
"Kamu kenal dia Mit!" tanya teman Mita, dengan menunjuk ke arah pintu kamar.
Padahal, pintu kamar tersebut, sudah kembali tertutup. Nanda juga sudah tidak lagi terlihat, karena sudah keburu keluar, dan pergi.
"Dia siapa sih maksud kalian ini?" tanya Mita, yang merasa bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh temannya itu.
"Itu lho, cowok yang tadi," ujar temannya Mita, dengan menunjuk kursi yang ada di dekat tempat tidurnya.
"Maksud kalian Kak Nanda?" tanya Mita lagi, yang baru saja pergi dari kamarnya.
"Iya. cowok yang tadi Mita," sahut temannya, yang sudah merasa gemas sendiri.
"Iya kenal dong. Dia itu kak Nanda. Kakak kelasnya Aku dulu. Kakak sepupunya Ara juga," jawab Mita menjelaskan.
"Oh..."
"Ganteng ya? Udah punya pacar belum Mit, itu kak Nanda," tanya temannya Mita yang satunya.
"Hush, kamu ini. Tidak bisa ya, liat cowok cakep dikit. Maunya... langsung dilibas!" seloroh temannya yang lain lagi.
"Hehehe..."
Mereka pun, akhirnya terkekeh sendiri, saat ingat jika mereka sebenarnya masih berstatus sebagai jomblo , yang tentu saja masih sendirian juga.
"Oh iya sampai lupa ini Mit. Kamu sudah tau belum, siapa cowok yang nolongin Kamu kemarin?" tanya temannya itu, yang kembali ingat jika, mereka sedang membahas pahlawannya Mita kemarin, di saat Mita sedang pingsan.
"Kami sudah tahu namanya. Dan Kamu juga sudah bertemu ternyata. Yang penting lagi, Kamu juga sudah kenal, siapa orang tersebut."
Mita melihat dengan memicingkan mata, mendengar perkataan dan pertanyaan yang dikatakan oleh temannya itu.
"Kalian ini ya, bisa-bisanya membuat teka teki untuk Aku. Siapa sih?" tanya Mita, yang masih dalam keadaan penasaran.
"Cowok yang tadi itu Mita."
"Kamu jangan pura-pura gak ngerti deh. Nyatanya, Kamu gak perlu lagi kenalan juga dengan cowok itu.
Kedua temannya Mita, mengatakan bahwa, Mita hanya pura-pura polos.
"Eh, jangan buat teka teki ya! untuk apa Aku pura-pura tidak tahu. Wong nyata-nyata, Aku memang tidak tahu kok."
Mita bersikukuh bahwa, dia memang tidak tahu jika, Nanda adalah orang yang sudah menolongnya kemarin itu.
__ADS_1
Sekarang, temannya itu menceritakan tentang kejadian kemarin, saat Mita berada di antara mereka. Lalu tiba-tiba saja Mita pingsan.
Dan kini, Mita baru saja tahu jika, Nanda adalah orang yang sudah menolong dirinya.
"Tapi... kenapa kak Nanda langsung pergi, begitu Kalian datang tadi?" tanya Mita, pada kedua temannya itu.
"Aku pikir, Kalian berdua sudah bercerita panjang lebar. Memang, kalian tadi gak bicara apa-apa?" tanya pak polisi tersebut.
Sekarang Mita jadi merasa bersalah, karena sudah membuat Nanda pergi sebelum dia tahu kebenaran yang ada.
"Sudah-sudah. Kamu bisa bertemu dengan dia lagi nanti." Ujar temannya yang satunya lagi.
Kini, mereka kembali bercerita tentang hal lainnya.
*****
Di tempat parkir rumah sakit.
Nanda sudah duduk di jok motornya. Sekarang, dia malah bingung dengan apa yang tadi dia lakukan.
'"Seharusnya Aku tidak langsung pergi. ngapain aku pergi dari mereka tadi?" Nanda kembali bertanya pada dirinya sendiri.
"Woi Nda!"
Dari tempatnya berdiri, tiba-tiba ada orang yang memanggil namanya.
Dan ternyata, orang tersebut adalah Dika. Kekasihnya Mita, yang baru saja sampai di area parkir rumah sakit ini.
*****
Di rumah pangkalan barang-barang bekas.
Wawan masih sama seperti yang dulu. Masih menjadi benalu, pada kehidupan mantan istrinya yang lebih tua darinya.
Istrinya yang kemarin, sudah mengajukan gugatan cerai, dan dia hanya diam tanpa mau berusaha untuk mempertahankan pernikahannya, entah yang sudah beberapa kalinya itu.
Untungnya, pernikahan mereka, pernikahan Wawan yang terakhir kemarin, tidak ada anak.
Jadi, tidak ada anak kecil yang menjadi korban broken home lagi, sama seperti waktu dulu dialami oleh Nanda.
Dan untungnya lagi, mantan istrinya yang memiliki pangkalan barang-barang bekas tersebut, masih mau menampung Wawan, dan mempekerjakan dirinya juga.
__ADS_1
Meskipun tempat tinggal antara Wawan dan mantannya itu tentu saja berbeda.
Tapi karena dasarnya Wawan yang memang sudah tidak punya rasa malu, mengajukan diri untuk menjadi seorang suami lagi, bagi wanita, yang sekarang ini menjadi bos-nya.
Sebenarnya, wanita yang sudah mandiri sejak dulu itu, merasa iba dan tidak tega juga, dengan kondisi Wawan.
Tapi jika wanita tersebut mengingat kembali pengkhianat yang dilakukan oleh Wawan, pada waktu masih menjadi suaminya dulu, rasa sakit di dalam hatinya, masih terasa.
Itulah sebabnya, pada waktu Wawan mengatakan bahwa, dia ingin kembali seperti dulu lagi, wanita tersebut tidak dapat mengiyakan permintaan dari Wawan.
"Tidak bisa Mas. Lebih baik, untuk saat ini, kita seperti ini saja. Jika untuk kedepannya nanti, Aku tidak tahu juga."
Begitulah jawaban, yang diberikan oleh wanita tersebut pada Wawan pada waktu itu.
Dan Wawan pun akhirnya paham, dan tidak lagi memaksanya.
Dia cukup tahu bahwa, dia memang yang bersalah pada wanita tersebut. Bukan hanya pada wanita ini saja, tapi entah sudah berapa wanita, yang telah menjadi korbannya Wawan.
Bahkan, jauh sebelum Wawan menjadi suaminya Yasmin, dia juga sudah bermain-main dengan banyak wanita. Termasuk juga dengan temannya Sekar, pada waktu mantan kakak iparnya itu masih kuliah dulu.
Mantan istrinya, Yasmin, juga putus kuliahnya karena ulahnya dia. dan akhirnya berakhir dengan kekacauan di dalam kehidupan Yasmin sendiri.
Wawan sadar, jika kehidupannya jauh dari kata baik. Bahkan bisa dikatakan sangat jahat. Karena segala usaha dan tipu daya, dia lakukan, hanya sekedar untuk mendapatkan kesenangan dan uang secara cepat.
Dia tidak pernah berpikir sejauh mana dia akan bisa bertahan dalam kecurangan-kecurangan yang dia lakukan selama ini.
"Tidak apa-apa Mi. Aku tahu jika, Aku memang tidak pantas untuk mendapatkan maaf dari siapa pun. Aku terlalu jahat Mi. Maaf," kata Wawan, meminta maaf pada mantan istrinya itu.
Mantan istrinya, yang sebelum menjadi istrinya, memang sudah menjadi seorang bos juga untuk dirinya, sama seperti sekarang ini.
Akhirnya, wanita yang biasa dipanggil dengan sebutan Mami ini hanya bisa menghela nafas panjang.
Sekarang, dia bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke dalam rumah.
Mami merasa tidak enak hati. Dia juga tidak ingin mendengar perkataan Wawan, yang selalu bisa meluluhkan hati wanita.
Dia tidak mau termakan oleh omongan Wawan untuk kedua kalinya.
'Buat apa Aku menjadikan dirinya sebagai seorang suami, jika hanya bisa mendompleng saja. Lebih baik seperti ini. Dia tidak bisa berbangga hati, karena bukan sebagai bos, di pangkalan barang-barang bekas milikku ini.'
Begitulah kira-kira pikiran Mami, yang sudah banyak mendengar rumor tentang Wawan, selama menjadi suaminya dulu.
__ADS_1