Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Permasalahan Elang


__ADS_3

Adhisti, selalu memperhatikan Elang saat pulang ke rumah. Dia merasa heran, sebab, akhir-akhir ini, Elang lebih sering pulang malam, dan langsung tidur tanpa mengobrol terlebih dahulu seperti biasanya.


"Mas Elang kenapa ya?" tanya Adhisti dalam hati.


Adhisti, pernah mencoba untuk bertanya, tapi jawaban dari Elang, suaminya itu, hanya "Aku sedang capek Sayang." Selalu begitu jawaban yang diberikan oleh suaminya.


Tapi, lain hari, saat Elang pulang ke rumah depan, rumahnya Anjani, dia terlihat bersemangat. Ada saja yang dia bicarakan dengan Anjani. Itu Adhisti lihat dari balik tirai jendela, saat dia mengintip keluar.


"Apa Mas Elang sudah tidak lagi mencintaiku, dan mulia memiliki rasa dengan Anjani?" Adhisti, jadi banyak berprasangka terhadap sikap suaminya, yang dia pikir telah berubah karena Anjani.


"Mas. Apa Aku tidak layak mendapatkan perhatian? Apa hanya Anjani yang perlu perhatian khusus dari Kamu? hiks, hiks..."


Adhisti, terisak sendiri, mengingat bahwa suaminya kini telah berubah. Dia tidak habis pikir, bagaimana mungkin, Elang sayang dan perhatian dengan istri sirinya itu, padahal wajahnya terlihat menakutkan.


"Seminggu lagi, mereka berdua akan ke Korea. Aku ingin ikut, tapi itu tidak mungkin. Mama mertua pasti akan merasa jika Aku terlalu mengekang mas Elang nanti. Ah, Aku jadi bingung sendiri."


Sebenarnya, Adhisti terus menerus memikirkan bagaimana sebenarnya hubungan antara suaminya itu dengan Anjani. Apakah mereka berdua selayaknya sepasang suami istri seperti dirinya juga, jika sedang bersama Elang, atau hanya seperti yang Elang katakan, bahwa mereka hanya sebatas teman yang sudah seperti adik dan kakak.


"Mana mungkin, ada dua orang dewasa yang berjenis kelamin berbeda dan sering bersama-sama, tidak memiliki perasaan apa-apa. Apalagi, mereka juga sudah sah secara agama. Apa mungkin, Mas Elang juga melakukannya dengan Anjani atau memang seperti yang dia katakan?"


Adhisti, terlalu banyak berpikir dan curiga. Dia hanya mengikuti apa yang dia rasakan saat ini. Dia merindukan sosok suami yang hanya untuknya, sama seperti dulu, saat masih menjadi sepasang kekasih, tanpa ada pihak lainnya.


*****


Dikantornya, elang sedang mempelajari laporan keuangan yang dia curigai ada masalah. Di saat dia sedang serius meneliti, handphone miliknya berdering, dan saat dia lihat, ternyata itu telpon panggilan dari mamanya.


..."Halo Ma."...


..."Elang. Tadi Mama baru saja transfer uang ke rekening Kamu, untuk biaya ke Korea. Nanti, jika masih kurang, saat berada di sana, Kamu kasih kabar saja. Pokoknya, jangan sia-siakan Anjani. Dia itu butuh perhatian dan dukungan juga. Kamu yang harus melakukannya karena Kamu juga yang menyebabkan dia jadi seperti itu."...


..."Iya Ma. Apa bisa Elang juga membawa Adhisti? Aku kasihan Ma, kalau dia nanti merasa terabaikan olehku."...


..."Dia kan sedang hamil muda, ngapain pergi jauh-jauh sampai ke luar negeri? Kalau ada apa-apa di jalan, justru Kamu yang akan kerepotan."...

__ADS_1


..."Iya Ma. Tapi, Elang merasa kasihan Ma."...


..."Jangan terlalu memanjakan Istrimu itu. Dia juga harus tahu, kalau Kamu itu, juga punya istri yang lainnya juga."...


Elang, menghela nafas panjang untuk membuang sesak di dadanya. Dia, tidak mungkin membantah lagi perkataan dari mamanya. Sudah di restui untuk menikah dengan Adhisti saja, Elang sudah sangat bersyukur. Karena, menurut mamanya, perhitungan jodohnya dengan Adhisti itu tidak cocok.


..."Baik Ma. Elang akan kasih dia pengertian padanya nanti, jika dia ingin ikut."...


..."Nah, begitu saja. Ya sudah ya, Mama mau ada arisan dulu."...


..."Iya Ma. Terima kasih ya Ma."...


Sambungan telepon terputus. Elang kembali menghela nafas panjang. Dia harus bisa menata hati dan pikiran untuk semua hal yang dia rasakan saat ini.


Saat malam, Elang pulang paling akhir. Kantor sudah sepi. Dia harus bisa segera menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada, agar saat dia pergi ke Korea, tidak ada lagi yang harus dia khawatirkan.


Kini, titik temu permasalahan tersebut sudah bisa atasi. Besok tinggal dia memanggil beberapa stafnya yang bersangkutan dengan pembukuan keuangan perusahaan.


Sampai di rumah, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Ini bukan hanya karena Elang pulang malak dari kantor, tapi jalanan Jakarta memang ada saja kemacetannya.


Elang, masuk ke dalam rumah. Langsung menuju ke kamar, untuk membersikan badannya yang terasa lengket.


"Mas," sapa Adhisti dari ruang makan, karena dia belum makan juga, menunggu suaminya pulang. Dia hafal jadwalnya Elang, harus pulang ke rumah yang mana, jadi tadi, Adhisti sengaja menunggu suaminya itu, untuk bisa makan bersama.


"Sayang. Mas mau mandi dulu ya, rasanya lengket ini," jawab Elang yang memang belum sempat untuk masuk ke dalam kamar.


"Iya Mas," jawab Adhisti dengan menganggukkan kepalanya.


Elang, langsung berlalu menuju ke dalam kamar. Adhisti, kembali ke ruang makan untuk memanaskan kembali makanan yang sudah terlanjur dingin.


"Nyonya, biar Saya saja Nya," pinta bibi pembantu yang menemani keseharian Adhisti. Kebetulan, tadi bibi ke dapur untuk mengambil air minum.


"Iya, terima kasih ya Bi," jawab Adhisti, kemudian menyerahkan panci sayur yang dia pegang.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Elang sudah datang ke ruang makan. Dia sudah terlihat lebih segar dari tadi, sewaktu batu pulang.


"Maaf ya Sayang. Aku pulangnya malam. Ad sesuatu yang harus Aku selesaikan. Tadi jalanan juga macet kok," kata Elang, kemudian mencium kening istrinya dan mengelus perutnya, yang mulai membuncit.


"Iya Mas. Tidak apa-apa. Apakah sedang ada masalah di kantor?" tanya Adhisti ingin tahu.


"Tidak apa-apa. Kamu tidak usah khawatir. Konsentrasi saja dengan kehamilan Kamu ini ya," jawab Elang dengan tersenyum manis, seperti biasanya.


"Nya,. Makanannya sudah siap," lapor bibi pembantu pada Adhisti.


"Oh ya Bi, terima kasih."


Adhisti mengandeng tangan suaminya, untuk di ajak makan bersama. Meskipun sebenarnya, waktunya sudah terlambat.


"Kamu, tidak perlu menunggu Aku jika untuk makan Sayang. Kasihan anak kita yang masih ada di perut, ikut menuggu untuk sekedar makan malamnya," kata Elang, memperingatkan istrinya itu.


"Tapi, Aku ingin menunggu Mas. Ingin makan bersama juga," rengek Adhisti, dengan manja.


Elang, hanya membuang nafas kasar. Dia tidak ingin membuat istrinya itu menjadi semakin cemberut, dan itu akan berpengaruh pada 'jam malamnya' nanti.


*****


Keesokan harinya, saat Elang sudah berangkat ke kantor, Adhisti berkunjung ke rumah Anjani. Dia datang untuk mengobrol dengannya seperti biasanya.


"Jani, kenapa Mas Elang akhir-akhir ini sering pulang malam ya? Apa dia juga begitu saat ke pulang ke rumah ini?" tanya Adhisti sedikit curiga. Dia berpikir, jika Elang hanya beralasan saja.


"Sama saja Mbak. Mas Elang kan sedang ada masalah di kantor." Anjani, menjawab pertanyaan dari Adhisti, sesuai dengan apa yang dia ketahui.


"Masalah apa?" tanya Adhisti cepat.


"Ada kebocoran keuangan atau apa ya kemarin itu, saat Mas Elang cerita."


Adhisti, menjadi kaget dengan jawaban yang diberikan oleh Anjani. Dia tidak menyangka, jika Elang justru diam saja dan tidak memberikan penjelasan saat dia tanya semalam. Tapi kenapa pada Anjani, justru Elang mau bercerita tentang permasalahan perusahaan yang sedang terjadi. Padahal, Adhisti lebih tahu, bagaimana keadaan perusahaan Elang sedari dulu.

__ADS_1


"Kenapa Kamu mulai berubah Mas?" tanya Adhisti dalam hati.


__ADS_2