
Mobil yang dikendarai oleh Abimanyu, membawa semua keluarganya, ke sebuah restoran Indonesia.
Di Amerika, Abimanyu sudah tidak lagi ketakutan, untuk menyetir mobil sendiri.
Ini karena, lalu lintas di Amerika, lebih teratur dan disiplin. Pemakai jalan, juga tidak asal. Mereka patuh pada aturan lalu lintas, jauh lebih baik, daripada di Indonesia.
Itulah sebabnya, Abimanyu tidak memerlukan seorang supir, hanya untuk bisa berangkat dan pulang dari kantor ke apartemennya.
Dulu, Mama Amel sudah memberinya tawaran, untuk menempati mension milik keluarganya, yang ada di kota Atlanta ini.
Tapi Abimanyu menolaknya. Dia akan lebih nyaman, jika berada di apartemen yang tidak terlalu besar, karena itu akan lebih simpel, untuk keluarga kecilnya.
Abimanyu berpikir bahwa, tinggal di mension akan membuat keluarganya merasa sungkan, dan tidak nyaman, jika suatu saat, ada anggota keluarga mama Amel yang datang.
Bahkan Awan sendiri, yang merupakan cucu Mama Amel, memilih untuk tinggal di flat sederhana, dibanding berada di mension mereka, atau apartemen yang lebih besar daripada tempat tinggalnya yang sekarang.
Abimanyu memuji sikap Awan, yang tidak sama seperti para pemuda lainnya, yang sedang bangga dan senang hati, untuk mengunakan fasilitas dan kemudahan yang dia miliki.
"Ayah. Kita ke mana?" tanya Anggi, yang pada akhirnya penasaran juga, ke mana ayahnya akan membawa mereka semua.
"Mau makan makanan Indonesia gak?" jawab Abimanyu, dengan sebuah pertanyaan juga.
"Mauuuu!" jawab Anggi dengan antusias.
"Mau makan apa, sayur asem atau urapan?" tanya Abimanyu lagi, dengan menyebut beberapa jenis makanan khas Indonesia.
"Emhhh... soto Medan atau soto Betawi ada gak Yah?" jawab Anggi, dengan bertanya tentang beberapa soto kesukaannya.
"Adek, itu request makanan kok soto semua?" tanya Ara, menanggapi pertanyaan Anggi, pada ayahnya.
"Biarin!" ucap Anggi sambil meringis ke arah kakaknya, Ara.
"Nanti tanya sama pelayanannya ya," sahut Abimanyu, yang tersenyum mendengar suara kedua anaknya yang sedang berdebat.
"Nanti, kalian berdua jangan berdebat terus ya di jamuan makan malam." Anjani memperingatkan kedua anaknya itu.
"Iya Bun. Tapi gak janji juga. Hehehe..." Anggi berkata dengan cengengesan, mendengar perkataan dari bundanya.
Ara hanya diam saja, mendengar perkataan bundanya, dan mencubit lengan Anggi, karena tidak sopan dengan menyahut perkataan bundanya tadi.
"Ihhh Kakak. Sakit!" Anggi mengeluhkan tentang cubitan kakaknya, pada lengannya yang sekarang terasa sakit.
"Mau lagi?" tanya Ara, memposisikan jari-jari, tangannya, yang siap untuk mencubitnya lagi.
"Gak!" teriak Anggi cepat, menghindar dari cubitan kakaknya.
"Kak, Adek. Udah ahh," ucap bundanya, menghentikan kedua yang sedang berantem.
__ADS_1
"Kakak Bun," kata Anggi mengadu.
"Kamu," sahut Ara cepat.
"Kakak yang nyubit Anggi!" teriak Anggi dengan kesal.
"Huuu..." ledek Ara, sambil memonyongkan bibirnya.
Abimanyu tersenyum-senyum sendiri, melihat kedua anaknya itu, dari kaca spion, yang ada di atasnya.
Sedangkan Anjani, hanya bisa menghembuskan nafas, sambil mengelengkan kepalanya mendengar keduanya kembali berantem dan berdebat tentang sesuatu yang tidak penting.
Beberapa saat kemudian, mobil memasuki area parkir restoran.
"Yeee... sampai juga!"
Anggi berseru dengan senang, saat melihat bangunan restoran Indonesia, yang berciri khas Indonesia juga.
"Yah. Pelayan-pelayannya orang Indonesia juga Yah?" tanya Anggi, yang tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
"Lihat sendiri saja nanti di dalam." Abimanyu tidak menjawab pertanyaan Anggi, tapi meminta pada anaknya itu, supaya menemukan jawabannya sendiri, saat sudah berada di dalam restoran tersebut.
"Syukurin," ucap Ara, dengan menjulurkan lidahnya meledek adiknya.
"Wekkk!" sahut Anggi, tidak mau kalah.
"Kalian bisa bersikap sopan kan?" tanya Anjani, menegur kedua anaknya itu, agar bisa bersikap lebih baik, dan tidak terus menerus saling meledek satu sama lain.
"Bunda gak mau ya, jika kalian tidak bisa sopan nantinya."
"Iya Bun," jawab Ara dan Anggi, bersamaan.
Dan mereka berdua, saling pandang, karena tanpa dikomando, bisa menjawab pertanyaan dari bundanya dengan jawaban yang sama, alias kompak.
"Ayok," ajak Abimanyu, saat kedua anaknya tidak lagi berdebat, dan bersikap lebih baik daripada tadi.
"Pokoknya bunda marah, jika kalian masih saja seperti tadi," ucap Anjani, mengancam keduanya.
"Iya-iya Bun. Maaf," ucap Anggi, sambil memeluk tangan bundanya, dengan manja.
Ara, memposisikan dirinya di samping ayahnya. Jadi, dia mengandeng tangan ayahnya itu, sama seperti Anggi, yang memeluk tangan bundanya.
Mereka berempat, masuk ke dalam restoran tersebut, dengan langkah yang tenang.
"Duduk di mana Yah?" tanya Ara, saat melihat beberapa meja di restoran masih tampak kosong.
"Sebentar,"jawab ayahnya, kemudian mengambil handphone di dalam saku celananya.
__ADS_1
"Oh, kita ke meja no 17."
Abimanyu memberi tahu Ara, setelah melihat handphone miliknya.
Ara melihat sekeliling. Tapi, sepertinya dia tidak melihat angka 17, di deretan meja-meja restoran, yang tertata rapi dengan jumlah yang cukup untuk sebuah keluarga kecil, seperti keluarganya ini.
"Tidak ada no 17 Yah," ujar Ara, yang tidak menemukan angka 17.
"Mungkin ada di atas Kak," sahut Ara, yang melihat tangga, tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kita tanya saja pada pelayan." Anjani memberikan pendapat.
"Bun-bun, lihat!"
Anggi meminta pada bundanya, untuk melihat apa yang dia tunjukkan.
Ternyata, apa yang ditanyakan oleh Anggi tadi pada ayahnya, bisa dia temukan jawabannya.
Semua pelayan restoran Indonesia ini, adalah orang bule, dan bukan orang-orang Indonesia. Mereka semua, para pelayan, juga mengenakan pakaian seragam pelayan, yang bercorak batik campuran, dari berbagai daerah yang ada di Indonesia.
"Wah, motif batiknya jadi unik."
Anggi dan Ara, tidak bisa menahan diri, untuk tidak memberikan penilaian terhadap seragam para pelayan itu.
"Sorry, may i know where is table 17?" tanya Ara, pada salah satu pelayan yang sedang melintas.
"Oh, meja 17 ada sebelah atas."
Jawaban yang diberikan oleh pelayan tersebut, membuat Ara dan Anggi saling pandang dengan rasa terkejut.
Sedangkan Abimanyu dan Anjani, hanya tersenyum dan mengangguk sopan, pada pelayan yang sekarang pamit undur diri dari mereka.
"Kakak dengar? Dia bisa bahasa Indonesia dengan fasih dan logatnya gak ada bule-bule-nya."
"Iya Dek. Jadi malu Kakak, sok Inggris tadi," sahut Ara, yang tidak pernah menyangka bahwa, pelayan di restoran ini, berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik.
"Ayok," ajak Abimanyu, agar mereka berdua ikut dirinya naik tangga, supaya bisa sampai ke lantai atas, di mana meja 17 berada.
"Kok repot-repot di atas sih Yah? Di bawah jam lebih luas, dan gampang, jika perlu sesuatu hal saat mau memanggil pelayan." Anggi kembali berkata, dengan memprotes.
Tapi Abimanyu hanya tersenyum tipis, dan tetap diam saja. Dengan demikian, Anggi tidak akan lagi bertanya-tanya, atau berkata sesuatu, untuk menimpali jawaban yang dia katakan.
Ara dan bundanya, melangkah mengikuti ayahnya dan juga adiknya, Anggi, yang sudah terlebih dahulu sampai di atas.
"Bunda. Ara mau ke toilet dulu ya," pamit Ara, yang tidak bisa menahan diri, untuk pergi ke kamar kecil terlebih dahulu.
"Ya sudah.Kamu berani sendiri kan? apa perlu Bunda antar?" tanya Anjani, memastikan jika Ara berani sendiri ke kamar kecil.
__ADS_1
"Iya Bun, berani kok."
"Nanti langsung naik ya kalau sudah selesai. Terus cari meja nomer 17 ya," kata bundanya lagi, dan membiarkan Ara pergi sendiri ke kamar kecil.