Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Sebuah Keputusan


__ADS_3

"Yang Kung."


Ayah Edi menoleh, saat ada suara Nanda, yang memangilnya. Tapi ayah Edi tidak melihat keberadaan Nanda, di mana-mana.


"Eyang. Yang Kung."


Suara itu terdengar lagi, memanggilnya.


"Nda. Di mana Kamu?"


Nanda muncul dari balik pintu kamar. Ternyata dia bersembunyi di sana, dan mencuri-curi pandang, untuk melihat keadaan dan situasi yang sepi.


"Eh, kenapa main petak umpet dengan Eyang?" tanya ayah Edi heran, dengan tingkah laku cucunya itu.


"Hehehe... Eyang sini, sini!"


Ayah Edi melangkah masuk ke dalam kamar Nanda, karena di panggil untuk masuk oleh cucunya. Dia merasa penasaran, apa yang ingin disampaikan oleh Nanda padanya, dengan bertingkah seperti pencuri.


"Ada apa? Kenapa meminta Eyang masuk?" tanya ayah Edi, setelah berada di dalam kamarnya Nanda.


"Eyang. Emhhh... itu Papa, Papa Wawan. Di_dia..."


Wawan kesulitan untuk bercerita tentang papanya, Wawan, pada Eyang kakungnya, ayah Edi.


Ayah Edi, yang sebelumnya sudah diberitahu oleh anaknya, Abimanyu, bisa menebak, apa yang akan dikatakan oleh cucunya, saat ini.


"Kenapa? Kamu bertemu dengan papa Kamu itu? Maksud Eyang, papa Wawan."


Nanda menggeleng. Dia memang belum pernah bertemu dengan papanya, Wawan. Tapi pesan-pesan yang disampaikan oleh papanya setiap hari, tentu membuatnya sedikitnya terganggu.


Sebenarnya, Nanda ingin mengerjai papanya itu, dengan meminta sesuatu yang berharga mahal. Dia ingin tahu, apakah semua pesan papanya itu benar adanya, atau hanya pancingan, supaya Nanda mau bertemu dengannya.


Tapi ternyata, ayah Edi tampak menggelengkan kepalanya beberapa kali, saat mendengar semua cerita Nanda tentang papanya, Wawan.


Apalagi, saat Nanda mengatakan semua rencananya, untuk bertemu dengan papanya sedari.


"Bagaimana pun, dia itu papa Kamu Nda. Jika Kamu bertemu, Eyang tidak masalah. Cuma, ada beberapa hati yang mungkin tidak rela, jika Kamu berhubungan dengan Papa Kamu, si Wawan."


Nanda mengangguk paham, dengan apa yang dikatakan oleh Eyang Kakungnya itu.


Dia tahu, ada mamanya, Yasmin, dan juga bundanya, Anjani, yang pasti akan sangat kecewa, jika dia mulai berhubungan dengan papanya.


Tapi, ad hubungan darah yang kental, antara dirinya dengan papanya itu. Jadi sebenarnya, Nanda sendiri juga ingin melihat keadaan papanya, dengan memenuhi undangan papanya, yang disampaikan lewat pesan-pesan yang dikirim pada Nanda langsung.


Ayah Edi juga tahu, bagaimana perasaan Nanda sebagai seorang anak. Bagaimanapun juga, pasti ada rasa kangen dan rindu, yang tak bisa di hindari oleh Nanda saat ini.


Jadi, ayah Edi memutuskan untuk menyerahkan keputusan itu pada Nanda sendiri. Dia hanya berpesan, agar cucunya itu bisa berhati-hati. Di saat dirinya sudah mulai berhubungan dengan papanya, supaya tidak ada yang tahu dan tidak mempengaruhi kejiwaan Nanda sendiri.


Seburuk-buruk orang tua, tidak boleh kita menjelekkannya di depan anaknya sendiri. Karena itu akan melukai perasaan hatinya, dan emosional kejiwaan anak tersebut.


Hubungan darah antara orang tua dan anak, tidak bisa dipisahkan oleh apapun. Dan ayah Edi, tidak bisa melakukan apa-apa, termasuk meminta pada Nanda, supaya menjauh dari kehidupan papa kandungnya, Wawan.


Meskipun sebenarnya, ayah Edi juga tidak bisa menerima semua perbuatan mantan menantunya itu.

__ADS_1


Semua perbuatan Wawan di masa lalu, sudah membuat hubungannya dengan beberapa teman merenggang. Dan itu akibat kasus Wawan saat baru menjadi menantunya, dan bekerja di sebuah dealer.


Sedangkan ayah Edi sendiri, harus kehilangan modal usaha di dealer tersebut, untuk menganti kerugian yang dialami oleh dealer tersebut.


Tapi dia juga tidak mau, mengekang kebebasan cucunya itu, dengan memberikan keputusannya, untuk memisahkan antara ayah dan anak.


Jadi ayah Edi hanya bisa berkata, "tetaplah berhati-hati. Eyang tidak mau, jika papamu akan membuat keluarga kita ini susah lagi. Kamu tahu itu kan? Eyang percaya, Kamu sudah bisa berpikir untuk kebaikan kita semua."


Nanda mengangguk mengerti, dengan apa yang dikatakan oleh eyang kakungnya. Dia juag tahu, apa maksud dari semua nasehat-nasehatnya yang tadi.


"Terima kasih Eyang."


*****


Di rumah Abimanyu.


"Bun. Anak-anak ke mana?" tanya Abimanyu, yang tidak melihat dan mendengar suara anak-anaknya, yang biasanya ramai memperebutkan sesuatu, atau sedang saling mengolok-olok.


Malam ini, selesai makan siang, Ara dan Anggi masuk ke dalam kamar. Mereka berdua, sedang belajar dan mengerjakan PR, sehingga mereka serius dengan urusannya masing-masing.


Sedangkan Abimanyu, duduk di kursi tamu, menunggu istrinya, Anjani, yang tadi sedang membersihkan peralatan makan malam mereka.


Dengan membantu suaminya untuk membuka obat-obatan yang masih harus dikonsumsi oleh suaminya itu, Anjani menjawab pertanyaan darinya. "Ada di kamar Yah. Mereka ada PR banyak. Sedangkan Anggi, sedang berlatih mewarnai. Dia akan ikut lomba minggu depan."


"Oh, pantes saja anteng. Tidak ada suara mereka."


Tapi ternyata itu tidak berlangsung lama. Dari arah kamar anak-anaknya, terdengar suara gaduh.


"Anggi, jangan ganggu Kakak!"


"Udah sana!"


"Kakak pelit!"


"Eh, gak ya. Itu bisa cari warna di keterangan crayon kan?"


"Nah, tinggal jawab gitu aja malas!"


"Kakak sedang repot, jangan ganggu!"


"Iya-iya."


Anjani dan Abimanyu, yang mendengar suara pertengkaran anak-anak mereka, hanya bisa saling pandang, tanpa ada yang beranjak dari tempat duduknya mereka


"Kirain beneran anteng, ternyata..."


Anjani tersenyum, mendengar perkataan dari suaminya itu.


"Tapi mereka juga saling peduli Yah. Hanya saja, anak-anak yang tidak bisa berekspresi sebagai mana orang dewasa yang saling peduli terhadap saudaranya."


"Iya Bun. Namanya juga anak-anak. Dan ini akan mereka rindukan nanti, jika mereka berdua sudah sama-sama dewasa."


Anjani mengangguk setuju, dengan perkataan suaminya. Dia yang dulu hidup tanpa saudara, tentu tidak bisa merasakan kebahagiaan yang sama seperti anak-anaknya sekarang rasakan.

__ADS_1


Bisa bermain, berbincang dan bergurau, serta saling mengolok-olok dengan saudara. Hal yang akan membuat tali persaudaraan itu semakin kuat, meskipun tidak kita sadari.


Amarah dan rasa kesal, akan cepat hilang, diantara sesama saudara sendiri. Tidak akan ada kebencian yang berlarut-larut.


Sesama saudara, ada hal-hal yang menjadi perbedaan dan perdebatan, tapi itu tidak akan berlangsung lama. Karena tidak mungkin bisa, jika kita saling diam saja, dalam satu rumah, yang biasanya melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan bersama-sama.


*****


Di dalam kamar, Ara yang baru saja selesai mengerjakan tugas-tugas sekolah, mencoba untuk mengaktifkan handphonenya.


Sedangkan Anggi, sudah tertidur pulas, sebelum menyelesaikan tugasnya, untuk mewarnai gambar untuk latihan lomba minggu depan.


Setelah handphone Ara aktif, ada beberapa notifikasi pesan yang masuk.


Ada pesan dari teman-temannya, dan ada beberapa pesan dari sepupunya, Nanda.


Tapi sebelum Ara sempat membuka dan membaca serta membalas satu persatu pesan tersebut,handphonenya berbunyi lagi.


Ternyata, ada telpon masuk untuk dia terima.


Ting ting ting!


Ting ting ting!


Ara segera menyambungkan panggilan telpon tersebut, karena yang menelponnya kali ini adalah Nanda, yang tadi sudah mengirimi dia pesan juga.


..."Ya Kak, ada apa?"...


..."Kamu sudah baca pesan Kakak?"...


..."Belum. Handphone Ara baru saja aktif. Tadi sibuk, banyak PR Kak."...


..."Oh... emhhh, Kakak cuma mau bilang, besok pulang sekolah kita pergi sebentar. Ada seseorang yang mau ketemu dengan Kakak."...


..."Oh, ok Kak."...


..."Ya sudah. Buruan tidur!"...


..."Asiapppp Kak. Hehehe..."...


..."Awas saja jika handphonenya masih aktif. Itu tandanya Kamu belum tidur."...


..."Hehehe, Kakak bisa aja."...


..."Udah sono, buruan tidur!"...


..."Hehehe. Iya-iya Kak."...


Klik!


Ara tersenyum sendiri, setelah panggilan tersebut ditutup oleh Nanda.


Dia segera membereskan buku-buku pelajaran yang ada di atas meja, kemudian memasukkan buku-buku itu ke dalam tas, yang besok akan di bawa ke sekolah.

__ADS_1


Sekarang, Ara membereskan buku-buku gambar milik adiknya, yang belum sempat di bereskan oleh Anggi sendiri.


Setelah itu, dia masuk ke dalam kamar mandi, dan tak lama kemudian, Ara sudah keluar, kemudian bersiap-siap untuk tidur. Menyusul adiknya yang sudah ada di alam mimpi terlebih dahulu.


__ADS_2