Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Harus Terencana


__ADS_3

Ara sudah bersiap berangkat ke yayasan sekolah, untuk melakukan tes siang ini, bersama dengan satu temannya yang lain.


Karena cuaca masih gerimis, dia membawa payungnya, meskipun guru yang mengantarkan memakai mobil.


Begitu juga dengan temannya, membawa payungnya juga.


Mereka bertiga, berangkat dari sekolah, menuju ke tempat yayasan tempat dimana akan dilakukan tes, untuk semua calon siswa dan siswi yang mendapat beasiswa prestasi.


Jika mereka bisa terbukti sebagai siswa yang benar-benar berprestasi, mereka akan langsung diterima, begitu tahun ajaran baru dimulai.


Tapi jika tidak bisa mendapatkan hasil yang diinginkan, mereka gagal mendapatkan kesempatan untuk bisa menerima beasiswa prestasi yang telah ditetapkan.


Dan hasil tes nanti, adalah penentu keberhasilan mereka secara mutlak, dan tidak bisa diganggu gugat oleh pihak manapun.


"Kalian yang tenang ya, nanti saat mengerjakan soal," kata guru mereka, yang ikut pengantar, sebagai pendamping dari pihak sekolah.


"Iya Pak. Doain ya Pak, kami bisa diterima semua," ucap Ara, berharap agar dia dan juga temannya itu, bisa diterima semua.


"Iya. Bapak akan selalu mendoakan agar siswa siswi Bapak sukses, dan bisa terus belajar dengan baik. Apa lagi jika ada beasiswa seperti ini, Bapak akan dengan senang hati dan selalu mendukung kalian semua."


Mereka bertiga, saling berbincang-bincang dalam perjalanan menuju ke sekolah yayasan, tempat akan dilaksanakan tes.


"Ara. Aku deg-degan banget nih," kata teman Ara, saat perjalanan mereka semakin dekat dengan tujuan.


"Sama. Aku juga deg-degan," kata Ara, mengatakan hal yang sama.


"Kalian berdoa saja, minta ketenangan hati dan pikiran ya," sahut bapak guru mereka.


"Iya Pak."


Mereka menjawab serempak.


Tak lama, mobil masuk ke dalam area parkir yayasan, khusus untuk tamu. Karena ada tempat khusus, untuk orang luar yang datang ke yayasan tersebut.


Ara dan temannya, keluar dari dalam mobil bersama dengan gurunya. Mereka bertiga, ikut dengan petugas yayasan tersebut, yang memang bertugas memberikan arahan dan petunjuk pada para tamu yang datang.


Para tamu yang datang juga sudah banyak, dengan para murid-muridnya. Mungkin, mereka datang lebih awal, karena cuaca yang tidak menentu, sehingga takut jika ada kemacetan ataupun banjir yang menghalangi perjalanan mereka.


Sekarang, Ara dan yang lainnya sudah berada disebuah aula besar, yang ada di sebelah pinggir, dari bangunan utama sekolah. SMP dan SMA, letak bangunannya saling berhadapan satu sama lain. Sedang aula ini, terpisah dari bangunan keduanya. Mungkin karena seringnya di pakai untuk sebuah acara, sehingga keberadaannya dipisahkan, agar tidak menggangu kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut.


Bangunan sekolah ini, juga megah dan indah. Ada taman yang tampak asri, yang menjadi pemisah antara SMP dan SMA. Ada lapangan basket dan juga voli, yang bergabung jadi satu dengan atapnya yang tinggi, sama dengan bangunan gedung sekolahnya, yang bertingkat tiga. Ada juga lapangan bola, yang ada di sebelahnya, yang digunakan juga sebagai lapangan upacara setiap hari Senin, dan pada hari-hari tertentu yang mengharuskan adanya upacara bendera.


Waktu untuk tes, tinggal sepuluh menit lagi. Ara meminta ijin pada gurunya, untuk pergi ke kamar kecil terlebih dahulu.

__ADS_1


"Pak. Kami mau pergi ke kamar kecil dulu ya Pak."


"Ya. Cepat ya kalian. Waktunya sudah tinggal sepuluh menit lagi," jawab pak guru.


Ara dan temannya, mengangguk mengiyakan. Mereka berdua, segera mencari keberadaan kamar kecil.


Tapi karena tidak terbiasa dan juga bukan tempat mereka, waktu untuk mencari keberadaan kamar kecil juga menjadi lebih lama dari yang mereka pikirkan.


"Dimana letaknya?" tanya Ara bingung.


"Harusnya kita bertanya pada petugas tadi," kata temannya Ara.


Akhirnya, Ara memberanikan diri untuk bertanya pada siswa SMA yang kebetulan lewat.


"Maaf Kak. Kami mau bertanya, dimana letak kamar kecil?" tanya Ara, pada siswa tersebut.


"Oh, kalian peserta tes ya? kamar kecil ada di sebelah sana, tinggal belok itu!" jawab siswa SMA tadi, sambil menunjuk pada arah belakangnya.


"Iya Kak. Terima kasih."


Ara dan temannya, mengucapkan terima kasih, kemudian segera berjalan menuju ke tempat yang tadi diberitahu.


"Kalian cepat ya! waktunya sudah mepet!"


*****


Sekar datang ke rumah, bersama dengan anaknya, Miko. Dia merasa bosan karena sendirian. Suaminya, Juna, sedang ada tugas ke luar kota untuk beberapa hari.


Dia juga kewalahan menghadapi anaknya, yang berlaku super aktif, sehingga dia capek sendiri mengurusnya.


"Miko susah Mbak dibilangin. Gak busa diem dan anteng gitu, meskipun ada mainan baru di rumah."


Sekar, mengadukan tingkah anaknya, Miko, yang saat ini sedang bermain bersama dengan Anggi.


"Ya mau bagaimana lagi, kan dia memang anaknya aktif Sekar. Kamu yang sabar saja ya," kata Anjani, sambil tersenyum melihat ke arah Miko dan Anggi, yang saat ini sedang berebut mainan lego dengan warna yang mereka sukai.


"Miko mau warna itu!"


"Punya Anggi!"


"Punyaku!"


"Punya Anggi Miko!"

__ADS_1


Mereka saling berebut dan tidak ada yang mau mengalah.


Miko ingin, meminta lego Anggi, semua yang berwarna sama, seperti yang dia inginkan.


Tapi Anggi tidak mau. Dia merasa jika mainan itu adalah miliknya, jadi terserah dia mau meminjamkan yang warna apa.


Begitulah anak-anak, jika sedang bermain-main. Ada banyak perbedaan yang ada, tapi juga akan dengan cepat akur kembali. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu pada mereka.


"Mas Juna ingin menambah momongan. Dia ingin Sekar segera hamil lagi, tapi Sekar belum mau Mbak. Miko saja bikin capek sekali, apalagi nambah adiknya nanti."


Sekar bercerita tentang kemauan suaminya, yang meminta dirinya supaya bisa memberikan adik untuk Miko.


"Ya sudah, hamil saja sih. Mumpung Juna yang minta itu," sahut Anjani dengan wajah berbinar-binar. Dia merasa sangat senang, karena keinginan adik iparnya itu.


"Tapi nanti malah tambah ribet Mbak Miko nya!" ujar Sekar dengan khawatir.


"Siapa tahu, Miko tidak seperti itu lagi, jika punya adik nanti," jawab Anjani, dengan memberikan sebuah harapan pada adik iparnya itu.


"Entahlah Mbak. Aku belum sempat berpikir untuk segera hamil dalam waktu dekat ini," kata Sekar pasrah.


Anjani memberikan beberapa nasehat dan saran untuk Sekar. Dia juga meminta pada adik iparnya itu, supaya menuruti permintaan suaminya.


"Mumpung kalian berdua juga masih muda. Tenaga untuk melahirkan secara normal bisa dilakukan Sekar. Kamu harus optimis ya."


Sekar, hanya mengangguk mengiyakan perkataan kakak iparnya, Anjani.


Sekarang, dia bisa berpikir dan mengambil keputusan, untuk rencananya ke depan. Sekar akan merencanakan untuk program hamilnya, agar suaminya merasa senang saat mendengar keputusannya.


"Huwaaa!"


Tiba-tiba, Anggi menangis karena bertengkar dengan Miko. Anjani dan Sekar, jadi merasa kaget karena suara tangisan Anggi.


"Eh ada apa Sayang?" tanya Anjani.


"Kenapa Anggi? Miko Kamu apain Anggi?" tanya Sekar, yang merasa jika tangisannya Anggi, akibat kenakalan anaknya, Miko.


"Gak. Miko gak nakal kok," jawab Miko, dengan menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya.


Sekarang, Anjani dan Sekar tahu, jika mereka sedang berebut mainan, dan Miko berhasil mendapatkan mainan tersebut, sehingga menyembunyikannya. Itu dilakukan agar Anggi tidak bisa menemukan mainan tersebut.


"Miko nakal Bunda. Tante. Huwaaa... Miko nakal!"


Anggi masih saja menangis dan mengadukan kenakalan sepupunya, Miko.

__ADS_1


__ADS_2