Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kecurigaan Ibu Sofie


__ADS_3

Pertemuan Nanda dengan papanya, Wawan, yang penuh dengan keharuan ternyata membawa dampak tersendiri bagi diri Nanda sendiri.


Nanda jadi teringat dengan kejadian waktu kecilnya, disaat dia sedang sakit dan berada di rumah kontrakannya. Meskipun samar, tapi dia segera menjauhkan diri dari pelukan papanya. Dia memberontak minta dilepaskan oleh Wawan.


"Papa orang jahat kan? Papa tidak pulang-pulang dan tidak kasih uang mama. Nanda sakit, mama nangis terus. Papa jahat!" Nanda memberontak minta dilepaskan dari pelukan Wawan, kemudian berlari meminta perlindungan kepada Anjani. Dia merangkul leher Anjani, minta dipangku, supaya tidak dipeluk lagi oleh papanya.


Ayah Edi dan Anjani tentu merasa kaget, saat Nanda mengatakan semua itu. Mereka berdua tidak menyangka, jika peristiwa itu sangat membekas dalam ingatan anak sekecil Nanda. Saat itu, Nanda berumur sekitar tiga tahunan.


"Bukan Sayang. Papa tidak jahat. Papa harus kerja jauh waktu itu. Dan saat Papa pulang, Nanda dan Mama tidak ada di rumah."


Wawan mencoba mengelak dari apa yang dikatakan oleh anaknya sendiri. Dia berbohong, untuk mendapatkan simpati dari anaknya, Nanda.


Tapi, ternyata Nanda tetap menggelengkan kepalanya. Menolak pembelaan yang sedang diusahakan oleh papanya itu. Dia tetap merangkul leher Anjani, dan menyembunyikan wajahnya di dada 'Bundanya' itu.


"Bunda, Nanda takut. Nanda tidak mau pulang dengan papa. Huhuhu..."


Nanda menangis dengan memeluk Anjani. Dia tidak mau menatap ke arah papanya, yang masih ingin mengatakan sesuatu padanya.


"Sudah Wan. Sepertinya, Nanda belum bisa menerima kehadiranmu untuk saat ini."


Ayah Edi, mencoba untuk mencegah kemauan Wawan, yang masih menginginkan untuk 'diakui' oleh anaknya sendiri, yaitu Nanda.


"Tapi Yah, Aku papanya, dan dia, bagaimanapun keadaannya, dia tetap anakku!"


Wawan sedikit kesal, karena gagal menyakinkan Nanda, bahwa dia tidak sejahat yang dipikirkan olehnya.

__ADS_1


Anjani mengelus-elus rambut Nanda. Dia mencoba untuk menenangkan hati keponakannya itu, yang dalam keadaan ketakutan dengan kehadiran papanya sendiri.


"Nanda. Nanda tidak mau ikut papa? Kan papa cuma mau peluk saja, bukan mau ngajak Nanda pulang Sayang," kata Anjani, menjelaskan pada Nanda, dengan kedatangan papanya itu saat ini.


"Benar Bunda? papa tidak mau ajak Nanda pulang? pokoknya Nanda tidak mau pulang sama papa! huhuhu..."


Nanda kembali menangis, meskipun dia sudah diberi penjelasan sama bundanya itu, Anjani. Dia tetap tidak mau diajak oleh papanya, Wawan.


"Ya sudah Mbak Jani, tidak apa-apa. Mungkin butuh sedikit waktu lagi, agar Nanda bisa menerima kehadiranku dalam hidupnya."


Akhirnya, Wawan mengalah. Dia berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, karena tadi, dia datang ke rumah Anjani, dengan membonceng ayah Edi.


"Wawan pulang dulu Mbak, Yah. Nanti, kalau ada waktu dan uang, Saya akan kembali datang untuk menjenguknya," kata Wawan berpamitan.


Dia berdiri dari tempat duduknya, dan bersalaman dengan ayah Edi dan Anjani, kemudian mengelus-elus, rambut anaknya, Nanda, yang masih dalam keadaan memeluk Anjani.


Setelah itu, Wawan benar-benar pergi dari rumah Anjani. Tapi tidak ada yang tahu, jika di sudut bibir Wawan, ada senyuman yang tidak bisa diartikan oleh siapapun yang melihatnya saat keluar dari rumah Anjani.


"Nanda, papa sudah tidak ada Sayang. Papa sudah pulang," kata Anjani, memberitahu Nanda, yang tetap memeluknya dengan wajah yang disembunyikan.


"Maaf Jani. Ayah kita Nanda juga kangen dengan papanya. Jadi sewaktu dia datang ke rumah dan mengatakan ingin melihatnya, ayah ajak dia ke sini. Lagi pula, mereka berdua sudah lama tidak bertemu. Bagaimana pun juga, mereka tetap ada ikatan darah yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Hubungan antara papa dan anak, yang akan selalu ada."


Ayah Edi, mengatakan pemikiran yang ada dibenaknya pada Anjani. Dia menjelaskan pada menantunya, jika dia tidak mau jika ada kesalahpahaman antara Nanda pada suatu hari nanti, jika tahu, pada saat papanya ingin bertemu, tapi dilarang olehnya.


"Kalau begini, kita kan jadi tahu, bagaimana respon Nanda, dengan kedatangan papanya. Kita tidak bisa memaksa Nanda untuk menerima Wawan juga, karena apa yang dulu terjadi, memang hal yang di alami sendiri oleh Nanda pada saat itu."

__ADS_1


Anjani mengangguk mengiyakan perkataan ayahnya. Dia memahami jika akan sulit bagi Nanda, untuk menerima kenyataan bahwa papanya itu adalah orang jahat, yang tega menelantarkan istri dan anaknya sendiri.


"Ya sudah, ayah pamit pulang dulu. Nitip Nanda ya," kata ayah Edi berpamitan.


"Iya Yah, hati-hati," jawab Anjani, dengan mengendong Nanda, untuk diajak berdiri, karena mau mengantar ayah Edi sampai di luar rumah.


*****


Di rumah, ayah Edi bercerita tentang pertemuan Nanda dengan papanya, Wawan, pada istrinya, ibu Sofie. Dia menceritakan, bagaimana Nanda menolak pelukan Wawan, dan juga tidak mau memandang ke arah papanya.


"Ibu kan sudah larang Ayah tadi, tidak usah dituruti kemauan Wawan itu. Ibu takut, jika dia sudah tahu dimana Nanda, malah bikin ulah nantinya," sahut ibu Sofie, di saat ayah Edi selesai bercerita tentang kejadian yang ada di rumah Anjani.


Tapi Bu, dia tetap papanya Nanda lho. Tapi, untungnya Nanda tidak mau. Coba kalau mau, dan Wawan bilang kalau mau ajak dia, pastinya Nanda juga tidak menolak. Itu malah akan lebih susah lagi buat kita."


Ibu Sofie membenarkan perkataan suaminya itu. Dia tahu, jika ayah Edi memiliki pemikiran yang matang dan tidak sama seperti dirinya, yang lebih mengedepankan perasan yang ada di dalam hatinya.


"Yah, minggu depan Yasmin pulang. Aku takut Yah, kalau sampai Wawan tahu jika Yasmin pulang, dan kembali mendekatinya lagi. Kamu kan tahu sendiri, bagaimana mulutnya Wawan yang mudah merayu orang."


Ibu Sofie mengingatkan pada ayah Edi, dengan kepulangan Yasmin, yang sudah ditentukan akan datang minggu depan.


"Semoga saja, Yasmin tetap pada kesadarannya, bahwa Wawan itu tetap sama dan tidak bisa berubah. Lagi pula, Wawan juga sudah memiliki keluarga baru, yang sudah membantunya untuk keluar dari penjara."


Tapi ibu Sofie tetap menggeleng, setelah mendengar perkataan suaminya itu. Dia tetap tidak mau, jika Yasmin akan jatuh ke tangan Wawan lagi, untuk kedua kalinya.


"Sudah Bu. Tidak usah terlalu dipikirkan. Nanti Ibu bisa stress dan malah jatuh sakit. Yang penting Ibu bisa memberi nasehat pada Yasmin nanti, saat dia pulang," kata ayah Edi lagi, mengingatkan pada istrinya itu, untuk tidak lagi memikirkan mantan menantunya, Wawan

__ADS_1


Ibu Sofie memang terdiam. Tapi, jauh di lubuk hatinya, ada yang masih mengganjal dan tidak tahu, bagaimana dia bisa menjabarkan semuanya, menjelaskan pada suaminya itu, dengan kecurigaan yang dia rasakan pada mantan menantunya, Wawan.


"Semoga, kecurigaan yang Aku rasakan ini salah. Mana ada orang tua yang tega membuat anaknya menderita? tapi sepertinya itu tidak berlaku untuk Wawan. Lalu apa yang harus Aku lakukan sekarang, untuk melindungi Nanda darinya?" tanya ibu Sofie, pada dirinya sendiri.


__ADS_2