
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Pintu rumah Anjani di ketuk dari luar. Ara, yang baru saja selesai membantu bundanya membersihkan dapur, menyipitkan mata.
"Siapa yang datang malam-malam?" tanya Ara, pada dirinya sendiri.
Karena tidak berani membuka pintu rumah sendiri, Ara memangil bundanya, yang sedang ada di kamar, menyuapi ayahnya.
"Bun, ada orang yang datang." Ara memberitahu pada bundanya, Anjani, jika ada seseorang yang datang mengetuk pintu rumah.
"Siapa Kak?" tanya Anjani, yang tidak tahu juga siapa yang datang ke rumahnya malam-malam begini.
"Ara juga tidak tahu Bun. Belum Ara bukain pintu," jawab Ara, menjelaskan pada bundanya.
"Sebentar ya Mas," kata Anjani, pamit pada suaminya, untuk melihat keluar, siapa yang datang ke rumahnya malam ini.
"Kak, tolong bantu ayah ya," ucap Anjani, meminta pada anaknya, Ara, untuk mengantikan dirinya menyuapi ayahnya, Abimanyu.
Ara pun mengangguk mengiyakan permintaan dari bundanya. Dia menerima piring, yang diberikan oleh bundanya, tempat makan ayahnya.
Setelah itu, Anjani keluar dari dalam kamar. Dan Ara, membantu menyuapi ayahnya.
"Ada tamu, siapa?" tanya Abimanyu, pada anaknya yang saat ini mengantikan posisi istrinya, untuk menyuapi dirinya.
"Ya Yah. Tapi Ara tidak tahu siapa yang datang bertamu?" jawab Ara, sambil terus menyuapi ayahnya, yang sudah merasa cukup kenyang.
"Cukup Kak."
Ara mengurungkan niatnya untuk menyuapi ayahnya lagi. Dia meletakkan piring tersebut di atas meja, kemudian mengambilkan air minum untuk. "Ini Yah," kata Ara, menyerahkan gelas minum, pada ayahnya. Dan Abimanyu, menerima gelas yang diberikan oleh Ara padanya.
Tak lama kemudian, Anjani masuk ke dalam kamar, untuk memberitahu pada Ara dan suaminya, siapa yang datang bertamu ke rumahnya malam ini.
"Mas, Kak. Yang datang tadi... itu Mas, emhhh... mama Amel dan papa Ryan. Itu, ada Awan juga."
Anjani memberitahu suaminya dan juga Ara, tentang tamu yang datang ke rumahnya saat ini. Dia tidak pernah menyangka, bahwa mantan mertuanya itu, yang merupakan Bos dari tempat perusahaan suaminya bekerja, datang menyempatkan diri, untuk mengunjungi suaminya.
__ADS_1
Padahal Anjani yakin, jika kedua bos Abimanyu tentu saja tidak memiliki waktu yang cukup banyak, untuk sedekar datang menjenguknya.
Apalagi waktunya juga sudah malam, dan mereka pastinya lebih baik beristirahat, sepulangnya dari kantor.
Itulah sebabnya, Anjani merasa sangat terharu, dengan sikap kedua bos suaminya itu, yang merupakan mantan mertuanya sendiri.
Hal ini membuat Anjani merasa sangat senang dan bersyukur, karena mereka berdua tidak pernah membedakan antara Anjani waktu dulu, saat masih menjadi menantu mereka, dengan Anjani yang sekarang, yang hanya sebatas istri dari karyawan biasa di kantornya mama Amel.
"Lho, mereka datang kok Bunda malah nangis? ayok bantu ayah keluar dari dalam kamar," kata Abimanyu, sambil tersenyum melihat istrinya yang sedang menitikkan air mata haru.
Anjani dengan cepat menyeka air matanya, agar tidak lagi menetes. Dia juga membantu suaminya itu, bersama dengan Ara, untuk turun dan keluar dari dalam kamar, menuju ke ruang tamu.
"Malam semuanya, maaf ini malah merepotkan Mama Amel dan juga Pak Ryan," ucap Abimanyu, begitu dia sampai di ruang tamu.
Mama Amel dan papa Ryan, berdiri menyambutnya.
"Aduh, Abi. Kamu kalau masih sakit ya gak usah keluar kayak gini. Jani, tadi kenapa tidak bilang, jika Abimanyu kerepotan saat berjalan," ujar mama Amel, mengingatkan Anjani.
"Gak apa-apa kok, ini karena Saya tidur-tiduran saja seharian. Jadi malah pada kaku begini kakinya."
Tapi lebih tidak enak lagi jika, membiarkan tamu-tamunya itu pulang, tanpa melihat keadaan Abimanyu, yang memang menjadi tujuan utama dari kedatangan mereka.
Setelah berbasa-basi sebentar, untuk bertanya-tanya tentang keadaan Abimanyu pasca kecelakaan tadi, papa Ryan mengatakan bahwa, dia mengajak istri dan cucunya ikut datang menjenguk Abimanyu, karena dia harus pergi ke Jawa Tengah besok pagi.
"Karena itu juga, Saya mengajak mereka datang menemani ke sini. Tapi maaf ya, Elang hanya mengirim salam. Dia tidak bisa ikut, karena ada pertemuan virtual dengan beberapa kolega bisnis dari Eropa. Kan di sana sedang pagi hari, jadi dia juga harus ikut meluangkan waktunya, meskipun sebenarnya di sini sudah malam."
Anjani dan Abimanyu mengangguk, memaklumi kondisi dan keadaan yang ada, pada anak mereka, yaitu Elang Samudra. Karena memang tidak mudah, untuk mempertahankan hubungan bisnis, saat persaingan pasar global semakin besar seperti sekarang ini.
"Iya tidak apa-apa Pak Ryan. Saya sudah cukup senang, dengan kedatangan keluarga Bapak, yang sudah repot-repot, untuk menjenguk Saya meskipun sudah malam."
"Ayo silahkan di minum Ma, Pa, dan ayok Wan." Anjani mempersilahkan pada tamu-tamunya itu, untuk meminum minuman yang sudah disediakan oleh anaknya Ara.
"Iya, terima kasih. Oh ya, ini Ara kan ya?" tanya papa Ryan, yang sering lupa dengan seseorang, jika tidak sering bertemu dan melihat orang tersebut.
Ara mengangguk sopan, kemudian menyalami tangan papa Ryan dan juga mama Amel.
"Duduk sini Ra," ajak mama Amel, sambil menarik tangan Ara, agar duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Tidak usah malu atau sungkan. Aku juga Oma Kamu lho," goda mama Amel, dengan melirik ke arah cucunya, Awan.
Yang di lirik, Awan, pura-pura tidak tahu dan meminum teh hangat yang disuguhkan oleh Ara barusan. Tapi ternyata, teh tersebut masih terlalu panas saat masuk ke dalam mulutnya Awan, sehingga dia mengibas-ngibaskan tangan.
"Hehehe... hati-hati dong Wan. Gak usah grogi begitu ah!"
Mama Amel justru semakin menggoda Awan, dengan menatap ke arah Ara.
Anjani dan Abimanyu, tersenyum melihat tingkah anaknya yang sepertinya juga malu, karena menyuguhkan minuman yang masih dalam keadaan panas.
"Kepanasan ya Wan. Maaf ya," ucap Anjani, meminta maaf pada Awan. Karena meminum teh dengan kondisi yang masih dalam keadaan panas.
Ara tersenyum canggung, karena merasa bersalah. Dia mengangguk sambil nyengir kuda, saat melihat ke arah Awan, yang tidak jauh dari tempat duduknya sendiri. Posisi duduknya Awan, ada di sebelahnya mama Amel yang lain.
Jadi, posisi duduk antara Awan dan Ara, terpisah adanya mama Amel.
Setelah di rasa cukup, mereka bertiga pamit undur diri. Karena Abimanyu membutuhkan waktu istirahat yang cukup banyak, karena tentu merasakan rasa ngilu-ngilu.
Biasanya, rasa sakit pasca kecelakaan dirasakan oleh seseorang pada malam hari, pada saat sedang beristirahat. Karena pada saat itu, otot-otot dan tulang akan terasa lebih nyeri, karena otot meregang secara berlebihan saat terjadi kecelakaan, sebagai upaya pertahanan tubuh untuk menghindari terjadinya cedera yang lebih berat. Atau bisa juga akibat cedera atau benturan langsung pada saat terjadinya kecelakaan itu terjadi.
"Kamu tidak ada yang mau dibicarakan pada Ara?" tanya mama Amel, dengan berbisik-bisik di telinga Awan.
"Apa sih Oma," sahut Awan cepat dengan menunduk.
Tapi mama Amel tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya berpamitan dengan Anjani dan juga Abimanyu, baru kemudian pada Ara.
"Bunda-bunda!"
Dari arah kamar, Anggi keluar dari dengan memanggil-manggil bundanya.
Tentu saja, semua orang, termasuk Awan, menoleh dengan cepat ke arah Anggi.
"Ada apa Dek?" tanya Anjani, yang merasa heran, dengan tingkah anak keduanya itu.
"Ada tamu, kenapa Anggi tidak dibangunkan? Itu ada pacar barunya kak Ara juga!"
Anggi berkata dengan menunjuk ke arah Awan. Dan ini membuat Ara melotot ke arah adiknya, sedangkan Awan sendiri, merasa sangat kaget, karena menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di rumah ini.
__ADS_1