Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Beda Kebiasaan


__ADS_3

Begitu mereka semua tiba di bandara, ternyata mama Amel dan papa Ryan, sudah ada di sana.


Ayahnya Awan, Elang, juga ada di antara kedua orang tuanya itu.


"Apa ayah akan menuggu ke boarding lounge dulu?" tanya Ara, karena waktu untuk naik ke pesawat masih ada lima belas menit lagi.


Boarding lounge merupakan sebuah tempat, yang biasa digunakan untuk menunggu jadwal terbang, tempat ini merupakan tempat penumpang duduk sambil menunggu panggilan boarding naik ke pesawat.


"Gak perlu Ra. Mending ngobrol sama Kalian saja kan? jadi, kita manfaatkan waktu semaksimal mungkin," jawab ayahnya, Abimanyu.


Awan pun mengangguk setuju, dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya Ara, Abimanyu.


Setelah saling sapa dan berpelukan, kini mereka saling berbincang-bincang, satu sama lain.


Membicarakan tentang banyak hal, yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah bisnis dan juga urusan pekerjaan masing-masing.


Setelah sepuluh menit kemudian, saatnya Awan dan Abimanyu untuk segera chek in, karena waktunya untuk boarding pass akan segera dilakukan, sebelum mereka berdua menuju ke boarding gate.


"Ra," panggil Awan, di saat Ara sudah selesai berpelukan dengan ayahnya.


"Ya Kak," jawab Ara, dengan berjalan mendekat ke tempat Awan berdiri.


Sekarang, keduanya saling berhadapan dalam jarak yang cukup dekat.


"Titip rindu ya. Jangan di kasih ke orang lain." Awan berkata dengan suara pelan dan sedikit membungkuk di dekat telinga Ara.


Ara tersenyum dalam kebahagiaannya. Tapi, wajahnya menunduk karena merasa malu.


Dia jarang sekali mendapat kata-kata yang manis dari Awan. Tapi Ara juga tahu, jika Awan memang sedikit kaku, dan tidak bisa mengatakan bagaimana cara menggambarkan perasaannya sendiri.


Meskipun itu pada kekasihnya sendiri, yaitu Ara.


"Ingat ya, jangan di kasih ke orang lain!"


Awan kembali mengulang kata-katanya lagi, sebelum Ara mengiyakan atau mengangguk kepalanya. Menyanggupi permintaan darinya tadi.


"Iya Kak. Semuanya untuk Kakak saja kok," sahut Ara, sambil tersenyum malu-malu.


Awan pun tersenyum, mendengar jawaban yang diberikan oleh Ara padanya.


"Ciehhh... ciehhh..."


Ara dan Awan cepat menolehkan kepalanya, mendengar suara Miko yang sedang meledek mereka berdua.


"Apa ciehhh?" tanya Ara, sok galak sama Miko.


Dari arah samping Miko, muncul Ara, yang langsung memukul pundaknya Miko.

__ADS_1


"Gangguin orang pacaran aja!" seru Anggi, menegur Miko, yang merusak keasyikannya Anggi sedari tadi.


Jadi, apa yang terjadi antara Ara dan Awan, tidak luput dari perhatian Anggi.


Bahkan, Anggi juga menarik tangan Nanda, supaya ikut bersama dengannya menonton secara live, adegan antara Ara dan Awan tadi.


Tapi karena ulahnya Miko, adegan tersebut jadi bubar dan Anggi tidak bisa lagi melihat kakaknya, yang sedang dirayu oleh Awan.


"Ih, apaan sih Anggi. Sakit tau!"


"Hahaha... syukurin. Wekkk..."


Anggi justru menjulurkan lidahnya, membalas apa yang dilakukan Miko.


Nanda, yang masih berada di tempatnya yang tadi diajak Anggi, hanya bisa tersenyum tipis.


Ada sesuatu yang terasa sakit di hatinya. Meskipun tidak ada yang mencubitnya juga.


Sedangkan Anggi dengan Miko, jadi berdebat dan saling meledek satu sama lain.


Ara dan Awan, hanya mengelengkan kepalanya, dengan melihat kedua adiknya itu.


"Ayo Wan!"


Abimanyu mengajak Awan, untuk segera berpamitan pada yang lainnya juga. Karena waktunya untuk boarding gate.


Awan pun menganggukkan kepalanya, mendengar ajakan dari calon mertuanya itu.


Ara pun memejamkan mata, dengan tersenyum, saat Awan mengecup keningnya. Dia juga mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar kata pamit yang diucapkan oleh tunangannya itu.


Awan dan Ara, memang tidak pernah pacaran sama seperti remaja yang lain.


Mereka berdua, tidak pernah berciuman dengan bibir. Hanya berpelukan sekedarnya, atau Awan yang mengecup keningnya.


Mereka berdua masih sama-sama malu. Apalagi, ayah dan bundanya juga berpesan agar tetap menjaga diri, dan tidak melakukan apa-apa yang bisa membuat mereka khilaf.


Itulah sebabnya, mereka jarang pergi berdua saja, atau pacaran di tempat yang sepi.


Mereka berdua lebih seringnya hanya berbincang-bincang di apartemen keluarganya Ara. Atau jika memang harus pergi, ada Anggi yang menemani mereka, atau memang sedang ada acara bersama dengan keluarga juga.


Jadi, tidak ada adegan-adegan yang tidak layak, di antara mereka berdua. Selama menjalin hubungan, sejak resmi berpacaran.


Awan, yang memang pendiam dan lebih tertutup dibanding pemuda lain, juga berusaha untuk tidak melakukan apa-apa yang tidak pantas untuk dilakukan.


Sedangkan Ara sendiri, juga merasa jika dia masih kecil. Jadi, belum bisa mengekspresikan perasaannya sendiri, pada kekasihnya itu.


Tapi, itu justru membuat ayah dan bundanya lebih tenang. Mereka juga bersyukur karena, baik Awan ataupun Ara sendiri, tidak terpengaruh oleh budaya barat, yang ada di Amerika sana.

__ADS_1


Mereka juga berharap agar kedua anak muda itu, bisa menahan diri hingga saatnya mereka halal nanti.


*****


"Wan. Ini barang-barangnya kenapa tidak di naikin ke pick up?" tanya Mami dengan berteriak.


Mami, melihat keberadaan mantan suaminya itu, yang sedang berbicara dengan penjual kue keliling di depan pangkalan miliknya.


Ada rasa kesal yang datang di dalam hatinya. Dia merasa jika, Wawan semakin malas saja, jika dia beri tugas dan pekerjaan.


Sedangkan Wawan, yang sedang berbicara dengan penjual kue keliling di depan pangkalan, segera menoleh ke arah Mami.


Tapi, dengan cepat berbalik lagi dan pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Mami tadi.


"Mas, itu Mami sepertinya marah Mas," tegur penjual kue, mengingatkan pada Wawan.


Penjual kue keliling itu, memang sudah lama dan tentunya juga tahu, bagaimana keadaan Mami dan juga Wawan. Baik yang dulu dan yang sekarang ini.


"Udah, biarin aja Yu. Memang orang tua itu begitu," ujar Wawan, yang mengabaikan Mami.


"Tapi Mas. Mami bisa mengusir mas Wawan lagi nanti. Gak jadi beli kue Aku lagi dong," sahut penjual kue, yang biasa di panggil Yu.


Wawan tersenyum senang, mendengar perkataan dari penjual kue.


Meskipun penjual kue itu dia panggil dengan sebutan yu, tapi dia belum tua-tua juga. Umurnya sekitar satu atau dua tahun di atas Wawan saja.


Jadi, masih tetap lebih muda, dibandingkan dengan Mami.


"Wan!"


Terdengar suara Mami, yang memanggil Wawan lagi.


Sekarang, Wawan baru menoleh ke arah mantan istrinya itu.


Dia tidak mau jika, Mami benar-benar marah, karena dia yang terus menerus berpura-pura tidak mendengar panggilan dari Mami.


"Ada apa Mi, mau kue? Aku beliin ya!" Wawan balik bertanya pada Mami, dan menawarinya untuk membeli kue.


"Gak. Mami masih bisa dan mampu beli kue sendiri," jawab Mami, menolak tawaran dari Wawan.


Penjual kue, hanya tersenyum tipis, mendengar keduanya sama-sama saling melempar kata, untuk menjaga gengsi dan perasaan mereka sendiri.


Padahal yang sebenarnya adalah, Mami tidak mau melihat Wawan lebih dekat dengan wanita lain, selain dirinya.


Dan Wawan sendiri, semakin ke-GR-an.


Dia tahu, jika Mami sebenarnya masih ada rasa dengannya. Tapi hanya pura-pura saja tidak peduli.

__ADS_1


Itulah sebabnya, dia malah pura-pura tidak tadi, dan sering mencari-cari alasan, atau gara-gara.


Dengan berdekatan dengan wanita lain, atau seakan-akan lebih perhatian pada mereka, di depan sang mantan istri, yaitu Mami. Yang sekarang ini menjadi bos nya Wawan.


__ADS_2