
Yasmin, sudah selesai di tangani oleh dokter. Sekarang, dia berada di kursi roda dan di dorong perawat menuju ke kamar pasien. Anjani dan bibi pembantu, berjalan mengikuti dari belakang.
Anjani, tidak sempat bertanya pada dokter, yang tadi menangani Yasmin, karena dokter tersebut segera pergi ke ruang operasi. Di sana sudah ada pasien lain yang menunggunya, untuk menjalani operasi Caesar.
Wajah Yasmin yang masih terlihat pucat, membuat Anjani merasa khawatir. Dia bertanya pada perawat yang mendorong kursi roda Yasmin. "Sus, bagaimana keadaan adik Saya ini? Kenapa wajahnya masih terlihat pucat begitu?"
"Dia baik-baik saja. Bayi yang dia kadung juga kuat, jadi masih bisa bertahan. Tadi, dokter sudah memberikan suntikan penguat kandungan," jawab suster, yang masih terus mendorong kursi roda Yasmin.
"Kenapa Mbak? Kamu berharap Aku keguguran atau Aku meninggal gitu?" tanya Yasmin cepat dengan nada ketus.
Padahal dalam hati, justru dia sendiri yang berharap jika anak yang sedang dia kandung akan keguguran. Dengan demikian, dia akan terbebas dari segala bentuk masalah yang timbul dari kehamilannya ini.
"Bukan begitu Yasmin. Mbak berharap Kamu tidak kenapa-kenapa, begitu juga dengan kandungan Kamu," kata Anjani, mengatakan maksud dari pertanyaannya yang tadi.
Sekarang, mereka sudah masuk ke dalam kamar pasien. Perawat membantu Yasmin berbaring di ranjang pasien dan memposisikan cairan infus agar bisa mengalir dengan lancar.
Setelah semua selesai dan tidak ada keluhan dari Yasmin, perawat minta undur diri, untuk kembali ke tempat tugasnya yang tadi.
"Terima kasih Sus," ucap Anjani, sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Bibi pembantu mengambilkan kursi yang berada tidak jauh dari pintu masuk, untuk Anjani duduk.
"Ini Non, duduk dulu. Sedari tadi Non Jani berdiri saat menunggu di IGD. Pasti capek."
"Terima kasih Bi. Tolong Bibi beli minuman ya, buat persediaan. Bibi juga pasti haus kan?" Anjani, menyerahkan sejumlah uang pada bibi pembantu, untuk membeli minuman.
"Baik Non," jawab bibi pembantu, kemudian menerima uang pemberian Anjani. Dia segera beranjak dari tempatnya, dan pamit untuk keluar terlebih dahulu.
"Mbak Jani kalau capek pulang saja. Aku bisa kok sendiri di sini. Biar bibi pembantu saja yang menunggu," kata Yasmin, setelah bibi pembantu pergi keluar.
"Tidak apa-apa Yasmin. Mbak tidak capek kok. Sebentar lagi mas Abi dan ayah Edi juga datang. Tadi Mbak sudah memberi kabar pada mereka."
Anjani mengatakan jika suaminya dan ayah mertuanya akan segera sampai di rumah sakit ini. Apalagi, tadi Abimanyu juga mengatakan jika dia sedang berada di jalan. Pastinya, mereka berdua akan segera datang.
__ADS_1
"Ibu tidak Mbak Jani kabari?" tanya Yasmin cepat. Dia ingin ibunya yang akan datang lebih dulu, dibandingkan dengan ayah dan kakaknya, Abimanyu.
"Tadi Mbak panik Yasmin, jadi ingatan Mbak cuma mas Abi. Paling mas Abi sudah kasih kabar ibu juga."
Jawaban dari Anjani, justru membuat Yasmin merasa kesal dan uring-uringan. Dia marah, karena Anjani tidak mengingat ibunya, ibu mertua Anjani.
"Mbak cuma ingat mas Abi, dan melupakan ibu? terlalu sekali! Mbak tidak menganggap kami ya, hanya mas Abi saja?" Yasmin, sepertinya salah paham dengan perkataan Anjani.
Dia membuat kesimpulan, bahwa Anjani hanya butuh Abimanyu saja, dan mengabaikan keluarga Abimanyu yang lain.
Anjani menggeleng cepat, mendengar perkataan Yasmin, yang menuduhnya sebagai seorang istri yang tidak peduli terhadap keluarga suaminya. Anjani merasa sedikit pun, tidak pernah memiliki perasaan seperti yang dituduhkan Yasmin padanya.
"Bukan. Bukan begitu juga maksud Mbak. Kamu salah paham Yasmin." Anjani, mencoba untuk menjelaskan pada Yasmin, apa yang dia maksudkan tadi.
Tapi, sepertinya hati dan pikiran Yasmin yang sedang kalut, sudah tidak bisa mendengar penjelasan Anjani. Dia sudah dibutakan oleh perasaan benci yang dia simpan selama ini.
"Yasmin. Kamu tidak apa-apa?"
"Yasmin. Kamu baik-baik saja kan?"
Yasmin, jadi menangis karena ingin diperhatikan oleh ayah dan juga kakaknya, Abimanyu. Dia memanfaatkan keadaan yang sedang dia alami ini untuk melemahkan hati ayahnya, yang kemarin marah karena berita kehamilannya ini.
"Sakit Yah, Mas Abi. Huhuhu..."
Yasmin benar-benar, menangis. Membuat ayah Edi dan Abimanyu merasa kasihan dengan keadaannya yang sekarang ini.
Setelah saling berbincang tentang keadaan Yasmin, ayah Edi meminta pada Abimanyu, untuk membelikan buah dan makanan kesukaan Yasmin.
Abimanyu, mengangguk mengiyakan permintaan ayahnya itu. Dia mengajak Anjani, agar ikut dengannya juga.
"Eh, Bibi tadi beli air belum kembali Mas. Mungkin masih ada di depan, atau di mini market terdekat," kata Anjani, saat ingat jika bibi pembantu belum kembali juga.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Siapa tahu, nanti ketemu juga saat jalan."
__ADS_1
Akhirnya, Anjani mengikuti ajakan suaminya itu. Tapi, sebelum mereka berdua keluar dari kamar pasien Yasmin bersuara, meminta pada Abimanyu agar membelikan juga beberapa makanan yang lain.
"Jangan cuma satu ya Mas." Yasmin, kembali memperingatkan kakaknya, Abimanyu.
"Yasmin. Kamu ini mikirnya makanan terus. Anak Kamu bisa-bisa tidak sehat, kalau Kami makan camilan tidak sehat seperti itu terus!"
Ayah Edi, berusaha untuk menasihati anaknya, agar tidak memanjakan lidahnya saja, tapi juga memikirkan kesehatan dari makanan tersebut.
"Ayah. Mas Abi saja, yang beli tidak protes. Ayah protes terus kerjanya." Yasmi berkata dengan cemberut.
Abimanyu dan Anjani, melanjutkan langkah kaki mereka, untuk pergi keluar, mencari makanan dan buah pesanan ayah Edi dan juga Yasmin.
Beberapa menit kemudian, ibu Sofie masuk ke dalam kamar pasien Yasmin. Dia langsung memeluk anaknya, Yasmin sambil menangis, membayangkan bagaimana rasanya menjadi Yasmin saat ini.
Ibu Sofie bertanya, tentang keadaan Yasmin dan juga kandungannya. Dia sangat khawatir dengan keadaan Yasmin.
Tapi sepertinya Yasmin tidak peduli dengan kandungannya sendiri. Dia mengatakan pada ibunya, jika dia menyesalkan kejadian tadi. kenapa tidak keguguran saja, jadi dia akan terbebas dari semua hukuman ayahnya, kemudian bisa beraktivitas seperti biasanya juga.
Dia juga mengatakan pada ibunya, jika Anjani saat ini juga sedang hamil. Dan usia kehamilannya itu di bawah dirinya sendiri.
"Apa? Dia hamil, yang benar?" tanya ibu Sofie tidak percaya, dengan apa yang dia dengar dari Yasmin.
Ayah Edi, yang mendengar pembicaraan mereka berdua, hanya menggeleng, kemudian berkata pada istrinya itu, "Anjani memang sedang hamil. Usianya mungkin baru satu bulanan. Jika diberikan sehat dan selamat, dia akan melahirkan setelah Yasmin melahirkan nanti. Mungkin berbeda satu atau dua bulanan saja."
Perkataan ayah Edi, membuat ibu Sofie mengerutkan keningnya memikirkan perbedaan waktu lahiran antara Yasmin dengan Anjani, menantunya.
Dia jadi berpikir, jika Anjani bisa juga punya anak. Selama ini, dia selalu berpikir jika Anjani itu tidak mungkin bisa memiliki anak. Dan sekarang saat mendengar Anjani hamil, ibu Sofie tidak tahu kenapa hatinya terasa hambar. Dia tidak merasa senang, tapi juga tidak merasa kecewa. Dia tidak tahu, perasan apa yang sebenarnya dia rasakan saat ini.
"Kenapa Aku tidak merasa senang? tapi kenapa juga tidak merasa sedih? apa aku sudah tidak punya perasaan lagi?"
Ibu Sofie, terus menerus berdialog dengan dirinya sendiri. Dia bingung dengan perasaannya sekarang. Dia juga bingung, karena permasalahan Yasmin yang belum juga mendapatkan solusi, jadi bekum selesai. Dan sekarang, dia juga harus mendapati bahwa menantunya itu, Anjani, adalah istri yang sempurna. Nyatanya, Anjani bisa hamil juga. Tidak sama seperti yang ada di dalam pikirannya selama ini, jika Anjani itu mandul.
Tapi, ibu Sofie juga tidak merasa bersimpati pada Anjani, yang sekarang ini sudah mengandung cucunya. Anaknya Abimanyu.
__ADS_1
"Hemmm..."
Ibu Sofie, menghela nafas panjang. Dia belum bisa memutuskan untuk perasaannya sendiri sekarang. Tapi yang pasti, dia tetap tidak menyukai anak menantunya itu.