
Anjani mendorong Abimanyu yang berada di kursi roda. Beberapa tas dan kardus, di bawa oleh ayah mertuanya, ayah Edi dengan Juna, adik iparnya, suaminya Sekar.
Sekarang, mereka semua sudah sampai di tempat parkir mobil yang ada di rumah sakit. Barang-barang bawaan, sudah dimasukkan ke dalam bagasi. Tinggal membantu Abimanyu, supaya masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, sebelum mereka semua masuk.
"Hati-hati Juna," kata Anjani, mengingatkan pada adik iparnya itu, agar berhati-hati saat mengangkat kaki Abimanyu.
"Iya Mbak," jawab Juna pendek, sambil berusaha mengangkat kakinya Abimanyu, yang terasa susah, karena dia tidak bisa ikut membantu dengan menggerakkannya sendiri. Terasa kaku jadinya.
Setelah beberapa saat kemudian, Abimanyu berhasil dibantu untuk masuk ke dalam mobil. Sekarang, mereka semua ikut masuk ke dalam mobil, dan berangkat untuk pulang ke rumah.
"Yah, sebaiknya kami pulang ke rumah sendiri apa ke rumah ayah saja?" tanya Anjani, sama seperti yang tadi dia tanyakan pada suaminya, Abimanyu.
"Lebih baik pulang ke rumah ayah saja Jani. Di sana, ada kami yang bisa ikut membantu dan menjaga Abimanyu juga. Jika Kamu pulang ke rumah sendiri, hanya ada pembantu rumah tangga, dan tidak ada tenaga laki-laki yang bisa ikut membantumu, untuk mengangkat-angkat tubuh Abi, saat mau ke tempat tidur atau dari kursi rodanya. Meskipun kursi rodanya ada tombol otomatis untuk berjalan maju dengan dan mundur, tapi kamu akan tetap kerepotan jika sendiri. Karena di rumah, tidak sama seperti waktu ada di rumah sakit."
Anjani membenarkan perkataan ayahnya itu. Tadinya, dia juga berpikir hal yang sama, tapi karena dia merasa tidak enak hati, akhirnya dia bertanya terlebih dahulu. Apalagi, dia juga tadi sudah mengatakan pada Abimanyu, untuk meminta pendapat ayahnya terlebih dahulu.
Tiba-tiba, Abimanyu mengerjakan tangannya dengan susah payah, untuk bisa menyentuh tangan istrinya, Anjani.
Tentu saja, ini membuat Anjani kaget dan heran. Tapi dia juga merasa lega, karena akhirnya, Abimanyu bisa menerima kenyataan bahwa dirinya adalah istrinya sendiri.
Anjani menggenggam tangan suaminya itu dengan cepat. Dia memberikan dukungan pada suaminya itu, agar tetap bisa menjalani hari-harinya nanti dengan penuh harapan untuk bisa kembali normal dan sehat.
"Terima kasih. Jika Kamu adalah istriku, berarti saat ini, Aku juga jatuh cinta pada istriku sendiri, untuk yang kedua kalinya."
__ADS_1
Anjani merasa sangat terkejut, tapi juga merasa senang karena mendengar perkataan suaminya sendiri, yang mengatakan jika saat ini dia jatuh cinta pada Anjani. Itu artinya, saat kehilangan ingatannya, karena mereka berdua selalu bersama, membuat perasaan Abimanyu yang berbeda pada Anjani.
"Mas. Jani... Jani sangat senang mendengar perkataan mas Abi. hiks hiks hiks..."
Anjani menangis dalam kebahagiaan. Dia merasa sangat senang, karena suaminya itu dengan sadarnya, mengatakan jika mencintainya.
Ayah Edi dan Juna, yang ikut mendengarkan perkataan Abimanyu dari tempat duduknya yang ada di depan, ikut tersenyum bahagia. Karena dengan begitu, Abimanyu bisa menerima dan merasakan bahwa Anjani bukanlah orang lain, yang harus dia gertak dan amuk, jika sedang merasa kesal dan dalam keadaan kesakitan.
"Abimanyu. Kamu adalah anakku, dan Anjani adalah menantuku. Tapi, Ayah sudah menganggap Anjani adalah anak sendiri. Jadi, jangan sampai Kamu mengecewakan dirinya. Karena dia sudah mau merawat Kamu dan mengorbankan banyak hal demi merawat dan menemani dirimu selama berada di rumah sakit. Bahkan, sebelum Kamu kecelakaan, dia juga sudah mau mengikuti semua keinginanmu. Kamu harus bisa menjaga hatinya, jangan sampai dia terluka karena sikap Kamu dan perkataan Kamu yang menyingung perasaannya."
"Iya Yah," jawab Abimanyu, saat mendengar perkataan dan penjelasan dari ayahnya, ayah Edi.
"Kamu pelan-pelan saja mengingat-ingat kembali semuanya. Kami tidak memaksa, karena semua butuh proses dan kami yakin, jika Kamu pasti bisa melewati semua ini," kata ayah Edi lagi, melanjutkan kata-katanya yang tadi.
*****
Di rumah, ibu Sofie bersama dengan Sekar dan dibantu oleh dua pembantu rumah tangga mereka, memasak makanan yang akan mereka bagikan untuk tetangga-tetangga dekat mereka.
Ini untuk tanda syukur mereka semua, atas kepulangan Abimanyu dari rumah sakit. Mereka semua berharap, supaya Abimanyu, cepat sembuh dan bisa mengingat semua orang yang sudah dia lupakan, setelah mengalami kecelakaan kemarin itu.
"Bu. Ayah memberinya kabar, kalau saat ini mereka sudah berada di jalan dan akan sampai sekitar lima belas menit lagi," kata Sekar, memberitahu pada ibunya, saat notifikasi pesannya berdering.
"Oh ya sudah. Ini dibagikan sekarang saja, biar nanti saat mereka sudah datang, kita tidak perlu repot-repot lagi untuk membaginya. Kuta bisa konsentrasi dengan kedatangan mas mu Sekar," kata ibu Sofie, yang sudah selesai menyiapkan makanan yang akan mereka bagikan.
__ADS_1
Sekar mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar perkataan dari ibunya, ibu Sofie. Dia bersama dengan dua pembantu rumah tangga, yang satunya adalah teteh pembantu rumah tangga Anjani, membagikan makanan yang sudah mereka persiapkan.
Dengan demikian, mereka bertiga saling bantu membantu, membawa keluar kotak-kotak kardus, tempat makanan yang akan mereka bagikan.
Sepuluh menit kemudian, Sekar dan dua pembantu rumah, sudah selesai dengan pekerjaan mereka. Sekarang saatnya mereka menunggu kedatangan ayah Edi dan Juna, yang tadi menjemput Abimanyu dengan Anjani di rumah sakit.
Ara dan Nanda, juga sudah berada di ruang tamu, bersama dengan baby sitternya. Mereka berdua, ikut menyambut kedatangan ayah mereka, ayah Abi.
Mereka berdua, tidak sabar ingin berjumpa dengan ayah mereka dan juga bunda Jani.
"Mbak-mbak, nanti bunda sama ayah Abi, datang bersama dengan eyang Kakung dan om Juna ya?" tanya Nanda pada baby sitter. Ternyata, dia belum sepenuhnya paham, dengan apa yang mereka kerjakan sedari tadi.
"Iya Nanda. Nanti saat mobil eyang kakung datang, bunda Jani dan ayah Abi, juga ikut datang. Mereka berdua, tadi dijemput oleh eyang kakung, yang ditemani oleh om Juna juga. Nanda kangen tidak dengan bunda dan juga ayah?" jawab baby sitter, yang juga bertanya tentang perasaan Nanda saat ini.
Nanda mengangguk dengan antusias. Dia merasa sangat senang, karena sudah terlalu lama tidak berjumpa dengan ayah Abi dan juga bundanya, Anjani.
"Tapi, kemarin waktu Nanda telpon dan video call, kenapa ayah Abi tidak mau bicara dengan Nanda? katanya dia tidak ingat, dan tidak tahu siapa Nanda. Apa ayah Abi lupa dengan Nanda, karena sudah lama tidak berjumpa dengan Nanda ya Mbak?"
Nanda kembali bertanya tentang keadaan ayah Abi nya, yang kemarin-kemarin tidak mau berbicara dengannya, lewat video call. Apalagi, Abimanyu juga pernah mengatakan bahwa, dia tidak mengenal Nanda dan juga Ara.
"Ayah Abi kan sedang sakit Nanda. Mungkin ayah Abi habis minum obat, makannya dia mengantuk dan tidak ingat dengan jelas. Kan kadang-kadang, video call itu memang tidak jelas, karena sinyalnya tidak selalu stabil. Nanda tidak boleh bertanya-tanya dulu ya, kalau nanti ayah Abi datang. Dia masih butuh istirahat."
Nanda mengangguk mengiyakan perkataan baby sitter yang memberinya penjelasan. Dia akan patuh, karena tidak mau melihat ayah Abi nya dalam keadaan sakit terus menerus.
__ADS_1