetap memiliki penilaiannya sendiri dari berbagai sudut pandang.
"Ayah harap kalian semua tetap tenang dan hidup rukun ya," kata ayah Edi pada anak-anaknya.
"Ya Yah. Jika ada waktu luang dan Abi ada di Jakarta, Abi pasti akan datang ke rumah ini. Begitu juga dengan Jani, dia pasti akan senang jika bisa sesekali datang ke sini, bersama denganku."
Anjani tersenyum, mendengar perkataan suaminya. Dia mengangguk mengiyakan perkataan Abimanyu, karena sebenarnya dia juga merasa senang dengan adanya keluarga yang lengkap seperti ini. Dia merasa tidak kesepian seperti biasanya.
"Ya sudah, kita bicara soal lain saja." Ayah Edi, menjadi penengah antara mereka semua, agar tidak ada kesalahpahaman lagi dan tidak ada acara sindir-sindiran lagi.
*****
"Ayah. Tadi apa-apaan sih! kenapa menegur Ibu seperti itu?" Ibu Sofie, bertanya pada suaminya, karena tidak terima dengan nasehat yang diberikan saat berada di ruang tengah.
"Apa Bu? Seharusnya Ibu itu mengajari anak-anak gadis kita itu, agar tidak berkelakuan seperti tadi. Apa Ibu tidak mikir, seandainya besok salah satu anak gadis kita memulai hidup baru bersama dengan suaminya, dan mendapatkan perlakuan yang sama seperti Jani? apa Ibu suka jika itu terjadi? Ayah sih tidak mau ya jika itu sampai terjadi pada anak-anak kita nanti."
Ayah Edi, tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan sikap istrinya yang sedang kesal. Dia masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama setelah itu, ayah Edi, naik ke tempat tidur dan berbaring untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Dia berharap, istrinya bisa berpikir jernih dan tidak hanya mengikuti apa yang dia pikir baik saat ini.
Di kamar lainnya, di lantai atas.
__ADS_1
Anjani yang sudah bersiap-siap untuk segera tidur, dipeluk dari belakang oleh suaminya, Abimanyu.
"Mas," seru Anjani, yang merasa kaget dengan pelukan yang diberikan oleh suaminya.
"Hemmm..."
Abimanyu hanya berguman tidak jelas. Dia mencium leher Anjani bagian belakang, dengan menyibaknya rambut Anjani ke samping.
"Mas. Jani tidak enak hati sama ibu dan adik-adik. Apa mereka tidak semakin membenci Anjani, karena dikira sudah memengaruhi ayah? Jani takut, jika itu sampai terpikirkan oleh mereka."
Abimanyu, masih saja menciuminya dan tidak berkata apa-apa. Tapi, dari gerakan tangannya, Jani tahu, jika suaminya itu mendengar dan paham dengan apa yang dia katakan.
"Ma... masss..."
Anjani mendesah tidak jelas karena Abimanyu semakin mempercepat tempo ciumannya, bahkan sekarang sambil menggelitik telinganya juga.
Dan tidak ada lagi perbincangan antara keduanya. Yang ada hanya kebersamaan yang seharusnya. Mereka juga tidak tahu jika di kamar yang lain, kedua adik Abimanyu, sedang membicarakan tentang mereka.
"Mas Abi itu terlalu penurut dan memanjakan istrinya," kata Yasmin kesal.
Sekar, yang sedang tiduran di tempat tidur, segera bangkit dan duduk. Dia bersemangat untuk membicarakan tentang kakak iparnya itu, istri dari Mas_nya, Abimanyu.
"Iya tuh. Ayah malah ikut-ikutan gitu juga," kata Sekar menimpali.
__ADS_1
"Huh, pokoknya Aku tidak suka sama dia," Yasmin berkata tegas, jika dia tidak menyukai kakak iparnya itu.
"Iya, Aku juga sama. Tidak suka." Sekar, juga mengatakan hal yang sama.