
Hari berganti, aktivitas kembali seperti biasanya.
Abimanyu bersiap untuk berangkat ke kantor, sedangkan Ara, juga sedang bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Anggi baru selesai mandi, saat Nanda datang, untuk menjemput Ara.
Bremmm!
Suara motor sport Nanda berhenti, terdengar hingga ke dalam rumah. Dan tentu saja Anggi sangat hafal dengan suara motor tersebut.
Dia juga tahu, jika setelah suara motor tersebut tidak lagi terdengar, Nanda akan sampai di dalam rumah.
Dan benar saja. Tak lama kemudian, terdengar suara Nanda, menyapa ayah dan bundanya.
"Om, Bun."
Nanda menyapa Abimanyu, dan juga Anjani.
"Kak Nanda!"
Dari arah kamar, Anggi memangil Nanda. Menandakan bahwa, dia sudah siap untuk diajak pergi berputar-putar keliling komplek, sama seperti biasanya.
Padahal, bundanya Anjani, baru saja mau menawari Nanda, untuk ikut sarapan pagi terlebih dahulu.
Tapi Anggi sudah keluar dari dalam kamar, kemudian berlari menarik tangannya Nanda.
"Ayo Kak. Muter dulu, mumpung belum ada Miko!"
"Adek." Ara menegur adiknya, supaya tidak memaksa Nanda.
"Ihhh, Kakak terus yang bonceng motor Kak Nanda! Anggi kan cuma bentar aja!" Anggi cemberut, dan ngambek dengan Ara.
Akhirnya, Nanda menyetujui permintaan dari Anggi, dan meminta pada Ara untuk menuggu, dengan sarapan pagi terlebih dahulu.
"Kakak mau muter-muter sebentar dengan Anggi. Kamu sarapan dulu ya," kata Nanda, yang berbalik lagi menuju ke luar rumah.
"Bunda, Ayah. Anggi tuh!"
Ara mengadu kepada bunda dan ayahnya.
"Sudah Kak. Sini deh, duduk. Sarapan dulu. Tadi kan di minta Kak Nanda buat sarapan juga," ujar Anjani, meminta pada Ara untuk duduk dan sarapan pagi terlebih dahulu.
Dengan menekuk wajahnya, Ara menuruti perkataan dari bundanya, Anjani.
Dan ayahnya, Abimanyu, hanya mengangguk saja, kemudian melanjutkan sarapannya. Dia juga harus segera menyelesaikan sarapannya itu, kemudian berangkat ke kantor, agar tidak terjebak dalam kemacetan lalu lintas Jakarta di pagi hari.
Di jalanan komplek perumahan, Nanda justru mengajak Anggi berputar-putar dan akhirnya menuju ke rumah Miko.
"Kok ke rumah Miko Kak?" Anggi bertanya dengan bingung.
"Sekalian ajak Miko, biar nanti ikut ke rumah juga. Gak usah jalan dia," jawab Nanda, tanpa rasa bersalah.
Padahal Anggi justru tidak ingin berbagi bocengan dengan Miko. Dia tidak mau, jika Miko ikut berputar-putar keliling komplek, pagi ini.
"Gak usah. Biar aja dia sama papanya. Om Juna kan biasa antar nanti sampai rumah Anggi."
__ADS_1
Dengan cepat, Anggi memberikan alasan pada Nanda, agar tidak jadi mampir ke rumahnya Miko.
Tapi, sepertinya Nanda tidak mendengar perkataan Anggi. Dan baru sadar, sat Anggi mencubit pinggangnya.
"Owww! ada apa?" tanya Nanda, yang kaget dengan cubitan tersebut.
"Pulang," jawab Anggi cepat.
"Tapi Miko..."
"Pulang!"
Akhirnya, dengan sedikit bingung dengan apa yang terjadi, Nanda mengikuti apa yang menjadi kemauan Anggi.
Nanda memutar arah motornya, untuk kembali pulang ke rumah.
Di rumah, Ara masih belum selesai dengan sarapannya, saat Nanda sudah kembali datang bersama dengan adiknya, Anggi.
Tapi ayahnya, Abimanyu, sudah berangkat terlebih dahulu, karena mengejar waktu untuk bisa sampai ke kantor lebih awal, dan tidak terkena kemacetan lalu lintas.
"Nda. Ikut sarapan sini," ajak Anjani, menawari Nanda agar ikut sarapan, bersama dengan Ara.
Anjani sedang menyiapkan makanan dan minuman untuk sarapannya Anggi.
"Ada jatah buat Nanda Bunda?" tanya Nanda, yang datang dengan mengendong Anggi, di belakang punggungnya.
"Adek. Kamu tuh udah berat tau! kasihan Kak Nanda!" Ara langsung menegur adiknya, Anggi, karena minta gendong kakaknya, Nanda.
Tapi Anggi justru pamer, dengan menjulurkan lidahnya, untuk meledek kakaknya, Ara, yang terlihat jelas sedang kesal dengan ulahnya.
Anjani, menyiapkan makanan untuk Nanda, pada saat Nanda meletakkan Anggi, di kursi makan yang ada di sebelahnya.
"Weee... bilang aja sih, jika Kakak pengen. Hahaha..."
Tawa Anggi justru pecah, saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh kakaknya itu. Dia merasa sangat senang, karena melihat kakaknya sedang kesal pagi-pagi.
Dan Anjani, hanya bisa melerai keduanya, dengan berkata, "udah-udah. Kalian ini, ada saja yang diributkan."
Nanda hanya tersenyum saja, tanpa berkata apa-apa lagi. Dia mulai menikmati makanan yang sudah disediakan oleh bundanya, Anjani.
*****
Di parkiran motor milik Pak Lek.
Awan, sengaja datang lebih awal. Dia berniat untuk menuggu kedatangan Ara, yang sepertinya memang belum datang pagi ini.
Bremmm!
"Pagi Bro!"
Dika datang, dan memarkirkan sepeda motornya, di samping motor milik Awan. Dia juga menegur Awan, dengan sapaan akrab, seperti biasanya.
"Sarapan yuk!" ajak Dika, untuk sarapan terlebih dahulu, di warung Pak Lek.
Awan hanya menggeleng. Dia tidak mau ikut ajakan dari temannya itu, si Dika, karena sudah sarapan pagi di rumah.
__ADS_1
"Gue sarapan dulu ya Bro," kata Dika, yang langsung berjalan menuju ke arah warung.
Padahal Awan tahu betul, jika Dika bukannya sarapan pagi, sama seperti yang dia katakan tadi.
Dika hanya ingin minum kopi, agar tidak mengantuk di kelas, saat pelajaran sekolah. Karena di rumah, dia tidak diperbolehkan untuk minum kopi sama mamanya.
Ini karena Dika kebiasaan tidur tengah malam, dan lebih memilih main game dari pada tidur awal.
Tak lama kemudian, motor sport Nanda terlihat memasuki area parkir milik Pak Lek.
Awan tidak menegur Ara ataupun Nanda. Dia hanya diam, sebelum Nanda mematikan mesin motornya.
"Ra_ra. Ara."
Ara menoleh, setelah membuka helm yang dia kenakan. Dia mendengar suara orang yang memanggil namanya. Tapi, Ara tidak tahu, dari mana dan siapa yang tadi memanggil.
Tapi saat Ara melihat ke arah Awan, tampak jika Awan sedang menundukkan kepalanya.
"Kak. Tadi dengar gak, kayak ada yang manggil nama Ara gitu?" tanya Ara, memastikan pendengarannya sendiri.
Nanda mengeleng cepat, karena dia memang tidak mendengar panggilan tersebut.
Tapi saat mereka berdua, Ara dan Nanda, ingin pergi, Awan kembali memanggil namanya.
"Ra. Ara."
Dengan cepat, Ara mengenali suara siapa yang memanggil namanya.
"Kak. Kakak duluan ya. Ara ada perlu sedikit ke warung itu."
Akhirnya Ara beralasan, agar Nanda pergi ke sekolah terlebih dahulu, dan membiarkan dirinya sendiri.
"Kakak tunggu saja."
"Tidak usah. Kan tinggal masuk. Kakak juga ada beberapa yang mau di kerjakan di ruang OSIS kan?"
Ara mengingatkan pada Nanda, karena tadi Nanda memang mengatakan bahwa, dia ada yang akan dikerjakan di ruang OSIS pagi ini.
Ini karena Nanda terpilih sebagai ketua OSIS yang diadakan dua bulan kemarin. Meskipun sebenarnya Nanda tidak mau, tapi karena itu pemilihan itu dilakukan secara langsung, jadi dia tidak bisa lagi menolaknya.
Akhirnya Nanda mengangguk mengiyakan perkataan Ara. Meskipun dengan berat hati, Nanda pergi juga sendirian ke gedung sekolah, di depan parkir motor warung Pak Lek. Membiarkan Ara sendiri, dengan keperluan yang dia miliki.
Sebenarnya Nanda tidak tahu, apa keperluan yang dimiliki oleh Ara. Tapi dia merasa sedikit curiga, dengan keberadaan Awan, yang tadi ada di tempat parkir.
'Apa ini karena kak Awan ya?' batin Nanda, dengan berjalan sendirian tanpa Ara.
Tapi karena ada keperluan tadi, Nanda mengabaikan pikiran tentang Ara dan Awan. Dia mencoba untuk menenangkan hati dan pikirannya sendiri, agar tidak lagi curiga pada keduanya.
'Ah, jadi ketua OSIS tidak bisa bebas juga.'
*****
Di tempat parkir motor warung Pak Lek, setelah Nanda pergi.
"Kak," sapa Ara, pada Awan.
__ADS_1
Awan, yang tadinya menunduk saja, kini mendongak menatap ke arah Ara. Dia terkejut juga dengan adanya Ara, yang dia pikir sudah pergi tadi, bersama dengan kakak sepupunya, Nanda.
Tapi ternyata, kini Ara ada di depan matanya. Awan jadi gugup, dan tidak bisa langsung menjawab sapaan Ara.