Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Salah Paham


__ADS_3

Mobil Abimanyu, sudah keluar dari tol daerah Pasar Minggu. Itu tandanya, mereka berdua, Abimanyu dengan Ara, sudah sampai di Jakarta. Tinggal setengah jam lagi, mereka akan sampai di rumah. Itu juga kalau jalan dalam keadaan lancar dan tidak macet.


Tapi bahan bakar mobil sudah menipis. Akhirnya, Abimanyu membelokkan mobilnya terlebih dahulu ke arah pom bensin terdekat, untuk melakukan pengisian bahan bakar terlebih dahulu.


"Ara ke toilet sebentar ya Yah?" pamit Ara, saat mobil berhenti, untuk santri di pom bensin.


"Berani sendiri?" tanya Abimanyu yang ragu, jika Ara berani sendiri ke toilet pom bensin.


Abimanyu berpikir jika, anaknya itu belum pernah dan tidak mengenal daerah sekitar sini.


"Berani dong Yah. Kan cuma deket situ aja. Ayah isi aja bahan bakar, nanti kalau Ara belum selesai dan Ayah sudah, tunggu saja Deket situ!"


Ara menjawab pertanyaan dari ayahnya, sambil menunjuk ke arah jalur keluar area pom bensin ini. Dia meminta pada ayahnya itu, supaya menunggunya di sana, jika sudah selesai mengisi bahan bakar pada mobilnya.


Abimanyu mengangguk mengiyakan permintaan anaknya. Dia juga tersenyum, melihat anaknya itu, yang tidak manja, dan sudah bisa mengerjakan sesuatu sendiri. Meskipun tidak dengan hal-hal yang sulit. Tapi setidaknya Abimanyu merasa sangat bangga, dengan semua keberhasilan dan prestasi yang telah diraih oleh anaknya itu.


Ara sudah keluar dari dalam mobil. Dia menuju ke arah toilet pom bensin, yang berada di bangunan sebelah pojok, berjejer dengan minimarket kecil yang ada di pom bensin tersebut.


Abimanyu memperhatikan anaknya itu, sampai anaknya menghilang, karena sudah masuk ke dalam toilet. Sedangkan dia sendiri, masih mengantri, agar bisa mendapatkan bahan bakar untuk mobilnya.


Sebelum Abimanyu selesai mengisi bahan bakar, ternyata Ara sudah kembali.


"Kok cepet Kak?" tanya Abimanyu, yang sedang menunggu mobilnya sedang diisi.


"Iya Yah, gak antri kok," sahut Ara, ikut menunggu di luar dan tidak langsung masuk ke dalam mobil.


Abimanyu mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban dari anaknya itu. Sekarang, dia membayar tagihan pengisian bahan bakar, kemudian segera masuk ke dalam mobil, untuk melanjutkan perjalanan pulang.


"Yah. Besok-besok, kalau Ara sudah kelas tujuh, Ara naik bus atau angkutan sendiri ya? biar Ayah gak repot-repot antar Ara. Kan beda arah."


Tiba-tiba, Ara membicarakan tentang sekolah yang baru, di saat mereka sudah berada dalam perjalanan lagi.


"Hemmm..."


Abimanyu tidak menjawab atau berkomentar. Dia hanya bergumam tidak jelas, karena memang belum bisa memberikan jawaban yang tepat. Dia merasa tidak perlu menjawabnya sekarang, karena waktu itu masih dua bulan ke depan.


Dia tetap berkonsentrasi pada setirnya.


"Yah," panggil Ara, untuk memastikan jika ayahnya itu mendengar perkataannya tadi. Mungkin Ara merasa dicuekin ayahnya.


"Iya Ayah dengar Kak. Kenapa? Kakak mau bebas?" tanya Abimanyu, menebak apa yang sebenarnya diinginkan oleh anaknya itu.

__ADS_1


Abimanyu berpikir bahwa, anak-anak seusia Ara, yang sedang berkembang menjadi anak remaja, yang kadang kala menginginkan sebuah kebebasan untuk pergaulannya, dan masa-masa baru yang mereka jalani.


"Bebas bagaimana Yah. Ara cuma gak mau Ayah repot aja kok. Kan beda jalur, antara sekolah Ara, dengan jalan menuju ke arah kantor Ayah."


Ara menjelaskan tentang alasannya yang tadi.


"Ya tidak apa-apa Kak. Besok-besok kita pikirkan lagi, atau bisa juga berlangganan ojek, untuk antar jemput Kakak. Biar gak telat dan aman juga. Ayah bisa bicara dengan tukang ojek, yang ada di pangkalan dengan perumahan. Setidaknya, mereka sudah paham dengan keluarga kita."


Ara terdiam mendengar jawaban dan juga Penjelasan yang diberikan oleh ayahnya itu. Dia berpikir bahwa, itu ide bagus, dan tidak merepotkan.


"Boleh Yah. Ara jadi tidak perlu jalan kaki menuju ke jalan raya. Kan di jemput dan di antar sampai rumah. Hehehe..."


Abimanyu mengangguk sambil tersenyum, mendengar perkataan anaknya, yang begitu bersemangat untuk bisa bersekolah di yayasan yang sudah menerimanya.


Kini, Ara hanya tinggal menunggu waktu lulus sekolah dasar yang sekarang, kemudian berganti ke sekolah yang baru. Dan itu tinggal dua bulan ke depan.


******


Elang sudah berada di rumah. Dia tidak memanfaatkan waktunya, yang kemarin berada di Bogor, untuk beristirahat sebentar di villa. Tapi dia justru langsung pulang kembali ke Jakarta.


Sekarang, dia sedang memperhatikan anaknya, Awan, yang sedang tertidur di sofa ruang tengah.


"Badannya kenapa lebam-lebam begitu? Ini juga, ada luka yang masih baru. Apa dia berkelahi dengan temannya?"


Elang berpikir jika, anaknya itu baru saja bertikai dengan temannya, sampai-sampai berkelahi, sehingga badan anaknya tidak sama seperti waktu dia tinggal ke Bogor kemarin.


"Apa luka dan lebam ini sudah ada, sebelum aku pergi? Kenapa Aku tidak memperhatikan?" tanya Elang lagi, pada dirinya sendiri.


"Wan. Awan."


Dengan menepuk-nepuk pundak anaknya pelan, Elang mencoba untuk membangunkan Awan yang sedang tertidur, dengan posisi terlentang di sofa.


"Hemmm..."


Awan hanya bergumam, tapi dia tidak bangun juga dari tidurnya.


"Awan. Itu badan Kamu kenapa? Kamu berkelahi ya?" tanya Elang menuduh anaknya.


"Hemmm..."


Awan kembali bergumam tidak jelas. Tapi tetap saja tidak bangun juga. Sekarang, Awan malah berganti posisi, dari terlentang menjadi miring. Dia tidur dalam posisi miring, menghadap ke arah sandaran sofa.

__ADS_1


"Aw..."


"Ada apa Elang?"


Elang tidak meneruskan panggilannya, untuk membangunkan Awan, karena terpotong dengan pertanyaan mamanya, mama Amel.


"Itu Ma. Awan habis berantem? kok badannya lebam-lebam begitu. Terus itu, ada luka juga. Sepertinya masih baru itu lukanya!" tunjuk Elang pada beberapa bagian di tubuh Awan, yang nampak ada luka dan memar lebamnya.


"Oh itu. Bukan berkelahi dengan temannya, tapi dengan preman?" sahut mama Amel, menjelaskan pada anaknya, Elang, yang baru saja pulang dari Bogor.


"Apa? Berkelahi dengan preman Ma!"


Elang kaget saat mendengar jawaban dari mamanya tadi. Dia berpikir jika, Awan berkelahi dengan preman karena ikut terlibat sesuatu yang tidak baik.


"Hemmm... apa sih berisik!"


Tiba-tiba, Awan terbangun dari tidurnya. Dia mengerutu, karena merasa terganggu dengan teriakan ayahnya tadi.


"Awan. Kamu ikut-ikutan geng-geng apa gitu? Kok sampai berantem dengan preman?" tanya Elang dengan cepat, saat mendengar gerutuan anaknya itu.


"Ihsss... Ayah ini tanya apa sih?" jawab Elang dengan bertanya balik.


"Ini apa? ini, ini juga!"


Elang menunjuk ke arah badan Awan, yang masih jelas terlihat luka dan memar lebamnya.


"Oma jawab apa sih? kok Ayah marah-marah," tanya Awan pada omanya, mama Amel, yang masih berada di antara mereka berdua.


"Oma cuma jawab, apa yang Oma tahu. Kan itu luka sama memar memang akibat dari berkelahi dengan preman kan?"


Mama Amel mencoba untuk menjelaskan pada Awan, tentang jawaban yang dia berikan pada Elang, ayahnya Awan.


"Haduh... Oma. Jelasin juga dong, kenapa Awan sampai berkelahi dengan preman!"


Omanya, mama Amel, memicing karena bingung dengan perkataan Awan. Dia tidak tahu, apa yang membuat jawabannya tadi jadi salah paham untuk anaknya, Elang, sehingga marah-marah pada cucunya, Awan.


"Awan berkelahi dengan preman, karena Awan menolong ibu-ibu Yah. Bukan untuk sok-sokan doang kok!"


Akhirnya, mama Amel mengerti letak kesalahan yang dia lakukan, saat menjawab pertanyaan dari anaknya tadi.


"Hehehe... Oma belum sempat menjelaskan tadi. Salah sendiri, ayahmu ini, udah sok tahu dan marah-marah," sahut mama Amel, sambil terkekeh kecil, setelah sadar bahwa, ada kesalahpahaman antara mereka bertiga.

__ADS_1


__ADS_2