
"Mobil siapa itu?"
Nanda bertanya kepada Ara, saat melihat ada sebuah mobil, yang terparkir di depan rumahnya Ara.
Mobil tersebut tidak dikenali oleh Nanda, karena dia memang tidak tahu, siapa pemilik mobil tersebut.
Berbeda dengan Ara atupun Awan, yang sudah mengenali siapa pemilik mobil tersebut. Karena mobil itu adalah milik orang tuanya Dika.
'Ngapain Dika ke sini?' tanya Awan dalam hati.
'Mamanya Dika ada urusan apa lagi?' tanya Ara, yang juga ada di dalam hatinya sendiri.
Karena ada mobilnya Dika yang terparkir di depan rumah Ara, akhirnya Awan ikut turun, dan tidak membiarkan Ara masuk ke dalam rumah sendirian, bersama dengan Nanda.
Jadi, dia bisa ikut menjelaskan pada bundanya Ara, Anjani jika bertanya kenapa sampai pulang pad waktu yang sudah hampir malam.
Tok tok tok!
"Assalamualaikum."
Ara mengucapkan salam, sebelum dia masuk ke dalam rumah.
"Waallaikumsalam. Itu Ara datang."
Anjani, bundanya Ara, menjawab salam yang diucapkan oleh anaknya itu.
Kedua tamunya itu, hanya mengangguk saja, tanpa mengeluarkan suaranya.
Tak lama kemudian, Ara masuk ke dalam rumah, bersama dengan Nanda dan juga Awan.
"Lho, kok gak terdengar suara motor Nanda? Eh, ada Awan juga."
Anjani, menegur anaknya, dan juga merasa heran karena ada Awan juga, yang ikut masuk setelah Nanda.
Awan hanya mengangguk dan tersenyum, mendengar perkataan bundanya Ara, Anjani.
"Iya Bunda. Ini tadi, antar Ara sama Nanda pulang. Maaf, karena motornya Nanda ada di bengkel dan bengkelnya ternyata sudah tutup tadi."
Akhirnya, Awan menjelaskan pada Anjani, tentang alasannya, kenapa dia juga ada bersama dengan Ara dan Nanda juga.
Nanda juga ikut menjelaskan, tentang motornya yang mogok tadi pagi, pada bundanya. "Ini gara-gara motornya Nanda Bunda," kata Nanda, yang merasa bersalah atas keterlambatan mereka pulang dari sekolah.
"Oh, gitu ya."
Akhirnya, Anjani tahu apa yang terjadi pada anak-anaknya itu.
"Oh iya Bun. Kalau begitu, Awan balik pulang. Masih di tunggu Pak Supir di depan."
Awan pamit untuk pulang. Apalagi, hari juga sudah berganti dengan malam.
"Iya-iya. Terima kasih ya Awan, sudah direpotkan dengan ini, anak-anak Bunda."
__ADS_1
Anjani mengucapkan terima kasih pada Awan karena dengan begitu, dia jadi repot juga untuk mengurus motornya Nanda dan mengantar Ara serta Nanda, untuk pulang ke rumah.
"Gak apa-apa Bunda. Gak repot kok," jawab Awan, dengan mengangguk.
"Kak Awan!"
Dari dalam rumah, suara Anggi memangil namanya Awan.
Tentu saja, Awan menoleh dan mengurungkan niatnya untuk berjalan keluar dari rumah.
"Kakak, kok lama gak main ke sini sama Oma?"
Perkataan yang diucapkan oleh Anggi, membuat Dika dan juga Mamanya saling pandang.
"Oma sedang sibuk Dek. Kakak juga mau ujian, jadi sibuk belajar juga."
Awan memberikan penjelasan kepada Anggi, yang tiba-tiba terlihat sangat akrab dengan Awan.
"Tapi Kakak kan pacarnya Kak Ara, kenapa jarang datang ke sini?"
Dan ucapan Anggi yang terakhir ini, membuat semua orang yang mendengar terbelalak kaget.
"Pacar?"
"Sudah jadi pacarnya Awan?"
Dika dan mamanya, bertanya tanpa sadar, dengan apa yang tadi dikatakan oleh Anggi.
Anjani tersenyum sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Adek, usilnya jangan ditambah dong," ujar Anjani, mengingatkan anaknya yang masih kecil itu.
"Hehehe... kak Awan kan pacar barunya kak Ara. Kalau Kak Nanda, pacarnya kak Ara."
Anggi justru memberikan kesimpulannya sendiri, tanpa melihat bagaimana keadaan wajah dari orang-orang yang ikut mendengar perkataannya itu.
"Dika. Ayok kita pulang!"
Mamanya Dika, mengajak anaknya itu untuk pergi dari rumahnya Ara. Dia merasa tertipu, dengan apa yang dikatakan oleh Anjani kemarin-kemarin.
"Ma," ucap Dika, yang sepertinya merasa enggan untuk diajak pergi dari rumahnya Ara oleh mamanya sendiri.
"Maaf ya Jeng, kami pamit pulang dulu," kata mamanya Dika, yang tidak mau menunggu penjelasan yang diberikan oleh Ara ataupun Awan.
Mamanya Dika juga tidak mau mendengarkan alasan anaknya.
Akhirnya, Dika menuruti perkataan mamanya, untuk pergi dari rumahnya Ara. Padahal, dia belum juga menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke rumah Ara.
Sedangkan Awan, hanya tersenyum tipis, karena melihat perubahan sikap mamanya Dika, yang memang sudah lama tidak menyukai dirinya.
'Apa Dika mengajak mamanya itu datang ke rumah ini untuk meminta pada Ara, supaya mau jadi pacar anaknya itu?'
Awan bertanya dalam hati, dengan maksud kedatangan Dika dan juga mamanya di rumahnya Ara.
__ADS_1
Padahal, Dika juga belum berganti pakaian seragamnya.
'Ah, kenapa jadi sulit begini?'
Anjani mengeluhkan tentang situasi yang saat ini sedang terjadi pada anak dan juga dirinya, serta semua orang yang saat ini sedang berada di dalam rumahnya sendiri.
"Kak," panggil Anggi dengan menarik-narik tangannya Awan.
Panggilan dari Anggi, memecahkan suasana yang tiba-tiba terasa canggung untuk semua orang.
"Bunda. Nanda pulang dulu, sudah malam. Nanti dicariin Eyang." Nanda pamit pulang terlebih dahulu, karena merasa tidak nyaman, berada dalam posisi yang tidak tahu, apa yang harus dia lakukan.
"Oh, tidak menunggu om Abi? biar nanti di antar," ucap Anjani, pada Nanda.
"Tidak usah Bunda. Dekat ini kok," jawab Nanda, kemudian pergi keluar rumah.
"Bareng aja Nda. Ini juga Aku mau pulang kok," ujar Awan, memberikan tawaran pada Nanda.
"Terima kasih Kak. Tidak usah. Nanti Kakak malah semakin larut tiba di rumah," jawab Nanda, menolak tawaran tersebut.
Tapi Nanda kekeuh, dan tetap menolak tawaran dari Awan.
*****
Di dalam mobil, mamanya Dika mengerutu dan mengoceh tentang keadaan yang ada di rumah Ara tadi.
"Dik. Kamu cari cewek yang lain saja. Mama gak suka, jika si Ara itu ternyata punya banyak pacar." Mamanya Dika, memberikan penilaian terhadap Ara, cewek yang saat ini ditaksir oleh anaknya.
"Ma. Itu kan gak bener!"
Dika mencoba untuk membela Ara, meskipun dia juga tidak yakin, jika apa yang dikatakan oleh adiknya Ara tadi benar atau salah.
"Pokoknya Mama tetap saja gak suka. Dia jadi besar kepala gitu! sok cantik!"
Dika mengeratkan rahangnya, karena merasa kesal dengan perkataan mamanya.
"Pokoknya ya Dik, Kamu itu harus cari yang lain, dak bisa itu di Ara jadi mantunya Mama."
Dika kembali mendengar perkataan mamanya, yang sedang tidak baik-baik saja, setelah semua yang dia lihat dan dengar tadi di rumahnya Ara.
"Udah bundanya yang sok jual mahal, anaknya sok kecantikan. Dan itu ayahnya, pak Abi, dia juga sok penting banget!"
Mamanya Dika, kembali mengerutu sendiri, dengan mengeluarkan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya selama ini. Apalagi, dua juga tidak berhasil membuat ayahnya Ara, untuk bisa dia ajak bekerja sama.
Semua itu membuat mamanya Dika merasa terabaikan dan juga diremehkan. Hal yang sangat tidak disukai oleh mamanya Dika selama ini.
Padahal yang sebenarnya bukan seperti itu. Dia hanya merasa sedang tidak bisa berbuat apa-apa lagi, untuk bisa membujuk keluarga Abimanyu, dengan semua rencana dan iming-iming yang dia tawarkan untuk sebuah hubungan.
Di lain pihak, Dika juga merasa sangat kesal, atas sikapnya Awan, yang dia nilai sebagai seorang yang munafik.
Beda di luar, tapi berbeda juga yang ada di dalam hatinya.
__ADS_1
Dika merasa dendam, karena merasa dipermainkan oleh Awan, yang diam saja dan tidak memberitahukan kepada dirinya, jika antara Awan dan Ara, ternyata sudah ada sebuah hubungan yang lebih dari sekedar teman.