
Masih di Jakarta. Di rumahnya Mita.
"Ma, Pa. Mita udah gak sakit-sakit lagi. Mita bisa kan masuk kuliah lagi?" tanya Mita, pada saat mereka baru saja akan makan malam bersama.
Mamanya Mita, menoleh ke arah suaminya. Dia ingin agar suaminya saja, yang menjawab pertanyaan dari anaknya itu.
Tapi papanya Mita tampak tenang, dan tidak segera menjawab pertanyaan tersebut.
"Atau Mita pindah kuliah ke kampus yang sama seperti kak Nanda. Boleh?" tanya Mita lagi. Karena papa ataupun mamanya, belum ada yang menjawab dan mengeluarkan suaranya.
"Sayang. Apa Kamu suka dengan Nanda? Apa Kamu dan Nanda sudah menjalin hubungan?"
Papanya Mita, mencoba untuk bertanya pada anaknya. Hal yang selama ini tidak pernah ditanyakan oleh keduanya, pada anaknya itu.
Tapi Mita hanya diam saja. Bahkan, raut wajahnya jadi berubah sendu.
"Kenapa? Apa Nanda tidak suka dengan Kamu?" tanya mamanya, yang menangkap sinyal ketidakberesan dari hubungan anaknya dengan Nanda.
Mamanya Mita, juga papanya, mengira jika anaknya itu sudah menjadi kekasihnya Nanda.
Dan mereka berdua pasti setuju, dengan apa yang selama ini mereka pikirkan.
"Ma, Pa. Apa Mita pantas untuk bermimpi yang lebih?"
Kedua orang tuanya menatap Mita dengan mata memicing. Atensi mereka berdua, tentu saja hanya untuk Mita. Yang saat ini matanya sudah tampak berkaca-kaca.
"Sayang. Kenapa?"
Dengan perasaan yang was-was, mamanya Mita mendekat ke tempat duduk anaknya. Dia merasa khawatir, dengan keadaan Mita yang tampak bersedih hati. Saat dia bertanya tentang hubungan anaknya dengan Nanda.
Akhirnya, Mita menceritakan tentang kedekatan dirinya dengan Nanda.
Selama ini, Nanda memang selalu siap sedia, untuk menemaninya dalam keadaan apapun. Selama Nanda tidak ada kuliah, atau kepentingan yang lain.
Baik saat Mita berada di rumah sakit. Atau hanya di rumah saja.
Bahkan kadang kala, mereka berdua juga jalan-jalan ke mall, atau sekedar untuk ke taman dekat rumahnya Mita.
Nanda selalu bersikap baik dan tidak pernah mengecewakan Mita.
Tapi selama ini juga, Nanda tidak pernah menyatakan perasaannya sendiri terhadap Mita. Ini membuat mita ragu untuk mengatakan terlebih dahulu, jika dia menyukai kakak sepupu dari temannya, Ara.
__ADS_1
"Apa Nanda merasa takut, untuk menyatakan perasaannya pada Kamu. Karena merasa ada perbedaan antara kalian berdua Mita?"
Pertanyaan yang diajukan oleh mamanya, membuat Mita bingung.
"Maksud Mama?"
Mamanya Mita menghela nafas panjang, saat mendengar pertanyaan yang diajukan oleh anaknya.
"Sayang. Siapa tahu, Nanda merasa jika dia tidak sekaya kita. Jadi dia minder," kata mamanya Mita, memberikan penjelasan, dan kemungkinan yang menjadikan nada belum juga menyatakan perasaannya.
"Apa Mama dan Papa juga akan menilai hal yang sama seperti pikirannya Kak Nanda?" tanya Mita ingin tahu, bagaimana cara penilaian kedua orang tuanya.
"Bukan begitu juga Sayang. Ini soal perasaan dan kesiapan mental Nanda sendiri. Papa, ataupun mama, tidak pernah menilai seseorang dari apa yang dia miliki."
"Papa dan mama hanya ingin, Mita bahagia dengan orang yang Mita cinta, dan juga mencintai Mita."
Penjelasan yang diberikan oleh papanya, membuat Mita tersenyum senang. Dia tahu jika, kedua orang tuanya itu orang-orang yang baik.
"Mita juga tidak tahu Ma, Pa. Kenapa kak Nanda tidak pernah menyatakan perasaannya. Dia juga tidak pernah menceritakan tentang cewek lain, atau teman ceweknya."
Kebingungan yang dialami oleh Mita, tentu saja sangat wajar.
Karena selama ini, Nanda memang tidak pernah memperlihatkan atau punya gelagat, jika dia punya pacar di luar sana.
"Dan lagi, kemungkinan Nanda merasa kasihan dengan keadaan Kamu, yang sedang dalam keadaan sakit. Tapi kekasihnya justru menghilang dan tidak ada kabar sama sekali."
Mita jadi merasa sedih, saat kalimat mamanya yang terakhir, mengingatkan kembali pada kenangannya bersama dengan Dika.
"Ma. Tidak usah diungkit lagi!"
Papanya Mita, mengingatkan pada istrinya, supaya tidak lagi membicarakan tentang Dika di depan anaknya itu.
"Atau bisa jadi, Nanda tidak pernah mau menyatakan perasaannya sendiri pada Kamu, karena Kamu sendiri yang menjadi penyebabnya." Tapi mamanya Mita tetap saja bicara, dan tidak mau berhenti.
"Maksud Mama?" tanya Mita cepat.
"Maksudnya apa Ma?" tanya papanya Mita, yang merasa aneh dengan pernyataan istrinya barusan.
"Ya bisa jadi Pa. Saat Mita bersama dengan Nanda, Mita justru membicarakan tentang Dika. Atau menceritakan tentang Dika gitu lho," kata mamanya Mita, memberikan penjelasan dan beberapa kemungkinan yang dia pikirkan saat ini.
Papanya Mita, mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh istrinya itu. Dia tahu, ke mana arah pernyataan dari istrinya tadi.
__ADS_1
"Kenapa Ma?" tanya Mita lagi, yang belum mengerti, apa maksud dari penjelasan yang diberikan oleh mamanya.
"Ya Nanda gak mungkin mau menyatakan perasaannya Sayang. Jika Kamu masih saja membicarakan tentang Dika, saat kalian berdua bersama."
"Iya tapi kenapa Ma?" Mita masih saja belum paham dengan perkataan yang diucapkan oleh mamanya.
Akhirnya, ganti papanya yang memberikan penjelasan kepadanya.
"Sayang. Nanda tidak mungkin mau masuk ke dalam kehidupanmu, jika hatimu sendiri masih ada Dika. Dia tidak mungkin bisa menjadi Dika juga."
"Dia tidak mau memaksamu untuk menempatkan dirinya di hatimu, dan minta cintamu. Karena dia tahu, jika perasaan cinta, tidak ada di dalam hati itu tidak bisa dipaksakan."
Sekarang, Mita baru mengerti. Dia tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, dengan wajah yang kembali sendu.
Bahkan, air matanya sudah siap untuk meluncur ke bawah.
"Sudah-sudah. Kamu harus meyakinkan diri Kamu sendiri terlebih dahulu. Karena jika itu tidak Kamu lakukan, Nanda tetap diam dan tidak akan pernah mau menyatakan perasaannya dan juga cintanya sama Kamu."
Mamanya Mita, merangkul pundak anaknya itu, dan segera memeluknya. Di saat tangisan Mita pecah.
"Hiks... hiks... hiks! Jadi guru ya Ma? Ini salah Mita sendiri. Huhuhu..."
Mita menangis di dalam pelukan mamanya. Dia sadar jika, selama ini masih belum bisa melupakan Dika.
Bahkan, kadang kala dia membicarakan tentang kekasihnya yang sudah tidak berkabar lagi sama Nanda.
Mita tidak sadar jika, hal itu justru membuat Nanda merasa tersakiti. Meskipun pada dasarnya Nanda belum menjadi kekasihnya.
Namun, setidaknya Nanda lah yang selama ini ada untuknya. Menemani dirinya, dalam keadaan sakit hingga sekarang ini. Tanpa pernah mengeluh tentang apa yang sering dia ceritakan.
"Apa Mita harus minta maaf pada kak Nanda?" Mita bertanya pada mamanya, yang masih memeluk dirinya.
"Kamu berani meminta maaf? Bagaimana jika Nanda bingung dan bertanya?"
Mita hanya tersenyum, mendengar pertanyaan-pertanyaan bernada khawatir dari mamanya.
"Semoga saja, kak Nanda mengerti dan mau memaafkan Mita ya Pa?"
Mamanya tampak tersenyum senang, dan juga menganggukkan kepalanya. Mendengar perkataan dan pertanyaan dari Mita.
Di tempat duduk yang lain, papanya Mita juga tersenyum senang. Dia bahagia, karena anaknya itu menyadari kesalahannya sendiri. Dan punya kesempatan untuk bisa meminta maaf pada Nanda.
__ADS_1
Kedua orang tuanya Mita, sebenarnya juga berharap agar anaknya itu, bisa mendapatkan Nanda.
Pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Menurut apa yang mereka perhatikan selama ini.