
Hari demi hari berlalu begitu cepat. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Kesibukan yang dijalani, sama juga dengan hari-hari sebelumnya. Terus terjadi, berlalu dan pergi, dengan segala kesan yang tertinggal, sebagai kenangan dan pengalaman.
Abimanyu, sudah beberapa kali pergi ke Jakarta, untuk urusan pekerjaan. Dia juga sering mampir dan bermalam di rumah keluarganya.
Kadang, Jani juga mengirimkan makanan yang dia masak atau camilan khas Bogor, untuk oleh-oleh dan buah tangan Abimanyu saat mampir ke rumah.
Sama seperti saat ini. Abimanyu, yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke Jakarta, ditahan oleh Anjani, supaya tidak buru-buru pergi. Anjani ingin mengirim asinan, yang semalam dia buat, untuk oleh-oleh yang bisa di bawa, saat suaminya itu bermalam di rumah keluarganya.
"Mas, tunggu sebentar ya. Ini Jani tinggal kemas saja kok. Sebentar saja," kata Anjani, meminta pada suaminya itu, untuk menunggu dia selesai mengemas asinan buah.
"Kamu kenapa sukanya repot-repot sih... kan itu menu kafe, kalau habis Kamu bisa kasih pelanggan apa, jika ada yang pesan?"
Abimanyu, justru merasa heran dengan istrinya itu. Dia suka merepotkan dirinya sendiri, padahal bisa saja beli, jika sekedar oleh-oleh seperti itu. Di toko, banyak juga yang jualan dalam bentuk kemasan. Tapi, Anjani lebih suka membuatnya sendiri, termasuk beberapa menu pembuka dan penutup yang ada di kafe rumah miliknya ini.
"Tidak apa-apa Mas. Ini bisa Aku buat lagi nanti. Aku ingin Kamu bisa membawakan ini untuk Sekar dan Yasmin. Biar mereka juga bisa merasakan asinan buatan_ku." Anjani, tersenyum sambil menyerahkan empat bungkus mangkuk kemasan, yang sudah dia buat sendiri.
"Banyak sekali Sayang?" tanya Abimanyu, saat menerima bungkusan yang di serahkan Anjani.
"Buat ibu juga Mas, sama ayah juga. Jika mereka tidak suka, kan ada bibi juga di rumah itu," jawab Anjani, menyebutkan semua penghuni rumah Abimanyu yang ada di Jakarta.
"Hehehe... Kamu lagi buat list absen ya? kenapa tidak sekalian tukang sayur yang lewat di depan rumah juga," kata Abimanyu, dengan tertawa senang karena Anjani, juga ikut tertawa.
"Hehehe... Mas bisa saja. Sudah-sudah sana berangkat! nanti keburu siang dan jadi terlambat sampai di Jakarta." Anjani, mengingatkan suaminya itu, agar segera berangkat ke Jakarta.
"Ihsss, kok diusir sih! Hahaha..."
Tawa Abimanyu, kembali terdengar. Dia merasa berat saat ingin pergi ke Jakarta sendiri, karena Anjani tidak bisa ikut menemanya. Anjani harus mengurus kafe rumah miliknya, apalagi saat ini sedang proses ada pembukaan, untuk cabang baru di tempat yang lainnya.
__ADS_1
"Mas. Saat pembukaan cabang baru nanti, ajak ibu dan yang lain datang ya! Kasih tahu mereka dari sekarang, biar tidak bertubrukan dengan acara lainnya, jika mereka ada rencana lain." Anjani, memberikan pesan pada suaminya, untuk keluarganya yang ada di Jakarta sana.
"Oh iya Sayang. Aku hampir lupa dengan jadwal pembukaan cabang baru itu. Terima kasih ya, sudah diingatkan dan juga undangan yang diberikan untuk keluargaku," ucap Abimanyu, dengan memeluk Anjani.
"Keluarga Mas Abi, juga keluarga Jani Mas," sahut Anjani, yang ada di dalam pelukan suaminya itu. Dia memperingatkan suaminya, agar tidak membedakan antara keluarganya dengan keluarga Anjani.
"Iya Sayang. Terima kasih ya, Kamu tidak ada rasa benci pada adik dan juga ibu, meskipun mereka tidak memperlakukan dirimu dengan baik. Kamu harus tahu, mereka sebenarnya juga sayang dengan Kamu. Ini hanya soal waktu dan juga cara yang mereka tunjukkan tidak sesuai. semoga suatu hari nanti, mereka akan bisa tepat, menunjukkan bagaimana rasa yang sebenarnya mereka rasakan saat itu."
Anjani, hanya mengangguk dalam pelukan suaminya. Dia tidak lagi berkata apa-apa. Dia hanya bisa berharap dengan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh suaminya tadi.
"Aku berangkat dulu ya," pamit Abimanyu, kemudian mencium kening istrinya, Anjani. Dia juga mengecup bibir istrinya, dengan cara yang cepat. "Maaf ya Sayang, ngecupnya cepat, takut gak bisa lepas!" kata Abimanyu, kemudian segera berlalu. Dia takut, jika mendapat cubitan gemas dari istrinya.
"Mas Abi! ihhh... awas ya," kata Anjani dengan kesal, tapi juga gemas dengan tingkah suaminya itu. Dia menggeleng sambil terus tersenyum, mengikuti langkah suaminya, yang sudah berada di dalam mobil.
"Aku berangkat ya Sayang. Kamu hati-hati di rumah," kata Abimanyu, berpamitan pada Anjani, istrinya.
Tak lama, Abimanyu melajukan mobilnya sambil melambaikan tangan kepada Anjani. Dia menatap istrinya itu, dari kaca spion mobil yang ada di depan pintu mobil.
"Semoga, suatu hari nanti, ibu dan yang lain bisa menerima kehadiran dirimu sayang." Abimanyu, berguman sendiri saat membayangkan bagaimana ibu dan adik-adiknya, memperlakukan istrinya, Anjani.
*****
Di Jakarta, ibu Sofie sedang merasa senang. Saat pulang dari kantor, dia membeli camilan yang disukai Abimanyu sejak kecil dulu. Apalagi, kedatangan Abimanyu ini termasuk hal yang langka. Anak laki-lakinya itu, yang sekarang ikut istrinya tinggal di Bogor, memang sudah tidak lagi tinggal di rumahnya. Dia hanya sesekali datang, jika kebetulan ada urusan pekerjaan. Sekarang, dia pulang dengan beberapa bungkus plastik yang ada di tangan.
Tadi pagi, ibu Sofie, mendapatkan kabar dari anaknya itu, jika dia akan bermalam di rumah selama dua hari. Ibu Sofie, sudah banyak membuat rencana untuk anaknya, Abimanyu.
"Huhfff, Aku harus buat semuanya seperti kebetulan saja, dan bukan sebuah rencana yang sudah tersusun. Tapi, untuk kesuksesan rencana ini, Aku harus minta bantuan anak-anakku yang lain, yaitu Sekar dan Yasmin. Semoga saja, mereka berdua mau Aku ajak kerjasama. Pokoknya, kali ini Aku tidak boleh gagal lagi. Capek juga ngasih pengertian seperti ini pada Abimanyu. Sudah setahun lebih menikah, kok cuma begitu-begitu saja." Ibu Sofie, berguman seorang diri. Tidak tahu, apa yang sebenarnya ingin dia rencanakan untuk anaknya, Abimanyu.
__ADS_1
"Wah... Ibu bawa apa itu?"7 tanya Yasmin, saat melihat Ibunya datang, dengan dua bungkus plastik ukuran sedang.
"Ini camilan untuk kakak Kamu," jawab ibu Sofie, kemudian meletakkan bungkus plastik yang dia bawa dari mini market.
"Mas Abi mau datang?" tanya Yasmin cepat, dengan mata berbinar-binar karena merasa senang.
Ibu Sofie, hanya mengangguk. Dia kembali berjalan dengan diiringi oleh Yasmin yang ada disampingnya.
"Sekar mana?" tanya ibu Sofie, karena tidak melihat keberadaan anaknya yang satu lagi.
"Belum pulang. Dia ada tugas tadi dengan beberapa temannya, yang ada di organisasi kampus."
Ibu Sofie kembali mengangguk. Dia berjalan menuju ke dapur dan meletakan bungkusan plastik yang tadi dia bawa.
"Bibi, Bi!"
Ibu Sofie, berteriak memanggil bibi pembantu rumah. Dia mencarinya, karena ingin membuat makanan yang dia sukai anaknya, Abimanyu.
"Bibi kemana?" tanya ibu Sofie pada Yasmin, yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Tidak tahu," jawab Yasmin pendek. Dia tidak lagi mengatakan apa-apa, karena tidak mau tahu urusan bibi pembantu rumah_nya itu.
"Emhhh... Yasmin. Bi_ bisa tidak Kamu bantu Ibu?" tanya ibu Sofie pada anaknya, Yasmin, dengan kalimat yang terputus-putus.
"Bantu apa Bu?" tanya Yasmin cepat. Dia merasa penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh ibunya nanti.
Tapi ternyata, ibu Sofie hanya tersenyum tipis, saat mendengar pertanyaan yang diajukan oleh anaknya, Yasmin.
__ADS_1
Dia tidak ingin menjawab pertanyaan Yasmin. Dia mau, jika rencananya itu, tidak diketahui oleh orang lain, termasuk anaknya sendiri, Yasmin.