
"Awan gak bisa ikut Yah. Kan dua minggu lagi bakal ada tes untuk kenaikan kelas. Awan gak mau nilai Awan turun," jawab Awan, dengan pertanyaan ayahnya yang tadi.
"Kapan-kapan saja, pas Ayah ke sana lagi," imbuh Awan.
"Ya sudah. Ayah berangkat sendiri besok."
Akhirnya, Elang memutuskan untuk berangkat ke Bogor besok pagi saja, setelah tubuhnya beristirahat sebentar, karena baru saja pulang dari perjalanan jauh, dari Meksiko.
Elang beranjak dari tempat duduknya, kemudian menepuk-nepuk pundak anaknya. "Ayah istirahat dulu," pamit Elang pada Awan.
"Iya. Ayah besok berangkat hati-hati."
Hanya anggukan yang Elang berikan, sebagai jawaban atas pesan anaknya. Setelah itu, dia melangkah ke dalam rumah, untuk beristirahat ke kamar.
"Ayah kasihan juga nasibnya. Kapan ayah bisa menemukan wanita sebagai pengganti Bunda? wanita yang lebih baik tentunya, yang bisa membahagiakan ayah," gumam Awan, dengan membuang nafas panjang.
Tak lama kemudian, Awan juga beranjak dari tempat duduknya, menyusul ayahnya ke dalam rumah, tapi menuju ke dalam kamarnya sendiri.
Rumah mama Amel, kembali sepi. Tidak tampak adanya orang yang berbincang atau bersenda gurau. Penghuni rumah seakan-akan tidak ada gairah untuk bisa berubah keadaan yang selama ini ada. Sepi, dan jauh dari keramaian sebuah keluarga pada umumnya.
Hal yang dirindukan oleh mama Amel selama ini. Keceriaan dan kegembiraan di rumahnya sendiri, yang tidak pernah dia rasakan, apalagi sejak Awan mulai tumbuh remaja.
"Sebenarnya, apa yang inginkan ya? kenapa tiba-tiba dia bercerita banyak tentang istrinya yang dulu?" Awan jadi kepikiran tentang ayahnya.
Dan saat ini, Awan jadi termenung seorang diri di kamarnya.
*****
Tidak akan ada yang bisa kita lakukan untuk kehidupan kita ke depan. Hanya rencana dan harapan yang baik serta doa- doa yang bisa panjatkan, untuk bisa terus menjalani kehidupan ini. Karena sesungguhnya, kita tidak bisa meminta sesuatu sesuai dengan keinginan kita sendiri. Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan dari apa yang kita inginkan.
Itulah sebabnya, selain berusaha kita diminta untuk berdoa juga, supaya semuanya menjadi seimbang.
Apalagi soal jodoh dan mati, yang tidak akan pernah bisa diketahui. Rahasia yang tidak mungkin bisa terdeteksi oleh manusia, pada umumnya.
Tut
Tut
Tut
Awan segera sadar dari lamunannya, saat handphonenya berbunyi. Mungkin ada salah satu temannya yang menghubunginya saat ini.
Ternyata memang benar. Ada salah satu dari temannya yang menghubungi Awan. Entah untuk apa dan keperluan.
Tapi sepertinya Awan tidak mau menjawab panggilan telpon tersebut. Karena dia tidak juga menyentuh handphone miliknya, untuk menghentikan suara deringnya.
Dan akhirnya, dering handphone miliknya berhenti sendiri.
Tapi ternyata tidak, karena tak lama setelah itu, handphone miliknya kembali berdering.
Tut
Tut
Tut
Akhirnya Awan mengambil handphone miliknya juga, kemudian menerimanya panggilan telpon tersebut.
__ADS_1
..."Halo."...
Awan menerima panggilan telpon dengan tidak bersemangat. Dia datar dan tidak ada keinginan untuk mengobrol seperti biasanya.
..."U kemana sih, di telpon kok anteng saja?"...
..."Tidak kemana-mana."...
..."Kenapa suara Kamu tidak bersemangat begitu?"...
..."Gak apa-apa."...
..."Haduh. Ayolah teman... masa gak mau cerita?"...
..."Apa tujuan Kamu menelpon? tidak untuk wawancara kan?"...
..."Hehehe... sorry. Jalan yuk! kan sebentar lagi tes, kita refresh otak kita dulu, sebelum dipakai bertempur?"...
..."Malas."...
..."Halah... ayolah bro, kita jalan-jalan ke mall atau nonton dulu."...
..."Kamu masih normal kan?"...
..."Hah! maksudnya?"...
..."Kenapa merayuku untuk Kamu ajak jalan-jalan? Aku jadi takut dekat-dekat dengan Kamu."...
..."Ah sialan Kamu bro!"...
..."Salah sendiri, dari tadi ngerayu aja."...
..."Kamu ini lagi datang bulan ya?"...
..."Lah, apa lagi ini!"...
..."Kamu sensi. Wkwkwk!"...
..."Ah, sial lagi Kamu. Awas!"...
..."Sudah-sudah. Mau jalan-jalan ke mana?"...
..."Nah begitu dong, dari tadi kek, kan aku juga gak marah dan ngambek-ngambek!"...
..."Beneran gak normal Kamu. Apa ini karena Kamu terlalu lama menjomblo?"...
..."Halah! kayak Kamu punya cewek saja. Kita kan sama-sama jomblo sejati. Wek!"...
..."Hahaha..."...
..."Hehehe..."...
Awan dan temannya, saling melempar kata, untuk bahan pembicaraan. Mereka berdua, memang terbiasa saling mencela, mengolok-olok dan juga menjatuhkan. Tapi itu hanya sekedar candaan belaka.
Teman Awan, juga sama seperti dirinya. Dari keluarga yang orang tuanya mempunyai usaha sendiri. Jadi rumahnya juga jarang ada orang, karena kedua orang tuanya sibuk di luar rumah.
Jadi mereka sama-sama merasa memiliki nasib yang sama. Anak-anak yang kesepian.
__ADS_1
Tak lama, akhirnya mereka berdua sepakat untuk pergi jalan-jalan mengunakan motor. Dan Awan, akan menjemput temannya itu terlebih dahulu.
..."Baiklah. Aku keluar sekarang. Tutup dulu telponnya!"...
..."Kamu dulu yang tutup!"...
..."Kamu!"...
..."Eh Kamu lah! kan Kamu yang telpon."...
..."Kok kita jadi aneh sih! hahaha."...
..."Dasar gak jelas!"...
Klik!
Awan menutup panggilan telepon dan tidak lagi berdebat, karena dia tahu jika temannya itu tidak akan mau menutup panggilan teleponnya terlebih dahulu.
Setelah berpamitan dengan bibi pembantu yang ada di dapur, karena ayah dan omanya masih beristirahat di kamar, Awan pergi ke garasi, untuk mengambil motornya.
Tak lama, Awan tampak keluar dari gerbang rumah, menuju ke arah jalan raya, untuk menjemput temannya tadi.
Mereka akan pergi jalan-jalan, untuk menenangkan hati dan pikiran mereka, sebelum disibukkan dengan lembar-lembar tugas yang akan mereka hadapi dua minggu lagi.
*****
"Ayo Bunda. Kita pergi jalan-jalan!"
Anggi merengek-rengek pada bundanya, untuk pergi jalan-jalan. Dia merasa jenuh, apalagi, ayah dan kakaknya Ara, sedang pergi ke Bogor, karena ada keperluan.
"Kemana Sayang?" tanya Anjani, yang ingin tahu apa keinginan dari anaknya itu.
"Kemana saja Bunda." Anggi tidak mengatakan ketinggian yang sebenarnya.
"Salahnya sendiri, Bunda tidak mau ikut ayah ke Bogor. Kan Anggi juga ingin ikut ayah kemarin!" Anggi mengerucutkan bibirnya, karena merasa jengkel dengan keputusan bundanya kemarin sore.
Jadi, kemarin itu Abimanyu sebenarnya pergi bertugas. Ada beberapa tugas dari kantor lainnya, yang meminta jasanya.
Tapi karena ini tugasnya tidak resmi, dia ingin ada temannya yang bisa dia ajak berbincang-bincang selama perjalanan. Apalagi, ada mobil dari perusahaan tersebut, untuk fasilitas yang bisa dia gunakan.
Tapi karena cuma dua hari, Anjani tidak ingin ikut. Dia berpikir jika akan menggangu pekerjaan suaminya, jika mereka semua ikut ke Bogor.
Dan untuk mengatasi semua itu, akhirnya Ara yang di minta untuk menemani ayahnya. Sedangkan Anggi, di minta untuk di di rumah saja, bersama dengan bundanya.
Tapi sore ini dia merengek-rengek, karena merasa kesepian.
Saat di ajak ke rumah Miko, Anggi tidak mau dan minta diajak jalan-jalan ke tempat lain. Yang penting tidak ke rumah Miko.
"Pokoknya ke tempat lain. Gak mau ke rumah eyang. Apalagi ke rumah Miko. Bosen Bunda!"
Akhirnya, Anjani mengalah dan meminta Anggi untuk bersiap-siap. "Anggi ganti baju dulu, Bunda juga. Nanti kita jalan-jalan ke mall deh kalau begitu," kata Anjani memberitahu anaknya, Anggi.
"Hore... asyik!" teriak Anggi merasa senang.
Akhirnya, mereka berdua sama-sama masuk ke dalam kamar, untuk berganti pakaian dan pergi ke mall.
Tentu saja Anggi merasa sangat senang. Jarang-jarang dia diajak bundanya jalan-jalan ke mall. Kata bundanya, tidak ada keperluan ke mall, buat apa ke sana jika hanya untuk memadati jalan dan mall.
__ADS_1
Alasan yang sebenarnya tidak masuk akal, untuk Anggi yang masih kecil. Karena dia tentu saja sangat suka di tempat yang ramai sama seperti Mall.