
Akhirnya, Dika pergi juga dari rumahnya, atas permintaan dari mamanya sendiri.
Beberapa menit kemudian, datang beberapa orang berpakaian biasa, tapi ada juga yang berpakaian seragam polisi, datang ke rumah Dika.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, orang yang memakai pakaian biasa, meminta pada bibi pembantu rumah, untuk memanggil tuan rumahnya. Yaitu mamanya Dika.
Tapi, sebelum bibi pembantu rumah pergi, mamanya Dika mungil dari arah belakang. Dia sangat kooperatif.
Mamanya Dika berpikir bahwa, dia tidak mungkin bisa melarikan diri juga, karena suaminya, sudah ditahan saat berada di kantor.
Dan pada saat suaminya di tahan, dia sedang berjalan menuju ke arah parkir mobilnya, untuk pulang dan memberikan kabar pada Dika.
"Saya di sini Pak," kata mamanya Dika, dengan tersenyum ramah.
"Selamat sore Bu. Maaf, kami datang dengan membawa surat penahanan terhadap Ibu," ucap polisi yang berpakaian seperti orang biasa.
"Tapi, apa Saya bisa meminta waktu untuk sementara ini? Saya ingin mengurus semua urusan rumah. Termasuk bibi pembantu dan tukang kebun."
"Tidak ada waktu Bu," jawab polisi tadi.
"Tapi, mereka akan terlantar dan bagaimana dengan gaji mereka nantinya?" tanya mamanya Dika lagi, yang sebenarnya ingin mengundur waktu, agar dia tidak di tahan.
"Nanti akan ada yang mengurus mereka. Ibu tidak perlu khawatir."
"Saya yang akan mengurus."
Dari arah belakang, muncul seseorang, yang berjalan dengan berwibawa.
Sepertinya, dia seorang pengacara atau pihak yang diminta oleh PT SAMUDERA GROUP, untuk mengurus segala sesuatu, terkait penyitaan terhadap rumah beserta isinya, dari pemilik perusahaan PT ANTARA GROUPS tersebut.
"Tapi, Saya ingin menghubungi pihak pengacara Saya juga," sanggah mamanya Dika, lagi. Dia tidak mau menyerah begitu saja.
"Pengacara Anda, sudah ada di kantor polisi, bersama dengan suami Anda," ucap pengacara, yang baru saja datang.
Sekarang, mamanya Dika tidak ada lagi alasan untuk penanguhan yang dia inginkan. Dia tidak ada alasan untuk bisa bertahan.
"Baiklah."
Akhirnya, dia menyerahkan diri juga. Dia berpikir bahwa, tidak ada gunanya juga melawan.
Semua bukti, sudah ada. Orang yang membantunya, manager PT SAMUDERA GROUP, juga sudah di tahan bersama dengan suaminya.
__ADS_1
Jadi, dia tidak mungkin bisa mengelak lagi.
Polisi akhirnya mengiring mamanya Dika, untuk masuk ke dalam mobil polisi.
Untungnya, mereka datang tidak dengan mobil bak terbuka, sehingga tidak menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar perumahan tersebut.
Bibi pembantu rumah, yang ikut menyaksikan kejadian ini, merasa ketakutan. Dia cemas dengan nasib keluarga majikannya, dan juga dirinya sendiri.
"Pak. Bagaimana nasib Saya? Tidak akan di penjara kan?" tanya bibi pembantu rumah, pada pengacara tadi.
Bibi pembantu rumah, sudah terlihat pucat pasi. Dia gemetaran karena rasa takutnya.
"Tenang Bi. Bibi tidak ada sangkut pautnya dengan masalah majikan Bibi. Yang penting, Bibi tidak ikut menerima uang hasil korupsi mereka."
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh pengacara tersebut, bibi pembantu rumah merasa lega.
Tapi, sepertinya dia belum juga sepenuhnya merasa lega. Karena tak lama kemudian, dia bertanya lagi. "Tapi, uang gaji Saya dari mereka Pak. Itu bukan termasuk uang korupsi kan?"
"Hehehe... tidak. Tapi, jika Bibi mengetahui sesuatu yang mereka sembunyikan, atau apalah itu, Bibi bisa kami mintain keterangan juga di kantor polisi nanti."
Pengacara tersebut, memberikan penjelasan lagi kepada bibi pembantu rumah.
Tapi dengan cepat, bibi pembantu rumah mengeleng. Menghindarkan diri dari apa yang tadi dikatakan oleh pihak pengacara.
Pengacara tersebut tersenyum. Dia juga memberikan beberapa pengarahan, agar tetap tenang berada di rumah ini, dan menjaga segala sesuatunya biar tidak ada yang hilang.
Sekarang, tukang kebun juga dipanggil. Mereka berdua, diberikan penjelasan dan pengarahan agar tetap pergi ke mana-mana.
"Gaji Kalian berdua, akan Saya atur. Jadi, jangan khawatir, meskipun majikan Kalian berdua, sudah tidak bisa mengaji Kalian lagi."
Bibi pembantu rumah dan tukang kebun, merasa lega, mendengar perkataan yang diucapkan oleh pengacara tersebut.
*****
Kemarin, di saat Abimanyu pulang ke Indonesia, Elang mengajaknya untuk berunding, untuk menyelesaikan permasalahannya di kantor.
Elang juga meminta pada Abimanyu, agar masalah ini tidak perlu sampai terdengar oleh mama Amel dan juga papa Ryan.
Abimanyu mengerti, apa yang di maksud oleh Elang. Dia juga memberikan beberapa masukan, agar masalah di PT SAMUDERA GROUP, cepat terselesaikan.
Dan setelah itu, Elang dengan cepat meminta pada pihak pengacara perusahaan, untuk membuat laporan dan tuntutan terhadap PT ANTARA GROUPS dan juga orang-orang, yang ikut terlibat dalam permasalahan ini.
__ADS_1
Itulah sebabnya, satu hari kemudian, mama dan papanya Dika, sudah bisa di tahan. Bersama dengan manager PT SAMUDERA GROUP juga.
Elang bisa tenang, sebelum acara pertunangan anaknya dilaksanakan besoknya.
"Semoga saja, masalah ini segera selesai dan tidak ada kasus yang sama untuk kedepannya lagi. Terima kasih Abi. Kamu sudah membantu Aku menyelesaikan semua masalah ini."
Elang mengucapkan terima kasih, kepada calon besannya. Karena, Abimanyu banyak memberikan beberapa nasehat dan rencana untuk menyelesaikan masalahnya itu.
"Saya tidak melakukan apa-apa Mas Elang. Ini semua atas kerja keras Mas Elang sendiri, bersama dengan orang-orang yang ada di sekitar Mas Elang."
Elang memeluk Abimanyu, sebagai tanda terima kasih atas bantuannya.
Sekarang, mereka berdua membahas tentang perusahaan yang ada di Amerika, yang saat ini dipegang oleh Abimanyu.
"Saya akan menyerahkan perusahaan di Amerika sana pada Awan, saat dia sudah selesai dengan pendidikannya."
Elang mengeleng, kemudian berkata, "jangan dulu Abi. Kamu harus bisa memastikan, apakah dia benar-benar sudah siap atau belum, untuk diserahi tugas yang tidak ringan di sana."
Abimanyu tersenyum, mendengar perkataan Elang. Selama ini, Elang memang tidak tahu jika, Awan sudah ikut magang di perusahaan.
Awan belajar dari calon mertuanya sendiri, bagaimana mengurus dan memimpin perusahaan.
"Saya pastikan, jika Awan sudah siap dengan tangung jawabnya di perusahaan cabang Amerika, jika dia lulus. Bahkan, jika sekarang ini dia minta pun, dia pasti sudah siap."
Elang melihat Abimanyu dengan heran. Dia tidak mengerti, apa yang dikatakan oleh Abimanyu tadi.
"Dia tidak tahu apa-apa tentang perubahan Abi," ujar Elang, yang tidak percaya begitu saja, dengan apa yang dikatakan oleh Abimanyu padanya.
"Mas. Selama beberapa bulan terakhir ini, Awan ikut magang di perusahaan. Jadi, dia sudah belajar banyak juga. Sepertinya, dia mewarisi bakat dan kemampuan keluarga Samudra, dalam mengelola perusahaan dengan baik."
Elang tentunya kaget, saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh Abimanyu soal anaknya, Awan.
"Benarkah?" tanya Elang memastikan.
Abimanyu menggangguk pasti.
Kini, Elang kembali memeluk Abimanyu, sebagai ungkapan rasa terima kasihnya, atas apa yang dilakukan Abimanyu untuk anaknya.
"Aku yakin, di bawah bimbingamu, Awan bisa belajar banyak. Terima kasih Abi."
"Sama-sama Mas. Saya tidak melakukan apa-apa. Hanya hanya mendampingi Awan saja," sahut Abimanyu dengan tersenyum.
__ADS_1
Mereka berdua, sama-sama tersenyum dan lega setelah semuanya dirasa selesai, dan tidak ada lagi permalasahan yang serius.