Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tidak Punya Akal


__ADS_3

Ketegangan yang sedang berada di bawah tangga, secara tidak sengaja di ketahui oleh Risma, yang tertatih keluar dari dalam kamar tamu, karena mendengar keributan yang terdengar sampai di dalam kamar. Dia jadi ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga ibu Sofie, yang sudah membantu dan menampungnya, sejak kecelakaan yang dia alami dua hari lalu.


Risma tertegun mendengar cerita ibu Sofie pada suaminya, tentang anak perempuannya, Yasmin. "Yasmin itu yang paling kecil kan? dan yang ada bersama mereka itu, Sekar bukan ya namanya?"


Risma, mencoba mengingat-ingat nama anak-anak ibu Sofie, yang tidak terpaut jauh, sehingga dia tidak begitu paham. Dia hanya paham tentang Abimanyu, anak laki-lakinya ibu Sofie, yang ternyata sudah menikah dan sekarang sudah kembali ke Bogor, ke rumah istrinya.


"Sepertinya, ibu Sofie itu orangnya over protektif jika menyangkut anak-anak. Dia sebisa mungkin mengatur dan menentukan segala sesuatu yang terjadi pada anaknya. Bahkan, Abimanyu yang sudah menikah saja, sepertinya masih dia atur-atur. Kenapa sampai kecolongan dengan Yasmin yang sekarang ini hamil?" Risma berkata dalam hatinya sendiri. Dia berpikir jika, ibu Sofie adalah sosok ibu yang perfek, untuk mengurus keluarga. Tapi, dia juga tidak tahu, apakah itu benar, atau hanya sekedar ambisi untuk bisa menguasai anak-anaknya.


Risma, menghela nafas panjang. Dia pikir, lebih baik dia sesegera mungkin, pergi dari rumah ibu Sofie. Dia tidak ingin, jika suatu hari nanti, ibu Sofie, akan banyak mendekte_nya, apalagi jika ada hubungan yang mungkin saja terjadi. Misalnya, Risma jadi menantu ibu Sofie, alias jadi istri Abimanyu. "Hihihi, kok Aku masih berharap ya pada si Abimanyu itu," guman Risma pelan, kemudian kembali masuk ke dalam kamar.


Di lantai atas, ayah Edi sedang mengendor-ngedor pintu kamar Yasmin. Dia juga mengancam, jika tidak dibuka akan mendobrak pintunya.


"Yasmin. Buka pintunya, cepat! jika tidak Kamu buka, ayah akan mendobraknya. Kamu akan tidur di kamar yang tidak memakai pintu lagi," kata ayah Edi, mengancam putrinya yang sedang frustasi karena masalahnya sendiri.


"Dobrak saja Yah. Ini sudah terlalu lama dia berada di dalam kamar. Ibu sudah berteriak-teriak sedari tadi," ucap ibu Sofie, dengan suara yang bergetar karena merasa khawatir dengan keadaan putrinya, Yasmin.


"Dia tidak mengatakan apa-apa sedari tadi, saat ibu mengetuk dan memintanya keluar dari kamar?" tanya ayah Edi, pada istrinya yang berdiri disampingnya.


"Iya Yah. Dia diam saja, sejak mengatakan jika dia sudah hamil, dan sekarang ini usia kehamilannya sekitar sembilan minggu."

__ADS_1


Ayah Edi, akhirnya memasang kuda-kuda, untuk mendobrak pintu kamar Yasmin. Tapi, sebelum ayah Edi melakukan aksinya, pintu kamar terbuka perlahan-lahan. Tampak Yasmin dengan rambut acak-acakan. Wajahnya juga memerah dan sembab, akibat dari lamanya dia menangis. Menangisi nasibnya sendiri.


"Yasmin!" Ibu Sofie, segera memeluk Yasmin, begitu pintu kamar terbuka dengan sempurna.


Ibu Sofie, kembali menangis sambil memeluk anaknya, Yasmin. Begitu juga dengan Yasmin sendiri. Dia jadi kembali menangis, karena merasakan kesedihan yang dialami oleh anggota keluarga yang lain, akibat dari kelakuannya yang ceroboh.


Beberapa menit kemudian, ibu Sofie melepaskan pelukannya. Yasmin sendiri yang meminta pada ibunya, agar melepaskan dirinya dari pelukan. Dia ingin berbicara dengan ayahnya, tentang masalah kehamilannya itu.


"Yah. Yas_Yadmin minta maaf. I_ini kesalahan Yasmin sendiri, yang buta dengan cinta. Yasmin, mengabaikan nasehat Ayah agar fokus kuliah saja. Bahkan Yasmin malah mengolok-olok Kak Sekar, karena masih jomblo di semester akhir_nya. Yasmin lupa, jika tujuan kuliah adalah belajar. Tapi, dari peristiwa ini Yasmin juga belajar yah. Yasmin belajar jika..." Yasmin terdiam, menjeda kalimatnya dengan bernafas panjang terlebih dahulu.


Ayah Edi, ibu Sofie dan juga Sekar, menatap Yasmin dengan memicing. Mereka menunggu kelanjutan kalimat, yang sengaja di jeda oleh Yasmin, dengan helaan nafas panjangnya.


Ayah Edi, menghela nafas panjang kemudian bertanya pada anaknya, Yasmin. "Kamu tahu, dimana rumahnya! maksud Ayah, rumahnya pacar Kamu, yang brengsek itu!" ucap ayah Edi, dengan kesal. Dia ingin membuat perhitungan dengan pacar anaknya itu.


Sayangnya, Yasmin menggelengkan kepalanya, kemudian menunduk lesu. Dia pasrah dan tidak tahu, dimana keberadaan pacarnya sekarang ini. Handphone pacarnya, juga sudah tidak aktif lagi. Dia bertanya-tanya pada beberapa teman, yang terlihat akrab dengan pacarnya itu, tapi semua mengatakan, "tidak tahu." Yasmin kehilangan jejak pacarnya, sejak dua hari yang lalu. Tepatnya, saat ibu dan ayahnya, serta kakaknya Abimanyu, pergi ke klinik, menjemput Risma yang mengalami kecelakaan.


Malam itu, Yasmin juga sedang frustasi, karena tidak ada kabar sama sekali dari pacarnya.


"Yasmin pasrah Yah. Jika dia tidak ketemu, dan tidak mau bertanggung jawab, Yasmin mau mengugurkan kandungan ini saja," kata Yasmin, sambil memegang perutnya, dengan kesal.

__ADS_1


Sekar, melotot kaget, mendengar perkataan adiknya yang sedang dalam keadaan kacau. Begitu juga dengan ibu Sofie dan ayah Edi. Mereka berdua, menggeleng cepat. Menolak dengan tegas keinginan anaknya itu.


"Kamu gila Yasmin! Itu anak Kamu, meskipun kehadirannya tidak di waktu yang tepat, tapi dia tidak bersalah. Kamu yabg bersalah. Jangan menambah masalah dengan kesalahan lagi!" Sekar memarahi Yasmin. Dia tidak pernah menduga, jika adiknya itu punya pikiran pendek.


"Tapi Yasmin malu Kak! Yasmin juga masih mau kuliah. Apa kata teman-temanku nanti?" sahut Yasmin tidak mau mendengarkan perkataan Sekar.


"Ayah. Ibu. Jangan biarkan Yasmin melakukan rencananya itu. Itu berdosa! Dosa satu belum terampuni, malah nambah dosa lagi, apa sih maunya?" ujar Sekar kesal. Dia marah pada adiknya yang egois dan tidak memikirkan permalasahan ke depan nanti.


Ayah Edi semakin marah, mendengar perdebatan kedua anaknya itu. Terutama pada Yasmin yang tidak punya akal sehat saat ini.


"Sekar, kembali ke kamarmu. Ayah akan menasehati Yasmin. Jika dia tidak bisa di nasehati, Ayah akan hajar dia sendiri. Biar Ayah di penjara nantinya, Ayah tidak akan menyesal asalkan akal sehat adikmu itu bisa kembali lagi."


Sekar sebenarnya keberatan dengan permintaan ayahnya. Dia masih ingin memarahi adiknya yang sedang tidak waras. Tapi, dia tidak ingin menambah beban pikiran dan kekesalan ayahnya saat ini. Akhirnya, Sekar berbalik dan berjalan menuju ke kamarnya sendiri, dengan perasan yang tidak karuan.


Ibu Sofie, masih menangis tersedu-sedu. Dia tidak tahu mau berkata apa. Dia tidak mungkin membela Yasmin, meskipun dia merasa kasihan pada anaknya itu. Tapi, perkataan suami dan anaknya, Sekar, ada benarnya. Dia tidak mungkin membantah perkataan mereka berdua. Apalagi jika mau mendebatnya juga, dia pasti akan ikut disalahkan juga, untuk kesalahan Yasmin yang satu ini.


"Ibu tidak kasih kabar kehamilan Yasmin ke Abi kan?" tanya ayah Edi, pada istrinya yang masih menangis.


"Ibu tidak usah memberikan kabar ini dulu pada Abi. Dia baru saja pulang dari sini, dan dia pastinya baru sampai rumah sore tadi. Dia capek, dan lelah. Jangan menambah beban pikiran anak laki-laki_mu yang sudah punya keluarga sendiri," kata ayah Edi lagi, menasehati istrinya.

__ADS_1


Ibu Sofie, menatap suaminya itu dengan sendu, seakan-akan meminta maaf, karena telah mendahului suaminya itu, dengan tidak meminta ijin, dan tidak bercerita tentang keadaan Yasmin padanya, tapi justru memberikan kabar itu kepada Abimanyu, yang baru saja pulang ke Bogor, terlebih dahulu.


__ADS_2