
"Lho kenapa tidak mau?" tanya Anjani, dengan mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari anaknya, Anggi.
"Miko nakal Bunda. Nanti dia nakal sama Anggi!" sahut Anggi cepat, dengan memajukan bibirnya.
"Nanti juga gak nakal. Kan di sekolah juga beda ruang kelasnya Sayang," kata Anjani menjelaskan.
Tapi Anggi tetap mengeleng tidak mau. "Pokoknya Anggi gak mau sama Miko!" kata Anggi dengan wajah cemberut.
"Katanya tadi yang penting ada temannya? kan Miko bisa bantu Anggi, jika ada teman lain yang nakal," ujar Anjani mencoba memberikan pandangan para anaknya, yang sedikit banyak suka protes, dibanding dengan Ara waktu masih kecil dulu.
"Tapi kalau Miko yang nakal bagaimana?" Anggi balik bertanya pada bundanya. Dia tidak ingin ada yang nakal, tapi dia juga ingin ada teman yang sudah dia kenal.
"Tapi..."
"Bunda!"
Anggi tidak jadi meneruskan kata-katanya, karena terpotong dengan panggilan kakaknya, Ara, yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Ternyata tanpa mereka sadari, sudah sampai di depan sekolah Ara.
"Lho, kok sudah ada di luar, kan kurang lima menit Sayang, waktu pulangnya?" tanya Anjani heran, dengan melihat jam di layar handphonenya.
"Tuh, baru jam segini. Masih lima menit lagi pulangnya." Anjani menunjukkan layar handphone tersebut pada Ara. Memastikan jika apa yang dia pikirkan memang benar.
"Iya Bunda. Harusnya masih lima menit lagi. Tapi lihat saja tuh!"
Ara menunjuk pada anak-anak lain, yang sedang bermain-main dan berbincang-bincang dengan teman lainnya, sambil menunggu jemputan mereka.
Kebanyakan dari mereka adalah siswa siswi yang tidak biasa pulang sendiri, dan selalu dijemput oleh orang tua ataupun mereka. Sama seperti Ara belakangan ini. Tidak diperbolehkan untuk pulang sendiri, dengan alasan tertentu.
Tapi karena ada penjaga sekolah dan juga security yang berjaga, anak-anak tidak diperbolehkan untuk pulang terlebih dahulu, jika belum ada yang menjemputnya. Kecuali mereka yang memang terbiasa untuk pulang sendiri. Sama seperti Ara dulu, juga selalu pulang sekolah sendiri, tanpa harus dijemput oleh bundanya.
"Ada acara apa, kok pulang lebih awal?" tanya Anjani ingin tahu.
"Ada acara di dinas pendidikan kalau gak salah tadi Bun, waktu ada pengumuman. Bunda sih, gak ikut di grup sekolah atau kelas, jadi gak tau kan kalau ada informasi." Ara menjelaskan pada bundanya, kenapa dipulangkan lebih awal dari biasanya.
__ADS_1
"Hehehe..., iya maaf Sayang. Kan bentar lagi Ara juga sudah tidak di sekolah ini. Ara akan lulus dan pindah ke sekolah, yang kemarin itu kan? Nanti Ara pakai ojek langganan saja ya, untuk pulang pergi ke sekolah. Biar cepat dan juga aman."
Anjani menjelaskan pada Ara, untuk rencana kedepannya nanti, saat Ara ada di sekolah yang baru.
"Nanti biar Ayah carikan tukang ojek yang biasa ada di depan komplek. Mereka ada yang mau tidak antar jemput Ara setiap harinya." Anjani melanjutkan penjelasannya yang tadi.
Sekarang, mereka bertiga berjalan bersama menuju ke arah rumah.
Ara hanya mengangguk mengiyakan penjelasan dari bundanya. Dia juga tahu jika bundanya itu, tidak bisa naik motor ataupun menyetir mobil sendiri.
"Bunda kenapa tidak belajar naik motor? kan nantinya busa antar jemput Ara. Bisa pergi-pergi sendiri juga," tanya Ara, yang juga mengusulkan bundanya itu, supaya belajar naik motor sendiri.
Anjani tidak langsung menjawab pertanyaan dari anaknya, Ara. Dia justru menghela nafas panjang, kemudian membuangnya cepat.
"Hahhh! bunda bukannya tidak mau belajar Sayang. Tapi ada sesuatu yang terjadi pada Bunda waktu dulu. Dulu... sekali, yang membuat Bunda tidak berani untuk bisa naik motor sendiri di depan setelah itu. Bunda masih merasa ketakutan, dan tidak lagi bisa naik motor sendiri saat ini."
Ara mengerutkan keningnya memikirkan jawaban dari bundanya. Dia tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada bundanya, sama seperti yang tadi dia ceritakan. Ara juga tidak bertanya apa-apa lagi.
"Mbak-mbak. Mbak Jani!"
Tentu saja, ini membuat Anjani dan juga kedua anaknya menoleh ke arah sumber suara, yang memangil nama bunda mereka.
"Wa_wawan!"
Anjani menyebut satu nama, yang akhir-akhir ini dihindari olehnya, dan semua anggota keluarga suaminya, Abimanyu.
"Bunda. Itu, itu dia gelandangan yang malak Ara sama teman-teman." Ara mengadu kepada Anjani, jika gelandangan yang memalak saat ini ada di depan mereka bertiga.
"A_anggi takut," ucap Anggi bergetar.
Anjani meminta pada anak-anaknya untuk tenang dan diam. "Sayang, kalian diam dan tenang ya."
Setelah dekat, Wawan tersenyum dan mengangguk dengan sopan pada Anjani. Dia juga melihat kedua anaknya Anjani, yang masing-masing di gandeng olehnya, pada sisi kanan dan kiri. Jadi, sekarang Ara dan Anggi, memegang satu tangan bundanya, pada posisi mereka yang mengapit bundanya.
"Maaf. Maaf Mbak Jani!"
__ADS_1
Wawan meminta maaf pada Anjani, dengan nafas memburu. Tadi dia berlari kecil menuju ke tempat berdirinya Anjani, bersama kedua anaknya.
"Ada apa?" tanya Anjani, berusaha untuk setenang mungkin.
Meskipun sebenarnya, tidak tenang juga di dalam hatinya Anjani.
"Aku. Aku mau tanya no telponnya Yasmin Mbak. Aku ingin berbicara dengan Nanda. Aku kangen Mbak," kata Wawan memelas.
Ara terlihat bingung karena gelandangan yang sudah sedikit berbeda penampilannya ini mengenal bundanya, dan yang lebih membingungkan Ara, gelandangan itu mengenal Nanda, sepupunya yang saat ini ada di Taiwan.
"Buat apa?" tanya Anjani, tanpa bermaksud untuk memberikan satu buah no telpon pada Wawan.
"Aku kangen Mbak. Aku hanya ingin berbicara dengan Nanda," jawab Wawan lagi. Dia mengatakan hal yang sama seperti tadi.
"Wan. Biarkan mereka berbahagia dengan kehidupan mereka saat ini. Jangan Kamu berusaha untuk merusaknya lagi. Jika Kamu sayang dengan Nanda, biarkan juga dia bersama mamanya. Yang penting, dia bisa hidup dengan baik dan mendapatkan pendidikan yang baik juga. Apa Kamu tega, merusak kehidupan Nanda dan masa depannya nanti?"
Anjani mencoba untuk menyadarkan Wawan. Dia tidak mau, jika Wawan nekad lagi, jika menginginkan sesuatu, sama seperti waktu dulu.
"Wawan hanya ingin berbicara dengan Nanda. Apa itu salah?" tanya Wawan, mulai dengan nada tinggi.
Ara dan Anggi, memeluk bundanya. Mereka berdua takut, jika orang itu akan melukai bundanya. Apalagi, Ara melihat jika gelandangan tersebut tampak menahan amarah.
Dengan mengedarkan pandangannya, Ara mencoba untuk mencari bantuan. Dia harus berjaga-jaga, supaya tidak terjadi sesuatu pada bundanya, dan juga dirinya sendiri bersama dengan adiknya. Dia tidak mau, jika gelandangan tadi nekad melakukan hal yang buruk.
Tapi Anjani masih berusaha untuk bisa setengah mungkin. Meskipun dalam hatinya, Anjani berdoa semoga ada orang yang lewat dan membanting, untuk bisa segera pergi dari hadapannya Wawan.
"Bunda. orang itu adalah gelandangan yang malak Ara sama teman-teman kemarin," bisik Ara sambil tetap memeluk satu tangan bundanya.
Sekarang, Anjani paham dengan situasi yang mereka hadapi saat ini.
"Kamu kerja apa sekarang, dan tinggal di mana?" tanya Anjani, mencoba untuk mengalihkan perhatian Wawan.
Wawan menjawab jika dia mengontrak rumah dan kerja sebagai kuli di pasar. "Aku tinggal di rumah petakan yang ada di dekat pasar sana."
Tapi Anjani tidak percaya begitu saja dengan jawaban yang diberikan Wawan. Apalagi, kulit tubuh Wawan yang sepertinya jarang terkena air mandi. Patas saja, dia terlihat seperti seorang gelandangan yang menakutkan semua orang.
__ADS_1